Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 46


__ADS_3

"Lakukan sekarang. Pastikan mereka menarik semua saham dari perusahaan,,!" Dengan tatapan tajam dan penuh amarah, Andreas memerintahkan orang kepercayaannya untuk membuat pemegang saham di perusahaan yang di pimpin Tuan Chandra menarik semua saham mereka. Dengan begitu, perusahaan akan mengalami kebangkrutan dalam hitungan menit.


Dan setelah itu perusahaan yang diam-diam di dirikan oleh Andreas akan mengambil alih dengan menaruh terbesar. Perlahan tapi pasti perusahaan milik Tuan Chandra akan menjadi miliknya.


Andreas membuat orang tuanya sendiri kehilangan perusahaan yang sejak dulu di miliki oleh sang Papa.


"Baik Tuan, saya mengerti."


Orang kepercayaan Andreas pergi dari ruangan itu untuk menjalankan perintah Tuannya.


Orang yang sudah membiayai pengobatan sang ibu yang dulu sakit keras. Membuatnya jadi berpihak pada Andreas sebagai balas budi atas kebaikan Andreas pada keluarganya.


Walaupun dia sudah bekerja lebih dari 10 tahun pada Tuan Chandra. Tapi karena 3 tahun lalu Andreas lah yang paling peduli dan mengerti kondisinya dengan membiayai pengobatan hingga orang tuanya sembuh, dia memilih untuk mengkhianati Tuan Chandra.


Andreas menatap lurus dengan pandangan menerawang. Jari telunjuknya mengetuk meja berulang kali tanpa dia sadari.


"Makasih banyak Ndre,,"


Suara lembut Nisa terngiang-ngiang di telinganya. Bayangan wajah cantik dengan tatapan polos itu memenuhi isi kepalanya.


Pelukan wanita cantik itu bahkan masih terasa sampai sekarang. Hingga indera penciumannya mengendus aroma parfum Nisa yang seolah menempel pada tubuhnya.


Tanpa sadar Andreas mengambil vas bunga di atas meja dan membantingnya ke dinding.


"Dam-nn.!!" Umpatnya penuh amarah.


Dia mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan.


Andreas menghubungi seseorang melalui telfon di atas mejanya. Tak berselang lama sekretarisnya masuk ke dalam ruangan. Dia sedikit terkejut melihat pecahan vas bunga yang berserakan. Walaupun bukan kali ini saja Andreas melakukan kekacauan di dalam ruangannya sendiri.


Dulu Andreas melakukan kekacauan hampir setiap hari, tepatnya setelah pernikahan Devan dan Irene di gelar.


"Bereskan semuanya.!" Titah Andreas. Dia beranjak dari duduknya, lalu mengambil jas dan memakainya.


"Baik Tuan." Lusy segera mengambil peralatan untuk membereskan serpihan vas bunga itu.

__ADS_1


Sementara itu Andreas berlalu dari sana, keluar ruangan dan menutup pintu dengan kencang.


...****...


"Akhirnya bisa keluar juga dari pekerjaan buruk itu." Ujar Mella. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setelah mendapat kabar dari Nisa kalau Andreas mengabulkan surat pengunduran dirinya dari club itu.


"Makasih Nis, kamu terbaik,," Suara Mella bergetar menahan tangis, dia menghambur ke pelukan Nisa. Wanita itu baru saja bangun saat Nisa datang ke kontrakannya.


Akibat pulang pagi, Mella jadi tidur sampai siang.


"Apaan sih Mel,, jangan lebay deh kamu,," Godanya sembari melempar tawa kecil. Nisa sengaja menanggapi dengan candaan karena takut terbawa suasana dan pada akhirnya hanya akan membuatnya sedih dan menangis.


Penderitaan dia dan Mella terlalu berat dan menyedihkan, saat ini Nisa ingin menata masa depannya agar tak mengalami kesulitan lagi secara finansial.


"Sekarang tinggal pikirkan usaha kita."


"Besok semua produk akan dikirim ke ruko, tolong kamu handle ya. Aku nggak bisa menghabiskan banyak waktu di ruko, Andreas nggak boleh tau kalau aku yang membuka usaha itu."


"Pokoknya aku serahin sepenuhnya sama kamu. Kita bisa cari 2 pegawai untuk membantu kamu di ruko."


Nisa sudah merencanakan semuanya dengan matang. Termasuk mengatasnamakan Mella sebagai pemilik usaha itu. Jadi jika suatu saat Andreas memergokinya sering mengunjungi ruko itu, Andreas tak akan tau bahwa sebenarnya usaha itu adalah milik Nisa.


"Apa kamu belum yakin sama Andreas.? Atau kamu malah terpengaruh dengan perkataan Devan.?" Tanyanya.


Mella sedikit cemas dengan kehidupan Nisa yang tengah di jalani oleh Nisa. Takut jika niat balas dendamnya akan berbalik pada diri sendiri dan hanya akan menghancurkan hatinya untuk kesekian kali.


Apalagi setelah mengetahui semua cerita Nisa tentang rumah tangga Devan dan Irene yang sebenarnya. Mella takut intensitas pertemuan Nisa dengan Devan akan membuat cinta di hati Nisa tumbuh kembali. Hal itu sudah pasti akan membuat permasalahan semakin rumit. Nisa tak akan bisa fokus untuk mencapai tujuannya.


"Setidaknya aku sudah sedia payung sebelum hujan Mel."


"Entah akan seperti apa kedepannya nanti, aku harus tetap punya banyak uang untuk menghadapi kemungkinan jika suatu saat aku akan tetap pergi meninggalkan Andreas."


Nisa hanya ingin mempersiapkan apa yang dia butuhkan untuk masa depannya nanti. Masalah rumah tangganya dengan Andreas, Nisa masih belum bisa memastikan karna perasaannya mulai bimbang.


...****...

__ADS_1


Nisa kembali ke apartemen pukul 4 sore. Dia langsung masuk ke dalam kamar untuk mandi.


Namun baru saja menutup pintu kamar, Nisa di kejutkan dengan keberadaan Andreas yang tiba-tiba berdiri tak jauh dari hadapannya.


"Aa,,aandreas kamuu sudah pulang.?" Tanya Nisa gugup. Dia takut Andreas akan marah padanya lantaran hari ini pergi dari apartemen tanpa meminta izin pada Andreas.


Nisa pikir Andreas akan pulang larut malam seperti biasanya. Tapi baru pukul 4 sore laki-laki itu sudah ada di apartemen, bahkan terlihat sudah mandi dengan memakai baju santai.


"Dari mana saja.? Kamu membuatku cemas."


"Ponselmu bahkan tidak bisa di hubungi." Kata Andreas sembari berjalan mendekat pada Nisa.


Nisa terlihat gugup dengan menundukkan wajah.


"Aku pergi menemui Mella untuk mengatakan padanya kalau dia sudah bisa berhenti bekerja di club."


"Soal ponselku, aku lupa mengisi baterai. Jadi aku tinggal di kamar karna baterainya hampir habis."


Nisa menunjuk laci, tempat dimana dia menaruh ponselnya yang sengaja dia tinggal.


"Lain kali bilang lebih dulu kalau mau pergi. Ada telfon rumah, kamu bisa memakainya untuk menghubungi ku jika ponselmu mati." Andreas berbicara dengan suara dan tatapan datar.


Nisa langsung mengangguk, sembari meminta maaf pada Andreas. Dia sampai memasang wajah sendu agar Andreas tak marah padanya.


"Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucapnya dengan nada penuh rasa bersalah sembari menundukkan wajah.


Melihat reaksi Nisa yang terlihat ketakutan, Andreas terdiam sambil terus menatap Nisa.


Selama beberapa menit suasana hening tanpa ada yang bersuara.


"Aku akan ke ruang kerja,," Ucap Andreas kemudian keluar dari kamar.


Setelah mendengar suara pintu di tutup, Nisa baru berani mengangkat wajahnya.


"Apa dia marah padaku.?" Gumam Nisa lirih.

__ADS_1


Dia tidak tau apa yang ada dalam benak Andreas tadi. Isi hatinya sulit untuk di tebak.


Andreas terlalu pandai menyembunyikan perasaan yang sebenarnya sampai tidak ada celah untuk melihatnya dari sorot mata maupun ekspresi wajahnya.


__ADS_2