Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 75


__ADS_3

Nisa turun mobil milik Andreas yang sudah terparkir di halaman rumah milik orang tua Irene. Wanita cantik itu berdiri di samping mobil, menatap rumah besar yang menjulang tinggi dengan design elegan dan mewah. Disertai halaman depan dan samping yang luas.


Rumah itu juga di jaga ketat oleh petugas keamanan, sama halnya seperti rumah milik orang tua Andreas.


Wajar jika Tuan Chandra memaksa Devan menikah dengan Irene.


Nisa hanya bisa menatap nanar dengan rasa sesak di dadanya. Kehidupan dia dan kehidupan keluarga Irene berbanding terbalik 180 derajat. Ibarat bumi dan langit, keluarga Irene berada jauh di atasnya.


Kemewahan dan segala yang di miliki oleh keluarga Irene, tak sebanding dengan kepedihan serta penderitaan yang di rasakan oleh Nisa selama belasan tahun terakhir. Tepatnya sejak kedua orang tuanya sengaja dilenyapkan oleh manusia serakah.


Nisa menarik nafas dalam untuk mengurangi rasa sesak yang semakin mencekat. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Ada perasaan marah dan tidak terima melihat semua yang dimiliki oleh Irene. Termasuk kebahagiaan Irene yang seharusnya menjadi miliknya, namun harus lenyap karna dia tak sekaya Irene.


"Annisa,,?" Andreas menyentuh pelan pundak istrinya. Membuat wanita cantik itu tersadar dari lamunan yang menyesakkan dada.


Nisa tersenyum tipis, dia ingin erlihat tenang di depan Andreas agar niatnya tak bisa di baca olehnya.


"Semoga Kak Irene mengerti kita baru bisa datang sekarang." Ucap Nisa dengan nada kecemasan sembari menatap Andreas.


"Jangan khawatir, aku sudah bilang pada Mama untuk menyampaikan bela. sungkawa dan permintaan maaf kita pada Irene. Dia pasti mengerti,," Andreas menatap teduh, dia kemudian menggandeng tangan Nisa dan mengajaknya masuk ke rumah Irene.


Begitu masuk, keduanya di sambut oleh pekerja rumah. Lalu di arahkan untuk pergi ke ruang keluarga.


Rupanya di sana sudah ada Nyonya Zoya yang tampak sedang menunggunya.


"Kalian sudah datang,," Nyonya Zoya berdiri dari duduknya, dia berjalan menghampiri Nisa kemudian memeluknya sekilas.


"Ternyata Mama ada disini,," Ucap Nisa. Dia sempat kaget melihat keberadaan Mama mertuanya di rumah Irene.


"Sudah 2 hari mama menginap disini. Kondisi Irene tidak stabil, jadi Mama memutuskan untuk menemaninya." Terlihat kesedihan di mata Nyonya Zoya saat menjelaskan tentang kondisi menantunya.


Sejak 3 hari yang lalu, Irene memang banyak berubah. Dia sering menangis, melamun dan sulit untuk di ajak berkomunikasi.


Irene juga selalu menolak untuk makan, membuat Devan harus berusaha keras untuk membujuknya.


"Kak Irene pasti sangat terluka kehilangan Mamanya, belum lagi Tuan Frans yang di tahan pihak kepolisian."

__ADS_1


"Aku jadi ingat kejadian belasan tahun yang lalu." Nisa mengukir senyum menyayat hati. Perlahan meneteskan air matanya.


"Aku hampir gila karna Mama dan Papa meninggal dalam waktu yang bersamaan." Tangis Nisa mulai pecah.


Mendengar penuturan Nisa dan tangis yang memilukan, Nyonya Zoya lantas memeluknya.


Dia tak menutup mata akan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh besannya.


Sama halnya dengan Tuan Chandra yang kecewa, Nyonya Zoya pun demikian. Mereka tak menyangka seorang Frans telah melakukan tindak kejahatan yang mengerikan.


"Sudah aku bilang, sebaiknya kamu tidak datang dulu ke rumah ini,," Andreas menarik pelan bahu Nisa dari pelukan Nyonya Zoya. Dia kemudian mendekapnya.


Andreas sudah memperingatkan Nisa, tapi Nisa bersikeras untuk datang secepatnya ke rumah Irene. Dengan alasan karna dia sudah menjadi bagian dari keluarga Irene.


"Kamu benar nak. Sebaiknya ajak Nisa pulang." Pintar Nyonya Zoya.


"Mama akan bicara pada Irene, dia pasti mengerti,,"


Nisa melepaskan diri dari pelukan Andreas, dia menggelengkan kepalanya, menolak untuk pergi dari rumah Irene.


"Aku hanya terbawa suasana karna apa yang di alami oleh Kak Irene mengingatkanku pada kejadian 12 tahun yang lalu." Nisa menjelaskan sembari menghapus air matanya. Dia sudah datang ke rumah Irene, tidak mungkin dia akan pulang lagi tanpa melakukan apapun di rumah ini.


"Dimana Kak Irene.? Aku ingin bertemu dengannya,,"


Sejak tadi Nisa memang mencari keberadaan Irene dan Devan. Keduanya sama sekali tidak terlihat sejak dia masuk ke dalam rumah.


"Kamu yakin ingin bertemu Irene.?" Andreas menatap ragu disertai kecemasan.


"Kalau belum siap, kita bisa kembali lagi lain kali,"


Lagi-lagi Nisa menolak untuk pulang. Dia bersikeras ingin bertemu dengan Irene


"Irene ada di taman belakang. Devan membawa ke sana untuk menyuapi Irene, sejak pagi Irene tidak mau makan." Nyonya Zoya memberitahukan keberadaan Irene dan Devan. Mereka kemudian pergi bersama untuk menghampiri keduanya.


...****...

__ADS_1


"Kamu harus makan sayang." Pinta Devan. Dia terlihat putus asa membujuk Irene agar mau membuka mulutnya.


"Ingat anak kita. Dia butuh makan di dalam sini,," Devan meletakkan tangannya di atas perut Irene dan mengusapnya lembut.


"Jangan sampai terjadi sesuatu padanya atau aku akan sangat kecewa padamu," Devan menatap nanar. Entah harus bagaimana lagi membujuk Irene.


"Jangan bicara seperti itu, Kak Irene akan semakin terbebani,,"


Seketika Devan langsung menoleh ke sumber suara setelah mendengar suara lembut yang sangat dia kenali.


Di tatapnya wanita cantik yang sudah berdiri di belakangnya, wanita itu bahkan mengulas senyum padanya.


"Berikan piringnya padaku, biar aku yang bujuk Kak Irene," Nisa berjalan mendekat, berdiri di samping Devan dan mengambil piring dari tangan Devan tanpa permisi. Nisa sengaja menyentuh tangan Devan dengan jemarinya saat mengambil piring itu. Tak lupa melemparkan senyum manis pada Devan.


Devan terdiam, dia bergantian menatap Nisa dan menatap tangannya sendiri yang baru saja bersentuhan dengan tangan Nisa.


Sentuhan itu masih sama seperti 4 tahun yang lalu. Mampu menghadirkan perasaan berbeda di hatinya.


Nisa duduk di samping Irene tanpa mengatakan apapun. Dia hanya memperhatikan Irene yang tengah melamun dengan tatapan kosong. Kehadiran dia bahkan tak menarik perhatian Irene sedikitpun.


Kondisinya benar-benar terlihat sangat menyedihkan.


Sementara itu, Devan tersadar dari lamunan saat melihat Andreas berdiri di sampingnya. Dia menoleh, menatap tak suka pada Andreas yang tengah memperhatikan Nisa.


Sampai detik ini, Devan tidak tau hal apa yang akan dilakukan oleh Andreas untuk balas dendam padanya.


Ancaman Andreas yang mengatakan bahwa dia akan menyiksa Nisa dan membuat hidup Nisa menderita, sepertinya tidak di lakukan oleh Andreas. Karna sampai detik ini Nisa masih baik-baik saja. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda penyiksaan dari Andreas. Yang ada, justru mengetahui keduanya sering melakukan hubungan suami istri.


"Kehilangan orang tua memang menyakitkan." Nisa sengaja mengeraskan suaranya. Selain ingin mendapatkan perhatian dari Irene, dia juga ingin agar Andreas, Devan serta Nyonya Zoya me dengarkan ucapannya.


Dan itu berhasil membuat Irene menatap ke arahnya.


"Aku mengalaminya sejak kecil. Di saat aku masih membutuhkan sosok orang tua di sampingku."


"Rasanya seperti kehilangan arah. Tak lagi punya semangat untuk menjalani hidup. Aku bahkan hampir gila saat itu."

__ADS_1


"Tapi hidup harus tetap berjalan. Mau tidak mau, kita harus menerima kenyataan walaupun sangat menyakitkan."


__ADS_2