Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 180


__ADS_3

"Wanita itu hanya anak dari rekan bisnisku,," Andreas berucap kemudian duduk di depan meja Nisa. Menatap lekat wajah wanita cantik yang tengah fokus pada layar laptop meski tatapan matanya tampak menerawang.


"Wanita yang mana.?" Tanya Nisa yang hanya melirik sekilas. Pertanyaan yang keluar dari bibirnya seolah menunjukkan kalau dia tidak tau wanita yang di maksud oleh Andreas. Padahal jelas-jelas Nisa baru saja membuka pesan dari seorang wanita yang di kirimkan 20 menit lalu.


"Sayang,," Panggil Andreas seraya meraih tangan Nisa agar istrinya itu mau menatapnya.


"Pesan yang kamu buka tadi, dia hanya,,,


Belum sempat meneruskan ucapannya, Nisa sudah lebih dulu memotong ucapan Andreas.


"Aku tidak sengaja membukanya, tapi belum sempat aku baca." Ucapnya datar. Dia mengalihkan pandangan, terlihat sekali kalau Nisa menghindari kontak mata dengan Andreas.


Hal itu membuat Andreas tidak percaya. Karna jika tidak membacanya, sikap Nisa pasti tidak akan berubah seperti ini.


"Dimana Zie.? Apa dia tidur.?" Nisa tampak sengaja mengalihkan pembicaraan. Dia mematikan dan menutup laptopnya. Wanita itu sudah bersiap untuk beranjak dari tempat duduknya, namun Andreas mencegah dengan menahan pergelangan tangan Nisa.


"Jangan marah. Aku menyimpan nomornya karna menghargai orang tuanya. Tidak lebih dari itu." Ucap Andreas memohon. Dia bahkan tidak pernah bertemu khusus dengan wanita itu. Mereka hanya akan bertemu di acara-acara tertentu saja. Itupun selalu si wanita yang menghampiri Andreas lebih dulu.


"Marah untuk apa.? Itu hak kamu mau menyimpan nomor ataupun berbalas pesan dengan siapapun." Sahut Nisa yang tampak membohongi hatinya sendiri. Padahal dia menahan kecemburuan melihat ada wanita cantik yang mengirimkan pesan pada suaminya.


"Aku mau tidur siang dulu,," Nisa melepaskan tangan Andreas dan beranjak dari duduknya.


Dia harus istirahat karna nanti malam akan datang ke pernikahan Tiara dan Aditya.


"Anissa,,," Panggil Andreas tegas. Dia membuat Nisa menghentikan langkahnya.


"Aku belum selesai bicara. Jangan coba menghindari masalah." Pintanya memohon.


"Aku bahkan tidak membuat masalah apapun. Jadi masalah apa yang harus aku hindari.?" Nisa menekankan ucapannya. Wanita hamil itu bergegas keluar dari ruangan kerjanya. Dia mengabaikan Andreas yang meminta untuk tidak pergi sebelum pembahasan selesai dan tidak ada kesalahpahaman. Tapi sepertinya mood Nisa sudah terlanjur buruk. Entah karna bawaan hamil, atau memang benar-benar kesal karna cemburu.


Andreas membiarkan Nisa pergi. Mungkin saat ini Nisa memang perlu istirahat. Dia akan membahasnya lagi begitu suasana hati Nisa lebih stabil.


...*****...


"Ponsel Elena tidak bisa di hubungi. Bagaimana ini.?" Kesedihan dan rasa bersalah menyelimuti Amira. Begitu juga dengan Heru dan Tiara yang ikut mencemaskan Elena.

__ADS_1


Wanita yang sejak pagi tadi meninggalkan rumah, tidak bisa di hubungi sampai sekarang sudah pukul 3 sore. Mereka bahkan sudah bersiap untuk pergi ke hotel. Karna pukul 4 nanti, Tiara sudah harus di rias.


"Sebaiknya Mama tenang. Kita harus fokus dulu dengan pernikahan Tiara yang sudah di depan mata. Setelah acara selesai, kita bisa fokus untuk mencari Elena." Ujar Heru menasehati. Bukannya dia tidak mau peduli dengan Elena, tapi jika pikirannya kacau karna memikirkan keberadaan Elena, dia takut pernikahan Tiara juga akan kacau dan tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya.


"Ayah benar Mah. Kita yakin saja kalau Kak Elena pasti baik-baik saja."


"Mungkin Kak Elena butuh waktu untuk menenangkan diri." Ujar Tiara seraya menggenggam tangan Mama tirinya.


"Besok kita meminta bantuan Kak Adit untuk mencari keberadaan Kak Elena kalau memang Mama ingin tau keberadaannya.".Ujarnya lagi.


Tiara tidak tega melihat Amira bersedih karna mencemaskan Elena. Dia jadi ikut mengkhawatirkannya. Padahal tadi siang sampai melarang Aditya saat akan menyuruh orang utnuk mencari keberadaan Elena.


"Mama hanya takut Elena berbuat sesuatu." Suara Amira bergetar. Dia jelas sekali dia mencemaskan Elena meski wanita itu bukan darah dagingnya.


Dia sudah menjadi Mama pengganti sejak Elena kecil karna Mama kandung Elena meninggal dunia. Tentu saja Amira jadi menyayangi Elena seperti anak kandungnya sendiri meski selalu ingat dengan perbuatan Mama kandung Elena.


...*****...


Resort Bali,,,,


Kedua jemarinya meras kuat rambut pria di bawah sana. Tubuhnya bergetar hebat, melepaskan sesuatu dalam dirinya yang mampu membuatnya melayang tinggi.


Tidak ada penyatuan, namun pria berusia 35 tahun itu berhasil memberikan pelepasan yang sempurna bagi wanitanya.


Pria itu menyingkir di antara kedua paha putih wanitanya. Senyumnya begitu menawan saat melihat wanita cantik itu tak berdaya akibat ulahnya.


"Apa seenak itu.?" Tanyanya menggoda. Dia mengusap pucuk kepalanya sambil terus melempar senyum.


Sontak wanita itu mengangguk cepat.


"Kenapa Om tidak mau melakukannya.? Apa Om takut aku akan meminta pertanggungjawaban dan mengambil kesempatan.?" Tanyanya dengan sorot mata kecewa.


"Jangan khawatir, aku tidak akan menuntut apapun. Hanya perlu menemuiku saja, itu sudah lebih dari cukup." Ucapnya sembari mengenggam tangan pria dewasa itu.


"Aku hanya butuh tempat bersandar dan teman untuk bisa bersenang-senang seperti ini." Tuturnya sendu. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Tidak masalah meski hanya menjadi simpanan seumur hidup, aku tidak keberatan,," Suaranya bergetar dan perlahan buliran bening menetes dari pelupuk matanya.


"El,, jangan bicara seperti itu." Pria itu menegur lembut. Di usapnya air mata yang membasahi pipi.


"Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Di luar sana banyak laki-laki single yang bersedia menikahimu."


"Jadi jangan menyerahkankannya padaku, apalagi berharap menjadi simpananku sumur hidupmu." Dia menatap iba pada wanita berusia 22 tahun yang tidak sengaja dia tabrak 1 tahun yang lalu, sampai akhirnya mereka memiliki hubungan terlarang.


"Tapi aku hanya ingin Om David, tidak mau yang lain." Elena kembali meneteskan air matanya. David bergegas menarik Elena dalam dekapannya seraya menutupi tubuh polos Elena dengan selimut.


David tak mengatakan apapun. Dia hanya mengusap lembut punggung Elena untuk memberinya ketenangan. Tidak ada yang bisa dia janjikan pada Elena, karna dia memiliki seorang istri yang tidak bisa dia tinggalkan meski sang istri sibuk dengan dunianya sendiri.


...****...


"Sayang bangun, kita harus mandi dan siap-siap." Andreas mengusap lembut pipi Nisa, setelah itu mendaratkan kecupan di keningnya.


Karna Nisa ingin datang lebih awal sebelum acara di mulai, jadi mereka harus bersiap sejak sore.


Andreas bahkan sudah memanggil MUA untuk merias wajah dan menata rambut Nisa.


"Hmm,, jam berapa.?" Gumamnya tanpa membuka mata. Ibu hamil iti hanya menggeliat kecil.


"Sudah jam 4 lewat. Ayo mandi." Ajak Andreas. Dia sedang harap-harap cemas, takut Nisa akan marah lagi padanya kalau ingat soal pesan tadi siang.


"Jam 4 lewat.? Kenapa baru membangunkanku,," Seru Nisa yang langsung bangun dari tidurnya.


"Aku tidak tega membangunkanmu." Jawab Andreas.


"Sini biar aku bantu turun,," Andreas memegangi tangan Nisa untuk menuntunnya turun dari ranjang.


"Aku tidak mau turun." Tolak Nisa. Dia sampai tidak mau menjatuhkan kakinya di lantai.


"Mau gendong saja." Ucapnya dengan nada bicara yang terdengar manja. Senyum di bibir Andreas sontak merekah. Dia buru-buru menuruti permintaan Nisa sebelum Nisa ingat dengan hal-hal yang membuatnya kesal.


"Sepertinya twins semakin besar." Komentar Andreas setelah mengangkat tubuh Nisa.

__ADS_1


Wanita dalam gendongannya itu tampak mengukir senyum tipis.


__ADS_2