Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 129


__ADS_3

"Kak,, apa Bu Nisa baik-baik saja.?" Tanpa sadar Tiara berpegangan pada lengan Aditya. Sejak melihat majikannya di tarik oleh laki-laki dan akan di masukkan ke dalam mobil, tubuh Tiara gemetar. Dia merasakan takut dan kecemasan luar biasa melihat Nisa mendapatkan perlakuan buruk dari seseorang.


Saat itu Andreas memintanya agar tidak mengatakan apapun karna takut Kenzie mengerti dengan apa yang sedang terjadi meskipun tidak melihat kejadiannya.


Setelah memberikan Kenzie padanya, Andreas menyuruh agar dia dan Aditya masuk lebih dulu membawa Kenzie.


"Jangan khawatir, Tuan Andreas pasti sudah menyelamatkannya." Jawab Aditya. Dia jauh lebih santai di banding Tiara. Mungkin karna sudah paham Andreas seperti apa dan pasti berhasil menghajar laki-laki yang sudah berbuat kurang ajar pada Nisa.


"Sebaiknya kita ke playground dulu, Kenzie sepertinya tidak betah duduk disini." Aditya berdiri sembari menggendong Kenzie. Sejak meninggalkan basemen, Kenzie memang sudah berpindah ke tangannya lantaran Tiara bilang kalau dia merasa lemas dan tidak kuat menggendong Kenzie akibat melihat kejadian di depan matanya itu.


"Iya Kak." Tiara menurut, di berjalan di samping Aditya dan mengarahkan dimana tempat playgroundnya.


Dalam keadaan pikiran yang tidak tenang dan cemas memikirkan keadaan majikannya, Tiara masih sempat melirik Aditya sesekali. Jalan bertiga dengan Aditya dan Kenzie membuatnya merasa seperti sepasang suami-istri beserta satu orang anak.


"Kebetulan kita di sini, nanti sekalian cari baju kamu untuk nanti malam." Suara berat Aditya membuyarkan khayalan indah Tiara. Dia hampir saja terbang ke langit ke tujuh karna membayangkan hidup berkeluarga dengan Aditya dan di karuniai anak-anak yang lucu.


"Kenapa harus beli baju segala.?" Tiara mendongak untuk menatap Aditya yang terlalu tinggi untuknya.


“Agar penampilan kamu terlihat jauh di atasnya." Jawab Aditya. Seketika raut wajah Tiara berubah, dia seperti di tampar oleh keadaan saat mendengar jawaban Aditya. Dia sangat sadar siapa dirinya.


Melihat perubahan di wajah Tiara, Aditya menyadari jika ada yang salah dengan ucapannya. Dia merasa tidak enak pada Tiara. Tapi dia tak ada maksud untuk membandingkan Tiara dengan wanita masa lalunya.


"Maaf,, aku tidak bermaksud,,


"Tidak apa, aku mengerti." Tiara memotong ucapan Aditya dan mengalihkan pandangan ke depan.


"Jangan salah paham, aku hanya tidak mau dia memandangmu sebelah mata." Ucap Aditya dengan hati-hati. Karna jika penampilan Tiara biasa saja, Aditya takut wanita itu akan menghina Tiara atau mungkin tak akan percaya kalau dia dan Tiara memiliki hubungan.


"Aku tau." Tiara memaksakan senyum. Sejujurnya banyak hal yang ingin dia ungkapkan, namun Tiara enggan untuk berdebat. Lagipula saat ini dia harus mengajak Kenzie bermain, jadi tidak ada waktu untuk membahas hal yang mungkin menurut Aditya tidak penting.

__ADS_1


...*****...


Andreas memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Seketika dia melirik Nisa yang diam melamun. Bahkan sepertinya Nisa tidak menyadari kalau mobil yang dia tumpangi sudah sampai di rumahnya.


"Anissa,," Panggil Andreas lembut. Dia menyentuh tangan Nisa dan menggenggamnya.


Nisa tampak sedikit terkejut dan reflek menoleh.


“Apa dia berbuat kurang ajar padamu sebelum aku datang.?" Andreas menatap lekat, dia berharap Nisa akan berkata jujur padanya. Setidaknya kejujuran Nisa bisa membuat Andreas menentukan sikap untuk memberikan pelajaran pada laki-laki itu.


Nisa tak kunjung menjawab, matanya semakin berkaca-kaca dan mulai meneteskan air mata dengan bibir yang bergetar.


Membayangkan wajah Pak Surya saat akan menciumnya membuat Nisa merasa jijik dan marah. Tapi dia tidak tau bagaimana caranya meluapkan amarah itu.


Melihat keadaan Nisa saat ini, rasanya Andreas tak butuh jawaban dari mulut Nisa. Hanya dengan air mata itu, Andreas sudah bisa menebak kalau Nisa di lecehkan oleh laki-laki breng gsek tadi.


Andreas menghapus air mata di kedua pipi Nisa. Tatapannya begitu sendu dan merasa bersalah atas apa yang telah menimpa Nisa.


"Aku pastikan dia tidak berani muncul di hadapan kamu lagi." Ujarnya seraya mengusap punggung Nisa untuk memberinya ketenangan.


Andreas Nisa bicara seperti itu karna dia akan memberikan pelajaran untuk membuat Pak Surya menyesal dan tidak berani muncul lagi di depan Nisa.


Tidak ada penolakan, Nisa membiarkan dirinya di peluk oleh Andreas. Jujur saja, dalam keadaan seperti ini dia sangat membutuhkan sosok yang bisa di jadikan untuk sandaran dan tepat berlindung.


Perlahan Nisa menjauhkan tubuhnya. Tangisnya sudah reda. Keadaannya tampak jauh lebih tenang.


"Terimakasih sudah menolongku. Entah apa jadinya kalau seandainya kamu tidak ada di sana, mungkin aku,,,


"Sssstttt,,," Andreas meletakkan telunjuknya di bibir Nisa. Dia tidak ingin mendengar hal buruk dari mulut Nisa.

__ADS_1


"Mulai detik ini aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu ataupun Kenzie." Ucap Andreas dengan tatapan dalam dan kesungguhan.


Selama dia masih bernafas, dia tak akan membiarkan hal buruk terjadi pada dua orang yang sangat dia cintai itu. Anggap saja sebagai cara untuk menebus semua kesalahannya pada Nisa dan Kenzie.


Walaupun Andreas menyadari dengan memberikan sisa hidupnya untuk menjaga Nisa dan Kenzie, tak akan sebanding dengan apa yang telah dia lakukan pada mereka berdua.


"Aku tidak tau berapa lama lagi waktu yang tersisa dalam hidupku." Suara Andreas tercekat.


“Aku akan semakin menyesal jika tidak menggunakan sisa hidupku untuk menebus semua kesalahan yang pernah aku perbuat." Andreas menggenggam kedua tangan Nisa. Menangkup dengan kedua tangannya dan menatapnya dalam.


"Apa yang kamu katakan," Tegur Nisa yang terlihat tidak suka mendengar Andreas bicara seperti itu. Karna ucapannya seolah-olah mengatakan jika hidup Andreas tidak akan lama lagi.


Andreas menarik nafas dalam. Dia sangat menyesal karan pernah berfikir ingin mengakhiri hidupnya tak lama setelah sang Mama meninggal.


Seandainya dulu dia melakukan hal bodoh itu, dia tak akan punya kesempatan bertemu dengan Nisa dan Kenzie. Dan tidak ada kesempatan untuk menebus dosa-dosanya pada mereka berdua.


“Berjanjilah padaku bahwa kamu akan memberiku waktu dan ruang untuk menebus semua kesalahanku sekalipun kamu memilih berpisah." Pinta Andreas memohon.


Dia tak akan memaksa Nisa untuk kembali padanya, asal Nisa tetap membiarkannya berada di sekitar mereka seperti saat ini.


Melepas bukan berarti hatinya tak lagi mencintai, namun Andreas hanya sedang berupaya agar tidak menyakiti hati Nisa dengan memaksakan kehendaknya.


Jika kebahagiaan Nisa adalah berpisah dengannya, maka Andreas tak akan menghancurkan kebahagiaanmu itu meski harus mengubur dalam-dalam impiannya untuk hidup bahagia bersama Nisa dan Kenzie.


Nisa terdiam. Segala perasaan mulai berkecamuk dalam benaknya.


Semua kesalahan Andreas memang sudah bisa dia maafkan, terbukti dengan Nisa memberikan Andreas kesempatan untuk bisa bertemu dan dekat dengan putra mereka.


Namun apa yang bisa dia perbuat dengan hatinya yang sudah mati.?

__ADS_1


Bahkan dia sendiri saja merasa tak punya kuasa untuk memberikan kehidupan lagi dalam hatinya.


Trauma dan rasa sakit di tinggalkan tanpa kepastian, tak akan pernah terhapus dalam ingatan. Sangat dalam dan membekas.


__ADS_2