Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 81


__ADS_3

"Kenapa harus di tutup matanya.?" Nisa sedikit keberatan ketika Andreas mengeluarkan penutup mata saat akan masuk ke dalam kamar hotel.


"Biar surprise,," Jawab Andreas. Nisa tak punya pilihan untuk menolak lantaran Andreas sudah berdiri di belakangnya dan melingkarkan penutup mata padanya.


"Tapi aku sudah tau kita akan menginap di dalam." Ujar Nisa. Menurutnya penutup mata tidak akan berpengaruh apapun ketika dia sudah berada di depan kamar hotel.


Harusnya penutup mata itu di pasang saat masih dalam perjalanan, jadi tidak tau di hotel apa Andreas akan membawanya menginap.


"Sstttt,,"


Nisa bisa merasakan jari telunjuk Andreas ditempelkan pada bibirnya. Laki-laki itu menyuruhnya untuk diam, kemudian tangan besar Andreas menggandeng tangan Nisa.


Dengan mata yang tidak bisa melihat apapun, Nisa mendengar Andreas membuka pintu kamar hotel.


Kamar yang Nisa tau sebagai kamar paling mahal di hotel bintang 5 itu.


"Jalan pelan-pelan saja,," Ucap Andreas seraya menuntun Nisa untuk masuk ke dalam.


Nisa terus melangkahkan kaki, mengikuti arahan dari Andreas. Namun setelah di rasa sudah jalan cukup jauh, Nisa segera menghentikan langkah tanpa di suruh oleh Andreas.


"Kenapa masih berjalan Ndre.? Lalu kapan aku boleh melepas menutup matanya.?" Protes Nisa.


Dia pikir Andreas akan membuka penutup matanya setelah masuk ke dalam kamar, tapi Andreas malah terus menuntunnya dan entah mau ke sudut sebelah mata.


Yang jelas Nisa merasakan kalau kamar hotel itu sangat luas sampai dia bisa berjalan lumayan jauh.


"Sebentar lagi sayang. Sudah ada di hadapan kamu. Ayo jalan lagi,," Dengan sabar Andreas kembali mengarahkan Nisa untuk melangkah.


Ternyata benar apa kata Andreas. Kurang dari 10 langkah, Andreas memintanya untuk berhenti.


"Ok,, aku akan membuka penutup matamu." Andreas berdiri di belakang tubuh Nisa, kedua tangannya dia letakkan pada pundak wanita itu dengan mengusapnya pelan.


"Sudah siap.?" Tanya Andreas setengah berbisik.


Nisa mengangguk cepat. Dia sudah tidak sabar ingin melihat apa yang akan di tunjukkan oleh Andreas padanya.

__ADS_1


Karna untuk pertama kalinya Andreas melakukan hal semacam ini.


Andreas mulai membuka penutup mata Nisa. Saat itu juga Nisa tampak tertegun. Dia terkejut, menatap hampir tak percaya dengan semua yang sudah di siapkan oleh Andreas.


Sebuah makan malam romantis di balkon kamar hotel dengan pemandangan yang indah. Disertai hiasan bunga dan buket bunga di atas kursi yang saat ini sedang di ambil oleh Andreas.


"Untukmu." Ucap Andreas seraya menyodorkan buket bunga itu pada Nisa.


"Bunga yang indah untuk wanita cantik sepertimu." Disertai dengan pujian, Andreas tak beralih sedikitpun menatap wajah Nisa.


Perasaan haru dan bahagia menyelimuti Nisa. Dia menerima buket bunga itu dengan mata yang berkaca-kaca. Rasanya tak pernah habis kejutan dari Andreas yang membuat hatinya semakin yakin akan ketulusan cintanya.


"Makasih Ndre,," Nisa tanpa ragu menghambur ke pelukan Andreas. Hatinya sudah yakin untuk menghapuskan dendam, kebencian san sakit hati pada sosok yang kini berhasil membuatnya jatuh cinta.


Pada akhirnya Nisa terjebak dalam rencananya sendiri. Cinta membuatnya lemah dan menghancurkan rencana yang dia buat sendiri.


Kini balas dendam tak lagi penting baginya. Yang terpenting adalah bagaimana dia bisa selamanya bahagia di samping Andreas.


Tak peduli lagi dengan Irene, dia juga tak berniat lagi untuk merebut Devan darinya.


"Aku mencintaimu,," Bisik Andreas.


"Aku juga mencintaimu,," Jawab Nisa seraya menatap wajah Andreas. Laki-laki itu tempak mengukir senyum sebelum akhirnya menyambar bibir seksi Nisa dengan gerakan lembut.


Dinner romantis itu terlihat sangat berkesan untuk Nisa walaupun hanya sebentar. Karna begitu selesai makan, Andreas langsung menggendongnya ke kamar.


"Saatnya membuat Andreas junior,," Ucap Andreas. Dia membaringkan tubuh Nisa di atas ranjang sambil sesekali mendaratkan ciuman di wajahnya.


Nisa tampak pasrah saja mendengar keinginan Dave untuk memiliki seorang anak. Lagipula sejak beberapa minggu yang lalu dia sudah tidak mengonsumsi pil penunda kehamilan itu lagi.


Selain lupa, Nisa juga heran kenapa dia selalu tertidur pulas setiap selesai bercinta. Hal itu membuatnya melewatkan untuk meminum pil penunda kehamilan.


"Lebih cepat sayang,," Pinta Andreas dengan kedua tangan yang memegangi pinggang Nisa. Wanita cantik itu tengah bergerak di atasnya.


Suara indah keduanya saling bersautan. Sama halnya dengan Andreas yang sangat menyukai posisi seperti itu, Nisa pun sama.

__ADS_1


Dan itu yang membuat Nisa selalu menikmati percintaannya bersama Andreas meski sebelumnya masih ada dendam di hatinya.


"Andreas,,," Nisa menyebut namanya di akhir permainan, sebelum tubuhnya ambruk di atas Andreas.


Sementara itu, Andreas terlihat mengukir senyum seraya mendekap tubuh Nisa.


...******...


"Maaf kita harus pulang pagi-pagi." Andreas tampak menunjukkan wajah bersalah di depan Nisa. Rencana untuk menginap lebih lama di hotel terpaksa harus dibatalkan karna ada urusan penting yang berkaitan dengan perusahaan pribadi miliknya.


Nisa tampak tersenyum tipis sembari memasukkan baju kotor mereka tadi malam ke dalam tas.


"Tidak masalah, kita bisa menginap lagi lain waktu." Ujar Nisa. Dia bisa memahami keadaan suaminya yang memang bukan orang sembarangan.


Andreas punya jabatan dan pengaruh besar dalam perusahaan, jadi wajar jika tiba-tiba ada urusan penting yang mendesak.


"Makasih sudah mengerti." Andreas memeluk Nisa dari belakang.


"Kita lanjutkan minggu depan di Swiss." Bisiknya sembari mencium tengkuk Nisa.


...****...


Andreas mengantarkan Nisa sampai di depan apartemen. Setelah memeluk Nisa dan mencium bibirnya sekilas, Andreas buru-buru pergi dari sana.


"Tunggu aku nanti malam,," Serunya dengan mengedipkan sebelah mata. Nisa hanya tersenyum simpul, dia melambaikan tangan pada Andreas. Berdiri di depan apartemen hingga laki-laki itu menghilang dari pandangan matanya.


"Kenapa aku baru menyadari bahwa aku sangat beruntung memilikimu." Gumamnya.


Senyum dan sorot mata Nisa sangat khas seperti orang yang sedang jatuh cinta.


"Aku harap akan tetap seperti ini."


Nisa telah berharap banyak pada perasaannya terhadap Andreas. Dia menginginkan kebahagiaan lebih dari saat ini.


__ADS_1


__ADS_2