Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 130


__ADS_3

Setelah mengantar Nisa pulang dan menyuruhnya untuk istirahat, Andreas kembali ke pusat perbelanjaan untuk menemani Kenzie bermain sesuai janjinya pada sang putra.


Dia menghampiri Kenzie yang tengah bermain di playground bersama Aditya dan Tiara.


Mereka berdua terlihat sangat kompak dalam menjaga dan menemani Kenzie.


Dari kejauhan Andreas mengukir senyum tipis melihat mereka bertiga. Bagi orang yang tidak mengenal Tiara dan Aditya, mereka pasti akan berfikir kalau keduanya adalah sepasang suami-istri yang di karuniai satu orang anak.


Mereka bertiga tampak bahagia karna sesekali tertawa bersama.


Jujur saja pemandangan itu membuat hati Andreas teriris. Pandangannya tak beralih sedikitpun pada sang putra yang tampak sangat bahagia.


Seandainya dia dan Nisa bisa bermain bersama dengan Kenzie, mungkin putranya itu akan jauh lebih bahagia dari ini.


“Bagaimana caranya Papi bisa mengembalikan kebahagiaanmu yang sudah Papi renggut." Lirih Andreas hampir tanpa suara.


Meski ribuan kali dia mengungkapkan rasa sesalnya, penyesalannya dalam hatinya tak akan berkurang sedikitpun. Akan selalu ada di sana dan menjadi bayang-bayang buruk selama hidupnya.


Andreas buru-buru menghampiri mereka. Kedatangannya membuat Kenzie tersenyum lebar.


"Papiii,, ayo main Papi,," Kenzie menghampiri Andreas dan menarik tangannya, mengajak Andreas untuk bergabung.


"Iya sayang,," Andreas menuruti kemauan sang putra tercintanya. Dia ikut bermain layaknya anak kecil seusia Kenzie.


Sementara itu Aditya menarik Tiara untuk sedikit menjauh. Sebagai asisten pribadi Andreas yang tau seperti apa penderitaan Andreas selama ini, dia tentu ingin memberikan ruang pada Andreas untuk bermain berdua dengan putranya.


Aditya tidak mau menganggu ataupun merusak kebahagiaan Andreas.


"Kenapa Kak.?" Tiara menatap heran karna tiba-tiba Aditya memintanya untuk menjauh dari Kenzie dan Andreas.


"Biarkan mereka berdua." Jawab Aditya. Dia lalu duduk tak jauh dari tempat Andreas dsn Kenzie bermain.


"Tapi aku ingin menanyakan keadaan Bu Nisa," Ujar Tiara yang tadi sempat menolak saat Aditya menggandeng tangannya, lantaran dia ingin sekali bertanya pada Andreas tentang keadaan Nisa saat ini.


"Kalau dia sudah kesini, itu artinya Nona Nisa baik-baik saja." Jawaban Aditya bisa di terima oleh Tiara, yang menurutnya masuk akal. Karna kalau terjadi sesuatu pada Nisa, Andreas pasti tidak menyusul mereka dan pasti akan menyuruh mereka untuk pulang.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Semuanya baik-baik saja." Ujar Aditya.


Tiara mengangguk patuh, dia kemudian ikut duduk di samping Aditya.


...****...


"Duduk yang tenang ya Zie,," Pinta Andreas seraya memasangkan sabuk pengaman di badan Kenzie.


Dia buru-buru pulang karna memikirkan Nisa. Perasaannya tidak tenang kalau harus berlama-lama membiarkan Nisa sendirian di rumah setelah kejadian buruk yang menimpa Nisa.

__ADS_1


Sedangkan Aditya dan Tiara masih di dalam karna mereka meminta ijin untuk membeli sesuatu.


Itu sebabnya saat ini dia hanya pulang berdua bersama Kenzie dengan memakai mobil Nisa yang di tinggalkan di basemen mall tersebut.


"Iya Papi,,"


"Tapi Zie masih mau main, kenapa pulang.?" Suara Kenzie terdengar sendu, dia juga memasang puppy eyes yang membuat Andreas ikut merasa sedih.


"Besok kita main lagi dan ajak Momi."


"Tapi sekarang kita harus pulang karna Momi sendirian di rumah, kasian Momi,," Andreas memberikan penjelasan seraya mengusap lembut kepala putranya.


Kenzie tak menjawab, bocah tampan itu hanya menganggukkan kepala seolah mengerti namun tetap memasang ekspresi sedih karna tak bisa bermain lebih lama.


Sepanjang perjalan menuju ke rumah, Andreas tak henti-hentinya mengagumi Nisa yang berhasil mendidik Kenzie dengan baik.


Melihat bagaimana putranya itu bisa duduk tenang di sampingnya, tak melakukan hal-hal yang membahayakan.


Kenzie benar-benar mengerti dengan nasehat yang sempat dia katakan sebelum meninggalkan pusat perbelanjaan.


Putranya itu duduk tenang, hanya mulutnya saha yang terus berceloteh.


Sesekali menunjuk ke jalanan jika melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


Entah harus dengan cara apa dia berterimakasih pada Nisa karna telah menjadi ibu sekaligus ayah yang luar biasa untuk Kenzie selama lebih dari 2 tahun ini.


tapi sebelum itu, dia meminta tolong pada Aldo untuk membawakan barang belanjaannya ke dalam rumah.


Barang belanjaan milik Kenzie yang berisi baju beserta mainan.


Andreas memang tidak punya waktu untuk berbelanja karna fokus menemani Kenzie bermain. Tapi dia masih bisa menyuruh Aditya untuk membeli semua itu, termasuk membeli hadiah untuk Nisa.


"Momi,,, Momiii,,," Suara Kenzie memecah kesunyian di dalam rumah.


Tidak ada siapapun di lantai satu kecuali mereka berdua dan Aldo yang baru saja masuk.


"Belanjaannya mau di taruh di mana Pak.?" Tanya Aldo.


"Letakkan di sofa saja." Andreas menunjuk sofa di ruang keluarga, dia kemudian mengeluarkan dompet dan mengambil uang untuk di berikan pada Aldo.


"Ini buat saya.?" Aldo menatap tak percaya.


Andreas mengangguk.


"Makasih banyak Pak." Senyum di bibir Aldo merekah. Mimpi apa hanya dengan membawakan barang belanjaan saja, bisa mendapatkan uang hampir setengah dari gajinya.

__ADS_1


"Hemm,," Jawab Andreas dengan senyum tipis, dia kemudian beranjak dari sana masih dengan menggendong Kenzie.


"Mungkin Momi ada di kamar,," Ucap Andreas saat Kenzie kembali memanggil Mominya .


Berdiri di depan pintu kamar Nisa, Andreas mengetuk dan memanggilnya.


Kenzie yang tak sabaran ikut mengetuk pintu dan berteriak memanggil Mominya.


Tak berselang lama pintu terbuka. Nisa langsung mengukir senyum tipis saat melihat putranya. Kedua tangannya mengulur, meminta Kenzie dari gendongan Andreas.


"Sudah selesai mainnya.?" Tanya Nisa. Zie mengangguk cepat.


"Zie mau main lagi sama Papi,," Tuturnya seraya menoleh ke arah Andreas. Tatapan sendu putranya membuat Nisa bisa menebak kalau Kenzie belum puas bermain bersama Andreas.


Tapi mereka sudah pulang secepat ini.


"Kenapa sudah pulang.?" Tanya Nisa pada Andreas. Karna dia yakin bukan Kenzie yang meminta pulang.


"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja." Andreas menjawab sembari menatap dalam.


Cinta dan kekhawatiran di mata Andreas begitu besar untuk Nisa, entah Nisa bisa melihatnya atau memilih untuk pura-pura tidak melihatnya.


"Zie mau bobo Momi,," Pinta Kenzie sedikit merengek.


Sepertinya dia kelahan karta terlalu lama bermain.


Walaupun hanya sebentar bermain dengan Andreas, tapi cukup lama Zie bermain bersama Aditya dan Tiara sebelum Andreas menyusul.


"Aku kebawah dulu. Sebaiknya kamu juga ikut istirahat." Ujar Andreas.


Nisa menjawab dengan anggukan.


Saat Andreas akan beranjak, Kenzi dengan tegas menahannya.


"Jangan pelgi Papi.! Zie mau bobo sama Momi sama Papi.!" Serunya.


Nisa dan Andreas seketika saling pandang.


Bisa dengan tatapan datarnya, sedangkan Andreas menatap bingung sekaligus canggung.


"Zie mau tidur denganmu juga Ndre,," Kata Nisa seraya masuk ke dalam kamar tanpa menutup kembali pintu itu yang artinya meminta Andreas untuk ikut masuk.


Meski ragu, Andreas tetap menuruti keinginan putranya. Dia masuk ke dalam kamar Nisa tanpa menutup pintu karna tidak mau Nisa berfikir buruk tentangnya.


Hal pertama yang Andreas lakukan saat masuk ke kamar Nisa adalah menghirup dalam-dalam aroma kamar Nisa.

__ADS_1


Wangi parfum favorit Nisa begitu menusuk indera penciumannya dan mampu menimbulkan rasa nyaman dan ketenangan.


__ADS_2