Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 120


__ADS_3

Nisa meletakkan mainan yang di berikan oleh Brian di ruang bermain Kenzie.


Melihat ayah dan anak yang masih asik bercanda sampai mengabaikannya, Nisa memilih untuk beranjak dari sana. Dia tak mau mengganggu kebersamaan Kenzie dan Andreas.


"Apa orang itu sudah pulang.?" Ucapan Andreas menghentikan langkah Nisa.


Wanita itu sedikit tersenyum miring mendengar Andreas yang terlihat tidak suka dengan keberadaan Brian. Bahkan nada bicaranya pun terkesan memendam kekesalan.


"Brian,, namanya Brian." Ujar Nisa memberi tau. Dia sampai menekankan kata Brian untuk membuat Andreas semakin kesal. Dan benar saja, laki-laki itu langsung menjawab dengan ketus.


"Aku tidak tanya namanya." Andreas menjawab cepat.


Entah kenapa ada perasaan kesal saat Nisa menyebutkan nama laki-laki itu.


Dulu saat masih bersama Nisa, dia tak pernah cemburu pada laki-laki manapun kecuali Devan.


Namun kecemburuan yang dia rasakan kali ini terasa berbeda. Karna sekalipun dulu Devan mendekati Nisa, laki-laki tak akan bisa mendapatkan hati Nisa lantaran ada Irene di antara mereka.


Berbeda dengan Brian yang dia yakini masih sendiri. Dan terlihat jelas laki-laki itu sedang berusaha untuk mendapatkan hati Nisa.


"Aku hanya memberi tau." Jawab Nisa.


"Siapa tau nanti kamu tidak sengaja bertemu dengannya di jalan, jadi kamu bisa menyapanya." Jelasnya tanpa memperdulikan kekesalan di raut wajah Andreas. Justru Nisa sengaja ingin membuat Andreas merasakan kekesalan.


"Zie main dulu ya disini, Momi mau masak makan malam dulu untuk Zie." Pamit Nisa seraya melambaikan tangannya pada sang putra. Bocah tampan dalam gendongan Andreas itu mengangguk patuh.


Sementara itu, Andreas terlihat menarik nafas dalam. Dia harus bisa mengendalikan amarahnya, sebesar apapun kecemburuan dan rasa kesalnya pada Brian yang sudah terang-terangan mendekati Nisa.


...*****...


Nisa tengah menyiapkan makan malam bersama Tiara, sudah 30 menit mereka berkutat di dapur membuat makanan sehat untuk Kenzie.

__ADS_1


Sebelum akhirnya terdengar suara bel dan Tiara diminta untuk membukakan pintu oleh Nisa.


Berjalan cepat ke arah pintu dengan masih menggunakan apron yang melekat di tubuhnya, Tiara bergegas membukakan pintu.


Dia tampak tertegun. Berdiam diri dengan satu tangan yang masih berpegangan pada handle pintu. Wajahnya sedikit mendongak untuk menatap seseorang berbadan tinggi yang berdiri di hadapannya.


Seulas senyum tipis yang terbit dari bibirnya, membuat Tiara semakin hanyut dalam khayalan tinggi. Tatapannya justru semakin dalam tanpa kedip sedikitpun.


Senyum yang menawan itu seolah mampu mengalihkan dunianya. Dunia yang selama ini cukup kelabu karna sebagian cintanya pergi bersama bayangan masa lalu.


"Apa aku tidak di ijinkan masuk.?" Suara maskulin itu membuat khayalan indah Tiara buyar.


Dia tersenyum kikuk, sadar bahwa apa yang baru saja dia lakukan terlalu menunjukkan perasaannya terhadap Aditya.


"Maaf,, silahkan,," Ucapnya tak enak hari. Tiara memberikan jalan pada Aditya untuk masuk ke dalam rumah.


"Bisa tolong panggilkan Tuan Andreas.?" Ujar Aditya. Tiara mengangguk capat, sebelum dia pergi dari sana, dia menyuruh Aditya untuk duduk di ruang tamu.


"Sebentar, aku panggilkan dulu."


Dengan membawa perasaan yang tak menentu, Tiara berjalan ke arah dapur. Beberapa kali bertemu dengan Aditya dan saling membalas pesan untuk membahas masalah bos mereka, membuat perasaan di dalam hati Tiara semakin menggebu. Rasa untuk memiliki laki-laki itu semakin besar. Namun dia tak punya keberanian untuk bersikap lebih agresif di depan Aditya. Setidaknya untuk menunjukkan bahwa dia tertarik padanya. Dia terlalu malu untuk memulai. Apalagi dia seorang perempuan dengan status sosial yang jauh berbeda dengan Aditya.


"Bu, ada asistennya Bapak. Katanya minta di panggilin Pak Andreas." Tuturnya memberi tau.


"Saya ke atas sebentar ya Bu,," Tiara hendak pergi ke kamar Kenzie untuk memanggil Andreas.


Saat ini Andreas memang sedang berada di kamar Kenzie lantaran Nisa menyuruh Andreas untuk membiarkan Kenzie istirahat dulu di kamarnya.


"Kamu lanjutkan saja masaknya, biar aku yang panggilkan Andreas," Ujar Nisa.


"Baik Bu," Tiara langsung menggantikan pekerjaan Nisa.

__ADS_1


Sementara itu Nisa melepaskan apron dan menggantungnya serta mencuci tangan lebih dulu sebelum pergi ke kamar Kenzie.


Mengetuk pintu beberapa kali, Nisa memilih masuk karna tak ada jawaban dari Andreas.


Begitu membuka pintu kamar Kenzie, dia tampak terdiam melihat pemandangan di atas ranjang.


Dalam keadaan saling memeluk, Andreas dan Kenzie sama-sama terlelap.


Sebuah buku dongeng tergeletak di atas dada bidang Andreas.


Ini memang bukan kali pertama dia melihat mereka tidur besama dan saling memeluk.


Karna saat di rumah sakit, Andreas beberapa kali menemani Kenzie tidur.


Ada perasaan bahagia dan sedih dalam satu waktu. Bahagia melihat Kenzie yang akhirnya bisa bertemu dengan Papinya, mengenal dan berinteraksi sampai sedekat itu. Belum lagi binar kebahagiaan di mata Kenzie setiap kali sedang bersama Andreas. Hal itu membuatnya sangat bahagia karna apa yang dulu dia inginkan akhirnya terwujud. Yaitu mempertemukan Kenzie dengan Papinya.


Namun di balik semua itu, ada kesedihan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Kesedihan itu hanya bisa di rasakan oleh dirinya sendiri tanpa ada seorangpun yang akan mengerti.


Menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, Nisa membuang rasa sesak di dadanya.


Dia kemudian menghampiri Andreas, berdiri di samping ranjang dan memanggil Andreas untuk membangunkannya.


"Andreas,," Nisa menyentuh sekilas lengan besar Andreas agar laki-laki itu bangun dari tidurnya.


"Di bawah ada Aditya." Ucapnya lagi.


Namun Andreas tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.


Sedangkan Nisa tak berani bicara lebih keras lagi karna takut putranya akan ikut bangun.


Pada akhirnya Nisa memilih membiarkannya. Dia akan turun dan meminta Aditya untuk menunggu sampai Andreas bangun.

__ADS_1


Saat baru melangkahkan kaki untuk beranjak, sebuah tangan besar menahan pergelangannya.


"Sejak dulu sampai detik ini, aku masih sangat mencintaimu." Suara lirih itu terdengar berat dan dalam. Itu adalah ungkapan tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.


__ADS_2