Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 139


__ADS_3

"Kakak tidak pulang.? Sudah hampir malam." Dengan nada bicara ketus, Tiara terang-tarangan mengusir Aditya dari rumah Nisa. Bahkan ini bukan kali pertama Tiara menyuruh Aditya untuk pergi dari rumah itu. Namun Aditya masih santai duduk di ruang keluarga dengan laptop yang menyala di atas pangkuannya.


Berlagak sedang mengerjakan pekerjaan kantor, Aditya enggan pergi dengan alasan pekerjaannya belum selesai. Padahal dia bisa saja melanjutkan pekerjaannya di hotel.


"Sebentar, 30 menit lagi." Jawab Aditya setelah melihat arloji di tangannya, lalu kembali fokus pada lapto. Entah apa yang sedang di kerjakan oleh laki-laki itu, dia tampak sangat serius dengan memakai kacamata. Benar-benar seperti sedang berada di kantor saja.


"Sudah 3 kali Kakak bicara seperti itu.!" Ucap Tiara sewot. Tidak tau apa tujuan Aditya bertahan di rumah itu dan terkesan tak mau pulang.


Belum lagi sikapnya yang tiba-tiba aneh. Tak secuek biasanya, bahkan terkadang menawarkan Tiara minum saat dieinya akan mengambil minuman di dapur.


Layaknya berada di rumah sendiri, Aditya begitu santai keluar masuk dapur dan mengambil isi lemari pendingin.


"Benarkah.?" Aditya berlagak lupa. Dia menatap sekilas pada Tiara yang duduk di depannya. Tiara sontak berdecak kesal. Lama-lama dia emosi juga menghadapi Aditya. Bukannya sedang berada di sampingnya, malah ingin Aditya cepat-cepat menghilang dari pandangannya.


Apa lagi saat mengingat kejadian kemarin di restoran, rasanya ingin meluapkan kekecewaan yang dia rasakan.


Perhatian yang diberikan Aditya pada Evelin, seakan mempermalukan harga diri Tiara yang saat itu sedang berpura-pura menjadi calon istrinya.


"Terserahlah.! Aku mau mandi, kalau mau pulang tolong tutup lagi pintunya." Tiara menyerah. Sekalipun dia bicara sampai mulutnya berbusa untuk mengusir Aditya, kalau laki-laki itu tetap tidak mau pergi, maka percuma saja. Hanya buang-buang waktu dan energi.


Beranjak dari ruang keluarga, Tiara buru-buru pergi ke kamarnya. Gara-gara Aditya tak kunjung pulang, dia sampai belum mandi meski sudah pukul setengah 6 sore.


"Jangan lama-lama mandinya,,," Teriak Aditya. Tiara menghentikan langkah, menoleh dengan mata yang melotot. Untuk apa juga Aditya melarangnya mandi lama-lama.


"Mau lama atau sebentar, itu bukan urusan Kak Adit.?" Tiara menjawab sewot dan kembali beranjak.


"Kata siapa.?! Tentu saja jadi urusanku karna kamu harus menemaniku makan malam di luar.!!" Teriakan Aditya masih bisa di dengar oleh Tiara meski sudah berbeda ruangan.


"Ya ampun,, ada apa dengan laki-laki itu." Gumam Tiara bingung. Harusnya dia senang karna Aditya akan mengajaknya makan malam, itu artinya akan lebih banyak waktu berdua dan bisa saling mengenal lebih dekat seperti yang pernah dia harapkan sebelumnya. Tapi lagi-lagi satu kesalahan Aditya membuat Tiara melupakan semua keinginannya. Dia tidak tertarik lagi untuk dekat dengan Aditya.


Belum lagi dia merasa bahwa Aditya lebih pantas bersanding dengan wanita karir yang berasal dari keluarga berada. Bukan bersanding dengan asisten rumah tangga sepertinya.


"Ya ampun.!! Kak Adit sedang apa.?" Tiara terperanjat kaget. Dia sampai mundur lagi dan bersembunyi di balik pintu kamarnya.


Setelah mengurung diri di kamar selama 1 jam, Tiata pikir Aditya sudah pulang. Tapi begitu dia membuka pintu untuk mengeceknya, Aditya justru sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kamu masih sempat bertanya aku sedang apa.?" Aditya membalikkan pertanyaan Tiara.

__ADS_1


"Kamu tidak lihat aku sudah mandi dan rapi.?" Ujarnya. Membuat Tiara langsung memperhatikan Aditya dari ujung kepala sampai kaki untuk memastikan ucapannya.


Rupanya Aditya sudah mengganti bajunya, penampilannya juga lebih rapi dan segar di banding 1 jam yang lalu. Aroma parfum maskulinnya juga masih kuat.


Itu artinya Aditya benar-benar sudah mandi. Tapi yang membuat Tiara tak habis pikir adalah Aditya sampai membawa baju ganti.


Apa dia sengaja berlama-lama di rumah ini karna sudah menyiapkan semuanya.


"Kenapa bengong.?" Tegur Aditya.


"Ganti bajumu, aku tunggu di mobil. Jangan sampai aku menggendong paksa kalau kamu tidak kunjung keluar." Setelah menggertak Tiara, Aditya menyelonong pergi dan keluar dari rumah.


"Dasar pemaksa.!" Gerutu Tiara yang mau tidak mau tetap menuruti permintaan Aditya.


...*****...


"Tidak apa, tidur di sini saja." Ujar Nisa pada Andreas. Lagipula tidak mungkin dia menolak permintaan putranya yang menginginkan mereka tidur bersama.


Andreas mengangguk kecil, dia lantas berjalan ke arah ranjang dengan Kenzie yang berada dalam gendongannya.


Begitu di turunkan di ranjang, Kenzie langsung lompat-lompat di atas ranjang.


"Papi ayo naik,," Ajak Kenzie seraya menarik tangan Andreas agar mau naik ke atas ranjang.


Nisa tampak menggelengkan kepala seraya mengulum senyum melihat tingkah putranya. Akhir-akhir ini Kenzie memang terlihat lebih aktif di depan Andreas. Ada saja tingkahnya yang membuat Andreas harus ikut bermain dengannya.


Seolah sedang mencari perhatian, Kenzie melakukan hal yang biasanya tak pernah dia lakukan di depan Nisa.


"Oke,, Papi akan naik." Andreas menuruti keinginan putranya dengan ikut naik ke atas ranjang. Dia hanya berdiri saja dengan kedua tangan yang di genggam oleh Kenzie.


"Astaga Andreas,, kamu harus sadar badanmu sebesar apa. Jangan sampai ikut lompat." Komentar Nisa setelah Andreas berdiri di atas ranjang. Melihat badan besar Andreas yang tinggi itu, entah apa jadinya kalau Andreas ikut lompat-lompat seperti Kenzie.


"Iya aku mengerti." Jawab Andreas.


Nisa berlalu, pergi ke walkn in closet untuk merapikan baju-baju dan barang belanjaannya yang belum sempat dia rapikan.


30 menit berlalu. Saat kembali ke kamar, Kenzie sudah dalam mode akan tidur. Bocah mungil itu berada dalam dekapan Andreas. Mereka berdua saling memeluk seolah tak mau lepas.

__ADS_1


Andreas menoleh karna menyadari keberadaan Nisa. Dia menepuk sisi kosong di ranjang itu agar Nisa ikut berbaring di sana. Ibu dari anaknya itu tampan kebingungan. Tak bergerak mendekat ataupun menolak.


Sampai akhirnya suara bel membuat Nisa memliki alasan untuk beranjak dari kamar itu.


Dia bergegas membukakan pintu. Tampak pelayan hotel membawa nampan berisi 2 gelas minuman dingin yang berwarna dan menyodorkannya pada Nisa.


"Maaf, saya mau mengantarkan pesanan." Ucapnya. Nisa lantas menerima nampan tersebut dan mengucapkan terimakasih sebelum menutup pintu.


Nisa tampak tergiur dengan minuman dingin itu. Setelah meletakkannya di atas meja, dia mengambil 1 gelas untuk di minum sendiri.


Andreas terlampau perhatian padanya sampai memesankan minuman segar itu disaat dia sedang membereskan baju.


Minuman di tangannya hampir habis hanya dalam 3 kali teguk. Nisa hendak beranjak untuk memberikan minuman milik Andreas, namun pria itu justru keluar dari kamar dan berjalan ke arahnya.


"Siapa yang datang.?" Tanya Andreas. Dia sengaja keluar dari kamar karna ingin melihat siapa yang datang ke kamarnya.


"Pelayan hotel." Jawab Nisa.


"Itu minuman milikmu." Ujarnya seraya menunjuk 1 gelas minuman yang masih utuh.


"Terimakasih,," Ucapnya seraya meyambar gelas di atas meja itu. Andreas hanya meneguknya sekali, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Dia sedang menghindari minuman dingin sejak beberapa tahun lalu, apalagi minuman yang berwarna seperti itu. Dia meminumnya hanya untuk menghargai Nisa yang sudah memesankan minuman untuknya.


"Kenzie sudah tidur, aku akan pindah ke kamarku." Ujar Andreas.


"Tidak apa, kita bisa berbagi ranjang untuk Kenzie."


"Jangan sampai nanti tengah malam dia bangun dan menangis mencarimu." Tutur Nisa.


Mendapatkan sinyal untuk tidur satu ranjang lagi dengan Nisa, Andreas tampak mengukir senyum tipis. Sejujurnya dia memang ingin menikmati kebersamaannya dengan Nisa dan putra mereka.


Karna jika mereka sudah resmi bercerai, mungkin Nisa tak akan mau untuk tidur satu ranjang lagi dengannya meski Kenzie merengek.


...*****...


rekomendasi novel "ibuku selingkuhi calon menantu"


__ADS_1


__ADS_2