
Semalaman Nisa kesulitan tidur karena memikirkan acar pernikahannya dengan Andreas yang akan di gelar 1 hari lagi.
Setelah mengetahui kehidupan dan keluarga Andreas lebih dalam, beberapa kenyataan membuat pendirian Nisa sedikit goyah.
Niat untuk balas dendam pada Andreas, kini tak lagi menggebu seperti sebelumnya.
Nisa beranjak dari ranjang. Sejak tadi ketukan pintu sudah membuatnya geram. Padahal merasa baru akan memejamkan matanya, tapi sudah ada yang mengganggu di pagi hari seperti ini.
"Tumben banget tu anak udah bangun jam segini,," Gumam Nisa dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Dia berjalan sempoyongan ke arah pintu untuk membukanya.
"Ngapain sih Mel pagi-pagi udah gedor-gedor pintu,! Nggak tau apa aku tuh baru mau tidur,,!" Keluh Nisa sembari membuka pintu.
Tapi beberapa detik berikutnya, Nisa langsung diam mematung dan saat itu juga kedua matanya terbuka sempurna karna seseorang yang berada di balik pintu bukanlah Mella, melainkan Devan.
Ya, pria itu yang sejak tadi mengetuk pintu kontrakan Nisa. Dia sudah berada di sana sejak pukul 6 pagi. Cukup lama mengetuk pintu namun Nisa baru membukanya.
"Aku,,,
"Mau apa datang kemari.?!" Potong Nisa dengan suara tegas dan tatapan sinis.
"Kita harus bicara Anisa,," Lirih Devan lembut. Soroti matanya masih sama seperti dulu, menatap teduh pada wanita cantik yang sangat dia cintai itu.
"Berhenti melakukan hal konyol." Sinis Nisa dengan tatapan tajam.
"Nggak ada yang perlu di bicarakan, silahkan pergi,,!" Tegasnya tanpa mau berlama-lama menatap laki-laki itu. Nisa segera menutup pintu, namun tangan Devan menahannya dengan masuk ke dalam. Membuat Nisa tak bisa menutup pintu dengan rapat.
"Aku mohon beri aku waktu untuk bicara,," Devan memohon. Dia mendorong pelan pintu itu hingga kembali terbuka.
"Jangan memaksa.!"
"Dan tolong jaga batasan karna kamu sudah memiliki istri, bahkan aku juga akan menikah,,"
__ADS_1
Ujarnya dengan suara tegas dan tenang.
Nisa selalu berusaha keras untuk tetap bisa bersikap santai di tengah-tengah hatinya yang rapuh karna perasaan cintanya pada Devan.
"Bagaimana kalau sampai saat ini aku masih mencintaimu,," Kata Devan dengan tatapan dalam. Dia tak berkedip sedikitpun memandangi wajah Nisa.
"Omong kosong.!" Cibir Nisa dengan senyum kecut.
Apa yang bisa dia percaya dari sebuah ucapan cinta itu.? Sedangkan faktanya bertolak belakang.
Jika memang Devan masih mencintainya, tak seharusnya Devan meninggalkannya begitu saja tanpa kabar dan kepastian selama 2 tahun.
Belum lagi dengan status Devan yang kini sudah memiliki istri, bahkan saat ini istrinya sedang hamil.
"Aku serius, aku benar-benar masih mencintai kamu."
"Keadaan yang membuatku harus pergi." Devan menunduk sendu. Dia tak pernah berharap hubungannya dan Nisa akan berakhir. Namun keadaan memaksanya untuk meninggalkan wanita yang sangat dia cintai itu.
"Lalu dengan kamu mengatakan masih mencintai ku, apa keadaan akan berubah.?!" Ucap Nisa penuh penekan.
Hal itu membuat Nisa menatap tajam dengan kedua tangan yang mengepal sempurna. Devan terlalu lancang dan terlalu jauh mencampuri urusannya.
"Dia tak sebaik yang kamu lihat,," Ucapnya lagi.
Nisa langsung terkekeh sinis. Semakin muak dengan ulah Devan karna sampai menjatuhkan saudaranya sendiri
"Tapi setidaknya dia lebih baik dari kamu.!" Tegas Nisa.
"Yang tak lebih dari seorang pecundang. Menghilang tanpa kabar, meninggalkan tunangannya untuk menikah dengan wanita lain.!" Sinisnya penuh penekan. Devan seketika terdiam, merasa tertampar dengan ucapan Nisa yang memang untuk menyinggungnya.
"Silahkan pergi.!" Usir Nisa. Dia segera menutup pintu dan menguncinya.
__ADS_1
...****...
"Apa harus di pindahkan sekarang.?" Tanya Nisa. Dia menatap Andreas yang sedang membuka koper besar. Koper yang sengaja di bawa oleh Andreas ke kontrakan Nisa untuk menampung barang-barang milik calon istrinya itu, karna sore ini juga akan di pindahkan ke apartemennya.
"Lalu kapan lagi.?" Andreas balik bertanya.
"Kita nggak akan punya waktu setelah menikah." Ucapnya.
"Kenapa nggak punya waktu.?" Nisa bertanya dengan dahi berkerut.
Andreas meletakkan koper di depan lemari baju, dia lalu berjalan menghampiri Nisa yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
"Kamu mau tau kenapa setelah menikah kita nggak punya waktu.?" Ujar Andreas dengan tatapan menggoda. Dia terus berjalan maju hingga jaraknya semakin dekat dengan Nisa, membuat wanita itu berjalan mundur karna ketakutan.
"Stop Ndre,," Pinta Nisa.
"Ka,,kamu mau apa.?"
Nisa tak bisa menyembunyikan kegugupan dan rasa takutnya. Wajahnya bahkan mulai memucat. Takut jika tiba-tiba Andreas mengulangi kejadian malam itu.
Melihat ketakutan di wajah Nisa, Andreas langsung terkekeh. Dia menghentikan langkah dan mengacak gemas pucuk kepala Nisa hingga membuat rambutnya berantakan.
"Bagaimana kita akan sibuk setelah menikah kalau kamu masih takut seperti ini,," Ujarnya dengan sisa-sisa tawa di bibirnya.
Nisa terdiam, dia fokus pada tawa Andreas yang terlihat tanpa beban dan kesedihan.
Jika orang lain melihatnya, pasti mereka tak akan percaya kalau Andreas sedang mengalami kepedihan dalam hidupnya.
Nisa tak habis pikir, entah bagaimana Andreas bisa sekuat itu di balik semua yang sedang terjadi dalam hidupnya.
Pasti tidak mudah bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Menjadi seorang anak dari rahim wanita yang tak di harapkan, itu sudah cukup menyakitkan. Belum lagi perlakuan Tuan Chandra yang terlihat jelas jika dia tak suka dengan Andreas dan tak begitu menganggap keberadaannya di banding dengan. Devan. Padahal mereka berdua sama-sama anak biologisnya.
"Apa yang kamu pikirkan.?" Tanya Andreas sembari menjentikkan jarinya di depan wajah Nisa. Membuat lamunan Nisa buyar dan hanya menggelengkan kepala pada Andreas sembari mengulas senyum tipis.