Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 94


__ADS_3

"Kamu yakin mau ikut.?" Entah sudah berapa kali pertanyaan itu keluar dari mulut Devan. Dia meyakinkan Bisa yang memaksa untuk ikut masuk ke kantor Andreas.


Devan tak bermaksud melarang Nisa, hanya saja dia mengkhawatirkan kondisi Nisa jika melihat langsung saat Andreas mengatakan hal menyakitkan untuknya.


"Kalau aku tidak yakin, mana mungkin aku sampai memohon padamu untuk di jemput di apartemen." Nisa menjawab datar, walaupun sorot matanya terlihat menahan kekesalan pada Devan lantaran mantan tunangannya itu seperti berusaha untuk menahan dirinya agar tidak ikut menemui Andreas.


Nisa bergegas membuka pintu mobil dan turun dari mobil Devan.


Dia menguatkan hati, berusaha untuk tidak lemah seandainya harus menerima kenyataan pahit.


"Berjanjilah kamu akan baik-baik saja meski mengetahui semuanya." Ujar Devan memohon.


Dia berharap Nisa tetap kuat seandainya kenyataan indah tak berpihak padanya.


Sejujurnya dia juga sakit mengetahui Andreas menikahi Nisa hanya untuk membalas dendam padanya. Dia menyayangkan sikap Andreas yang tega menyeret orang tak bersalah demi mencapai tujuannya.


Awalnya Devan berfikir jika Andreas akan berubah dan bisa mencintai Nisa dengan tulus, tapi semua itu salah besar. Karna sampai detik ini Andreas terus mengancamnya akan mencampakkan Nisa.


...****...


Nisa menunggu di depan ruangan Andreas. Dia memegang ponselnya yang sudah terhubung dengan ponsel milik Devan. Karna sebelum masuk ke ruangan Andreas, Devan lebih dulu melakukan panggilan ke nomor ponsel Nisa.


Nisa sendiri yang telah merencanakan semua itu.


Dia akan sembunyi lebih dulu dan masuk ke dalam ruangan setelah mendengar percakapan Andreas dengan Devan.


"Aku sudah menduga kamu akan datang,," Suara Andreas sinis menyambut kedatangan Devan.


"Bagaimana dengan kejutan yang aku buat.? Apa kalian menyukainya.?" Tawa Andreas menggema. Dia terlihat sangat puas setelah berhasil menghancurkan perusahaan milik ayahnya sendiri, dan menunjukkan identitas pemilik perusahaan asing itu depan mereka.


Dari kejauhan Devan sudah mengepalkan kedua tangannya. Saudara yang sejak dulu dia sayangi dan dia perlakuan dia baik, kini tega menghancurkan keluarganya sendiri hanya karna patah hati melihat wanita yang dia cintai lebih memilih kakaknya.


"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan Andreas.!!" Bentak Devan. Ingin rasanya dia menghajar adiknya itu karna sudah membuat kekacauan dalam keluarganya.


"Akibat ulahmu, Papa harus di larikan ke rumah sakit dan menjalani operasi.!" Devan tak habis pikir dengan jalan pikiran Andreas.


Selama ini Papa Chandra dan Mama Zoya sudah berusaha menerima kehadiran Andreas dengan lapang dada meski awalnya tak di harapkan.


Begitu juga dengan Devan yang mau menerima Andreas dan rela untuk berbagi orang tua meski tau jika Ibu kandung Andreas telah merusak kebahagiaan keluarganya.

__ADS_1


Tapi lihat balas yang di berikan oleh Andreas.? Dia malah menghancurkan keluarganya sendiri dan menganggap keluarganya adalah musuh.


Mungkin Andreas melupakan jasa sang Papa yang sudah menyekolahkannya, memberikan segala fasilitas hingga dia bisa seperti sekarang ini.


Sayangnya Andreas telah menyalah gunakan kepintarannya untuk menghancurkan perusahaan keluarga.


"Kamu boleh benci dan menghancurkanku karna Irene memilih menikah denganku. Tapi tidak seharusnya menghancurkan Papa kandungmu sendiri.!!"


Sampai detik ini Devan tidak tau kesalahan apa yang sudah di perbuat oleh sang Papa sampai Andreas tega mengambil alih perusahaan dan menghancurkannya tanpa sisa.


Andreas terkekeh. Rupanya Devan tidak tau jika kesalahan terbesar terletak pada Papa kandung mereka. Tuan Chandra sendiri yang sudah menciptakan kehancuran ini sejak dulu.


Seandainya saja bisa bersikap adil, seandainya saja tidak menyiksa Mama kandung Andreas, mungkin Andreas tak akan pernah mengibarkan bendera peperangan pada saudaranya sendiri.


"Memang itu tujuanku Devan.!"


"Melihat kalian semua hancur dan menderita.! Agar kalian bisa merasakan kesedihan dan sakit hati yang dulu aku rasakan.!" Seru Andreas penuh amarah.


"Orang kamu sebut Papa itu tidak pantas merasakan kebahagiaan selamanya.!"


"Berlaku tidak adil pada kedua darah dagingnya sendiri, aku seperti orang asing yang hanya di manfaatkan untuk kepentingan perusahaan.!"


"Bukan salahku kalau sekarang aku membalas perbuatan kalian.!"


"Ini belum seberapa Devan, kamu akan mendapatkan gilirannya."


"Tunggu saat aku benar-benar mencampakkan dan meninggal Anissa mu.! Aku pastikan kamu akan hancur melihat tangisannya yang memilukan."


Kedua tangan Devan mengepal kuat. Andreas sudah kelewat batas, dia tidak punya hati hingga tega menyakiti orang yang tidak bersalah.


"Dia tidak bersalah Andreas.!! Nisa tidak ada hubungannya dengan keluarga kita.!" Devan kehabisan kata-kata untuk menyadarkan Andreas.


"Siapa bilang tidak ada hubungannya.!"


"Kehancuran seseorang yang bisa membuatmu ikut hancur, maka akan aku memanfaatkan."


Ucap Andreas. Senyum smirknya terlihat mengerikan. Dia sudah di kuasai oleh dendam dan sakit hati.


"Jadi kamu ingin menghancurkanku Andreas.?" Nisa masuk ke dalam ruangan Andreas dengan air mata yang sudah membasahi pipi.

__ADS_1


Suaranya tercekat, sorot matanya di penuhi kehancuran.


Sejak tadi dia hanya bisa menangis mendengar percakapan Andreas dan Devan lewat ponselnya.


Dia tidak pernah menyangka jika Andreas benar-benar menjadikan dirinya sebagai alat untuk balas dendam pada Devan.


Kedua laki-laki yang tengah saling menatap tajam itu, kini beralih menatap Nisa.


Keterkejutan tampak terlihat di wajah Andreas, namun itu hanya beberapa saat. Karna setelah itu Andreas kembali memasang wajah sinis.


"Apa kamu yang membawanya kesini.?" Tanya Andreas pada Devan.


Pasalnya dia sudah menyuruh Nisa untuk tetap berada di apartemen, tapi wanita itu justru datang ke kantornya tanpa mengabarinya lebih dulu.


Sedangkan dia tau kalau Nisa wanita yang penurut. Nisa juga selalu meminta ijin padanya jika akan keluar apartemen. Tapi tidak dengan kedatangannya saat ini.


Itu sebabnya Andreas bisa menebak kalau Devan yang membuat Nisa ikut datang menemuinya.


"Dia harus tau seperti apa laki-laki yang menjadi suaminya.!" Seru Devan. Meski tidak memberikan jawaban yang jelas, tapi ucapannya sudah cukup sebagai jawaban.


"Katakan padaku kalau semua itu bohong Andreas.?! Katakan kalau kamu tidak akan melakukan ini padaku.!" Air mata Nisa semakin mengalir deras. Dia berjalan perlahan menghampiri Andreas.


Entah kenapa dia belum bisa percaya jika Andreas benar-benar akan menghancurkannya.


Kalaupun benar tujuan Andreas menikahinya untuk balas dendam pada Devan, Nisa berharap Andreas bisa berubah pikiran dan mau menjalani pernikahan mereka dengan semestinya. Seperti Nisa yang kini sudah mengurungkan niat untuk balas dendam pada Andreas.


Nisa yakin Andreas mencintainya, dan itu yang akan membuat Andreas melupakan balas dendamnya.


Andreas terdiam, dia menatap Nisa dengan tatapan yang sulit di artikan.


Menatap lekat wajah cantik Nisa yang selama beberapa bulan terakhir telah menemani hari-harinya.


...****...


Belum pada baca novel di bawah kah.?


Baca yuk, jangan lupa masukin daftar favorit ☺


__ADS_1


__ADS_2