Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 84


__ADS_3

"Maaf Tuan, ponsel Tuan Andreas tidak bisa di hubungi." Ucap asisten pribadi Tuan Chandra yang sudah puluhan kali mencoba menghubungi nomor ponsel Andreas.


"Kenapa dia mematikan ponselnya.!" Kepanikan jelas terlihat dari wajah Tuan Chandra.


Perusahaannya sedang berada di ujung tanduk setelah menerima tawaran dari perusahaan asing yang ternyata menusuknya dari belakang.


Memang setelah 1 bulan melakukan kerja sama dengan perusahaan itu, perusahaan Tuan Chandra kembali stabil bahkan mengalami peningkatan. Tapi sejak 2 minggu yang lalu mulai muncul banyak masalah dalam waktu yang bersamaan.


"Cepat hubungi dia bagaimanapun caranya.!"


"Kalau perlu terbang ke Swiss sekarang juga dan minta Andreas kembali ke Indonesia.!" Nada bicara Tuan Chandra semakin meninggi.


Dia tidak tau harus melakukan apa. Semua petinggi di perusahaannya sudah berada di kuburan perusahaan asing itu yang entah siapa pemiliknya.


Hanya Andreas yang tau karna saat itu Andreas yang dia tugaskan untuk bertemu dengan pemiliknya.


Tuan Chandra juga tidak tau secara detail, karna hanya mendengar penuturan dari Andreas saja.


"Baik Tuan. Saya akan menyuruh seseorang untuk menyusul Tuan Andreas ke Swiss."


Asisten pribadi itu beranjak keluar dari ruangan Tuan Chandra.


"Sial.!!" Umpat Tuan Chandra. Dia meraih vas bunga di atas meja dan membantingnya.


Kali ini perusahaannya benar-benar akan hancur jika tidak bisa bertemu langsung dengan pemilik perusahaan itu dan memohon di kakinya.


"Sebenarnya siapa pemiliknya." Gumamnya frustasi.


Rasanya sia-sia kerja kerasnya selama puluhan tahun dalam membangun perusahaannya sampai sebesar ini kalau pada akhirnya akan bangkrut dan hancur begitu saja.

__ADS_1


"Pah,, apa yang terjadi.?" Devan baru saja masuk dan berjalan cepat menghampiri Tuan Chandra.


Dia juga syok saat sang Papa menelponnya dan mengatakan jika perusahaan pusat sedang mengalami masalah besar.


"Lakukan sesuatu Devan, jangan sampai perusahaan kita hancur,," Nada bicara Tuan Chandra sedikit bergetar. Dia tampak belum percaya dengan semua yang sedang terjadi.


Sudah cukup kedua kalinya dia merasakan perusahaannya berada di ujung tanduk. Dia tentu berharap kali ini bisa diselamatkan lagi.


"Papa harus tenang, aku akan melakukan sesuatu untuk membuat pemilik perusahaan itu bersedia menemui kita."


Sejujurnya Devan sudah berulang kali mengirimkan email pribadi ke pemilik perusahaan asing itu beberapa hari yang lalu. Namun tak ada tanggapan sama sekali meski email itu sudah di baca.


"Aku juga sudah menghubungi Andreas dan Nisa, tapi ponsel mereka tidak aktif." Tuturnya.


Ada kecemasan di mata Devan, entah kenapa dia tidak bisa tenang sejak Nisa pergi ke Swiss bersama Andreas. Dan sekarang nomor ponsel mereka tidak bisa di hubungi sejak 2 hari yang lalu.


Mengingat ancaman Andreas yang mengatakan ingin membuat hidup Nisa hancur dan menderita, Devan jadi mencemaskan keadaan Nisa di sana.


...*****...


"Pagi-pagi sudan melamun.?" Andreas memeluk Nisa dari belakang. Istrinya itu kedapatan sedang melamun di balkon kamar.


Dia bahkan tidak tau sejak kapan Nisa bangun. Sedangkan saat ini baru pukul 7 pagi.


"Masih memikirkan ponselmu.?" Tebaknya. Karna sejak ponsel mereka hilang, Nisa terlihat banyak melamun dan gusar.


Nisa menoleh, dia menganggukkan kepala dengan raut wajah sendu.


Ponsel miliknya memang tidak seberapa, tapi di dalam ponsel itu banyak foto kenangannya bersama kedua orang tuanya. Belum lagi banyak data dan catatan yang berkaitan dengan bisnisnya.

__ADS_1


"Bukankah sudah aku belikan ponsel baru,," Ujar Andreas seraya membalik tubuh Nisa.


Andreas bisa merasakan kalau ponsel milik Nisa sangat berarti untuknya, terbukti saat dia membelikan ponsel terbaru dengan harga yang jauh di atas ponsel milik Nisa, wanita cantik itu tampak biasa saja menerima ponsel itu.


"Tapi ponsel lamaku sangat berarti Ndre. Sekarang aku kehilangan foto kenangan bersama kedua orang tuaku." Mata Nisa berkaca-kaca, dia menahan tangis di depan Andreas.


"Aku mengerti." Kata Andreas seraya menangkup kedua pipi Nisa.


"Aku sudah melaporkannya pada pihak keamanan hotel, kita tunggu kabar selanjutnya. Semoga ponselmu bisa kembali."


Andreas hendak mencuri kesempatan dengan mencium bibir Nisa, sayangnya langsung di tahan oleh Nisa yang menyadari hal itu.


"Masih pagi Ndree,," Protesnya sambil mendorong dada bidang Andreas.


Terkadang Nisa heran dengan Andreas yang tidak ada bosan-bosannya menempel padanya sembari mencuri-curi kesempatan untuk mengecap bibirnya.


"Memangnya kenapa.?"


"Tidak ada peraturan yang melarang berciuman di pagi hari. Jangankan ciuman, merengkuh kenikmatan juga tidak masalah." Jawabnya yang langsung mengangkat tubuh Nisa dan membawanya masuk ke kamar.


"Ya ampun Andreas,,! Apa belum puas semalaman melakukannya." Keluh Nisa. Dia memang menyukai kegiatan itu, tapi kalau melakukannya berulang kali dalam sehari rasanya tidak sanggup.


Sejak tiba di Swiss 5 hari yang lalu, entah sudah berapa kali Andreas membuatnya lemas tidak berdaya.


"Tidak ada kata puas kalau ber cinta denganmu,," Jawab Andreas cepat.


Dia membuat Nisa terpaksa menuruti keinginannya walaupun saat ini sedang risau memikirkan ponselnya.


"Ahh,, Andreas,,," Pada Akhirnya suara des sah han tetap keluar dari mulut Nisa. Andreas memang tidak pernah gagal membuatnya melayang.

__ADS_1


Senyum bangga tertahan di bibir Andreas. Melihat Nisa meracau tidak karuan di bawah kungkungannya membuatnya semakin bersemangat untuk kembali melakukannya lagi dan lagi.


"Cooming soon Andreas junior." Ucap Andreas seraya mengusap perut Nisa.


__ADS_2