Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 57


__ADS_3

"Selamat malam Pah, Mah,," Nisa menyapa Tuan Chandra dan Nyonya Zoya di ruang make up.


Semua keluarga memang berada di ruang make up untuk bersiap-siap. Termasuk keluarga besar Irene yang juga hadir di acar baby shower itu.


Untuk pertama kalinya Nisa melihat pertemuan keluarga besar dari pihak Irene.


Dia memperhatikan sekilas bagaimana penampilan dan gestur mereka yang mencerminkan orang berpendidikan dan terpandang.


Nisa mengerti kenapa Papa mertuanya bersikeras untuk menjodohkan Devan dengan Irene, hingga Devan memilih untuk meninggalkannya.


Jika di banding dengan keluarga Irene dan keluarganya, Nisa tak memiliki nilai secuilpun.


Dia jauh di atas Irene. Bagaimana bumi dan langit.


Meski hati mulai mengikhlaskan, meski kini mencoba untuk melupakan, terkadang rasa sakit akan pengkhianatan itu sesekali menyeruak dalam hati.


Ada perasaan kesal dan marah karna merasa kehidupan ini tidak adil bagi orang lemah sepertinya. Lemah karna tak memiliki apapun untuk di tunjukkan pada dunia bahwa dia berkuasa.


"Malam sayang, akhirnya kamu datang juga."


"Sini duduk,," Nyonya Zoya menepuk sofa kosong di sampingnya. Nisa dengan sopan mengangguk, kemudian duduk di samping Mama mertuanya yang selalu bersikap ramah dan baik padanya.


"Bagaimana, apa sudah ada tanda-tanda.?" Tanya Nyonya Zoya dengan tatapan teduh.


Sudah 1 bulan yang lalu Nyonya Zoya sering menanyakan pada Nisa apa dia sudah merasakan tanda-tanda kehamilan atau belum. Meskipun Andreas bukan darah dagingnya, Nyonya Zoya tetap antusias menanti kabar kehamilan Nisa. Nyonya Zoya juga ingin menggendong cucu dari Andreas dan Nisa yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


Nisa menggelengkan kepala dengan mengulas senyum kaku.


"Belum Mah,," Jawabnya lirih.


Bagaimana mungkin dia bisa hamil sedangkan pil kontrasepsi itu tak pernah lupa untuk di minum setiap hari.


Nisa sangat hati-hati, dia tidak mau sampai mengandung anak dari Andreas.

__ADS_1


Karna tujuannya menerima ajakan Andreas untuk menikah bukanlah untuk menjalani kehidupan rumah tangga dan mendapatkan keturunan, melainkan untuk mengobati luka dan kehancuran yang dulu di berikan oleh Andreas.


"Maaf, mungkin karna Mama terlalu antusias ingin memiliki cucu dari kamu dan Andreas. Jadi Mama tidak sabar menunggu kabar kehamilan kamu." Nyonya Zoya mengusap tangan Nisa. Dia jadi merasa tidak enak pada Nisa karna terus menanyakan kehamilan padanya.


"Padahal Devan dan Irene juga butuh waktu lama untuk menanti buah hati mereka."


"Tapi kamu yang baru menikah 3 bulan sudah Mama tagih seorang anak,," Nyonya Zoya mengulum senyum.


"Tidak masalah Mah, aku bisa mengerti."


"Mungkin memang belum waktunya aku hamil." Jawab Nisa.


Dia kemudian menoleh pada Irene yang hampir selesai di tata rambutnya. Nisa hanya mengulas senyum menatap Irene dari samping. Kakak iparnya itu terlampau baik padanya, bahkan pada semua orang. Kebahagiaan untuk dari kedua keluarga menjadi hadiah terindah dalam hidup Irene. Dan sebentar lagi malaikat kecil akan hadir di tengah-tengah mereka.


Terkadang ada perasaan iri, iri karna melihat kehidupan Irene yang begitu sempurna. Wanita cantik itu bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan, termasuk orang yang sejak dulu di cintai.


Namun Nisa menutup mata bahwa perjuangan Irene meluluhkan hati Devan tak semudah saat dia mendapatkannya.


Di tempat lain yang tak jauh dari tempat duduk Nisa, ada kepanikan tergugat di wajah laki-laki paruh baya yang tak lagi gagah. Laki-laki berusia 56 tahun itu memiliki kesehatan yang mulai menurun sejak 3 minggu lalu.


"Sebaiknya kamu selidik lagi perusahaan asing itu. Cari tau siapa pemilik yang sebenarnya."


"Papa rasa perusahaan itu punya maksud tertentu, tidak murni ingin membantu perusahaan Papa." Tuturnya cemas. Tuan Chandra mulai merasakan kejanggalan pada perusahaannya yang sebagian sahamnya di miliki oleh perusahaan asing.


"Papa tidak perlu khawatir, aku yang akan menjamin perusahaan Papa akan baik-baik saja."


"Perusahaan itu cukup besar, dia tidak akan bermain curang." Tegas Andreas. Dia menyakinkan sang Papa agar tidak menaruh curiga lebih dalam. Padahal pada kenyataannya memang apa yang di takutkan oleh sang Papa akan menjadi kenyataan.


Sedikit demi sedikit, perusahaan atas nama Chandra dan Devan akan hancur. Kecuali perusahaan yang saat ini di kelola oleh Andreas. Dia secara diam-diam sudah mengalihkan sahamnya ke perusahaan asing itu yang tak lain adalah milik Andreas secara pribadi.


"Tapi kita tetap harus waspada. Papa sudah menyuruh orang untuk menyelidiki lebih jauh."


"Puluhan tahun Papa berkecimpung di dunia bisnis, Papa tau saat bahaya mengintai." Tuturnya.

__ADS_1


"Tapi Papa juga percaya dengan kemampuan kamu." Tuan Chandra menepuk pelan bahu Andreas.


"Ke depan, saat Papa sudah tidak ada di dunia, Papa harap kamu akan terus menjaga dan mengembangkan perusahaan keluarga kita." Ucapnya dengan tatapan dalam. Tuan Chandra menaruh harapan besar pada putranya itu. Putra yang sejak dulu dia didik dengan cara yang berbeda.


Bukan karna tidak peduli ataupun tidak sayang pada darah dagingnya sendiri, justru karna Tuan Chandra menyayangi putranya itu yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.


Chandra sengaja mendidik Andreas lebih keras di bandingkan Devan, karna dengan cara seperti itu Andreas akan semakin terpacu untuk menunjukkan kemampuannya semaksimal mungkin.


Dan terbukti Andreas menjadi sosok yang mandiri, kuat, dan bisa menyelesaikan berbagai persoalan di perusahaan. Bahkan mampu mengembangkan perusahaan keluarga dengan sangat pesat dan cepat.


Karna ketika Andreas masih kecil, laki-laki itu semakin lemah jika diperlakukan manja. Dia tak mau berdiri di kakinya sendiri dan selalu mengandalkan orang lain. Tidak seperti Devan yang sejak kecil sudah mandiri, meski kemampuannya di bawah Andreas.


Karna rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap kedua anaknya, Tuan Chandra bisa memahami bagaimana karakter kedua anaknya dan bagaimana cara memperlakukan mereka.


Tuan Chandra juga punya tujuan kenapa beberapa perusahaannya lebih banyak di atas namakan Devan daripada Andreas. Yaitu dengan tujuan agar Andreas termotivasi untuk membangun perusahaan sendiri atas kerja kerasnya yang tidak bisa diragukan lagi.


"Andreas.?" Tuan Chandra menegur putranya yang sejak tadi melamun.


Laki-laki itu terlihat kebingungan dan hanya diam saja menatap wajah sang Papa yang sejak kemarin terlihat pucat karna kondisi kesehatannya menurun.


"Papa hanya ingin berpesan padamu bahwa apa yang selama Papa lakukan semata-mata demi kebaikan kamu."


"Papa yakin kamu akan menjadi seorang pemimpin yang hebat karna bisa melewati ujian yang sejak dulu Papa berikan padamu."


"Kamu sudah menjadi contoh yang baik untuk Devan. Kakakmu itu sudah memiliki banyak kemajuan dalam mengembangkan perusahaannya." Tuturnya.


Lagi-lagi Andreas hanya tertegun, dia tak mengeluarkan sepatah katapun untuk menanggapi ucapan sang Papa yang terlihat sangat tulus dari lubuk hatinya.


...****...


Jangan lupa mampir ke novel "Cinta diujung perceraian"


__ADS_1


__ADS_2