
Hampir 2 minggu berada Swiss, akhirnya mereka berdua menginjakkan kaki di Jakarta.
Bulan madu yang di jadwalkan hanya 1 minggu, kini menjadi 12 hari.
Andreas sengaja mengulur waktu dan kembali ke Indonesia di waktu yang tepat.
Waktu yang sudah lama dia nantikan sejak beberapa tahun silam.
Yaitu melihat kehancuran perusahaan milik Papa kandungnya sendiri.
"Sayang,, sebentar lagi sampai,," Andreas membangun Nisa dengan perlahan. Mengusap wajah cantik Nisa yang terlihat sangat polos saat sedang tertidur.
Nisa juga tampak kelelahan setelah hampir 17 jam berada di dalam pesawat.
"Eumm,,," Nisa hanya menggeliat. Bibirnya tampak sedikit maju hingga membuat Andreas mengulum senyum.
"Apa harus di cium dulu agar bangun.?" Bisik Andreas.
Berada di dalam pesawat business class, membuat Andreas bisa mencium Nisa tanpa takut di lihat oleh penumpang lain ataupun pramugari.
Setelah mengatakan itu, Andreas langsung mencium bibir Nisa. Dia sedikit menye sap dan melu matnya agar membuat Nisa terbangun dari tidurnya.
"Ya ampun Andreas,,," Keluh Nisa dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya. Dia mendorong wajah Andreas agar menjauh.
Laki-laki itu hanya mengulas senyum kecil.
"Kamu mirip putri tidur di dunia nyata. Harus di cium dulu agar bangun,," Kata Andreas.
Tangannya mengusap pucuk kepala Nisa seraya membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kita sudah sampai.?" Tanya Nisa. Dia masih mengumpulkan ke sadarnya setelah berkelana di alam mimpi selama 3 jam.
"20 menit lagi akan landing," Jawab Andreas.
"Minum dulu biar sadar,," Godanya seraya menyodorkan minuman pada Nisa. Wanita cantik itu tampak mencebikan bibir namun tidak membalas perkataan Andreas. Dia menerima minuman itu dan meneguknya.
"Tutup mata kamu,," Pintar Andreas. Perintahnya membuat Nisa tampak kebingungan karna tiba-tiba Andreas menyuruhnya untuk menutup mata.
"Tutup mata untuk apa.? Tadi kamu sendiri yang menyuruhku bangun, sekarang malah menyuruhku tutup mata lagi." Protes Nisa bingung.
"Aku punya sesuatu untuk kamu." Jawab Andreas.
"Ayo tutup matanya."
Andreas tampak memasukkan tangan ke dalam tas untuk mengambil sesuatu yang ajan dia berikan pada Nisa.
__ADS_1
"Benarkah.?" Tanya Nisa antusias. Entah kenapa dia jadi suka setiap kali Andreas akan memberikan kejutan.
Selama berada di Swiss, sudah 3 kali Andreas memberikan dia kejutan.
Memberinya ponsel baru, cincin berlian dan buket bunga disertai kata-kata romantis. Tapi romantis versi Andreas. Karna Andreas tidak terlalu pandai membuat kata-kata romantis.
Nisa langsung menutup mata. Dan saat itu juga tangannya di genggam oleh Andreas.
Lalu terasa ada benda yang di letakkan di telapak tangannya.
"Apa ini.?" Tanya Nisa. Dia menggenggam benda itu yang terasa tidak asing.
"Kamu boleh buka mata dan lihat sendiri,," jawab Andreas.
Nisa buru-buru membuka mata dan terkejut melihat ponsel lamanya sudah ada di tangannya lagi.
"Ya ampun,, ponselku.?!!" Pekiknya tak percaya. Dia langsung mengecek galery untuk memastikan semua fotonya masih ada di dalam sana.
Wajahnya semakin berbinar saat melihat foto-foto kenangannya masih tersimpan rapi di galery.
"Sayang,, bagaimana bisa ponselnya kembali.??" Tanyanya dengan mata yang berbinar.
Melihat kebahagiaan di wajah cantik Nisa, Andreas jadi mengukir senyum lebar. Dia mengulurkan tangan sembari mengusap pipi Nisa.
"Petugas hotel memberikan ponsel kita 1 jam sebelum kita check out dari sana." Jawabnya.
Dan kenapa harus butuh waktu 1 minggu untuk menemukan ponsel itu.
...****...
Sudah 5 hari berlalu, perusahaan milik Tuan Chandra semakin berada di ujung kehancuran. Pemilik perusahaan asing yang diam-diam membeli hampir 50 persen sahamnya, kini menarik semua saham itu.
Berbagai cara sudah di upayakan untuk menghubungi pemilik perusahaan itu agar bisa bertemu secara langsung dan bernegosiasi, sayangnya tak membuahkan hasil.
Tuan Chandra hanya bisa bertemu dengan asisten pribadi dan orang kepercayaannya. Dan keduanya juga tidak bisa memberikan harapan apapun karna hanya menjalankan tugas sesuai perintah dari bos mereka.
"Perusahaan kita akan hancur Devan,," Gumam Tuan Chandra. Kondisinya semakin parah saja sejak perusahaannya mengalami krisis.
Wajahnya pun terlihat pucat. Dia kesulitan untuk tidur dan makan. Setiap saat hanya memikirkan nasib perusahaan dan mengabaikan kesehatannya.
"Papa jangan khawatir, aku sedang berusaha untuk mempertahankan perusahaan kita." Sahut Devan. Dia sangat prihatin dengan keadaan perusahaan dan orang tuanya. Banyak waktu yang mereka gunakan hanya untuk mencari cara agar perusahaan mereka bisa di pertahankan.
Beruntung hanya perusahaan pusat saja yang mengalami masalah, karna beberapa anak perusahaan sudah di handle dengan baik oleh Devan hingga tetap stabil. Dia juga yang meyakinkan para petinggi di perusahaan agar tidak menarik saham atau memutuskan kontrak kerja sama mereka.
"Apanya yang bisa di pertahanan lagi Devan.? Lihat grafik saham kita semakin anjlog."
__ADS_1
"Beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Papa, satu persatu mulai memutuskan kontrak sepihak dan sebagian menuntut kerugian."
Tuan Chandra tampak frustasi menghadapi permasalahan besar di perusahaan miliknya.
Dengan raut wajah cemas, asisten pribadi Tuan Chandra datang dengan terburu-buru dan menyampaikan berita yang membuat Tuan Chandra semakin syok.
"Tuan,, semua karyawan melakukan demo di depan perusahaan.!" Lapornya.
"Mereka meminta kejelasan nasib mereka di perusahaan ini."
Sejak 2 hari lalu, semua karyawan memang memutuskan untuk tidak masuk ke perusahaan setelah mendengar desas desus bahwa perusahaan tempat mereka bekerja akan gulung tikar.
Dan tepat di hari kedua ini mereka sepakat untuk melakukan demo dan meminta kejelasan nasib mereka yang masih berstatus karyawan di perusahaan itu.
"Apa.?!!" Tuan Chandra seketika bangun dari duduknya. Dia langsung beranjak ke arah tembok kaca untuk melihat situasi di depan perusahaan.
"Bagaimana bisa mereka melakukan demo." Ujar Tuan Chandra sembari menatap kerumunan orang di depan perusahaannya dengan membawa spanduk dan tulisan menuntut kepastian dan nasib mereka.
Devan juga ikut melihat langsung bagaimana karyawan perusahaan terus berteriak.
"Papa harus turun dan bicara pada mereka." Ucap Tuan Chandra yang segera berlalu dari tempatnya berdiri.
Dia ingin menemui karyawannya dan meminta pada mereka untuk bersabar. Juga memohon pada mereka agar tetap bekerja demi mengurangi sedikit permasalahan yang ada.
"Tidak Pah, biar aku saja,," Devan mencegah sang Papa. Dia tidak mau terjadi sesuatu padanya mengingat kondisi Tuan Chandra tampak tidak stabil.
"Mereka hanya butuh jawaban dari Papa, bukan kamu." Tuan Chandra bersikeras untuk menemui para pendemo. Setidaknya dia bisa membuat situasi menjadi kondusif setelah memenuhi keinginan para karyawannya.
Tak mau membiarkan sang Papa turun sendiri, Devan segera mengikuti langkahnya untuk ikut menemui pendemo itu.
Begitu juga dengan asisten pribadi Tuan Chandra yang ikut turun untuk mendampingi bosnya.
Begitu Tuan Chandra menampakkan diri, kericuhan semakin tidak terkendali. Mereka terus berteriak, mengeluarkan tuntutan yang mereka minta pada perusahaan.
Tuan Chandra yang awalnya ingin bicara pada mereka, kini tampak diam menatap kerumunan yang membuat kepalanya terasa semakin pusing.
Laki-laki paruh baya itu sampai tidak bisa menjaga keseimbangan dan akhirnya berpegangan pada Devan.
"Pah,, Papa baik-baik saja.?" Tanya Devan cemas. Dia mengkhawatirkan kondisi sang Papa yang terlihat sangat lemah dengan wajah pucat.
Tidak berselang lama, Tuan Chandra ambruk tak sadarkan diri.
...****...
...Meluluhkan Hati CEO Kejam...
__ADS_1