Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 116


__ADS_3

"Aku memang mengijinkanmu datang lagi Ndre, tapi tidak sepagi ini juga." Nisa menghela nafas.


Dia tidak menyangka Andreas akan datang ke ruangan Kenzie pukul setengah 6 pagi. Nisa bahkan yakin Andreas baru mencuci mukanya.


Kondisinya bahkan tampak masih kacau, tapi sudah bangun pagi-pagi hanya untuk menemui putranya.


"Aku merindukan putraku,," Jawaban Andreas terdengar sendu, namun matanya tampak berbinar karna akan kembali melihat wajah putranya.


"Zie bahkan belum bangun." Ucap Nisa.


"Jadi aku belum boleh masuk.?" Wajah Andreas tampak memelas.


Semalaman dia tidak bisa tidur lantaran wajah Kenzie terus berputa-putar di ingatan.


Setelah mengobrol dengan putranya untuk pertama kali, dia merasa sangat bahagia sampai tidak sabar untuk menyambut pagi agar bisa menemui putranya dan mengobrol dengannya lagi.


Ternyata memiliki seorang anak membuatnya sangat bahagia, dia bahkan tak bisa mengungkapkankannya dengan kata-kata. Karna kebahagiaan yang dia rasakan saat ini tak bisa di ukur dengan sebuah kata-kata.


Semalam dia bahkan bertanya-tanya kenapa Papa Chandra tak bisa bersikap baik dan lembut padanya, sedangkan seorang anak pasti akan sangat berarti bagi orang tuanya.


Rasanya tidak mungkin hanya kesalahan sang Mama, Papa Chandra sampai membencinya.


Memperlakukan dia dan Devan bagaikan bumi dan langit.


"Masuklah,," Lirih Nisa yang terlihat keberatan namun dia mengesampingkan egonya karna Andreas memang berhak atas putra mereka.


"Tapi jangan membangunkannya." Ucapnya memperingatkan. Dia bergeser untuk memberikan jalan pada Andreas.


"Terimakasih," Andreas jelas bahagia di ijinkan masuk ke ruangan putranya.


"Maaf sudah mengganggu waktu tidurmu."


Nisa hanya mengangguk pelan, setelah itu menutup pintu begitu Andreas masuk.


"Kamu pasti melewati masa-masa sulit selama 3 tahun terakhir." Lirih Andreas penuh penyesalan. Menatap wajah cantik Nisa dengan mata yang berkaca-kaca. Dia benar-benar menyesal telah meninggalkan Nisa begitu saja.


Nisa mengukir senyum getir. Rasanya tak ingin mengingat masa-masa bodoh itu lagi.


"Aku tak mau membahasnya lagi Ndre,," Nisa berkata dengan nada memohon.


Dia ingin mengubur kanangan menyedihkan selama 3 tahun itu. Berusaha menganggap dirinya tak pernah mengharapkan siapapun datang menemuinya selama 3 tahun terakhir.


"Maaf,,," Lagi-lagi hanya kata maaf yang terlontar dari mulut Andreas. Jika Nisa mengijinkan, dia ingin mengucapkan ribuan kata maaf padanya meski tau semua itu tak bisa mengobati luka yang telah dia torehkan di hati Nisa.


"Tak perlu membahas masa lalu lagi. Aku akan berusaha melupakan semuanya." Lirih Nisa dengan ekspresi yang terlihat lebih santai dan tenang di banding 2 hari kemarin. Tapi siapa sangka jika ucapan lirih itu mampu meremas hati Andreas. Karna dari ucapan itu Andreas bisa menyimpulkan bahwa tak akan ada kata kembali bersama untuknya. Kesempatan untuk memperbaiki hubungan hanya sebuah angan-angan. Kesalahannya pada Nisa terlalu fatal, membuat wanita yang dulu terlihat sangag mendambakannya, kini tak tertarik sedikitpun untuk sekedar meliriknya. Apalagi memberiksn kesempatan padanya.


“Aku mau mandi dulu," Nisa berlalu dari hadapan Andreas begitu saja.


Dia harus mandi sebelum Kenzie bangun agar nanti bisa mengurus Kenzie denga luasa dan tenang karna sudah mandi.


Andreas masih berdiri di tempat, menatap Nisa yang tengah mengeluarkan baju ganti dari dalam tas lalu beranjak ke kamar mandi.


"Seandainya aku mau mendengarkanmu hari itu dan tetap bersamamu, mungkin semua ini tak akan terjadi." Andreas bergumam lirih. Senyum getir mengembang di bibirnya.


3 tahun bukan waktu yang singkat, namun masih jelas di ingatan Andreas bagaimana tatapan sendu Nisa saat sedang memohon agar dia tidak meninggalkannya waktu itu.

__ADS_1


Alih-alih menuruti permintaan Nisa, dia justru memilih pergi begitu saja hingga membuat wanita cantik itu menangis histeris dengan kehancuran.


"Andreas,, ini tidak benar,,"


"Aku mohon hentikan sekarang juga sebelum terlambat,"


"Aku tau kamu hanya ingin menunjukkan kekecewaan mu saja tanpa berniat untuk menyakiti siapapun."


["Kamu salah, aku sengaja melakukan semua ini untuk menyakiti mereka.!"]


["Sekarang kamu sudah tau semuanya bukan. Jadi biar aku penjelas lagi.]


["Aku sengaja menikahimu hanya untuk membuat Devan terluka, terbukti sampai detik ini dia memang belum bisa menerima wanita yang dia cintai menikah denganku."]


["Kamu memang tidak tau apa-apa, tapi hanya kamu yang bisa aku peralat untuk menghancurkan Devan.!"]


"Bre ngs3k,,!! Kamu benar-benar iblis, Andreas,,!!"


["Ya.! Aku memang iblis.! Dan Papamu kamu salah karna sudah bermain-main dengan iblis seperti ku.!"]


"Jangan Devan, aku mohon,,"


"Kamu masih kasihan padanya setelah apa yang dia lakukan padamu.?!"


"Buka matamu Anissa.! Dia tidak pantas mendapatkan belas kasihan dari siapapun.!"


"Aku mencintainya."


"Kamu tidak salah mencintai iblis sepertinya.?"


"Dia bahkan tidak pantas mendapatkan cinta, karna dia tidak tau apa artinya cinta.!"


"Andreas,, aku mohon katakan padaku kalau semua ini tidak benar."


["Siapkan mobil, kita akan ke bandara sekarang.!"]


"Kamu akan meninggalkanku.?"


"Apa pernikahan kita tidak berarti sedikitpun untukmu.?"


"4 bulan Andreas, 4 bulan kita bersama. Sedikitpun kamu tidak pernah menyakitiku. Bagaimana bisa sekarang kamu mengatakan menikahiku hanya untuk balas dendam pada Devan."


["Sepertinya aku tidak perlu mempertegasnya lagi."]


"Jadi pernikahan kita tidak berarti untukmu.?!"


"Kalau begitu katakan bahwa kamu tidak menicntaiku.!"


[“Kamu menanyakan cinta pada orang yang salah Anissa."


"Orang sepertiku tidak memiliki cinta untuk siapapun.!"]


"Aku terlalu bodoh, seharusnya aku tidak perlu menanyakan cinta pada orang sepertimu."


"Pergilah.! Pergi sajauh mungkin yang kamu bisa. Hilang dari kehidupanku dan jangan pernah kembali lagi.!"

__ADS_1


["Aku memang akan pergi."]


"Tapi kamu tidak bisa pergi begitu saja sebelum menceraikanku.!!"


"Akhiri pernikahan kita sebelum kamu pergi. Jangan membuatku masih terikat hubungan denganmu karna itu akan membuatku sulit untuk menikah lagi.!"


Memilih mengabaikan perkataan Nisa, Andreas justru pergi begitu saja dan itu menjadi hal terbesar yang dia sesali sampai detik ini.


"Andreas.!! Berhenti.!!"


"Kamu tidak boleh pergi sebelum menceraikanku.!!"


Tersadar dari kejadian 3 tahun lalu, Andreas terlihat menarik nafas dalam.


Betapa kejam dia pada Nisa saat itu. Wanita yang tak bersalah harus menjadi korban ambisinya untuk menghancurkan keluarganya sendiri.


...*****...


"Terimakasih suster, letakkan di meja saja." Ucap Nisa pada suster yang membawakan sarapan ke kamar inap Kenzie.


Sementara itu Andreas sedang fokus mendengarkan celotehan Kenzie yang sudah bangun 30 menit lalu.


"Pasien di kamar sebelah ada di sini, boleh minta tolong bawakan sarapannya ke kamar ini saja.?" Pinta Nisa sebelum suster itu pergi.


"Tentu saja Bu, nanti akan saya bawakan ke mari." Jawabnya kemudian pamit dan keluar dari kamar.


Nisa beranjak dari duduknya, berniat mengambil sarapan milik Kenzie dan akan menyuapinya.


Namun matanya tak sengaja menangkap seseorang yang sedang tertegun menatapnya.


"Kenapa menatapku seperti itu.?!" Protes Nisa. Dia tampak santai saja dan langsung mengambil makanan milik Kenzie.


Sementara itu, Andreas justru mengulum senyum setelah di protes oleh Nisa.


Sebenarnya bukan tersenyum karna mendapatkan protes dari Nisa, tapi karna mendengar Nisa meminta suster untuk membawakan sarapan miliknya ke kamar inap Kenzie.


Hal yang mungkin biasa bagi orang lain, tapi terasa sangat luar biasa bagi Andreas.


Setidaknya hati Nisa masih seputih dulu dalam bersikap kepada seseorang, meski orang itu sudah menyakitinya.


"Om,, Zie mau jalan-jalan,," Tiba-tiba Kenzie merengek. Membuat fokus Andreas kembali pada putranya.


"Papi sayang, panggil Papi jangan Om,," Pinta Andreas lembut dan sedikit memohon.


"Andreas." Tegur Nisa penuh penekanan.


"Sudah berapa kali kamu mengatakan itu pada Zie. Jangan memaksanya, dia belum terbiasa." Nisa melirik kesal.


Untuk pertama kalinya Nisa menegur Andreas. Sekali dua kali dia hanya diam saja saat Andreas meminta Kenzie untuk memanggilnya Papi.


Tapi mendengar ke tiga kalinya membuat Nisa sedikit kesal karna merasa kasihan pada putranya.


"Iya, aku minta maaf,," Lirih Andreas. Dia tampak. menyesal karna sadar jika perkataan Nisa memang benar. Tidak seharusnya dia terus mendesak Kenzie untuk memanggilnya Papi.


...***...

__ADS_1


Yang mau masuk ke grup chat, bisa di klik grup Clarissa icha ya 🙏🏻


Jangan salah masuk, krna grup satunya ga aktif.


__ADS_2