Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 40


__ADS_3

Nisa memegangi dadanya yang terasa bergemuruh. Jantungnya berdetak kencang saat mulai melangkahkan kaki untuk menuju pintu keluar. Antara siap dan tidak, dia akan menghampiri Andreas dalam keadaan terbaik untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Bukan untuk sebuah tanggungjawab, melainkan karna ada tujuan yang harus dia capai.


Meski begitu, tak menutup kemungkinan bagi Nisa mencintai dan tetap menjalani pernikahannya bersama Andreas jika laki-laki mampu meyakinkan hatinya dan mampu menghapus perasaan dendam yang ada.


Nisa sedikit terkejut ketika keluar dari walk in closet dan mendapati keadaan kamar yang redup. Lampu utama di padamkan dan hanya menyisakan 1 lampu tidur di sisi kanan ranjang. Tentu Andreas yang melakukannya. Membiarkan kamar dengan lampu temaram yang menambah suasana terasa menegangkan bagi Nisa.


Andreas berdiri di depan ranjang dengan posisi menghadap ke arah Nisa. Berdiri tegap seolah sudah siap untuk menyambut kedatangan istrinya itu. Keduanya saling menatap meski tak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah masing-masing lantaran suasana kamar yang gelap. Terutama Nisa, dia tidak bisa melihat wajah Andreas karna posisi laki-laki itu membelakangi lampu tidur.


"Kenapa berhenti.?" Suara berat Andreas memecah keheningan. Dia menegur Nisa yang menghentikan langkah, padahal jaraknya masih cukup jauh dari ranjang.


"Kemarilah, aku akan pelan-pelan." Bujuknya lembut.


Pasti tidak mudah bagi Nisa, mengingat malam itu Andreas melakukannya dengan kasar dan tanpa ampun.


Keduanya tangan Nisa gemetar, membuatnya harus mengatupkan kedua tangannya dengan erat. Rasa takut itu sama seperti pada saat kejadian. Nisa merasa akan mengulangi kejadian buruk itu itu lagi.


Andreas berjalan menghampiri Nisa. Dia menghampiri Nisa lantaran istrinya itu masih diam di tempat.


"Cantik sekali,," Puji Andreas dengan berbisik di telinga Nisa. Tangannya merangkul pinggang Nisa dan memberikan usapan lembut di sana.


"Aku janji akan bermain lembut dan hati-hati." Kata Andreas. Dia menggiring Nisa ke arah ranjang.


"Aku takut Andreas,," Nisa sedikit bergeser untuk menjaga jarak agar bahunya tidak terlalu menempel dengan Andreas.


"Seandainya reaksiku sama seperti malam itu, aku mohon jangan di teruskan." Pintanya.


Nisa takut hal itu akan semakin membuatnya trauma dan pada akhirnya dia jadi takut untuk dekat-dekat dengan Andreas.

__ADS_1


"Aku pastikan itu tidak akan terjadi. Percaya padaku,," Andreas meyakinkan dengan suara lirih. Dia menyuruh Nisa duduk di tepi ranjang, begitu juga dengannya yang ikut duduk di sebelah Nisa.


"Mana tangan kamu.?" Andreas mengulurkan tangannya di depan Nisa. Meminta wanita itu untuk meletakkan tangannya di sana.


Nisa terlihat ragu, tapi perlahan meletakkan tangannya di atas tangan Andreas.


"Apa seperti ini membuatmu takut.?" Tanya Andreas sembari menggenggam tangan Nisa. Dia ingin memastikan apa dengan menggenggam tangan Nisa saat ini membuat wanita itu ketakutan atau tidak.


Nisa hanya menjawab dengan anggukan kecil.


Dalam keadaan seperti ini tentu saja ada rasa takut walaupun sekedar bersentuhan tangan.


"Nggak masalah, pelan-pelan saja. Aku akan menunggu sampai rasa takutnya berkurang." Kata Andreas, namun dia tak melepaskan tangan Nisa dan terus menggenggamnya.


"Aku hanya menempati kamar ini selama 5 tahun." Tutur Andreas. Dia meluruskan pandangan, tak mau menatap Nisa agar Nisa tak semakin takut padanya.


"Setelah lulus SMA, aku tinggal di luar negeri untuk kuliah. Menyelesaikan study di sana selama 3 tahun, lalu kembali ke Indonesia dan langsung masuk ke perusahaan Papa sembari melanjutkan S2 di sini."


Nisa yang awalnya merasa takut dan gugup, kini mulai berani menatap Andreas dan seketika penasaran ingin mendengar lebih jauh tentang masa lalu suaminya.


"Aku menyelesaikan kuliah lebih cepat di banding Devan. Aku hanya membutuhkan waktu 5 tahun untuk kuliah sampai mendapatkan gelar S2, sedangkan Devan 7 tahun."


"Bukankah itu sesuatu yang patut untuk di banggakan.? Tapi Papa tidak pernah merasa bangga atas pencapaian ku." Andreas mengukir senyum kecut. Keberadaannya sama sekali tak memiliki arti apapun di hati Papa kandungnya.


Tepatnya setelah pertengkaran hebat itu terjadi antara sang Papa dan Mama kandungnya.


Semuanya berubah, dari perlakuan, pengakuan, dan tatapan mata sang Papa.

__ADS_1


"Tapi aku bangga padamu,," Sahut Nisa. Dia membalas genggam tangan Andreas, membuat Andreas menoleh padanya. Sama-sama melihat Nisa mengukir senyum padanya.


"Di usia kamu yang masih sangat muda, kamu bisa di andalkan dalam perusahaan keluarga."


"Kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan dengan kekayaannya yang kamu miliki."


"Tak sepertiku, kehilangan kedua orang tua sekaligus saat masih kecil. Dan sampai saat ini tak memiliki apapun yang bisa aku banggakan."


Nisa menarik nafas berat. Jika membandingkan hidupnya dengan Andreas, rasanya memiliki kemiripan dan penderitaan yang sama.


Andreas merangkul pundak Nisa. Perlahan membawa Nisa ke dalam dekapannya.


Nisa terlihat memejamkan mata, sentuhan Andreas kali ini sepertinya tak membuatnya merasa takut. Dia bahkan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Andreas. Membalas pelukan suaminya itu.


Cukup lama keduanya saling memeluk tanpa mengatakan apapun. Andreas kemudian melepaskan pelukannya perlahan. Menatap lekat wajah Nisa sebelum akhirnya mengecup singkat bibir itu.


Merasa tidak ada penolakan, Andreas kembali melakukannya. Kali ini tak hanya sekedar mengecupnya saja. Andreas memagut bibir Nisa, menye -sap dan melu- matnya degan lembut.


"Andreas,," Lirih Nisa sembari menghentikan gerakan tangan Andreas yang masuk kedalam lingerienya. Andreas menyentuh kedua benda sensitifnya.


"Kenapa.? Kamu masih takut.?" Andreas mengentikan kegiatan tangan dsn bibirnya yang sedang memberikan rangsangan pada Nisa.


Nisa menggelengkan kepala. Dia tak lagi merasakan takut, melainkan merasa malu lantaran Andreas menyentuh kedua asetnya.


Melihat Nisa menggelengkan kepala, Andreas kembali mengulanginya lagi.


Dia terus memberikan sentuhan di tubuh Nisa hingga tubuh Nisa terasa mulai menegang.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah siap,," Bisikan Andreas.


Nisa tak memberikan jawaban apapun. Tapi dia tak menolak saat Andreas membaringkan tubuhnya di ranjang.


__ADS_2