
"Andreas,, makan malamnya sudah siap." Nisa memecah suasana canggung yang terjadi antara Devan dan Andreas. Karna sejak melihat Devan ada di dapur bersamanya, Andreas tampak menatap curiga.
"Apa Papa mau makan malam bersama.?" Tanya Nisa antusias. Dia tak hanya akan melupakan dendam terhadap Andreas, tapi juga melupakan perlakuan buruk Tuan Chandra padanya.
Saat ini Nisa memiliki tujuan yang justru berbanding terbalik dengan niat awal.
Jika sebelumnya dia ingin melihat Andreas dan keluarganya hancur, termasuk pernikahan Devan dan Irene, kini Nisa justru menginginkan keutuhan keluarga Andreas agar saling menyayangi satu sama lain.
Dia bertekad untuk membuat Tuan Chandra bisa berlaku adil pada Andreas dan memperlakukan Andreas layaknya seorang ayah pada anak kandungnya.
"Devan, ayo pulang." Belum sempat mendapatkan jawaban dari Andreas, Nisa justru melihat Tuan Chandra yang datang ke dapur dan mengajak Devan untuk pulang.
"Kenapa tidak makan dulu Pah,? Aku juga sudah membuat makanan kesukaan Papa,," Tutur Nisa hati-hati. Sejujurnya dia sedikit takut setiap kali berbicara dengan Papa mertuanya sendiri. Bahkan tidak berani lama-lama menatap matanya karna terlalu menyeramkan. Atmosfernya terlalu kuat, benar-benar sangat dingin dan menakutkan.
"Nisa sudah memasak untuk Papa, sebaiknya makan malam dulu sebelum pulang." Tambah Andreas.
Sebenarnya dia terlihat malas untuk menahan sang Papa dan Devan untuk tetap berada di apartemennya. Namun melihat Nisa yang sudah susah payah memasak dan menyiapkan semuanya untuk membuat sajian makan malam, Andreas jadi tidak tega melihat Nisa kecewa.
Apalagi Nisa terlihat sangat antusias mengajak Papa mertuanya untuk mencicipi masakan buatannya.
"Papa makan di rumah saja. Mamamu dan istri Devan sudah menunggu." Jawabnya acuh.
Jawaban itu membuat semangat Nisa seketika redup. Rasanya tidak ada harapan untuk membuat Papa mertuanya bisa menerima dan menghargainya sebagai seorang menantu.
"Pah.!! Setidaknya hargai usaha Annisa yang sudah membuatkan makanan kesukaan Papa." Sentak Andreas dengan nada bicara yang meninggi.
"Apa salahnya makan malam disini.! Papa hanya perlu bilang Papa Mama Zoya, dia pasti akan mengerti." Kesalnya.
__ADS_1
"Menantu Papa bukan cuma Irene, jadi,,
"Andreas,,," Nisa menyentuh lengan Andreas dan memberikan isyarat padanya agara tidak bicara seperti itu lagi pada sang Papa.
"Tidak apa kalau Papa ingin pulang. Kasihan Mama dan Kak Irene sudah menunggu,," Ujar Nisa. Walaupun sebenarnya dia kecewa karna ajakannya di tolak mentah-mentah oleh Papa mertuanya, tapi lebih baik seperti itu daripada melihat Andreas harus bertengkar lagi dengan Papanya.
"Kamu lihat sendiri, istrimu saja bisa mengerti." Ucap Tuan Chandra acuh.
Dia sama sekali tidak mau mendengar perkataan Andreas yang ingin menahannya agar mau makan malam bersama.
"Papa pulang dulu." Pamitnya. Lalu memberikan kode pada Devan agar segera beranjak dari dapur.
"Sepertinya besok pagi aku tidak bisa menghadiri rapat." Ucap Andreas datar.
Perkataannya langsung membuat Tuan Chandra menghentikan langkah dan berbalik badan.
Dia tampak terkejut mendengar ucapan Andreas.
"Bukankah kamu sudah setuju untuk datang.?" Tanya Tuan Chandra. Dia jelas cemas, takut Andreas benar-benar enggan datang ke rapat penting itu.
"Aku baru ingat kalau kami akan pergi besok." Jawab Andreas.
"Aku sudah janji pada Nisa akan mengajaknya ke Bali." Jelasnya lagi.
Nisa tampak mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti kenapa Andreas berbohong.
Padahal besok tidak ada rencana apapun, apalagi rencana untuk pergi ke Bali.
__ADS_1
Andreas bahkan tidak pernah membahas tentang Bali. Yang ada justru bulan madu ke Swiss, dan itupun baru akan berangkat minggu depan.
"Di undur saja jadwal penerbangannya. Kamu bisa pergi setelah rapat selesai." Pinta Tuan Chandra.
"Papa tanya saja pada Nisa. Kalau Nisa tidak keberatan untuk di undur, aku bisa datang ke kantor Papa besok." Jawab Andreas acuh.
Dia kemudian berjalan ke arah meja makan dan duduk di kursi tanpa menghiraukan sang Papa yang terlihat kebingungan.
...*****...
Nisa tampak tersenyum melihat Tuan Chandra yang mau makan malam bersama dengan dia dan Andreas. Begitu juga dengan Devan.
Tuan Andreas bersedia makan malam di sana setelah Nisa mengabulkan permintaannya untuk menunda kepergian mereka ke Bali.
Nisa tau Tuan Chandra terpaksa makan malam bersama demi membuat Andreas datang ke kantornya besok pagi. Tapi Nisa tidak peduli dengan hal itu, yang terpenting saat ini dia bisa melihat kebersamaan Andreas bersama sang Papa di luar urusan pekerjaan.
"Rupanya kamu pandai memasak." Ucap Tuan Chandra di sela-sela menyantap makanannya.
Entah benar-benar memuji atau hanya untuk menyenangkan hati Nisa yang sudah membujuk Andreas agar mau menghadiri rapat.
"Makasih Pah." Jawab Nisa. Dia tampak senang melihat Papa mertuanya menyukai masakan buatannya.
"Nisa memang pandai dalam segala hal. Papa saja yang hanya menilai seseorang dari materi." Timpal Andreas. Dia sama sekali tidak merasa takut menyinggung sang Papa dengan kata-kata menohok.
Tuan Chandra hanya diam saja. Dia memilih untuk melanjutkan makan malamnya.
Sedangkan Devan sejak tadi hanya diam saja. Dia fokus menikmati masakan buatan Nisa.
__ADS_1
Rasa masakan itu membuatnya ingat akan kenangan masa lalu bersama Nisa.
Dulu wanita pujaan hatinya itu sering membuatkan makanan untuknya.