
"Nisa, bangun." Andreas menggoyang pelan bahu Nisa. Tak biasanya Nisa masih tertidur pukul 7 pagi. Biasanya pukul 7, wanita cantik itu sudah berada di dapur untuk menata makanan yang dia masak. Tapi pagi ini Nisa masih bersembunyi di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya dari ujung kaki hingga leher.
Andreas yang sejak tadi sudah bangun, bahkan tidak tega membangunkan Nisa dan memilih untuk membersihkan diri lebih dulu, setelah itu memesan makanan untuk sarapan berdua.
Tapi saat kembali lagi ke kamar, Nisa masih meringkuk di atas ranjang. Posisinya bahkan tidak berubah sejak di tinggalkan lebih 30 menit yang lalu.
"Annisa,,?" Sekali lagi Andreas kembali membangunkan Nisa. Kali ini semakin menggoncang kuat lengan Nisa.
Melihat tidak ada respon apapun dari Nisa, seketika menimbulkan kepanikan di wajah Andreas.
"Nisa,, jangan bangun, jangan bercanda.!" Nada bicara Andreas meninggi disertai kepanikan. Dia menggoncang badan Nisa lebih kencang lagi, dan tetap tak membuat Nisa membuka mata.
"Shi -itt,,!" Umpat Andreas ketika menyentuh kening Nisa dan merasakan suhu tubuh Nisa sangat tinggi.
Dia merutuki dirinya sendiri yang terlalu bodoh karna mengira Nisa tertidur pulas, padahal wanita itu sedang tak sadarkan diri.
Tanpa pikir panjang, Andreas bergegas mengangkat tubuh Nisa. Dia berjalan cepat keluar dari apartemen untuk membawa Nisa ke rumah sakit.
"Kenapa tiba-tiba panas begini,," Andreas tak henti-hentinya menatap wajah Nisa.
Wanita dalam gendongannya itu benar-benar sangat panas. Tak ada respon apapun darinya meski Andreas setengah berlari menggendong Nisa menuju mobil.
Andreas ingat saat tengah memeluk Nisa dari belakang, suhu tubuh Nisa masih normal, sama sekali tidak terasa panas sedikitpun. Itu sebabnya Andreas tak berfikir terjadi sesuatu pada Nisa di saat Nisa masih terlelap pukul 7.
Sampainya di mobil, Andreas bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dia langsung membawa Nisa ke UGD dan langsung di tangani oleh dokter pribadinya.
"Pastikan tidak terjadi sesuatu padanya." Ujar Andreas pada dokter pribadinya yang tak lain adalah temannya sendiri.
Andreas tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya melihat kondisi Nisa yang tak kunjung sadarkan diri.
"Tenanglah, dia akan baik-baik saja." Dewa menepuk bahu Andreas, seulas senyum penuh arti terukir di bibir Dewa. Begitu juga dengan tatapan matanya. Semua itu lantaran dia merasa bersyukur melihat Andreas yang sudah bisa mencintai wanita lain.
Awalnya Dewa pikir pernikahan Andreas hanya untuk main-main atau hanya sekedar untuk mengalihkan rasa sakit hatinya pada Irene dan Devan. Tapi rupanya Andreas terlihat benar-benar jatuh hati pada wanita cantik itu yang sudah 3 bulan ini menjadi istrinya.
"Aku percayakan padamu.!" Ucap Andreas tegas.
__ADS_1
Dewa mengangguk, dia kemudian masuk ke dalam ruang pemeriksaan untuk mengetahui seperti apa kondisi Nisa yang sebenarnya.
...****...
"Bagaimana keadaanya.?!" Tanya Andreas tak sabar. Dia duduk di depan Dewa, tapi tatapan matanya tertuju pada Nisa yang berbaring lemah di atas ranjang dan belum sadarkan diri.
"Dia baik-baik saja. Mungkin sebentar lagi akan siuman."
"Istrimu hanya butuh istirahat. Tubuh dan pikirannya terlalu lelah."
"Apa kalian bertengkar hebat.?" Dewa menatap intens mata Andreas. Mengingat tabiat Andreas yang hobi bermain wanita dan emosional, Dewa jadi berfikir kondisi Nisa saat ini di sebabkan oleh tabiat buruk Andreas.
Andreas seketika menatap Dewa sembari menggelengkan kepalanya. Entah kenapa Dewa bisa berfikir jika dia dan Nisa bertengkar. Jangankan bertengkar hebat, meributkan sesuatu saja tidak pernah. Hubungannya dengan Nisa baik-baik saja sejak awal menikah sampai detik ini meski melalui proses pernikahan yang singkat.
"Kalau begitu kamu harus menjadi pendengar yang baik untuknya. Sepertinya dia banyak memendam masalahnya sendiri." Tutur Dewa.
"Aku mengerti. Terimakasih Bro,,!" Andreas berdiri dan menepuk pundak Dewa.
Dia kemudian beranjak untuk menghampiri Nisa.
"Dia akan menjadi wanita paling beruntung karna di cintai oleh laki-laki sepertimu." Ucap Dewa. Langkah Andreas seketika terhenti, dia hanya menoleh tanpa mengatakan apapun dan kembali menuju ke ranjang Nisa sebelum dipindahkan ke ruangan rawat inap.
...****...
Devan mengangkat tangannya, namun terasa berat. Dia kemudian menoleh, menatap tangannya yang rupanya sedang di genggam oleh Irene.
Wanita itu tengah tertidur pulas sembari duduk di samping tempat tidur.
"Irene,,?" Devan menyentuh pelan pucuk kepala Irene dan mengusapnya.
"Eemmm,,," Irene hanya bergumam tanpa membuka matanya.
"Bangun, tidur saja di ranjang sebelah." Ucap Devan. Padahal ada ranjang lain di ruang VIP itu, tapi Irene malah tidur di kursi.
"Hah.?" Seru Irene kaget. Kali Ini Irene langsung membuka mata dan mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun. Kamu mau minum,,?" Tawarnya cepat.
Devan menggelengkan kepala, perlahan dia mencoba untuk bangun dari ranjang.
"Pelan-pelan Van,," Irene dengan sigap langsung membantu Devan bangun dari ranjang untuk duduk.
Kondisi Devan yang baru di operasi tadi malam, membuat laki-laki itu masih lemah.
Devan terpaksa harus melakukan operasi kecil untuk menutup luka yang ternyata cukup dalam akibat terkena senjata tajam di bagian pinggangnya.
"Kenapa tidak pulang.?" Tanya Devan. Dia pikir Irene sudah pulang sejak semalam, tapi rupanya Irene masih setia menemaninya di rumah sakit. Bahkan sampai duduk sambil tertidur di sisi ranjangnya.
"Bagaimana aku bisa pulang kalau suamiku sedang berbaring lemah di rumah sakit."
"Lebih baik aku tidur si rumah sakit dan memastikan kamu baik-baik saja, daripada harus di rumah dan belum tentu aku bisa tidur nyenyak di sana." Jawab Irene.
Dia bergegas mengambil air minum di atas nakas dan memberikannya pada Devan.
"Makasih." Devan meneguk air minum itu dan memberikan kembali gelasnya pada Irene.
"Kamu mau makan sekarang.?" Tawar Irene.
"Sebenarnya sarapan kamu sudah datang 1 jam yang lalu, tapi menyuruh suster untuk membawanya lagi karna kamu belum bangun."
Tutur Irene penuh perhatian.
Hal itu membuat Devan terdiam. Kepalanya terasa semakin pusing karena permasalahan yang menyangkut soal hatinya.
Nisa dan Irene, dua wanita yang saat ini membuat pikirannya kacau.
Irene memang wanita dan istri yang baik, namun dia menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan kebahagiaannya.
Sedangkan Nisa, nasib wanita baik itu begitu menyedihkan. Terlalu banyak luka dan air mata yang menghiasi kehidupannya sejak kecil.
Dia sangat menderita selama ini. Membuat Devan tak bisa berhenti mencintainya dan ingin membuatnya kembali tersenyum bahagia seperti dulu.
__ADS_1
“Kamu harus makan agar punya tenaga." Suara lembut Irene membuyarkan lamunan Devan.
Dia menatap Irene yang tengah menghubungi suster untuk membawa sarapan ke ruangan mereka.