
Andreas meletakkan ponselnya di akas. Dia baru saja mendapat kabar dari Nyonya Zoya tentang meninggalnya orang tua Irene.
Sejujurnya ada perasaan sedih mendengar kabar duka itu, namun rasa sedihnya tak akan berarti apapun bagi Irene. Jadi lebih baik bersikap tak mau tau dan masa bodo tentang apapun yang terjadi dalam kehidupan wanita itu.
Nisa nampak keluar dari kamar mandi. Dia baru saja membersihkan diri dan mengganti baju dengan kain yang lebih minim.
Berduaan di dalam kamar bersama suaminya, Nisa memang berhak memakai baju apapun. Bahkan tidak masalah jika tak memakai apapun intuk membalut tubuhnya.
Andreas menyambut kedatangan Nisa dengan tatapan dalam penuh arti. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Menatap sosok wanita cantik yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
Andreas memberikan kode pada Nisa agar dia duduk di pangkuannya. Seperti biasa Nisa tak bisa menolak permintaan Andreas.
Dia bergegas duduk di pangkuan Andreas, sebelah tangannya di kalungkan di leher Andreas.
"Sebelum olahraga siang, sebaiknya minum dulu." Andreas meraih botol air mineral yang sebelumnya sudah dia teguk setengahnya, kemudian memberikan botol itu pada Nisa.
Nisa menerima botol itu dan meneguknya sampai habis. Lagipula dia memang haus karna sejak pergi menuju hotel, dia belum minum sama sekali.
"Andreas,,," Nisa memegang tangan Andreas yang mulai menggerayangi paha mulusnya.
"Kenapa hmm.??" Andreas menaikan sebelah alisnya. Tidak biasanya Nisa mencegahnya saat sudah siap untuk melakukan pemanasan.
"Aku ingin tau seperti apa perkembangan kasus Tuan Frans." Ucap Nisa. Dia belum sepenuhnya tenang karna tak mengetahui hukuman seperti apa yang akan di berikan oleh otak dibalik kecelakaan maut itu. Nisa tentu berharap Frans akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan kejinya.
Seandainya bisa, Nisa menginginkan nyawa di balas dengan nyawa. Agar keluarganya bisa merasakan bagaimana hancurnya di tinggalkan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti. Pihak kepolisian masih memeriksa bukti yang ada."
"Kamu tidak usah khawatir, aku pastikan hukuman Tuan Frans tidak akan ringan." Ujar Andreas meyakinkan.
Meski dia juga tidak tau hukuman apa yang akan di berikan pada Tuan Frans, namun Andreas sudah meminta pada pengacara dan kuasa hukumnya agar Tuan Frans tidak bisa bebas dari penjara dengan mudah.
Mata Nisa langsung berkaca-kaca. Dia tak pernah sanggup jika membahas hal ini karna selalu teringat dengan kedua orang tuanya. Tapi disisi lain dia juga ingin mengikuti perkembangan kasus kecelakaan itu. Nisa ingin memastikan bahwa pelaku kejahatan itu mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya. Karna Tuan Frans dengan sengaja merencanakan kematian kedua orang tua Nisa.
"Aku berada dalam mobil yang sama pada saat kejadian. Itu artinya Tuan Frans tak hanya menginginkan kematian kedua orang tuaku. Tapi menginginkan kematianku juga"
"Jadi sudah sepantasnya dia mendapatkan hukuman yang setimpal." Nada bicara Nisa penuh penekanan. Ada amarah, dendam dan kebencian dalam sorot mata Nisa ada sosok yang dia bicarakan.
"Aku tau bagaimana perasaan mu. Tapi tidak baik kalau berlarut-larut seperti ini,," Dengan lembut Andreas mengusap pipi Nisa, mengulas senyum tipis dan tatapan teduh pada wanita yang tengah duduk di pangkuannya.
Dia tak ingin melihat Nisa larut dalam kesedihan yang disertai dengan perasaan amarah dan kebencian.
"Memang tidak mudah, tapi semuanya sudah terjadi dan kamu harus bisa menerimanya. Percayakan proses hukum pada pihak yang berwajib."
"Jangan takut, aku akan tetap di sampingmu sampai Tuan Frans mendapatkan hukuman yang kamu inginkan." Andreas menatap dalam.
Ucapan dan tatapan Andreas membuat Nisa terdiam. Dia merasa tersentuh dengan semua kebaikan dan usaha yang dilakukan oleh Andreas untuk mengurus proses hukum yang ada.
Bahkan tanpa di minta, Andreas sudah mengerahkan pengacara dan kuasa hukum untuk menuntut Tuan Frans.
"Makasih Ndre,," Ucap Nisa dengan mata berkaca-kaca. Dia lalu memeluk Andreas.
__ADS_1
"Aku tidak butuh ucapan terimakasih, aku butuh kamu sekarang,," Bisik Andreas.
Nisa sontak melepaskan pelukannya dan menatap Andreas dengan wajah cemberut.
"Mesum sekali.!" Nisa mencubit lengan kokoh Andreas. Namun yang di cubit hanya terkekeh santai dan beberapa detik kemudian langsung menyambar bibir sensual Nisa dengan gerakan lembut.
Kali ini Nisa tak bisa mencegah lagi. Dia membiarkan Andreas melakukan apa yang dia inginkan. Lagipula Andreas juga sudah melakukan sesuatu yang sangat berarti untuknya pada Tuan Frans.
Beberapa menit berlalu, kini tubuh keduanya sudah polos tanpa sehelai kain sedikitpun.
Sejenak melupakan apa yang baru saja mereka bahas karna fokusnya hanya pada kenikmatan yang semakin lama terasa memabukkan.
Andreas mengarahkan Nisa untuk berada di atasnya. Istri cantiknya itu langsung melakukannya tanpa protes.
Jika sudah dalam keadaan seperti ini, mereka tak memikirkan apa yang telah menjadi tujuannya.
Rasa nikmat itu mampu membuat keduanya melayang.
Suara desa -sahan memenuhi kamar. Membuat keduanya semakin terbakar gairah.
Suara dering ponsel membuat Andreas menatap geram pada ponsel yang ada di atas nakas. Dia lupa untuk mematikan ponselnya.
Tanpa pikir panjang langsung meraih ponsel itu untuk di non aktifkan, namun saat melihat nama yang tertera, Andreas mengurungkan niatnya dan justru mengangkat panggilan telfon itu, lalu meletakkan di atas ranjang dalam posisi terbalik agar Nisa tidak bisa melihat kalau dia mengangkat panggilan telfon itu.
Nisa yang mengira jika Andreas mematikan ponselnya, kembali bergerak liar di atas tubuh Andreas disertai desa -sahan sensualnya.
__ADS_1
"Lebih cepat sayang,," Pinta Andreas.