Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 77


__ADS_3

"Ya ampun,, kerja sama apa lagi ini,," Kedua mata Mella membulat sempurna saat membaca email yang masuk untuk mengajukan kerja sama.


Sebuah pabrik elektronik memintanya untuk membuatkan seragam karyawan yang jumlahnya ribuan.


"Aku rasa ada seseorang dibalik semua kerja sama yang masuk ke bisnis ini." Mella tak asal menebak, tapi dia yakin 100 persen pasti ada seseorang yang ikut andil dalam semua tawaran kerja sama dari perusahaan ataupun pabrik besar.


Pasalnya tidak hanya sekali dua kali, tapi sudah ke empat kalinya dia dan Nisa menerima tawaran kerja sama dalam jumlah besar.


Mella meraih ponselnya, dia akan menghubungi Nisa untuk memberitahukan tentang email tawaran kerja sama itu padanya.


Sementara itu di tempat berbeda, Nisa masih diam melamun sepanjang perjalanan pulang dari rumah Tuan Frans.


"Annisa.,?" Panggil Andreas lembut. Dia menyentuh tangan Nisa yang hanya melamun sejak tadi.


Bahkan wanita cantik itu sampai tidak mendengar suara ponselnya yang berdering.


Nisa menoleh, dia tersadar dari lamunan.


"Ponselmu bunyi,," Ujar Andreas memberi tau karna Nisa terlihat tidak menyadarinya juga.


"Hah.??" Ucapnya yang kini baru mendengar dengan jelas dering ponsel miliknya.


Dia melamun lantaran ucapan Andreas dan Devan terus berputar di kepalanya. Banyak hal rupanya harus dia cari tau tentang mereka untuk mengetahui siapa yang benar dalam hal ini.


Bisa buru-buru mengambil ponsel miliknya dari dalam tas dan menerima panggilan telfonnya.


"Hallo Mell,, Ada apa.?" Nisa meletakkan ponsel di sisi kiri agar Andreas tak mendengar apa yang di katakan oleh Mella.


Karna jika Mella sudah menghubunginya lewat panggilan telfon, sudah pasti untuk membahas soal usaha mereka.


"Aku sedang di luar sama Andreas." Tuturnya. Walaupun sebenarnya Mella tidak menanyakan hal itu. Tapi Nisa sengaja menyebut nama Andreas agar Mella bisa menekankan suaranya.


"Baiklah, aku akan segera ke sana." Nisa kemudian mematikan sambungan telfonnya dan menoleh pada Andreas yang dia ketahui sedang mendengarkan pembicaraannya dengan seksama. Tapi Nisa sangat yakin Andreas tidak mendengar apa yang di katakan oleh Mella.


Nisa melempar senyum tipis pada Andreas saat laki-laki itu menatap ke arahnya.


"Andreas,, aku ingin menemui Mella di rukonya."


"Turunkan aku di sini saja. Kamu juga harus ke kantor lagi bukan.?" Nisa sengaja meminta Andreas menurunkannya di pinggir jalan agar dia bisa pergi sendiri ke ruko. Dia tidak mau kalau sampai Andreas mengantarkannya pergi ke sana. walaupun dia sudah pernah mengatakan pada Andreas kalau ruko dan usaha itu milik Mella, tetap masih ada kekhawatiran jika membiarkan Andreas menyambangi ruko tersebut.

__ADS_1


"Menurunkan mu di jalan.?!" Andreas mengerutkan keningnya. Nada bicaranya juga terkesan tak habis pikir dengan permintaan Nisa.


Wanita cantik itu mengangguk cepat, mengiyakan pertanyaan Andreas.


"Mana mungkin aku menuruti permintaan konyol mu itu." Ujarnya tak setuju.


"Aku akan mengantarmu. Lagipula aku bisa kapan saja kembali ke kantor." Tegasnya namun dengan tatapan teduh.


"Apanya yang konyol.? Aku bisa naik taksi, Andreas,," Nisa masih usaha untuk membujuk Andreas.


"Aku sudah biasa pergi menemui Mella menggunakan taksi." Tuturnya lagi.


"Aku tau, tapi itu saat aku sedang di kantor bukan.?"


"Sekarang aku sedang bersama kamu, jadi untuk apa kamu naik taksi." Nada bicara Andreas sedikit meninggi.


Nisa yang melihat ketidak sukaan Andreas dengan keinginannya, memilih untuk menuruti perkataan Andreas. Dia setuju di antar ke ruko oleh Andreas.


Sesekali Nisa melirik Andreas. Dia ingin menepis prasangka dalam hatinya tentang ketulusan Andreas, namun terasa begitu sulit.


Melihat semua kebaikan dan perhatian yang diberikan Andreas, membuat hatinya selalu mengatakan bahwa ada ketulusan cinta dalam diri Andreas untuknya. Namun selama ini Nisa berusaha untuk menyangkalnya dengan cara tak menghiraukan apa yang dirasakan oleh hatinya.


Karna dia tidak mau terjebak dalam permainannya sendiri.


Seketika Nisa menatap serius.


"Maksudnya.?" Tanyanya bingung. Pernikahan mereka bahkan sudah berjalan 3 bulan lebih, tapi Andreas masih membahas soal honey moon.


Dan kemarin mereka bahkan baru pulang dari luar kota, meski untuk urusan pekerjaan, namun Andreas sempat mengatakan kepergian mereka ke luar kota sekaligus untuk honey moon.


Tapi sekarang Andreas membahas soal itu lagi.


Entah ada berada jenis honey moon menurut Andreas.


"Sudah lama aku punya rencana untuk pergi bulan madu ke Swiss, tapi karna beberapa bulan lalu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, terpaksa harus aku tunda." Jelasnya.


Dia bahkan sudah mengurus pasport milik Nisa untuk melakukan perjalanan jauh itu.


"Kamu serius.?" Nisa menatap tak percaya.

__ADS_1


Entah suatu kebetulan atau apa, Swiss adalah salah satu negara yang sejak dulu ingin dia kunjungi. Negara dengan pemandangannya yang indah itu menjadi impiannya untuk berlibur.


"Apa aku terlihat sedang bercanda.?" Andreas balik bertanya.


Nisa langsung menggelengkan kepalanya karna dia tidak melihat kalau Andreas sedang bercanda.


"Minggu depan kita akan terbang ke Swiss. Aku sudah menyiapkan semuanya, termasuk membeli tiket pesawat dan memesan kamar hotel." Jelasnya.


Nisa semakin terperangah saja. Antara senang dan bingung mendengar rencana bulan madu yang telah disiapkan oleh Andreas.


"Kenapa diam saja.? Kamu tidak suka ke Swiss.?"


"Kita bisa pergi ke negara lain kalau kamu mau." Tawar Andreas.


"Justru aku punya impian untuk pergi ke Swiss." Jawab Nisa jujur. Tidak ada salahnya kan kalau dia menceritakan impiannya pada Andreas.


"Oh ya.? Kalau begitu pilihanku tidak salah." Timpal Andreas dengan seulas senyum.


"Kamu juga harus tau kalau pergi ke Swiss adalah impianku." Ujarnya.


"Benarkah.?" Nisa tampak antusias, entah kenapa dia tertarik dengan impian Andreas yang sama dengannya.


"Jadi kamu belum pernah pergi ke Swiss sebelumnya.?"


Andreas menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah beberapa kali pergi ke sana, tapi untuk urusan pekerjaan."


"Sedangkan impianku pergi ke Swiss adalah bersama dengan orang yang aku cintai." Ujarnya sembari menatap Nisa sekilas.


Walaupun hanya sekilas, tapi Nisa bisa menangkap tatapan dalam itu.


"Lalu siapa orang yang kamu cintai.?" Nisa sengaja memancing Andreas. Dia ingin melihat mata Andreas saat menjawab pertanyaannya.


Karna setau Nisa, orang yang dicintai Andreas sebelum bertemu dengannya adalah Irene.


Dan mungkin saja impian Andreas untuk pergi ke Swiss bersama orang yang dia cintai, adalah impiannya sejak dulu saat dia sedang mencintai Irene.


"Pertanyaan macam apa itu.?" Tanya Andreas dengan menahan tawa.

__ADS_1


"Apa kamu berharap aku mencintai wanita lain.?" Kali ini nada bicara Andreas terdengar serius.


Nisa tak menjawab, dia justru fokus pada rasa sakit yang tiba-tiba muncul saat Andreas mengatakan hal itu. Membayangkan Andreas mencintai wanita lain, membuat hatinya terasa sakit.


__ADS_2