
"Ya ampun, tidak lucu pria gagah sepertimu menangis." Goda Nisa sembari mengusap air mata di pipi Andreas.
"Dimana Andreas yang dulu seperti singa, kenapa jadi terlihat seperti kucing sekarang." Nisa mencibir seraya merapikan kemeja Andreas yang sedikit berantakan karna baru saja memeluknya.
"Kamu juga seperti kucing. Kucing nakal,," Lirih Andreas yang tiba-tiba memberikan serangan mendadak dengan mencium bibir Nisa. Keduanya seketika hanyut dalam permainan tukar saliva itu, sampai tidak menyadari ada bocah tampan yang berjalan ke arah mereka dan kedua tangannya menyentuh kaki mereka.
"Papi, Momi,," Suara mungil Kenzie sontak membuat Andreas dan Nisa melepaskan ciuman. Mereka syok melihat Kenzie berdiri di sampingnya. Bocah tampan itu baru saja menyaksikan hot kissing kedua orang tuanya yang tidak ingat pada putra mereka. Padahal Kenzie sejak tadi di kamar yang sama, dan sedang bermain dengan mainan barunya.
"Ya ampun, bagaimana ini." Ucap Nisa cemas. Dia khawatir karna Kenzie baru saja melihat adegan yang tidak pantas dia lihat oleh anak sekecil Kenzie.
"Sudah, tidak apa." Sahut Andreas menenangkan seraya mengusap pipi Nisa.
"Lain kali aku akan lihat-lihat kalau mau mencium mu." Andreas berbisik lirih di telinga Nisa.
Dia kemudian menunduk untuk menggendong Kenzie.
"Kau ini,,!" Tegur Nisa seraya mencubit pinggang Andreas untuk menutupi rasa malu akibat bisikan pria itu.
Andreas hanya terkekeh kecil, lalu mengajak Nisa ke bawah untuk sarapan.
"Aku akan pulang terlambat nanti. Kemungkinan pulang malam."
"Ada pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini." Kata Andreas di sela-sela menyantap sarapannya.
Mimik wajah Nisa seketika berubah, niatnya untuk memberikan kejutan pada Andreas dengan memakai lingerie sepertinya tidak bisa dilakukan malam ini karna Andreas pasti sangat lelah setelah seharian bekerja.
"Kenapa.? Apa kamu keberatan aku pulang malam.?" Tanya Andreas. Dia menyadari perubahan wajah Nisa yang tampak tidak senang setelah dia mengatakan akan pulang malam.
"Tidak Ndre." Nisa mengukir senyum tipis. Tidak mungkin juga dia menjawab keberatan. Dia enggan mengacaukan pekerjaan Andreas yang mungkin sangat penting itu.
Lagipula dia bisa memakai lingerie di depan Andreas pada malam berikutnya.
"Tapi jangan sampai kamu kelelahan. Kamu harus memikirkan kesehatanmu, jangan terlalu sibuk bekerja sampai tidak ada waktu untuk istirahat." Tutur Nisa lembut.
__ADS_1
Pria itu mengangguk paham.
"Hanya hari ini saja pulang malam, besok aku akan meluangkan waktu untuk mengajak kamu dan Zie jalan-jalan." Sahut Andreas.
Sebenarnya Andreas sudah terbiasa bekerja keras sampai malam selama tinggal di Amerika. Tapi mungkin kebiasaan itu akan dia rubah karna sekarang sudah ada Nisa dan Kenzie yang nantinya akan selalu menunggunya di rumah setiap hari.
...*****...
Keesokan harinya,,,
Sore itu setelah pulang dari kantor, Andreas mengajak Nisa dan Kenzie jalan-jalan ke mall terbesar di sana.
Sembari menggendong Kenzie, Andreas menggandeng erat tangan Nisa saat memasuki pusat perbelanjaan tersebut.
Beberapa pasang mata tampak menatap ke arah mereka. Awalnya Nisa acuh saja dan menganggap itu wajar. Dia berfikir mungkin orang-orang suka melihat pasangan keluarga kecil yang jalan-jalan bersama.
Tapi makin lama Nisa di buat bingung lantaran semakin banyak yang menatap ke arahnya setiap kali berpapasan.
"Kenapa banyak sekali yang menatap kita seperti itu.?" Bisik Nisa pada Andreas.
"Abaikan saja, anggap tidak ada yang menatap ke arah kita." Jawab Andreas lembut. Dia mengukir senyum pada Nisa.
Senyum di bibir Andreas sontak membuat beberapa orang terperangah tak percaya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dia melihat CEO ternama itu mengukir senyum bahagia di depan umum. Dan keberadaan Andreas beserta seorang anak kecil serta wanita cantik, mematahkan rumor yang beredar tentang kepribadian seorang CEO besar itu yang digosipkan tak menyukai wanita.
Apalagi melihat Andreas dengan mesra menggandeng tangan seorang wanita cantik, membuat orang-orang yakin kalau rumor tersebut tidak benar.
"Apa dia putra dan istrinya.?"
"Anak itu sangat mirip dengannya."
Suara bisik - bisik itu bisa di dengar jelas oleh Nisa dan membuatnya melirik sekilas ke arah mereka. Dia di buat bingung lantaran beberapa orang membicarakan Andreas. Perkataan mereka seolah mengatakan kalau mereka mengenal Andreas.
Kini Nisa melirik Andreas. Dia menatap penasaran pada pria tampan yang berstatus sebagai suaminya itu. Entah siapa sebenarnya Andreas di negara maju ini. Perasaannya mengatakan kalau Andreas orang yang cukup berpengaruh.
__ADS_1
Apalagi jika mengaitkan dengan hunian mewah yang di tempati oleh Andreas. Tidak sembarangan orang bisa membeli dan menempati apartemen termahal itu jika dia bukan orang berpengaruh dan tentunya punya banyak uang.
"Kenapa.?" Tanya Andreas. Pria itu sadar sedang di tatap menelisik oleh Nisa, seolah ingin menuntut pengakuan dan penjelasan darinya mengenai orang-orang yang menatap ke arahnya.
"Sepertinya mereka mengenalimu." Ucap Nisa. Seulas senyum tipis tampak mengembang di. wajah Andreas.
"Itu hanya perasaanmu saja." Balas Andreas. Dia enggan mengakui kepopulerannya sebagai CEO mudah yang cukup terkenal di kalangan kaum hawa. Meski beredar rumor tentang penyuka sesama jenis, tapi tak membuat para wanita muda berhenti mengidolakan dan mengaguminya.
Tapi karna rumor itu pula, akhirnya ada beberapa kaum pelangi yang terang-terangan mendekatinya.
Dan itu sempat membuat Andreas mual-mual lantaran geli di dekati oleh pria gagah.
Untungnya dengan sigap dia bisa memberikan hukuman pada orang yang sudah berani menyebarkan gosip murahan itu.
"Papi, Zie mau es klim." Kenzie menunjuk salah satu restoran yang memajang layar besar bergambar es krim.
"Oke anak Papi yang tampan." Andreas langsung membawa Kenzie dan Nisa masuk ke restoran tersebut. Kedatangannya langsung di sambut hangat oleh pelayan restoran.
"Selamat sore Tuan Andreas, ada yang bisa kami bantu.?" Ucapnya ramah.
Mendengar pelayan itu menyebut nama Andreas, Nisa sontak menautkan alisnya. Dia jadi semakin yakin kalau Andreas cukup di kenal di negara ini.
"Bawakan saya 3 es krim terbaik di sini." Jawab Andreas dengan suara tegas.
"Baik Tuan. Akan kami bawakan." Sahutnya kemudian pamit pergi.
Lantas memilih tempat duduk dan mengajak Nisa untuk duduk di sana.
Dia mendudukan Kenzie di baby chair.
"Kamu harus menjelaskan sesuatu padaku Ndree. Sepertinya banyak hal yang tidak aku ketahui tentang suamiku sendiri." Ucap Nisa seraya memandangi wajah Andreas.
"Siapa bilang.?" Ujar Andreas dengan senyum lebar.
__ADS_1
"Kamu lebih mengetahui ku di banding mereka. Maksudku mengetahui lebih banyak tau tentangku soal urusan ranjang." Tuturnya sembari mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda.
Nisa langsung mencubit perut Andreas. Pria itu benar-benar tidak bisa di ajak bicara serius.