
Irene menatap dirinya dalam pantulan cermin. Wajahnya belum selesai di rias, namun kecantikannya yang alami sudah terpancar.
Wanita berusia 25 tahun itu terbilang sangat sempurna. Karena tidak hanya kaum adam saja yang mampu terpikat pada kecantikan dan fisiknya yang sempurna, bahkan kaum hawa pun banyak yang mengagumi kesempurnaan Irene.
Mereka hampir tak melihat sedikitpun celah atas kekurangan Irene.
Semuanya sempurna, bisa dilihat dari ujung kaki hingga kepala. Juga dengan sikap baik dan ramah yang di miliki oleh wanita cantik dengan lesung pipi itu.
Irene menarik nafas dalam. Rasa sesak di dadanya mulai mengganggu nafasnya.
2 tahun 3 bulan, bukan waktu yang singkat bagi Irene dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersama Devan.
Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa menikah dengan Devan akan sesulit dan menyakitkan ini.
Selama 2 tahun lebih, dia tak pernah merasakan sedikitpun cinta yang terpancar dari sorot mata suaminya.
Selama lebih dari 2 tahun dia berjuang sendiri mencintai Devan tanpa di cintai.
3 bulan yang lalu mungkin Irene masih sanggup untuk mempertahankan pernikahannya dan menunggu datangnya keajaiban yang akan menghadirkan cinta di hati Devan untuknya.
Tapi sejak mendengar percakapan malam itu, dunianya seakan runtuh. Semangatnya meredup, dan harapan akan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya seolah sirna.
Dia disadarkan oleh kenyataan, kenyataan bahwa Devan memang tak akan pernah bisa mencintainya sampai kapanpun.
Irene menoleh, dia menatap sendu sosok laki-laki yang tengah sibuk dengan laptopnya.
Bahkan di hari spesialnya malam ini, Devan masih menyibukkan diri dengan pekerjaan, di banding meluangkan waktu untuk duduk di samping istrinya yang sedang di rias.
Jadi bukan salah Irene jika selama 2 tahun lebih dia tidak bisa membuat Devan jatuh cinta padanya. Tapi karna Devan yang tak memberikan celah sedikitpun di hatinya untuk di isi oleh Irene.
Dave bukan hanya menutup rapat hatinya, tapi juga mengunci dan menggemboknya.
"Jika suatu saat aku pergi, aku harap kamu tak akan menyesalinya."
Batin Irene sambil mengusap perutnya yang semakin terlihat besar.
"Keep strong my baby,," Lirih Irene dengan seulas senyum yang menyayat hati.
Padahal disini yang sedang terluka dan sakit hati adalah dirinya, namun Irene justru berusaha memberikan kekuatan untuk bayi yang ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
...****...
"Iya sayang,, sebentar." Andreas buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dia bergegas menghampiri Nisa, merangkul pinggangnya sembari mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.
"Kamu sangat cantik,," Puji Andreas. Senyumnya merekah sempurna melihat wajah cantik Nisa dengan riasan tipis.
Nisa menggeleng heran.
"Kamu sudah bicara seperti itu sebanyak 4 kali Andreas,," Nisa sedikit mengeluh. Dia bukan tidak suka mendapatkan pujian dari Andreas, tapi terdengar berlebihan karna Andreas mengatakannya berulang kali.
"Baru 4 kali kan.?" Tanya Andreas.
"Berarti kurang 96 kali lagi, atau 69.?" Goda Andreas. Nisa yang geram langsung mencubit pinggang Andreas.
"Kamu ini benar-benar menjengkelkan,,!" Nisa menggerutu hingga bibirnya mencebik kesal. Dia serius berbicara pada Andreas, tapi malah di tanggapi dengan candaan.
"Kau ini menggemaskan sekali,," Andreas mencubit gemas hidung Nisa. Dia kemudian membawa Nisa keluar dari ruang kerjanya untuk bergegas pergi ke tempat acara.
Mereka datang 1 jam lebih awal sebelum acara di mulai, karna harus ikut membantu persiapan sekaligus menyambut tamu undangan.
"Kira-kira apa jenis kelamin baby mereka.?" Nisa iseng bertanya pada Andreas. Karna sejak kemarin dia penasaran dengan jenis kelamin anak Irene.
Kedekatan itu yang membuat Nisa ikut antusias menyambut kelahiran anak Irene dan Devan.
"Mana aku tau, tanya saja pada dokter yang menangani kehamilan Irene," Jawab Andreas dengan nada bercanda. Begitu juga ekspresi wajah Andreas yang menahan tawa.
"Kenapa tidak sekalian tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.!" Sahut Nisa kesal.
Bicara dengan Andreas hanya membuatnya naik darah. Andreas semakin jahil dan semakin gemar membuatnya kesal.
Andreas terkekeh geli mendengar jawaban Nisa.
"Aku tidak bisa membawa mu bertanya pada rumput yang bergoyang, tapi bisa membawamu ke ranjang yang bergoyang." Andreas melirik Nisa, dia ingin tau bagaimana reaksi wanita itu setelah mendengar ucapannya.
"Kamu baik-baik saja bukan.? Apa pekerjaan kantor membuatmu frustasi.?" Tanya Nisa dengan ekspresi serius.
"Aku urusan kantor sudah jadi makanan sehari-hari." Jawab Andreas.
"Sepertinya aku frustasi karna belum berhasil menghamili kamu," Andreas mengulurkan tangannya dan menyentuh perut rata Nisa.
__ADS_1
"Kapan benihku akan tumbuh di sini.?" Tangannya sembari mengusap lembut.
"Kenapa tiba-tiba kamu selalu membahas tentang anak.?"
"Padahal sebelumnya kamu enggan membicarakan hal itu." Nisa menatap heran.
Dia sedikit menaruh kecurigaan pada Andreas, terlebih mengingat ucapan Devan 2 minggu yang lalu saat menginap di rumah Tuan Chandra.
Devan selalu memperingatkan dirinya untuk tidak percaya pada semua perkataan Andreas. Devan juga selalu menyuruhnya untuk selalu hati-hati dengan Andreas.
Bahkan Devan menyebutkan jika Andreas punya maksud tertentu di balik pernikahannya. Yaitu untuk menghancurkan perasaannya Devan karna sebenarnya Andreas tau siapa Nisa dan apa hubungannya dengan Devan di masa lalu.
Tapi karna rasa kecewanya pada Devan, Nisa tak mempercayai ucapan Devan begitu saja. Tapi dia juga tidak percaya pada Andreas.
Nisa berusaha mungkin untuk tidak mempercayai siapapun di sini. Dia hanya ingin fokus pada apa yang telah dia rencanakan sejak dulu.
"Karna aku juga ingin hidup normal. Aku ingin seperti orang lain yang hidup bahagia dengan keluarga kecil mereka."
"Aku ingin mencurahkan cinta dan kasih sayangku sebagai seorang ayah pada anak-anakku kelak. Karna sejak dulu aku tidak merasakan kebahagiaan itu."
Suara Andreas terdengar berat dan tercekat. Dia juga meluruskan pandangan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mengingat bagaimana menderitanya dia sejak belasan tahun lalu, hanya menambah luka dan kebencian dalam hati.
Andreas semakin membenci sosok ayah yang tidak pantas di jadikan sebagai contoh dan panutan.
Nisa menoleh, dia menatap sendu karna merasakan kesedihan yang seketika hadir setelah mendengar jawaban Andreas yang begitu memilukan.
Nisa tau betul bagaimana sakitnya berada di posisi Andreas.
...*****...
Novel " Cinta Diujung Perceraian "
Akun : Ratna Wullandarrie
Jangan lupa mampir dan masukin daftar favorit 🥰
yang mau kerjasama bisa DM ke instagram r.wulland1
__ADS_1