Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 49


__ADS_3

"Sial.!!" Umpat Andreas. Dia sampai menendang pecahan vas bunga yang tadi terjatuh dari atas nakas. Dan dia tidak melihat ada siapapun di sana. Atau lebih tepatnya seseorang yang telah menjatuhkan vas bunga itu sudah pergi dan bersembunyi.


Bukan hanya Andreas saja yang panik dan terlihat frustasi. Namun Devan juga tak kalah panik. Dia mencemaskan seandainya Irene yang mendengar semua itu, sedangkan saat ini Irene sedang mengandung buah hatinya.


Meski itu bukan keinginan Devan, namun dia tetap memiliki hati dan cinta untuk darah dagingnya sendiri.


"Kamu sudah membuat masalah besar Andreas.!!" Geram Devan. Dia mendorong kasar bahu Andreas dan bergegas pergi dari sana untuk mencari keberadaan Irene.


"D@ mn.!!" Untuk kedua kalinya Andreas mengumpat, dia melayangkan tinjuan di dinding dan pergi dari sana. Dia juga ingin mencari Nisa. Jika Nisa yang mendengar percakapannya dengan Devan, maka rencananya sudah pasti akan gagal. Kemungkinan Nisa akan pergi diam-diam untuk meninggalkannya.


Dan Andreas tak akan pernah membiarkan Nisa pergi sebelum membuat Devan tersiksa karna melihat Nisa menderita.


...****...


"Anisaaa,,,Anisaaa" Dengan langkah buru-buru Andreas memasuki kamar setelah menutup pintu.


Dia semakin panik saat tak melihat Nisa.


"Anisaaa,," Panggilnya lagi. Tanpa pikir panjang dia langsung masuk ke kamar mandi untuk mengeceknya. Dan wanita cantik itu tetap tak ada di sana.


"Sial.!! Apa dia yang menjatuhkan vas bunga itu.!" Geram Andreas.


"Andreas,, ada apa.?" Nisa keluar dari walk in closet sembari melepaskan airphone dari telinganya. Dia sempat melihat Andreas berbicara dan terlihat sangat marah, namun tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Andreas lantaran dia sedang mendengarkan musik dengan airphone.


"Kamu di dalam.? Sejak kapan.?" Tanya Andreas yang langsung menghampiri Nisa. Tatapan mata dan nada bicaranya terlihat seperti orang yang sedang menginterogasi.

__ADS_1


Lagipula tujuan Andreas mencari Nisa memang untuk memastikan siapa orang baru saja mendengar pembicaraannya dengan Devan sampai menjatuhkan vas bunga.


"Sejak kamu keluar dari kamar. Aku sedang membersihkan barang-barang milik kamu yang sudah lama di tinggalkan di dalam." Nisa menoleh ke dalam walk in closet. Menatap barang-barang milik Andreas yang beberapa masih ada di lantai karna belum di bersihkan.


"Mama bilang padaku agar memilah barang yang masih bisa kamu pakai."


"Aku lihat sepertinya masih banyak barang yang bisa kamu pakai, seperti jam, dompet, dan ikat pinggang." Tuturnya detail. Nisa fokus menyampaikan apa yang ada di kepalanya mengenai barang branded milik Andreas yang dibiarkan tergeletak begitu saja. Dan jumlahnya tidak sedikit.


Sementara itu, Andreas justru terdiam setelah Nisa mengatakan jika sejao tadi dia berada di walk in closet dan memang benar sedang membersihkan barang-barang miliknya. Tapi Andreas tak bisa percaya begitu saja. Mungkin bisa saja Nisa mendengarnya namun pura-pura tidak tau apapun di depannya.


Hal itu membuat Andreas merasa harus waspada dengan Nisa.


"Ndree,,??" Tegur Nisa. Dia menggerakan tangannya di depan wajah Andreas yang kedapatan melamun.


"Kamu kenapa.?" Tanya Nisa setelah Andreas fokus menatap ke arahnya.


"Tapi Andreas, semua barang-barang itu masih layak pakai."


"Sekalipun kamu tidak membutuhkannya lagi, di luar sana banyak orang yang hidup dalam kekurangan."


"Kamu bisa menjualnya dan membagikan uang itu untuk mereka. Itu lebih bermanfaat daripada membiarkannya begitu saja di lemari." Tutur Nisa. Dia memberanikan diri mengatakan semua itu pada Andreas meski reaksi Andreas mungkin tak sesuai dengan harapannya. Tapi setidaknya dia sudah mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya ketika melihat semua barang-barang pribadi milik Andreas yang dibiarkan terbengkalai oleh pemiliknya.


"Kalau begitu kamu saja yang atur. Ambil berapapun yang mereka butuhkan." Sahut Andreas. Dia terlihat tidak keberatan dengan usul Nisa yang mengajaknya untuk berbuat kebaikan.


Nisa terlihat tak percaya mendengar respon Andreas. Dia bahkan bengong dan menatap wajah tampan itu dengan sangat intens.

__ADS_1


"Kamu serius.?" Tanya Nisa memastikan. Andreas mengangguk cepat, membenarkan apa yang tadi dia katakan pada Nisa.


"Makasih Ndre,," Nisa reflek menghambur ke pelukan Andreas. Mendekapnya erat dalam waktu yang cukup lama. Nisa sangat menghargai dan bangga pada kebaikan Andreas.


Andreas tak bergeming. Dia diam saja mendapatkan ucapan terimakasih dan pelukan dari Nisa. Pikirannya tak lagi fokus karna perasaan dalam hatinya sedang berkecamuk.


"Aku akan membereskan barang-barang itu dulu,," Ucap Nisa sembari melepaskan pelukannya. Dia kemudian pergi dari hadapan Andreas dan memasukkan kembali barang-barang itu ke tempat semula. Dia tidak melanjutkan membersihkannya lagi lantaran Andreas sudah masuk ke kamarnya. Jadi tidak mungkin membiarkan Andreas sendiri di kamar.


Nisa baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Dia menghampiri Andreas yang sudah berbaring di atas ranjang dengan sedikit menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Mama Zoya sangat senang kamu mau menginap di sini lagi." Kata Nisa. Dia mengulas senyum pada Andreas.


"Sepertinya Mama sangat baik dan menyayangimu seperti anak kandungnya sendiri."


Nisa cukup senang mengetahui bahwa Nyonya Zoya memang benar-benar tulus pada Andreas.


"Kelihatannya kamu yang lebih senang dari Mama." Sahut Andreas. Dia menatap lekat wajah Nisa yang berbinar, jelas sekali kalau Nisa sedang bahagia.


"Kamu benar, aku sangat senang hari ini."


"Aku banyak bercerita dengan Mama Zoya, dan itu sangat mengobati rasa rinduku pada mendiang Mama."


"Mama Zoya dan Mamaku memiliki kemiripan, keduanya sama-sama hangat dan membuatku nyaman serta tenang saat bercerita padanya."


Nisa tiba-tiba bergeser mendekat pada Andreas, dia meletakkan kepala dan pundak Andreas.

__ADS_1


“Kamu juga membuatku senang karna mau membatu orang diluar sana." Nisa mendongakkan wajah, mengulas senyum manis pada Andreas.


Keduanya saling menatap. Dan entah siapa yang memulainya lebih dulu, yang jelas saat ini keduanya tengah berciuman. Berawal dari kecupan dan ciuman lembut, berubah menjadi semakin menuntut dan menjadikannya malam panjang untuk kedua pasangan itu.


__ADS_2