Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 151


__ADS_3

"Sini kamu.!" Seru Andreas seraya menggerakkan tangannya untuk memanggil Aditya.


Aditya yang baru saja keluar dari kamarnya bergegas menghampiri bosnya itu.


"Kenapa Tuan.?"


Bukannya menjawab, Andreas malah menyeret Aditya ke salah satu ruangan yang tak akan di lihat oleh siapapun dari segala sudut rumah.


Apa yang di lakukan oleh Andreas seketika membuat Aditya bergidik ngeri dengan segala pikiran buruk tentang bosnya itu.


"Tu,,tuuan,, saya masih normal." Aditya menelan ludah dengan susah payah. Dia celingukan, tampak ketakutan di bawa ke ruangan tertutup oleh Andreas.


Gara-gara di bawa ke ruangan itu oleh Andreas, Aditya jadi sedikit mempercayai rumor yang tersebar di perusahaan tentang seorang CEO perusahaan itu yang tak menyukai wanita alias penyuka sesama batang.


"Sialan.! Kau pikir aku penyuka batang.!" Sembari memukul lengan Aditya, Andreas menatap tejam lantaran asisten pribadinya itu berfikir macam-macam padanya. Dia bahkan geli mendengar isi kepala Aditya. Bagaimana bisa Aditya berfikir seperti itu padanya.


Bisa-bisa dunia hancur kalau dia benar-benar penyuka batang.


"Lalu untuk apa Anda membawa saya kesini.?" Aditya bergeser mundur, dia membuat jarak aman dari Andreas agar sewaktu-waktu bisa melarikan diri jika Andreas melakukan serangan mendadak.


"Carikan aku obat perangsang." Ucap Andreas lirih.


"Apa.?!!!" Kedua bola mata Aditya seakan hampir lompat dari tempatnya.


"Tutup mulutmu.!" Andreas membungkam sekilas mulut Aditya dengan tangannya. Pria itu langsung panik dan mengintip keluar, takut seseorang mendengar teriakan Aditya.


"Tapi untuk apa Tuan.?" Aditya menatap penasaran. Dia tidak berfikir Andreas akan memberikan obat itu pada Nisa lantaran hubungan mereka berdua terlihat sudah membaik. Jadi sudah di pastikan mereka tak membutuhkan obat itu untuk memulai peperangan.


"Akan aku berikan obat itu pada kucing peliharaan Zie.!" Sahut Andreas geram. Entah asisten pribadinya itu beneran bodoh atau hanya pura-pura. Padahal Aditya sendiri yang sudah membuat Andreas berfikir untuk menggunakan nobat itu lagi.


"Puuffftthhh,,," Aditya menahan tawanya yang hampir saja pecah. Jawaban Andreas membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak karna membayangkan kucing terpengaruh obat perangsang. Walaupun dia tau kalau Andreas hanya asal menjawab.


"Tidak usah tertawa.! Cepat carikan obatanya. Aku akan memberimu bonus 2 kali lipat bulan ini." Ujarnya.


"Bukannya kalian sudah bersama.? Kenapa harus pakai obat itu lagi.?" Aditya menatap penasaran.


Namun melihat kedua mata Andreas yang melotot tajam, seketika Aditya langsung mengangguk patuh dan buru-buru menjalankan perintah bosnya itu. Apa lagi dia tergiur dengan bonus 2 kali lipat yang akan diberikan oleh Andreas padanya.


Sepeninggalan Aditya, Andreas bergegas kembali ke kamarnya. Dia menghampiri Nisa dan Kenzie yang masih menonton televisi. Pria itu duduk di samping putranya yang serius menonton serial kartun favoritnya.

__ADS_1


"Mana minumannya.?" Tanya Nisa. Andreas baru saja pamit ke bawah untuk mengambil minuman kaleng, tapi pria itu malah tak membawa apapun setelah cukup lama berada di luar kamar. Padahal Andreas juga menawarinya minuman itu.


Seketika Andreas terlihat kaget. Akibat terlalu lama mengobrol dengan Aditya, dia sampai lupa untuk membawa minuman kaleng yang dia jadikan sebagai alasan agar bisa menemui Aditya.


Andreas mencoba memutar otak untuk memberikan jawaban yang tepat.


"Minuman kalengnya habis, tapi aku sudah menyuruh Aditya untuk membelinya." Ucapnya berbohong. Tentu saja Nisa tidak percaya, pasalnya saat sedang memasak makan malam, dia sempat melihat beberapa minuman kaleng masih berjajar di dalam lemari pendingin.


"Habis.? Tapi tadi sore aku lihat masih ada beberapa." Ujar Nisa yakin.


"Itu,, sudah di habiskan Aditya dan Aldo. Mereka tadi sedang mengobrol di teras." Untuk menutupi kebohongannya, Andreas membuat kebohongan lagi. Untungnya Nisa mengangguk percaya dan tidak membahasnya lagi.


"Papi, Zie mau kal." Kenzie mengarahkan jari telunjuknya ke layar besar berukuran 65 inch itu.


Andreas menautkan alisnya, dia tidak mengerti apa yang di maksud oleh putranya.


"Kal.? Kal apa Zie.?" Tanya Andreas lembut.


"Itu Papi, itu,,," Kenzie kembali menunjuk layar televisi. Tapi tetap tak membuat Andreas mengerti.


"Car Papi. mobil." Ucap Nisa mempertegas.


"Zie mau kal yang mana.?" Tanya Andreas. Dia mengikuti ucapan Kenzie yang menyebut car menjadi kal.


"Itu yang melah." Jawabnya seraya mengarahkan jari telunjuknya kembali.


"Zie mau naik mobil melah sama Papi sama Momi." Ucapnya dengan senyum yang mengembang.


"Ok, besok kita beli kal yang merah." Ucap Andreas hingga membuat Kenzie bersorak senang.


Berbeda dengan Nisa yang langsung mentap kesal.


"Andreas, jangan asal menjanjikan sesuatu." Tegur Nisa pelan.


"Bagaimana kalau nanti Zie menagihnya." Tuturnya. Selama ini Nisa tak pernah menjanjikan apapun yang tak pasti pada Kenzie. Karna dia tidak mau membuat Kenzie berharap, apa lagi kalau sampai Kenzie menagihnya berulang kali dan ucapannya itu tak bisa di tepati. Pasti Kenzie akan beranggapan bahwa Mominya selalu berbohong.


"Tapi sayang, aku memang ingin membelikan mobil seperti itu untuk Zie." Tak ada kebohongan apa lagi candaan. Andreas tampak serius mengatakannya.


"Yang benar saja.? Zie masih sangat kecil, untuk apa membelikan mobil sport seperti itu." Nisa tak setuju dengan rencana Andreas.

__ADS_1


"Tidak apa Anissa, aku hanya ingin memberikan semua yang di inginkan oleh putraku." Ucapnya dengan sorot mata berkaca-kaca.


"Aku ingin memberikan kesan baik di hati dan pikiran Zie. Jangan sampai ketika dia besar nanti, dia beranggapan bahwa aku tidak menyayanginya." Suara Andreas tercekat. Dia kembali tertarik ke masa lalu tentang kebersamanya dengan Papa Chandra yang memberikan kesan buruk sebagai orang tua.


"Aku mengerti," Lirih Nisa lembut.


"Tapi Andreas, bukan berarti kamu harus menuruti semua keinginan Kenzie. Kamu juga harus memilah dan memilih mana yang dibutuhkan oleh Zie. Dia masih sangat kecil, belum bisa memikirkan hal seperti itu. Jadi itu tugas kita sebagai orang tuanya." Nisa mencoba memberikan pengertian pada Andreas agar tak sembarangan menuruti permintaan Kenzie karna akan berdampak buruk jika terlalu memanjakannya. Walaupun Nisa paham perasaan Andreas yang ingin menjadi Papi terbaik untuk putra mereka.


"Baiklah, lain kali aku akan lebih selektif. Tapi aku sudah terlanjur janji pada Zie, jadi tidak masalahkan kalau aku membelikan mobil untuk Zie.?" Andreas manatap memelas seraya mengatupkan kedua tangannya di depan wajah.


...*****...


"Kenapa lama sekali.!" Ketus Andreas. Dia langsung mengambil plastik kecil dari tangan Andreas.


"Astaga Tuan, disini agak sulit mendapatkan obat itu." Tutur Aditya. Dia sampai harus berkeliling untuk mendatangi satu persatu toko obat dan apotek.


Andreas tampak tak peduli dengan alasan Aditya.


"Bonusmu akan aku transfer besok." Ucapnya seraya berlalu dari sana dan pergi ke dapur untuk mencampur obat itu kedalam minuman kaleng.


Andreas berniat mencampurkan sedikit obat itu agar tidak membuat Nisa merasa curiga.


Jika obat itu mulai bereaksi, maka Andreas akan memancing Nisa dengan merangsangnya agar keinginan itu terlihat lebih alami.


Akibat kejadian di Bali malam itu, dia selalu memikirkan Nisa yang bermain dengan liar, membuat otaknya jadi tidak waras karna ingin mengulangi percintaan panas itu lagi.


"Sayang,," Panggil Andreas lirih. Nisa yang tengah fokus di depan layar laptopnya, kini mendongak menatap Andreas. Pria itu menyodorkan minuman kaleng padanya.


"Minum dulu," Ucapnya kemudian ikut duduk di samping Nisa.


Untung saja Kenzie sudah tertidur, jadi setelah ini dia bisa melahap Nisa tanpa gangguan.


"Makasih Ndre." Nisa menerima minuman kaleng yang sudah terbuka itu dan langsung meneguknya tanpa berfikir macam-macam.


"Apa kamu pegal.? Biar aku pijat pundakmu." Tanpa menunggu persetujuan dari Nisa, Andreas mulai memberikan pijatan di pundak istrinya itu.


"Sudah Ndre, tidak usah." Tolak Nisa halus. Walaupun sebenarnya pijatan Andreas cukup membuat otot pundaknya terasa rileks hanya dengan beberapa kali pijatan.


"Tidak apa, kamu fokus saja selesaikan pekerjaan." Andreas tetap bersikeras memijat pundak Nisa. Hingga membuat wanita itu akhirnya membiarkan Andreas melakukan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2