
Andreas membaringkan Kenzie di ranjang. Putranya itu tertidur pulas dalam perjalanan kembali ke hotel setelah bermain di playground. Belum lagi sejak pagi mereka sudah berada di pantai. Tentu saja tenaga bocah berusia 2 tahun itu terkuras dan akhirnya kelelahan hingga tertidur pulas.
Sementara itu Nisa masuk ke walk in closet dengan membawa beberapa barang belanjaan. Semua barang itu di belikan oleh Andreas gara-gara candaannya yang di anggap serius oleh pria itu. Walaupun sudah menolak, Andreas tetap bersikeras membelikan beberapa tas dan sepatu untuknya.
"Benarkan tidak ada space lagi untuk menaruh barang-barang ini." Gumam Nisa seraya menatap koper besar miliknya yang sudah kelebihan muatan. Bahkan oleh-oleh yang dia beli saja terpaksa berada di dalam paperbag besar.
Dia sudah yakin kalau kopernya tidak akan muat untuk di isi barang-barang lagi, tapi Andreas tetap memaksanya memilih beberapa tas dan sepatu.
“Jangan khawatir, aku sudah memesan koper. Nanti malam akan di antar ke sini." Kemunculan Andreas yang tiba-tiba, membuat Nisa sedikit tersentak. Di tatapnya Andreas yang semakin mendekat ke arahnya. Pria itu mengukir senyum, berhenti tepat di hadapan Nisa.
"Aku kan sudah bilang kopernya penuh, tapi kamu tidak percaya."
"Jadi banyak bawaan kalau nambah koper." Wanita cantik itu sedikit mengeluh. Kalau akhirnya harus menambah 1 koper lagi pasti akan repot membawanya. Meski Andreas juga yang pastinya akan membawakan koper-koper mereka.
Bukannya membela diri, Andreas justru mengulum senyum mendengar Nisa protes. Nisa yang sekarang beda dengan Nisa 3 tahun lalu.
Dulu dia sangat jarang mendengar wanita cantik itu bicara panjang lebar apa lagi protes padanya.
Bisa dibilang Nisa sangat penurut dan tak banyak berkomentar. Tapi sekarang,? Setiap yang dia lakukan akan di komentari oleh Nisa.
"Kenapa kamu jadi crewet.?" Tanya Andreas dengan senyum dan tatapan yang tampak gemas pada Nisa.
"Apa karna sudah memiliki anak.?" Ujarnya menebak. Saat ini bukan rahasia umum lagi kalau wanita yang sudah memiliki anak memang lebih banyak bicara dan terkesan cerewet.
"Siapa yang crewet.? Aku hanya sedang membicarakan kenyataan." Nisa menyangkal.
"Iya baiklah,," Andreas memilih tak memperpanjang obrolan tersebut. Selain takut membuat mood Nisa buruk, ada hal yang lebih penting untuk dia bicarakan dengan Nisa.
"Bisa bicara sebentar.? Ada yang harus aku sampaikan padamu." Pinta Andreas. Raut wajah Andreas yang berubah serius membuat Nisa jadi penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh Andreas padanya.
Tak mau di buat penasaran, Nisa mengangguk menyetujuinya. Dia juga akan menggunakan kesempatan ini untuk mengatakan hal penting juga pandai Andreas mengenai kelanjutan rumah tangga mereka ke depan.
...*****...
Duduk di balkon kamar dengan pemandangan hamparan laut biru yang indah, keduanya tampak menikmati sembusan angin sore yang terasa menyejukkan. Sesaat mereka hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Banyak hal di dalam kepalang yang ingin mereka sampaikan, namun keduanya sama-sama bingung akan memulai dari mana.
"Mau bicara apa.?" Nisa mengakhiri keheningan.
__ADS_1
Dia melirik Andreas, namun membuang pandangan ke arah lain saat Andreas akan menatapnya.
"Semoga kamu tidak bosan mendengarnya." Ujar Andreas yang merasa cemas karena sebelum memulai pembicaraan, dia akan mengatakan sesuatu yang sudah dia ucapkan berulang kali pada Nisa.
"Aku benar-benar berterimakasih padamu." Tak mampu menahan persaan yang berkecambuk, suara Andreas sampai tercekat karna sudah terbawa perasaan sebelum memulai obrolan yang lebih jauh.
Dia memberanikan diri meraih tangan Nisa dan menggenggamnya. Tangan yang mampu menariknya bangkit dalam keterpurukan. Tangan itu pula yang telah membuatnya naik dari setelah terjerembab dari dasar jurang kehancuran.
Berkat Nisa, berkat kebaikan dan ketulusan hati wanita itu yang rela kembali padanya, perlahan mampu memberikan semangat lebih untuk tetap. bertahan hidup.
"Terimakasih karna bersedia memberiku kesempatan untuk bisa berkumpul bersama kalian."
"Apa kamu tau.? Sejujurnya aku sangat tersiksa setelah membalaskan dendam atas rasa sakit hatiku pada mereka." Buliran bening mulai membasahi wajah tampan Andreas. Pria itu terlihat sangat rapuh saat ini. Soroti matanya menggambarkan kehancuran dan penyesalan.
"Terlalu besar perasaan dendamku terhadap mereka sampai akhirnya dendam itu menutupi mata dan hatiku."
"Aku menyangkal perasaan dalam hatiku. Menyangkal bahwa aku tidak mencintaimu saat itu."
"Berfikir dendamku akan terbalas dan membuat mereka menderita setelah aku meninggalkanmu, tapi pada akhirnya aku sendiri yang menderita."
"Hari berganti,, aku pikir perasaan itu akan hilang terkikis oleh waktu dan jarak. Tapi pada kenyataan cinta itu terus tumbuh dan membuatku tidak bisa melupakanmu setelah 3 tahun berlalu."
Genggaman tangan Andreas semakin kuat. Tatapan matanya juga semakin dalam.
"Jika kamu bertanya kenapa aku tak pernah kembali dan mengabulkan permintaanmu saat bertemu di bandara, jawabannya karna aku takut membuatmu terluka lagi."
"Aku juga menyadari keadaanku tak sama seperti dulu." Wajah Andreas tertunduk. Saat ini dia sudah kehilangan setengah kewarasan, dia tidak bisa membayangkan seandainya kembali pada Nisa dalam keadaan menyedihkan seperti itu.
"Tapi kamu harus percaya bahwa cinta ini tak pernah pudar, kamu menempati tempat terindah di hatiku sejak dulu hingga saat ini."
"Mulai sekarang aku janji tidak akan menyakiti ataupun meninggalkan kalian lagi."
"Demi kamu dan Kenzie, aku akan berjuang untuk sembuh agar bisa menjadi pelindung bagi kalian." Ucapnya penuh keyakinan dan semangat.
Sejujurnya banyak perubahan sejak pertemu dengan Nisa dan bisa berkumpul dengan Kenzie.
Dia tidak lagi meluapkan amarahnya dengan melakukan hal-hal yang membahayakan nyawanya sendiri.
__ADS_1
Walaupun rasa bersalah dan takut yang berlebihan masih menguasainya.
Nisa yang sejak tadi menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Andreas, kini mulai menarik nafas dalam karna merasakan sesak di dadanya.
Sebesar apapun rasa sakit dan kecewa yang dia rasakan, Nisa tetaplah Nisa. Dia sudah ditakdirkan terlahir dengan memiliki jiwa yang besar dan hati yang tulus.
Dia bahkan sudah memaafkan semua kesalahan Andreas, meski masih takut membuka kembali hatinya untuk Andreas.
"Aku akan memegang ucapanmu."
"Jangan mengecewakanku lagi, karna jika itu terjadi maka tidak akan pernah ada kata kembali untuk kedua kali." Ucap Nisa penuh ketegasan.
Dia tidak mau bodoh berada di balik kata-mata bertahan demi anak jika sudah di sakiti berulang kali.
Andreas mengangguk paham.
"Itu tidak akan pernah terjadi, aku janji."
Kini Andreas tampak lebih lega setelah mengungkapkan isi hatinya yang selama ini dia pendam bertahun-tahun. Perasaannya jauh lebih baik setelah menceritakan semuanya pada Nisa.
"Lalu bagaimana keputusanmu kedapan.?" Tanya Nisa.
"Apa kamu akan tetap menjalankan perusahaan di Amerika.?"
Setelah memutuskan untuk kembali bersama, isa jadi memikirkan bagaimana kehidupan mereka nanti. Perusahaan Andreas ada di Amerika dan itu mengharuskan Andreas tinggal di sana. Sedangkan Nisa memutuskan menerima Andreas kembali agar bisa tinggal bersama untuk merawat Kenzie sama-sama dengan cinta dan kasih sayang mereka untuknya.
"Aku sudah memikirkan untuk membangun perusahaan serupa di Batam. Jika tidak bisa, kemungkinan akan di Jakarta." Jawab Andreas.
Nisa tampak tidak setuju mendengarnya.
"Apa tidak ada kota lain selain Jakarta.?"
"Aku tidak mau terlalu sering menginjakkan kaki disana." Raut wajah Nisa berubah sendu.
Mendengar kata Jakarta membuat dadanya sesak. Karna penderitaan terbesarnya di mulai di kota itu.
Seandainya tidak ada Mella di sana, mungkin Nisa sudah menghapus kota Jakarta dari ingatannya.
__ADS_1