
"Sejak dulu sampai detik ini, aku masih sangat mencintaimu."
Pengakuan Andreas terulang di benak Nisa. Wanita berparas cantik itu hanya mengukir senyum getir. Berbicara soal cinta, seharusnya cinta tak akan menyakiti. Tak akan menghancurkan hanya demi obsesi untuk membalas dendam.
Jangankan menghancurkan, untuk meninggalkan cintanya saja seharusnya akan berfikir ribuan kali.
"Kamu ingin aku bereaksi seperti apa.?" Tanya Nisa seraya melepaskan genggaman Andreas dari pergelangan tangannya.
Tatapan mata Nisa tampak datar, meski dia terlihat tersenyum getir saat baru menoleh.
Kecewa, itu yang Andreas rasakan ketika melihat reaksi Nisa yang tampak biasa saja saat dia mengungkapkan isi hatinya.
Entah kenapa dia masih berharap akan keajaiban bahwa suatu saat Nisa bisa kembali mencintainya dan menerimanya untuk kembali.
Padahal jelas-jelas dia bisa merasakan kehampaan dari tatapan mata Nisa yang seolah tak bisa lagi merasakan cinta.
Andreas bangun perlahan dari tempat tidur. Dengan hati-hati menggeser Kenzie agar putranya itu tak ikut bangun.
“Apa tidak ada kesempatan untukku.?” Tanya Andreas putus asa. Pandangan matanya tampak nanar. Mungkin dia akan menyesal seumur hidup jika Nisa tak mau kembali padanya.
“Banyak Andreas, aku banyak memberimu kesempatan selama 3 tahun ini."
"Apa waktu 3 tahun masih belum cukup untukmu.?" Tanya Nisa. Ada kekecewaan mendalam yang berusaha untuk dia ungkapkan kembali.
"Berapa lama waktu yang harus aku berikan agar kamu bisa menyadari bahwa kesempatan itu selalu ada di depan matamu."
"Tapi aku tidak tau kemana pergimu dan apa saja yang kamu lakukan selama aku memberikan kesempatan 3 tahun ini." Senyum menyayat hati terukir di bibir Nisa. Rasanya sulit untuk melupakan rasa sakit yang dia alami selama 3 tahun ini. Namun dia bersyukur karna masih di berikan kewarasan dan kekuatan untuk menjalani hari-harinya bersama Kenzie.
"Sejujurnya aku tidak mau kita membahas hal ini lagi." Nisa menghela nafas berat.
"Selama aku tidak menghalangi mu bertemu dengan Kenzie, bukankah seharusnya kamu bersyukur karna mungkin di luar sana jarang ada seorang ibu yang mau mempertemukan putranya dengan seseorang yang dulu sudah membuangnya."
__ADS_1
Terlepas Andreas yang saat itu tidak mengetahui keberadaan Kenzie, tapi Andreas membuang dirinya yang saat itu tengah mengandung Kenzie. Jadi secara tidak langsung, Andreas telah membuang mereka berdua.
"Seandainya dulu kamu memberitahu tentang keberadaan Kenzie, mungkin,,,
"Lihat Andreas,,," Potong Nisa dengan senyum miris.
"Dari ucapanmu saja sudah menunjukkan kalau aku tidak berarti untukmu tanpa Kenzie. Kamu akan tetap di sisiku karna Kenzie."
"Jadi berhenti membahas soal cinta, karna aku tidak akan percaya lagi apa itu cinta." Ujarnya tegas.
Terluka dan menderita karna cinta berulang kali, membuat Nisa pada akhirnya tak percaya dengan cinta. Bahkan memiliki untuk menutup hati rapat-rapat agar tak ada sedikitpun ruang untuk menumbuhkan cinta di harinya.
Dia sudah mati rasa, tak akan kembali pada lubang hitam yang sama.
Sudah cukup mengalami penderitaan dan rasa sakit dalam hidupnya, dia tak mau memberikan celah untuk kembali merasakan kepahitan itu lagi.
"Sebaiknya turun ke bawah, Aditya sudah menunggu mu." Ucap Nisa sebelum akhirnya pergi dari hadapan Andreas.
Suasana di ruang makan kali ini tak seperti biasanya. Mereka kedatangan 2 anggota baru yang menempati meja makan.
Aditya duduk bersebelahan dengan Tiara, sementara di hadapan mereka ada keluarga kecil yang tampak bahagia meski sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Namun keduanya tampak kompak di depan putra mereka yang saat ini duduk di tengah-tengah mereka dan sendang merengek untuk di suapi oleh Andreas.
"Zie mau sama Papi,," Rengek Kenzie yang tidak mau makan dari suapan Nisa.
"Papi sedang makan sayang, biarkan Papi menghabiskan makannya dulu." Ujar Nisa lembut.
"Sekarang Zie makan dulu sama Momi,," Masih berusaha untuk membujuk dengan menyodorkan sendok ke depan mulut Zie, namun putranya itu tetap tidak mau.
Mendengar hal itu, Andreas langsung meletakkan sendok miliknya. Dia menghentikan makannya untuk menyuapi Kenzie lebih dulu.
__ADS_1
"Sini, berikan padaku. Biar aku suapi Zie dulu." Pintanya seraya mengulurkan tangan di depan Nisa. Meminta Nisa agar memberikan piring makanan milik Kenzie.
"Tidak Ndre,, nanti jadi kebiasaan." Tolak Nisa pelan.
"Sebaiknya kamu habiskan dulu makannya, setelah itu baru suapi Zie." Pintanya.
Nisa tidak mau membuat putranya merasa bahwa dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dengan sekali merengek.
Dia akan membiarkan Zie di suapi oleh Andreas, tapi saat Andreas sudah selesai menghabiskan makanannya.
"Zie makan dulu di suapin Momi ya.? Biarkan Papi makan dulu. Papi juga lapar, jadi harus makan dulu seperti Zie." Dengan suara lembutnya, Nisa kembali membujuk Kenzie.
Untungnya putranya itu langsung mengangguk dan mau membuka mulutnya.
"Pintar sekali jagoan Momi,," Puji Nisa seraya mengusap pucuk kepala Kenzie. Wanita itu tersenyum lebar dan sesaat senyum lebarnya redup ketika tak sengaja menatap Andreas yang tengah diam menatap ke arahnya dan Kenzie.
"Kenapa bengong.?" Tegur Nisa.
"Habiskan makananmu kalau ingin menyuapi Kenzie." Ucapnya yang kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.
Tanpa Nisa ketahui, senyum Andreas mengembang sempurna. Dia sedang merasakan kebahagiaan tak ternilai meski dengan keadaan hubungan yang sulit.
Duduk bersama dalam di meja makan bersama Nisa dan putra mereka, tentu menjadi kebahagiaan gak ternilai untuknya. Apalagi bisa melihat senyum bahagia Nisa sudah lama tidak dia lihat. Meski senyum itu hanya di tunjukkan untuk Kenzie.
Tak mau kehilangan kesempatan, Andreas buru-buru menghabiskan makanannya agar bisa bergantian menyuapi Kenzie.
Sementara itu di hadapan mereka ada 2 manusia yang hanya bisa berkhayal setelah melihat adegan manis di depan matanya.
Walaupun sempat takut untuk sekedar membayangkan pernikahan karna melihat hubungan Andreas dan Nisa yang tampak rumit, namun interaksi ketiganya kini berhasil membuat jiwa jomblo mereka meronta-ronta.
Meski tidak ada ungkapan romantis ataupun kontak fisik yang manis, tapi entah kenapa di mata keduanya mereka terlihat seperti keluarga bahagia yang harmonis dan pantas untuk menjadi panutan.
__ADS_1
Dalam keadaan hati yang pasti tidak menentu di antara Andreas dan Nisa, tapi keduanya bisa kompak dan bersikap bijak di depan Kenzie.