Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 128


__ADS_3

"Saya bisa membuat usahamu maju ataupun hancur dalam waktu singkat." Ucapan Pak Surya membuat Nisa mengurungkan niat untuk beranjak dari duduknya.


Kedua tangan Nisa tampak mengepal kuat.


"Anda sedang mengancam saya.?!" Seru Nisa penuh penekanan. Tatapannya pada Pak Surya semakin tajam. Dia menyesal sudah mempertimbangkan tawaran investasi dari Pak Surya hingga harus bertemu seperti ini dan membahas hal yang membuatnya murka.


"Saya hanya mencoba memberikan pilihan. Keputusan ada di tangan kamu." Pak Surya mengukir senyum smirk. Dia tampak jumawa karna merasa bisa melakukan apapun dengan kekuasaan dan uang yang dia miliki. Termasuk menjadikan Nisa sebagai simpanannya. Dia bahkan rela menikahi Nisa jika wanita itu mau menikah dengannya.


Laki-laki mana yang tidak akan tergoda dengan janda muda seperti Nisa.


"Mudah bagi saya menyebarkan rumor dan membuat bisnismu hancur." Senyum di bibir Pak Surya semakin mengembang. Laki-laki berusia 45 tahun itu memang masih terlihat muda dengan wajah yang lumayan tampan, tapi terlihat menjijikkan di mata Nisa saat ini. Dia tidak menyangka pengusaha kaya raya itu yang selalu tampil dingin dan cuek, ternyata pemain ulung di belakang istrinya.


"Anda benar-benar keterlaluan.!"


"Saya akan mengadukan semua ini pada istri Anda.!" Nisa mengancam balik. Anehnya Pak Surya tidak terlihat takut sedikitpun, dia justru terkekeh santai.


"Selama uang bulanannya lancar, dia tidak akan mencampuri urusan pribadi saya." Penuturan Pak Surya membuat Nisa tercengang. Jadi selama ini sang istri sudah tau tabiat buruk suaminya, dan dia hanya diam saja melihat suaminya berselingkuh.


Nisa yakin saat ini pasti ada wanita lain juga yang jadi simpanan Pak Surya. Dan yang pasti tidak hanya 1. Lalu sekarang dengan tidak tau malu Pak Surya ingin memintanya menjadi simpanannya.


Bagaimana bisa ada laki-laki biadab seperti itu.


"Percuma saja kamu mengadu, dia tidak akan bisa membantumu." Pak Surya tersenyum penuh kemenangan. Dia seolah yakin kalau Nisa tak akan menolak lagi kali ini. Apa lagi setelah mendengar ancamannya yang akan menghancurkan bisnis Nisa.


"Kamu tidak akan rugi menjalin hubungan dengan saya." Tiba-tiba Pak Surya berdiri dan meraih tangan Nisa.


Merasa terancam, Nisa langsung menarik tangannya dan menjauh dari hadapan Pak Surya.


"Jangan macam-macam Pak.! Saya bisa melaporkan Anda.!" Seru Nisa yang sedang menahan rasa takut.


“Tidak usah munafik, aku yakin kamu pasti membutuhkan sentuhan laki-laki."


Pak Surya terlihat tak mau menyerah. Dia justru terlihat gigih untuk bisa mendapatkan Nisa.


Baginya wanita seperti Nisa justru sangat menantang. Karna selama ini dia bisa dengan mudah mengajak wanita untuk menjadi simpanannya tanpa ada kata penolakan.


"Tapi saya tidak serendah yang Anda pikirkan.!" Bentak Nisa. Dia buru-buru berjalan ke arah pintu untuk keluar dari sana. Tetap berada di dalam ruangan itu sama saja meyerahkan tubuhnya pada laki-laki biadab itu. Apalagi sorot mata Pak Surya sudah berbeda, tatapannya terlihat sedang ber nafs su.


"Mau kemana.? Saya belum selesai bicara." Pak Surya berhasil menahan tangan Nisa. Dia mendorong tubuh Nisa hingga bersender pada pintu.


"Jangan gila Pak.!! Lepas atau aku akan teriak.!!" Bentak Nisa penuh marah sekaligus menahan takut.

__ADS_1


"Saya tidak takut." Jawabnya.


Plakkk.!!!


Satu tamparan mendarat di wajah Pak Surya. Nisa terpaksa menamparnya karna hampir di cium.


"Saya tidak akan tinggal diam.!!" Nisa menatap tajam. Dia mendorong Pak Surya sekuat tenaga hingga laki-laki itu terdorong menjauh dan saat itu Nisa buru-buru keluar dari sana dengan air mata yang tak bisa di bendung lagi.


Rasanya sesak dan sakit menyelimuti hatinya. Dia sudah bangkit dari keterpurukan tapi di ingatkan lagi dengan tragedi pelecehan yang menimpanya untuk kedua kalinya.


Meski Pak Surya belum sempat melecehkannya, tapi tetap saja Nisa merasa di rendahkan dan itu membuatnya terluka.


Berjalan cepat menuju basemen, Nisa tak memperdulikan tatapan orang-orang yang melihatnya menangis. Saat ini dia ingin buru-buru pergi dari sana.


Namun tanpa Nisa sadari, Pak Surya membuntutinya sampai ke basemen.


Dalam keadaan basemen yang cukup sepi, Pak Surya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menarik tangan Nisa dan menyeretnya ke arah mobil miliknya.


Nisa memberontak, dia berteriak meminta tolong dengan air mata yang semakin bercucuran.


"Saya tidak akan berbuat seperti ini kalau kamu menuruti keinginan saya." Ucap Pak Surya yang sudah membekap mulut Nisa.


"Ba jingan.!!"


Satu tinjuan mendarat di pipi kakan Pak Surya. Dia sampai tersungkur ke mobilnya.


"Andreas,,," Nisa buru-buru bersembunyi di belakang tubuh besar Andreas.


"Berani sekali berbuat seperti itu padanya.!" Dengan sorot mata yang di penuhi amarah, Andreas mencengkram kuat kerah kemeja Pak Surya.


"Sialan.!! Kamu pikir siapa dirimu hah.?!!"


"Dia wanitaku.!!" Seru Pak Surya.


Dan saat itu satu tinjuan kembali mendarat di wajahnya. Andreas tidak terima mendengar laki-laki itu menyebut Nisa sebagai wanitanya.


"Sekali lagi menyebutnya sebagai wanitamu, akan aku robek mulutmu ini.!" Untuk ketiga kalinya Andreas melayangkan tinjuan pada Pak Surya.


"Andreas,, sudah hentikan." Nisa menarik tangan Andreas agar melepaskan Pak Surya. Melihat wajah Pak Surya yang memar dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya, Nisa takut hal itu akan menyeret Andreas dalam permasalahan hukum.


"Br engsek.! Aku akan melaporkanmu ke polisi.!" Geram Pak Surya seraya membenarkan dasi dan kemejanya yang berantakan.

__ADS_1


Andreas mengambil dompet dan mengeluarkan kartu namanya.


"Laporkan saja kalau kamu ingin mendekam di penjara.!" Sinis Andreas seraya melemparkan kartu nama di depan wajah Pak Surya.


"Kamu aku berhadapan denganku jika berani mengganggunya lagi.!" Ancamnya.


Andreas menggandeng tangan Nisa dan mengajaknya pergi dari sana.


Sementara itu, Pak Surya terlihat syok melihat kartu nama di tangannya.


Di sana tertulis bahwa Andreas merupakan pemilik salah satu perusahaan besar di Amerika.


Seketika wajah Pak Surya berubah pucat. Dia akan hancur kalau sampai menentang laki-laki yang baru saja menghajarnya itu.


...****...


Andreas menarik Nisa dalam dekapan. Wanita itu masih menangis meski kini sudah berada di tempat yang aman bersamanya.


"Apa dia berbuat sesuatu padamu.?" Tanya Andreas yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Nisa menggelengkan kepala. Dia masih syok, tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari seorang laki-laki.


"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Andreas seraya melepaskan pelukannya.


"Bukannya kamu datang dengan Kenzie. Dimana dia.?" Nisa baru ingat dengan putranya. Dia menengok ke jok belakang dan tidak melihat siapapun di sana.


"Zie sudah di dalam bersama Aditya dan Tiara." Jawab Andreas.


Andreas memang sengaja menyuruh mereka untuk buru-buru pergi dari basemen. Karna dia tidak mau membiarkan Kenzie melihat keributan tadi.


"Kalau begitu temani Zie saja, aku akan pulang sendiri." Pinta Nisa yang sedang menghapus air matanya dan kini terlihat jauh lebih tenang.


"Aku akan menemani Zie setelah mengantarmu."


Andreas langsung menyalakan mobil dan meninggalkan basemen.


"Lain kali jangan menemui laki-laki sendirian, kamu bisa meminta karyawanmu untuk menemani." Andreas melirik Nisa sekilas.


"Lagipula orang seperti apa yang kamu pilih untuk menaruh investasi, kenapa bisa berbuat kurang ajar seperti itu."


Nisa langsung menatap Andreas, entah darimana Andreas bisa tau kalau Pak Surya ada orang yang akan berinvestasi padanya.

__ADS_1


“Aku sempat menelfon Pak Dito, dia bilang kamu tidak ada di kantor karna sedang menemui investor." Tutur Andreas yang menjawab rasa penasaran Nisa.


Nisa tak menjawab dan kembali membuang pandangan ke luar jendela. Rasanya masih sulit untuk percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


__ADS_2