Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 143


__ADS_3

Belum hilang kekecewaan Andreas tadi malam saat mengetahui Nisa berbohong padanya dan malah keluar dari kamar hotel untuk pergi bersama Brian. Kini fakta yang dia dapat semakin menambah kekecewaan dalam hatinya. Setelah malam panas yang mereka lewati, dia dibuat tak bisa berkata-kata dengan semua yang dilakukan oleh Nisa.


Kini Andreas semakin sadar begitu tidak berartinya dia bagi Nisa. Dia mengakui kesalahan yang telah di perbuat pada Nisa, tapi haruskah se menyakitkan ini balasan yang dia dapatkan.? Bahkan untuk sekedar bernafas saja terasa sangat sulit.


Dia juga tak diberikan celah untuk memperbaiki kesalahan dan memulai semuanya dari awal. Benteng yang di buat oleh Nisa terlalu kokoh hingga sulit bagi Andreas untuk merobohkannya.


Mungkin ini akan menjadi akhir kisah yang tragis dalam hidup Andreas. Dia saat dia benar-benar tulus dan ingin menebus semua kesalahan dengan memperbaiki hubungan, sayangnya kesempatan tak berpihak padanya.


Di ruang tidur yang berbeda, Nisa baru saja membangunkan putranya. Tapi bocah tampan itu malah merengek mencari Andreas. Mau tidak mau, Nisa akhirnya membawa Kenzie ke ruang tidur Andreas serta membawa baju ganti putranya karna akan bersiap pergi ke pantai.


"Ndre,, Kenzie mencarimu." Ucap Nisa seraya membuka pintu kamar dengan perlahan. Dia mengintip lebih dulu untuk memastikan Andreas sedang tidak bertelanjang di dalam kamar.


Tak melihat keberadaan Andreas, Nisa kemudian bergegas masuk dan menurunkan Kenzie di atas ranjang. Dia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi yang menandakan pria itu sedang membersihkan diri di dalam sana.


"Tunggu sebentar ya Zie, Papi sedang di kamar mandi." Nisa menenangkan putranya yang terus bertanya dimana Andreas.


"Panggil Papi, Momi,," Pinta Kenzie. Dia tampak tidak sabaran untuk melihat Andreas. Atau mungkin tidak percaya kalau Papinya ada di sana.


"Iya sayang, sebentar ya." Nisa tak menuruti permintaan putranya, dia membiarkan Andreas membersihkan diri lebih dulu.


"Asatga.!" Pekik Nisa saat dirinya mengingat sesutu. Dia lantas berjalan memutari ranjang untuk pergi ke sisi lain dimana ada nakas disana.


Dia terlalu ceroboh karna membiarkan obat yang dia beli semalam itu tergeletak begitu saja di sana setelah tadi meminumnya.


Nisa tampak terkejut mendapati kablet pil itu sudah berubah bentuk. Tak lagi lurus saat terakhir kali dia tinggalkan.


"Apa mungkin Andreas yang melakukannya.?" Batin Nisa seraya menayap tablet pil di tangannya seperti bekas di remas.


Namun Nisa berusaha untuk tidak memikirkannya apa lagi menanyakannya pada Andreas. Dia akan memilih diam selama Andreas tak membahas soal pil penunda kehamilan itu.


Nisa bergegas mengambil tas untuk menyimpan obat itu di dalam tasnya agar tidak di lihat lagi boleh Andreas.


"Kalau tidak mau hamil harusnya jangan di teruskan." Suara datar Andreas membuat Nisa tersentak dan reflek berbalik badan. Obat yang akan dia masukan ke dalam tas sampai terjatuh di lantai dan buru-buru dia ambil.


Sayangnya Andreas menyaksikan dengan jelas apa yang dilakukan oleh Nisa. Karna pria itu berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakannya padamu, tapi kamu sendiri menolak untuk menyudahi." Ujarnya lagi. Meski Andreas memasang wajah datar, tapi entah kenapa Nisa merasa ada amarah dan kekecewaan dalam sorot matanya.


"Papi,,, sini,,,!" Teriakan Kenzie mampu membuat Andreas mengalihkan pandangan. Dia juga beranjak dari hadapan Nisa dan memilih untuk menghampiri putranya.


Nisa terdiam, entah kenapa lidahnya terasa kelu hanya sekedar untuk menjawab perkataan Andreas. Dengan tatapan bingung, dia terus menetap ke arah Andreas tanpa mengatakan apapun.


"Ayo ke kamar mandi dulu, Zie harus cuci muka dan gosok gigi." Andreas menurunkan Kenzie dari ranjang dan menggandeng tangan mungil putranya ke kamar mandi. Dia sengaja tidak memandikan Kenzie karna akan langsung bermain air di pantai setelah ini.


...*****...


"Habiskan makanannya,," Teguran Andreas membuyarkan lamuman Nisa. Dia mengukir senyum tipis kemudian mengangguk.


Saat ini mereka sedang sarapan di restoran hotel. Kenzie yang duduk di samping Andreas tampak bahagia, apalagi di suapi oleh Papinya itu.


Meja mereka hanya warnai oleh celotehan Kenzie dan Andreas selalu menanggapinya dengan antusias. Sedangkan Nisa lebih banyak diam, bahkan sampai melamun. Pikirannya sedang kacau, dia masih memikirkan perkataan Andreas yang entah kenapa sangat menganggu pikirannya dan membuatnya merasa tidak enak pada pria itu.


"Mau ke pantai sekarang.?" Tawar Andreas pada Nisa. Mereka baru selesai menghabisi sarapan dan beberapa dessert.


"Boleh,," Jawab Nisa seraya mengangguk.


"Cepat minum, kamu harus sembuh karna aku dan Zie ingin hidup bahagia denganmu." Nisa memelankan kalimat terakhir hingga Andreas tak begitu jelas mendengarnya.


"Hah.? Kamu bilang apa.?" Tanyanya yang berharap Nisa mau mengulangi ucapannya lagi.


Bukannya menjawab, Nisa malah meletakkan botol itu depan Andreas dan bergegas menggendong Kenzie. Hal itu membuat Andreas semakin penasaran.


"Kamu dan Kenzie ingin apa.?" Tanya Andreas lagi. Dia sampai ikut berdiri dan ingin Nisa menjawabnya.


Nisa tampak mengulum senyum tipis.


"Aku,,, dan,,, Zie,,," Nisa sngaja memperlambat ucapannya. Dia bisa melihat Andreas yang semakin penasaran sampai mendekat ke arahnya.


"Ingin hidup bahagia bersamamu.!" Serunya yang kemudian buru-buru pergi dari hadapan Andreas.


Setelah membuat Andreas diam tertegun, Nisa hanya menoleh dan melanjutkan langkahnya untuk lebih dulu pergi ke pantai bersama Kenzie.

__ADS_1


Sejujurnya dia malu mengatakan itu pada Andreas, itu sebabnya dia buru-buru pergi.


"Apa katanya.?" Gumam Andreas seraya menatap kepergian Nisa dan Zie dengan mata yang berbinar.


"Dia tidak bercanda kan.?" Antara percaya dan tidak. Tapi apa yang baru saja terucap dari bibir Nisa, seolah menjadi cahaya yang seketika mampu membuat mata, pikiran dan hatinya seketika terang.


Dia lepas dari kegelapan yang selama ini menyelimuti.


Bergegas meminum obat itu, Andreas lantas buru-buru menyusul mereka. Dia juga ingin meminta penjelasan dari Nisa dan berharap semua itu bukanlah mimpi semata.


Senyum di bibir Andreas merekah. Dari jarak beberapa meter dia menatap Nisa dan Kenzie yang berjalan bergandengan menerjang ombak.


"Aku harap ini bukan mimpi." Ucapnya dan memberanikan diri untuk menghampiri 2 orang yang sangat berharga dalam hidupnya itu.


"Anissa,,," Panggil Andreas lirih. Pria itu berdiri di samping Nisa, menatap penuh cinta wajah cantik yang dari dulu hingga saat ini begitu dia dambakan.


"Kenapa.?" Nisa menoleh sekilas, kemudian kembali fokus pada Kenzi yang meminta duduk di antara deburan ombak.


"Kamu akan memberiku kesempatan.?" Suara Andreas bergetar. Jantungnya terasa bergemuruh, tidak sabar untuk mendengar jawaban dari bibir Nisa.


Nisa mengangguk.. Keputusan untuk memberikan kesempatan pada Andreas memang terkesan mendadak, tapi sebenarnya beberapa hari ini dia sudah memikirkannya baik-baik untuk mengambil langkah yang tepat.


Dan pil penunda kehamilan yang dia minum itu bukan berarti dia tak mau memberikan kesempatan, tapi karna belum siap dan masih trauma seandainya kejadian 3 tahun lalu terulang kembali. Yaitu di tinggalkan begitu saja di saat sedang hamil.


Keputusan itu memang yang terbaik untuk Kenzie saat ini. Tapi kedepan, bisa saja itu akan menjadi keputusan yang terbaik pula bagi Nisa.


"Tidak akan ada lagi kesempatan jika kamu meninggalkan kita untuk ketiga kalinya." Tegas Nisa. Dia bahkan sudah menyiapkan poin-poin untuk di jadikan perjanjian di antara mereka.


Andreas tampak meneteskan air mata. Dia merengkuh Nisa dan mendekapnya erat.


"Terimakasih, aku janji tidak akan mengulangi kesalahan lagi."


"Kamu dan Zie adalah nyawaku, kalian hidupku." Ujar Andreas di sela-sela tangisnya.


Dia melepas pelukannya sesaat untuk menggendong Kenzie dan kembali memeluk Nisa.

__ADS_1


Kenzie tampak kebingungan dalam gendongan Andreas lantaran melihat Papinya itu menangis.


__ADS_2