Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 60


__ADS_3

Nisa kembali ke ballroom. Dia berjalan dengan langkah tegap dan wajah terangkat, penuh percaya diri.


Tak memiliki banyak harta ataupun kekuasaan, bukan berarti dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan.


Hidup akan menyedihkan bukan hanya untuk orang-orang yang tak memiliki kekuasaan, tapi juga untuk mereka yang tak punya kekuatan untuk melawan.


Jika orang-orang bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan dengan kekuasaan, maka dia juga bisa menghancurkan orang yang berkuasa dengan kekuatan.


Nisa menatap lurus ke depan. Sorot matanya semakin tajam, memperhatikan Irene yang tengah menggandeng lengan Devan dengan senyum yang merekah di bibirnya. Wanita itu terlihat sangat bangga memamerkan kemesraan di depan teman-temanya.


Senyum dan kebanggaan yang di dapatkan dengan cara merenggut kebahagiaan orang lain.


"Akan aku tunjukkan seberapa besar egoisnya diriku, melebihi keegoisan mu padaku.!"


Nisa mengulas senyum sinis.


"Annisa, kamu dari mana saja?" Andreas mencekal pergelangan tangan Nisa. Sejak tadi dia menunggu Nisa kembali dari toilet, tapi wanita itu tak kunjung kembali ke tempat semula. Membuat Andreas harus mencari keberadaan Nisa dengan mengitari ballroom yang luas itu.


"Aku,,,


"Jangan jauh-jauh dariku. Banyak pria hidung belang disini." Potong Andreas. Dia langsung merangkul mesra pinggang Nisa dan membawanya pergi dari kerumunan dengan kembali ke tempat duduk mereka.


Andreas sangat paham dengan sisi gelap para penguasa. Sekalipun mereka memiliki istri yang cantik dan seksi, tak lantas membuat mereka menutup mata saat melihat wanita cantik yang masih terbilang belia.


"Aku bosan hanya duduk di sini saja." Keluhan Nisa. Sejujurnya bukan bosan, tapi Andreas membuat ruang geraknya terbatas untuk bisa menghampiri Irene dan berbicara dengannya.


"Kalau begitu kita ke kamar saja agar kamu tidak bosan." Seru Andreas penuh semangat.


Dia langsung menggandeng lagi tangan Nisa, padahal baru saja menyuruh Nisa untuk duduk.


"Andreas,,, kenapa pikiranmu hanya itu saja.!" Nisa mencebik kesal. Di manapun dan kapanpun, pikiran Andreas tak pernah jauh dari urusan bercocok tanam.


"Aku ingin kamu hamil. Jadi kita harus mencobanya berkali-kali,," Bisik Andreas, lalu mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Kamu ingin aku hamil agar kamu bisa menunjukkan pada Irene bahwa kamu juga bisa menjalani kehidupan yang bahagia sepertinya.?" Cecar Nisa dengan sorot mata tajam.


Kali ini dia tak akan tinggal diam saja setalah tau bahwa dulu Andreas pernah mencintai Irene.


Bahkan mungkin cinta itu masih ada di hatinya.


"Kita bicara di tempat lain saja." Andreas membawa paksa Nisa untuk keluar dari ballroom. Dia mengajak Nisa ke kamar hotel yang memang sudah di pesan oleh Andreas sejak kemarin.


...****...


Irene melepaskan tangan Devan. Senyum yang tadi mengembang sempurna di wajahnya, seketika sirna setelah teman-temannya sibuk mengobrol satu sama lain.


Senyum dan kebahagiaan yang dia tunjukkan di depan semua orang adalah sebuah kebohongan yang sebenarnya menyakiti diri sendiri.


"Aku sudah lelah Devan,," Lirih Irene dengan suara tercekat.


Pernikahan tanpa saling mencintai tak akan mudah untuk di jalani.


Saat ini Irene sanggup bertahan selama 2 tahun, tapi dia tak bisa memperpanjang waktu untuk tetap bertahan dalam kebahagiaan semu.


"Aku sudah memperingatkanmu berulang kali. Aku bahkan pernah memohon padamu untuk membatalkan perjodohan itu. Karna hanya kamu yang bisa membatalkannya."


"Keselamatan Annisa terancam jika aku yang membatalkan perjodohan itu." Devan begitu kacau. Dia juga lelah menjalani kehidupan tanpa adanya penyemangat dan setitik kebahagiaan dalam langkahnya. Hidupnya hampa.


"Kalau begitu kita akhiri saja pernikahan ini, agar kamu bisa meraih kebahagiaanmu yang sesungguhnya." Ucap Irene. Dia lalu pergi dari hadapan Devan dengan menahan air matanya yang hampir saja luruh.


Ternyata harapannya terlalu tinggi. Jangankan untuk bisa di cintai oleh Devan, di anggap keberadaannya saja tidak pernah.


...****...


"Tentang Irene, dia hanya masa lalu." Ucap Andreas tegas. Tak ada kebohongan sedikitpun dari sorot matanya.


"Jika kamu berfikir aku masih mencintainya, kamu salah besar." Tegasnya lagi. Andreas tidak ragu menyangkal tuduhan Nisa yang mengatakan jika dirinya masih mencintai Irene.

__ADS_1


"Jadi,, apa yang membuat kamu ingin segera memiliki anak dariku.?" Nisa menatap lekat. Dia harus mencari tau alasan yang sebenarnya kenapa Andreas begitu menginginkan seorang anak darinya.


“Kamu bahkan sempat menolak untuk segera memiliki anak." Nisa kembali mengingatkan niat Andreas yang tidak mau memiliki anak dalam waktu dekat, mengingat ada beberapa hal yang harus dia persiapkan untuk menjadi orang tua.


"Aku berubah pikiran." Jawab Andreas cepat.


"Secepat itu.? Lalu apa alasannya.?" Nisa semakin di buat bingung. Dia tidak bisa melihat kebohongan di mata Andreas, tapi dia juga tidak bisa percaya dengan perkataannya.


"Karna aku mencintaimu,," Ungkap Andreas dengan tatapan dalam.


"Cinta yang membuatku berubah pikiran untuk segera memiliki anak secepatnya."


"Jika aku belum bisa menjadi orang tua yang baik, aku percaya kamu akan menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita." Andreas meraih tangan Nisa dan menggenggamnya. Dia bahkan meletakkan tangan Nisa di dadanya. Membiarkan Nisa merasakan detak jantungnya yang bergemuruh.


"Aku tidak bohong" Ujar Andreas meyakinkan.


"Kamu pasti bisa merasakannya sendiri." Tuturnya.


Nisa tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia sibuk dengan pikirannya yang semakin kacau.


Semua permasalahan ini membuatnya bingung.


Fakta demi fakta yang mulai muncul, membuat langkahnya terombang-ambing. Dia kehilangan arah.


Ingin rasanya menyangkal pengakuan cinta yang keluar dari bibir Andreas, namun hatinya berkata jika Andreas benar-benar tulus padanya.


"Nisa.?" Andreas menyentuh pipi Nisa. Matanya begitu teduh menatap wajah cantik Nisa.


Keduanya saling pandang dan berakhir dengan permainan panas. di atas ranjang.


Tak peduli sebimbang dan sekacau apapun hati serta pikiran mereka, kegiatan panas itu justru menghilang sejenak kepenatan mereka dalam menjalani kehidupannya.


...***...

__ADS_1


Mampir juga ke novel "Cinta Diujung Perceraian"



__ADS_2