
Mencoba untuk menyingkirkan segala perasaan yang mengganggu pikirannya, Nisa berusaha berpura-pura tidak mengetahui apapun.
Dia akan bersikap seperti biasa di hadapan Andreas, walaupun dia tau jika percakapan Andreas dan Devan bukan sebuah rekayasa.
Hatinya memang terluka akan ucapan Andreas yang mampu melukai perasaannya, karna ucapan laki-laki itu telah merendahkan harga dirinya.
Meski begitu Nisa masih memiliki secerca harapan pada sosok suaminya. Dia masih menunggu, menunggu saat dimana Andreas akan mengatakan sebuah kejujuran padanya.
Dia percaya bahwa kata hatinya tak akan pernah keliru.
Pagi itu seperti biasa, Nisa bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Makanan yang dia buat kali ini lebih di utamakan pada nutrisinya.
Dia memikirkan buah hatinya, karna janin dalam kandungannya sangat membutuhkan nutrisi untuk tumbuh kembangnya.
Di tengah-tengah kekacauan yang dia rasakan, dia tetap berharap kandungannya baik-baik saja.
Semua makanan sudah tertata rapi di atas meja makan. Nisa melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 7.50. Namun sampai detik ini Andreas belum juga menampakkan dirinya ke dapur.
Terakhir saat keluar dari kamar, Andreas masih tidur pulas dan terlihat kelelahan.
Masuk ke dalam kamar, Nisa mendapati Andreas masih terlelap sambil memeluk guling.
Guling yang di sodorkan oleh Nisa sebelum dia pergi ke dapur.
Karna sebelum itu, Andreas sedang memeluknya erat sembari tertidur. Membuat Nisa kesulitan saat akan turun dari ranjang lantaran Andreas terus mendekapnya.
"Andreas,, bangun." Nisa menggoncang pelan lengan besar Andreas yang tampak berorot.
Tatapan Nisa terlihat sendu pada sosok laki-laki yang mulai memenuhi ruang hatinya. Jujur, dia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap Andreas, tapi harus tetap tegar seolah semuanya baik-baik saja.
Sebelum mendengar langsung dari mulut Andreas, Nisa tidak akan mengambil keputusan apapun.
Beberapa kali memanggil dan menggerakkan lengan Andreas, laki-laki itu kini membuka matanya. Seulas senyum langsung menghiasi wajah tampannya begitu melihat sosok Nisa yang tengah berdiri di samping ranjang dan menghadap ke arahnya.
"Jam berapa sekarang.?" Tanya Andreas dengan suara seraknya khas bangun tidur. Tangannya terangkat, mengusap lembut pipi Nisa sebelum bangun dari ranjang dan duduk di sisi ranjang.
"Hampir jam delapan." Jawab Nisa.
"Sebaiknya mandi dulu, aku tunggu di meja makan." Nisa mengukir senyum tipis. Rasanya berat untuk sekedar tersenyum pada Andreas.
Ucapan Andreas dalam rekaman itu masih berputar-putar di kepalanya.
"Aku sibuk meniduri mantan tunangan mu."
__ADS_1
"Wanita mu mencintaiku dan tergila-gila pada ku di atas ranjang."
"Setelah aku mencampakkannya, apa yang akan kamu lakukan Devan.?!"
"Siapa yang akan kamu pilih, istrimu atau cinta masa lalu mu."
"Nisa.?" Andreas menyentuh pergelangan tangan istrinya yang terlihat melamun.
"Kamu baik-baik saja.?" Andreas menatap lekat.
Dia merasakan perbedaan dalam diri Nisa melalui sorot matanya.
Ternyata memang benar, Nisa tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya meski hanya melalui sorot matanya saja.
"Aku baik-baik saja." Nisa kembali mengukir senyum. Lagi-lagi senyum itu tak selepas sebelumnya.
"Bajunya sudah aku siapkan. Aku ke dapur dulu,," Nisa beranjak dari sana, tak ada ucapan apapun lagi sampai menghilang di balik pintu.
...*****...
Andreas menghampiri Nisa di meja makan dengan setelan jas rapi. Dia sudah siap-siap untuk berangkat ke kantor setelah Nisa menunggu hampir 30 menit.
Laki-laki bertubuh tinggi itu berdiri di belakang kursi yang di duduki oleh Nisa, dia melingkar tangannya di bahu Nisa seraya menundukkan badan. Dagunya dia letakkan di kepala Nisa.
"Hari ini jangan pergi kemana-mana, aku akan pulang lebih awal." Pinta Andreas. Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Nisa.
“Tidak ada. Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat." Jawab Andreas seraya tersenyum. Dia kemudian melepaskan dekapannya dan duduk di samping Nisa.
"Kemana.?" Nisa tampak penasaran.
Setelah mendengarkan percakapan di ponsel Devan, dia jadi lebih waspada dan berhati-hati pada sosok suaminya itu.
Pikirannya tentang Andreas jadi berubah negatif.
Apa yang di lakukan dan di katakan oleh Andreas, jadi membuat Nisa tak bisa mempercayai sepenuhnya seperti sebelumnya.
"Rahasia. Kamu akan tau nanti,," Jawaban Andreas semakin membuat Nisa tidak tenang. Dia jadi sibuk menerka dan menduga-duga apa yang akan di lakukan oleh Andreas nantinya.
Andreas kemudian mulai menyantap makanan dalam piring miliknya yang sudah di siapkan oleh Nisa. Dia makan dengan lahap serta senyum yang tertahan. Tidak sadar kalau wanita di sampingnya jadi cemas karna ucapannya tadi.
"Kamu tidak membawakan bekal untukku.?" Tanya Andreas di saat sudah menghabiskan hampir setengah makanan di piringnya.
Nisa menggeleng pelan.
__ADS_1
"Aku hanya memasak sedikit." Jawabnya kemudian menyantap makanannya lagi dengan lesu.
Dalam keadaan seperti ini Nisa jadi kehilangan nafsu makannya, tapi dia harus tetap mengisi perutnya agar buah hatinya tetap sehat.
...*****...
Nisa hanya tersenyum tipis menatap kepergian Andreas yang melambaikan tangan padanya.
Seperti biasanya, Andreas selalu memeluk dan mendaratkan ciuman pada Nisa sebelum berangkat ke kantor.
Tapi kali ini respon Nisa berbeda, dia hanya diam saja saat di peluk oleh Andreas. Bahkan tak lupa untuk mencium punggung tangan suaminya itu, sampai Andreas yang mengingatkannya.
"Aku menunggu kejujuran kamu Ndre,," Buliran bening keluar dari sudut matanya.
Seandainya Andreas berkata jujur, mengakui kesalahannya dan menjelaskan bahwa semua itu hanya kebohongan, saat itu juga Nisa akan memaafkan Andreas dengan senang hati demi anak mereka.
Sebagai anak yang sejak kecil di tinggal oleh kedua orang tuanya, Nisa tentu tidak mau anaknya mengalami hal yang serupa meski kasusnya berbeda.
Dia ingin memberikan cinta dan kasih sayang yang utuh pada anaknya. Tanpa harus kehilangannya cinta dan kasih sayang dari salah satu orang tuanya.
...******...
"Tuan Devan, silahkan Anda lihat ini." Asisten pribadi Tuan Chandra menyodorkan data yang semalam dia peroleh.
Devan mengambil selembar kertas dari dalam map hitam.
Dia membaca dengan seksama apa yang tertera di dalam kertas tersebut.
Baru setengah membaca, kedua tangan Devan tampak meremas kuat kertas yang dia pegang.
"Andreas Chandratama.!!! Kau benar-benar iblis.!!"
Geram Devan penuh amarah.
Dia tidak menyangka bahkan orang di balik kehancuran perusahaan keluarganya adalah Andreas.
Pemilik perusahaan asing yang selalu menolak untuk di ajak bertemu, dia adalah Andreas Chandrtama. Seseorang yang juga menjadi bagian dari keluarganya sendiri, tapi tega menghancurkan perusahaan orang tuanya.
"Cepat siapkan mobil.!" Titah Devan.
Dia beranjak dari duduknya, berjalan cepat keluar dari ruangannya sembari mengirimkan pesan pada Nisa.
Dia akan menyuruh Nisa untuk mengangkat telfonnya agar Nisa bisa mendengar dan mengetahui sendiri seperti apa Andreas yang sebenarnya.
__ADS_1
"Kamu tidak pantas memiliki anak dari wanita sebaik Nisa.!!" Geram Devan dalam hati.
Dia baru saja mengirimkan pesan ke nomor ponsel Nisa yang baru. Nomor ponsel itu dia dapatkan dari Mella yang sejak semalam menghubunginya, meminta bantuan agar dia bisa menyelamatkan Nisa.