
"Tapi aku harus mandi, nanti saja kita bicarakan setelah sarapan." Ucap Tiara. Bukan tanpa alasan dia tidak mau membicarakannya saat ini, karna sebentar lagi majikannya pasti akan turun untuk sarapan. Tiara sudah kehilangan muka di depan Nisa, jadi dia ingin menghindari interaksi bersama Aditya di depan Nisa.
"Baiklah. Aku tunggu di taman belakang setelah sarapan." Ujar Aditya yang di balas anggukan oleh Tiara. Gadis itu kemudian berlalu dari ruang makan.
20 menit berlalu, Tiara kembali ke ruang makan dengan memakai baju yang lebih tertutup di banding sebelumya. Dia memakai celana panjang dan kaos yang lebih longgar dari biasanya.
Tapi meski begitu, dia akan merasa telanjang jika di tatap oleh Aditya. karna laki-laki itu sudah melihat bagian atas tubuhnya dan menggerayangi bagian bawah tubuhnya.
"Makanannya sudah datang.? Siapa yang menatanya.?" Begitu sampai di ruang makan, pandangan Tiara langsung tertuju pada meja makan yang sudah berjejer beberapa menu makanan.
"Memangnya ada siapa lagi di ruangan ini selain aku." Jawab Aditya yang tengah duduk santai di salah satu kursi dengan memegang ponsel di tangannya.
Tiara hanya mengangguk-angguk saja.
"Makasih." Ucapnya tulus. Setidaknya Aditya sudah sedikit mengurangi pekerjaannya.
"Hanya itu saja.?" Ujar Aditya seraya menatap serius wajah Tiara. Sepertinya ucapan terimakasih saja tidak cukup untuk pria itu.
"Memangnya aku harus bilang apa lagi.?" Tiara menautkan kedua alisnya. Apa perlu di mengucapkan terimakasih lengkap dengan apa yang sudah di lakukan oleh Aditya.
"Kalau sekedar ucapa saja sudah biasa." Sahut Aditya. Otak laki-laki yang semalam baru saja menggerayangi tubuh per awan itu mulai bermasalah. Dia jadi terus membayangkannya dan berharap bisa mengulangi lagi dan ingin berbuat lebih dari sekedar kejadian tadi malam.
"Lalu.?" Ekpresi wajah Tiara semakin terlihat kebingungan.
Pikiran gadis polos itu tidak bisa membaca apa yang ada di dalam otak mesum Aditya.
"Terimakasihnya di ganti saja dengan ciuman seperti tadi malam." Pinta Aditya dengan tatapan menggoda. Tiara sontak membulatkan matanya. Dia tidak menyangka Aditya Akan membahas tentang tragedi tadi malam yang memalukan itu. Bahkan Aditya meminta untuk mengulanginya lagi. Dan itu membuat Tiara kesal sekaligus sangat malu pada Aditya.
"Kak.!" Tegur Tiara. Dia langsung membuang pandangan ke arah lain dan menyibukkan diri di dapur.
Bicara soal ciuman, masih jelas di ingatan Tiara saat dia dengan agresif dan tak tau malu terus menciumi bibir Aditya. Laki-laki yang awalnya tak membalas ciuman itu, lama-lama jadi mengimbanginya lantaran mendapatkan ciuman berulang kali.
__ADS_1
...****...
"Ayo turun." Ajak Nisa selesai memakaikan baju pada putranya. Dia mengajak Andreas untuk sarapan.
"Sini biar aku yang gendong Zie." Andreas menggendong putranya.
Mereka baru saja berperang air di dalam kamar mandi. Andreas sampai harus mandi lagi lantaran basah kuyup beserta handuk yang dia pakai.l karna terlalu asik bermain air dengan putranya.
Keseruan itu berlangsung 15 menit sampai akhirnya Nisa masuk ke dalam kamar mandi dan menegurnya dengan bahasa Inggris agar Kenzie tidak tau apa yang dia ucapkan.
Sontak saja nyali Andreas langsung ciut. Dia buru-buru menyudahi keseruannya dengan Kenzie dan langsung memandikannya.
"Jangan jauh-jauh jalannya." Ucap Andreas seraya menggandeng tangan Nisa. Pria itu mengukir senyum tipis yang menawan.
"Ini di rumah Ndre,, aku tidak akan hilang." Jawab Nisa seraya menggeleng heran.
"Bukan masalah hilang atau tidak, tapi aku tidak bisa jauh-juah dari kamu." Balasan Andreas membuat Nisa terkekeh mengejek.
"Buka buaya, tapi kuda." Jawab Andreas cepat.
"Kamu tau kan kalau kuda punya itu yang besar dan panjang."
Nisa langsung mendelik, dia memukul pelan lengan Andreas. Bisa-bisanya bicara aneh di depan Kenzie.
"Aku tidak pernah melihat kuda secara langsung, jadi mana aku tau." Sahutnya acuh.
"Sudah jangan bahas yang aneh-aneh.!" Nisa mempercepat langkah. Mau tidak mau, Andreas juga harus mengikutinya karna dia masih menggandeng tangan Nisa.
Kini semua orang sudah berada di ruang makan. Temasuk Tiara yang memang sejak dulu selalu makan di meja makan bersama Nisa dan Kenzie.
Suasana di ruang makan cukup canggung dan tidak ada obrolan apapun. Hanya ada suara Kenzie yang mendominasi dan terus berbicara pada Andreas.
__ADS_1
Nisa bahkan tak mengatakan apapun sejak datang, dia memilih diam karna masih kecewa dengan Aditya dan Tiara atas perbuatan mereka kemarin malam.
Masalahnya perbuatan seperti itu benar-benar tabu untuk Nisa sebelum resmi menjadi suami istri. Tapi Aditya malah melakukannya di rumah yang di beli oleh Nisa dengan hasil kerja kerasnya selama ini. Itu yang membuat Nisa sangat kecewa. Walaupun di sisi lain dia juga merasa kasihan pada Tiara.
Selesai makan, Andreas memulai obrolan dengan Aditya. Dia memerintahkan Aditya untuk segera mengurus keberangkatannya ke Amerika.
Pria itu juga menyuruh Aditya menguras paspor untuk Kenzie dan Nisa karna mereka berdua akan ikut dengannya.
Semalam Nisa baru mengatakan bersedia untuk ikut setelah berhasil mengerjainya.
Suasana kembali hening setelah Andreas dan Aditya selesai bicara.
"Mulai nanti malam aku tidak mau melihat kamu menginap disini, Aditya." Nisa berucap tegas. Tidak ada cara lain untuk mencegah hal-hal yang tidak dia iginkan kembali terjadi di rumahnya. Jadi dia harus memisahkan Aditya dan Tiara agar tidak tinggal dalam satu rumah. Sekalipun Aditya sudah berniat untuk menikahi Tiara, tapi keduanya tetap harus di pisahkan untuk sementara waktu sebelum akhirnya mereka sah menjadi suami istri.
Aditya langsung terdiam. Walaupun semua yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahan dia, tapi laki-laki itu tak bisa memberikan pembelaan di depan Nisa. Dia terpaksa harus bungkam agar permasalahannya tidak semakin rumit dan panjang. Mau tidak mau, dia harus terima dengan keputusan Nisa.
"Sayang, jangan seperti itu. Lagipula hanya 3 hari lagi Aditya di sini sebelum kita ke Amerika."
"Biarkan saja dia menginap disini asal tidak berbuat macam-macam lagi." Pinta Andreas.
Sebagai orang yang merasa bertanggungjawab atas apa yang menimpa Tiara dan Aditya, Andreas tak bisa tinggal diam.
"Ndre,," Tegur Nisa pelan. Dia menatap Andreas, memberikan kode agar tidak ikut campur dengan apa yang telah menjadi keputusannya.
"Tidak apa Tuan, nanti siang saya akan tinggal di hotel." Ucap Aditya pasrah.
"Satu lagi, cepat urus pernikahan kamu dan Tiara."
"Temui dulu orang tuanya sebelum kamu kembali ke Amerika." Perintah Nisa yang sejak tadi menatap Aditya dan Tiara berganti.
"Baik Nona." Aditya menganggu paham, lagipula dia memang sudah berencana untuk menemui orang tua Tiara.
__ADS_1
Sementara itu, Tiara hanya diam saja. Dia tak punya keberanian untuk bicara pada Nisa mengenai pernikahan itu.