Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 183


__ADS_3

Semua tamu undangan dan keluarga pengantin sudah meninggalkan ballroom. Aditya dan Tiara juga sudah pergi ke kamar pengantin. Kamar itu sengaja di siapkan oleh Andreas untuk pasangan pengantin baru itu. Dengan memesan kamar president suite, Andreas memberikan waktu selama 3 hari untuk Aditya dan Tiara menempati kamar tersebut. Tidak perlu di tanya lagi kenapa Andreas memesankan kamar hotel untuk pasangan batu itu.


Suasana di dalam kamar mewah itu cukup canggung. Aditya dan Tiara sama-sama duduk di tepi ranjang dengan jarak yang cukup jauh. Diam beberapa menit, tidak ada obrolan dan kegiatan yang mereka lakukan setelah masuk ke dalam kamar.


Berkali-kali keduanya tampak menelan ludah karna gugup. Menikah tanpa adanya proses pengenalan lebih dekat ataupun pacaran, membuat keduanya canggung dan tidak tau harus melakukan apa di malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri.


"Kamu tidak ganti baju.?" Aditya mulai membuka obrolan. Lama-lama dia tidak betah karna hanya saling diam seperti orang bodoh. Sebenarnya dia bisa saja memulai sesuatu yang lebih. Tapi mengingat Tiara sangat polos dan pemalu, Aditya jadi canggung dan merasa tidak enak untuk meminta haknya.


"Hah,,? Dimana.?" Ucap Tiara yang baru saja tersadar setelah berkutat dengan pikirannya.


"Ruang ganti ada di sana." Aditya menunjuk salah satu pintu.


"Pelayanan hotel sudah meletakkan koper kita di ruang ganti." Tambahnya.


Tiara mengangguk paham. Dia perlahan beranjak dari ranjang, mengangkat ekor gaunnya yang cukup panjang dan berat itu.


"Butuh bantuan.?" Tawar Aditya saat melihat Tiara tampak kesulitan berjalan sambil mengangkat gaunnya. Lantaran malu, Tiara langsung menolak dengan menggelengkan kepala. Dia memaksa berjalan meski kesulitan.


"Bilang saja kalau berat." Aditya langsung menyambar ekor gaun dari tangan Tiara. Jelas-jelas kesulitan berjalan, bahkan saat pergi ke kamar ini saja Aditya membantu Tiara memegangi ekor gaunnya.


"Makasih,," Ucapnya malu-malu.


Tidak pernah terbayangkan dalam benak Tiara bahwa dia akan menikah secepat ini. Terlebih dengan laki-laki yang awalnya ingin dia miliki.


...****...


Saat ini Andreas dan Nisa sedang dalam perjalanan pulang. Nisa tempak lega karna proses dan acara pernikahan Tiara berjalan lancar. Namun berbeda dengan Andreas yang jadi pendiam setelah berbicara empat mata dengan Devan. Entah apa yang mereka berdua bicarakan sampai-sampai sikap Andreas berubah drastis. Pria itu tak lagi banyak bicara, ataupun menggoda seperti yang biasa di lakukan padanya.

__ADS_1


"Ndre,, ada apa.?" Nisa menyentuh pelan lengan Andreas.


Pria itu mengukir senyum tipis. Senyum yang tampak penuh beban.


"Maaf,," Kalimat itu keluar dari mulut Andreas. Di raihnya tangan Nisa untuk di genggam. Andreas menatap sendu.


"Harusnya dulu mendengarkan perkataan kamu. Mungkin saat ini Papa Chandra masih ada."


"Karna perbuatanku, Papa Chandra meninggal. Devan benar, aku telah menjadi seorang pembunuh untuk orang tuaku sendiri."


"Aku,,,


"Cukup Ndre,, jangan katakan apapun lagi." Pinta Bisa dengan tatapan sendu. Dia melirik Kenzie di jok belakang yang tengah tertidur.


Nisa berharap masa lalu buruk Andreas tidak akan pernah di dengar oleh putra mereka. Dia sadar Andreas memang bersalah, tapi semua itu sudah menjadi masa lalu. Kini Andreas sudah berubah, pria itu bahkan menjadi suami dan orang tua yang baik untuknya dan Kenzie.


"Yang terpenting kamu mau mengakui kesalahan dan mau meminta maaf."


Sampainya dirumah, keduanya langsung pergi ke kamar setelah menyuruh asisten rumah tangganya untuk membaringkan Kenzie di kamarnya.


Mengganti baju dan membersihkan diri, Nisa dan Andreas langsung merebahkan diri di ranjang.


Tidak banyak obrolan yang terjadi seperti biasanya. Namun Andreas memeluk erat tubuh Nisa dari belakang dan mendaratkan kecupan berulang kali di pucuk kepalanya.


Beberapa kali kata maaf juga terlontar dari bibir Andreas. Pria itu ingat dengan perbuatan buruknya pada Nisa.


...****...

__ADS_1


Malam semakin larut. Andreas terlihat tengah berdiri di balkon kamar. Matanya menerawang jauh menatap hamparan langit yang gelap gulita. Perasaan sesal itu kembali hadir, mengusik ketenangan jiwanya yang baru dia rasakan sejak Nisa kembali padanya. Terseret dalam masa lalu yang kelam, dia tak lebih dari seorang iblis bagi keluarganya sendiri. Menghancurkan tanpa ampun, padahal perlakuan yang dia dapatkan dari Papa Chandra memang pantas bagi seorang anak yang tak pernah di harapkan keberadaannya itu. Meski Andreas tak pernah memilih untuk menjadi anak mereka.


"Ndree,,, sedang apa.?" Suara lembut Nisa membuat Andreas menoleh. Kekacauan di wajah suaminya itu bisa di lihat oleh Nisa. Tiba-tiba saja dia merasa cemas, dia yakin Andreas tidak baik-biak saja saat ini.


Bangun tengah malam dan sekarang berdiri di balkon, tak mungkin Andreas melakukannya jika tidak ada sesuatu.


"Masih jam 2 malam, kenapa tidak tidur lagi." Nisa bergegas mendekat karna Andreas tak kunjung menjawab. Pria itu hanya diam saja dengan menatap lekat.


"Kamu kenapa.? Jangan membuatku takut." Nisa langsung memeluk Andreas, mendekap erat tubuh tegap itu dan membenamkan wajah di dada bidangnya.


"Jaga Kenzie dan twins untukku. Aku sangat mencintai kalian. Tidak ada yang lebih berarti kecuali kebahagiaan kamu dan anak-anak."


"Maaf sempat menyakiti dan mengecewakanmu."


Suara Andreas tercekat. Nisa lantas melepaskan pelukkannya, di tatapanya Andreas dengan penuh kebingungan.


"Apa yang kamu katakan.? Kita akan menjaga mereka sama-sama.!" Sahut Nisa penuh ketegasan. Entah kenapa di tidak suka mendengar Andreas bicara seperti itu.


"Aku tidak pantas memiliki kalian, manusia kejam sepertiku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan darimu dan anak-anak." Andreas melepaskan tangan Nisa yang tadi masih menggenggam erat tangannya.


"Tidak Ndree,, apa yang kamu lakukan.!!" Teriak Nisa. Dia berusaha menahan Andreas yang sudah memanjat tembok pembatas balkon.


"Jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon,,,!!!" Teriaknya bersamaan dengan tangis yang pecah.


Namun Andreas seolah tutup telinga, dia hanya menatap kosong dan beberapa detik kemudian. memilih untuk lompat dari balkon.


"Aku mencintaimu Anissa,,!!" Teriak Andreas terdengar bersamaan dengan raganya yang terjun ke dasar.

__ADS_1


"Tidak Andres,,,!!!" Nisa histeris. Dia menyaksikan bagaimana Andreas terjatuh ke dasar. Seketika dunia terasa berakhir. Tubuh Nisa merosot ke lantai, dia meraung dan menangis histeris.


"Jangan tinggalkan aku Andreas, aku mohon jangan pergi.!!!" Teriak Nisa sebelum dia kehilangan kesadaran.


__ADS_2