
"Ekhemm,," Aditya berdeham untuk menghilangkan kecanggungan di dalam mobil. Sejak mobilnya keluar dari halaman rumah Nisa dan kini hampir sampai di tempat tujuan, sedikitpun tak ada obrolan yang terjadi antara dia dan Tiara.
Tiara menyibukkan diri dengan melihat ke luar jendela, begitu juga dan pikirannya yang entah kemana. Dia bingung harus melakukan apa saja di depan mantan kekasih Aditya. Sedangkan saat ini saja dia masih sering canggung dan gugup jika bicara dengan Aditya. Lalu bagaimana dia akan berpura-pura sebagai calon istrinya.
Deheman Aditya hanya membuat Tiara melirik sekilas. Selain itu dia memang menghindari untuk menatap Aditya terlalu lama, karna penampilan Aditya jauh lebih tampan dari sebelumnya. Dengan potongan rambut yang sudah berubah. Sepertinya Aditya baru saja memotong rambutnya hingga telihat lebih rapi dan muda.
"Nanti jangan terlalu kaku di depan dia. Takut dia tidak percaya kalau kita punya hubungan." Kata Aditya dengan kecemasan yang sama. Nyatanya bukan hanya Tiara saja yang khawatir, Aditya pun begitu. Karna mereka sadar baru saling mengenal dan masih canggung untuk berinteraksi.
"Aku harus bagaimana.?" Tanya Tiara yang benar-benar tidak tau harus melakukan apa nanti.
Apalagi dia belum pernah berpacaran sebelumnya.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun, hanya perlu membuang kecanggungan saja." Tutur Aditya. Sesekali dia melirik Tiara.
"Dan yang terpenting, jangan kaget kalau tiba-tiba aku menggandeng tangan, merangkul, atau bahkan memanggilmu sayang." Meski tampak ragu untuk mengatakan, tapi Aditya harus memberi tau Tiara agar nanti tak menimbulkan reaksi yang membuat Eveline curiga.
Karna Aditya yakin seandainya tiba-tiba dia merangkul Tiara tanpa mengatakannya lebih dulu, sudah pasti Tiara akan kaget bahkan mungkin menghindar. Apa yang ada di pikiran Eveline nanti kalau melihat Tiara beraksi seperti itu.
"Aa,,apaa.?!" Pekik Tiara kaget.
"Tidak usah kaget, bukankah wajar sepasang kekasih merangkul atau memanggil sayang." Tutur Aditya. Dia sampai heran melihat Tiara yang tampak syok saat mengetahui akan di rangkul dan panggil sayang.
"Memang wajar, tapi untuk aku yang belum pernah memiliki pacar, tentu bukan hal yang biasa." Kini pengakuan Tiara justru membuat Aditya kaget. Dia hampir tak percaya kalau wanita di sampingnya tidak pernah memiliki pacar.
"Memangnya berapa usiamu.?" Aditya tampak penasaran. Sepertinya Tiara bukan anak remaja lagi. Rasanya aneh kalau sudah sebesar itu belum pernah pacaran.
"20 tahun,"
Aditya hanya melongo. Sepertinya baru kali ini dia menemukan gadis berusia 20 tahun yang belum pernah berpacaran.
Dijaman sekarang ini, rasanya jarang di temukan wanita seperti Tiara. Bahkan sekarang banyak anak SD yang sudah tau percintaan.
Aditya memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran ternama yang ada di Batam.
Restoran yang cukup terkenal dan mahal. Tiara bahkan baru ke dua kalinya datang ke restoran itu. Pertama saat di di ajak oleh Nisa untuk menghadari pesta ulang tahun sesama pengusaha.
__ADS_1
Tiara tak habis pikir, kenapa Aditya dan mantan kekasihnya harus memesan tempat di restoran ini hanya untuk bertemu dan menunjukan calon istri bohongannya. Cara berfikir orang yang kelebihan uang memang berbeda.
"Berikan tangan kirimu." Pinta Aditya dengan suara beratnya.
"Hah.?" Tiara menatap bingung, memperhatikan Aditya yang ingin meraih tangan kirinya.
"Untuk apa.?" Tanyanya.
"Sudah berikan saja tanganmu." Aditya langsung menyambar tangan kiri Tiara. Dia terlihat merogoh sesuatu dalam saku celananya, sebuah cincin yang tampak berkilau cukup menyita perhatian Tiata. Gadis itu sampai mempertajam pandangan, menatap dengan seksama cincin di tangan Aditya yang hendak di pasangkan di jari manisnya.
"Tunggu Kak, bukankah itu cincin berlian milik Bu Nisa.?" Tanya Tiara seraya menjauhkan jarinya. Dia menolak untuk di pasangkan cincin itu. Cincin yang di beli oleh Aditya saat mereka berada di mall. Bahkan tak hanya cincin, Aditya juga membeli kalung berlian. Dan semua itu atas perintah Andreas, bahkan dengan uang milik Andreas.
"Kata siapa.? Ini milikku." Jawab Aditya tegas.
"Tuan Andreas hanya menyuruhku untuk membelikan kalung saja." Tuturnya menjelaskan.
"Cepat pakai, ini akan menjadi bukti di depan dia kalau kamu memang calon istriku." Aditya kembali meraih tangan Tiara dan memasangkan cincin seharga 30 juta itu.
Tiara memaku, entah perasaan apa yang menyelimuti hatinya saat Aditya memasangkan cincin di jari manisnya. Ada perasaan sedih dan bahagia.
...****...
"Ada apa.?" Tanyanya lembut.
"Pak Surya sedang di periksa pihak kepolisian, apa kamu yang,,
"Dia sudah berbuat kurang ajar padamu. Masih bagus aku hanya melaporkannya ke polisi, bukan menghancurkan perusahaannya." Potong Andreas cepat. Nada bicaranya seketika meninggi. Kekesalan dan amarah jelas terlihat di matanya.
Andreas benar-benar murka melihat Nisa di lecehkan seperti itu.
"Tapi Ndre,, pasti dia akan berbuat lebih setelah ini." Nisa tampak khawatir. Dia takut Pak Surya akan menaruh dendam dan membalas perbuatan Andreas yang sudah melaporkannya ke polisi.
Bahkan hanya dalam hitungan jam, polisi sudah menangkap dan memeriksa Pak Surya.
Nisa bahkan heran, bagaimana Andreas bisa membuat laporan itu dengan disertai bukti rekaman cctv. Sedangkan sejak kejadian itu, Andreas tidak pergi kemana-mana.
__ADS_1
"Aku akan buat perhitungan kalau dia berani macam-macam lagi." Jawab Andreas tegas.
"Sudah jangan dipikirkan," Andreas memberikan usapan lembut di pucuk kepala Nisa untuk menenangkannya.
Keduanya lantas saling diam saat tak sengaja pandangan matanya beradu.
Tatapan Andreas semakin dalam penuh cinta dan kerinduan yang menggebu. 3 tahun menahan rindu dan gejolak yang sering kali muncul, sungguh bukan hal yang mudah baginya.
Di tatapnya lekat wajah Nisa, seolah sedang mengabsen setiap inci wajah cantik di hadapannya itu. Alis yang tebal, mata yang indah dangan bulu mata lentik, dan hidung mancung yang tak lepas dari pandangan Andreas. Perlahan pandangannya turun ke bibir Nisa.
Bibir yang dulu membuatnya candu dan ingin selalu mengecupnya.
Dan entah keberanian dari mana, tiba-tiba Andreas mendekatkan wajahnya.
Tangan yang tadi dia gunakan untuk mengusap kepala Nisa, kini berpindah ke pipi.
Sementara itu, Nisa tak bisa menghindar meski dia tau apa yang akan di lakukan oleh Andreas.
Sampai akhirnya suara Kenzie membuat mengacaukan semuanya.
"Papi,, ayo main.!!" Teriakan Zie membuat Andreas buru-buru menjauhkan wajahnya. Dia menoleh ke arah putranya yang sudah berada jauh dari ruang makan.
"Maaf,, aku tidak bermaksud,,,
"Papi,,,!! Ayo sini,,,!!" Teriak Zie lagi.
"Tidak apa, sudah sana temani Zie main." Nisa menyuruh Andreas untuk menyusul putranya. Dia terlihat lebih santai, sedangkan Andreas memrasa canggung dan takut karna hampir saja mencium Nisa.
Entah apa yang terjadi kalau Kenzie tidak memanggilnya, mungkin saat ini Nisa akan marah karna sudah lancang menciumnya.
"Aku benar-benar minta maaf,," Ucap Andreas lagi. Dia memiliki ketakutan tersendiri, tak ingin membuat Nisa marah padanya disaat keadaan sudah membaik dengan kebesaran hati Nisa yang memberikan dia kesempatan untuk dekat dengan Zie.
"Tidak apa. Sudah sana, jangan buat Zie teriak lagi." Nisa mendorong pelan bahu Andreas gara bergegas pergi dari ruang makan.
Dengan perasaan bersalah dan menyesal, Andreas bergegas menyusul putranya.
__ADS_1
Dia berharap Nisa tidak marah padanya setelah ini.
Menatap punggung Andreas yang sudah jauh dari pandangan matanya, tatapan Nisa terlihat penuh arti. Namun hanya tatapan sendu yang mendominasi.