Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 169


__ADS_3

"Masih pagi Andreas, jangan mesum." Ucap Nisa menanggapi perkataan Andreas soal memberi sesuatu. Nisa yakin yang di maksud oleh Andreas adalah sesuatu dalam tanda kutip.


Apa lagi setelah pembahasan Kenzie yang masih tertidur.


Andreas terkekeh kecil. Pelukannya semakin erat dan meletakkan dagunya di pundak Nisa.


"Mesum bagaimana mana.? Memangnya kamu pikir aku mau minta apa.?" Tanya Andreas. Pria itu menahan senyum jahil yang tidak bisa di lihat oleh Nisa.


Mendapat pertanyaan yang menyudutkan dirinya, Nisa tak bisa langsung menjawab. Dia sadar sudah salah menanggapi perkataan Andreas. Mungkin saja yang di maksud memberi sesuatu bukan soal bercinta, tapi bisa jadi hanya sebuah kecupan.


"Sudah lepas, aku harus membuat sarapan." Nisa menyingkirkan tangan Andreas yang melingkar di perutnya. Dia mengalihkan pembicaraan karna merasa malu pada Andreas. Dia sudah menuduh Andreas mesum, padahal belum tentu Andreas ingin bercinta dengannya. Bisa-bisa malah dirinya yang di sebut mesum oleh Andreas.


"Tapi kamu belum memberi sesuatu yang aku minta." Ujar Andreas. Dia tidak pantang menyerah dan kembali memeluk Nisa, tapi sebelumnya dia sudah membalik tubuh Nisa hingga berhadapan dengannya.


Cupp,,,


Satu kecupan singkat mendarat di pipi kanan Andreas.


"Sudah. Sekarang lepaskan aku dan tolong temani Kenzie. Jangan meninggalkan dia sendiri di atas." Tuturnya khawatir. Nisa hendak melepaskan diri dari pelukan Andreas, tapi pria itu menahannya.


"Aku tidak mau kecupan, tapi ciuman." Kata Andreas seraya mendekatkan wajahnya.


"Ndre, bagaimana kalau Kenzie bangun.? Jangan sampai zie keluar kamar dan turun ke bawah, bahaya kalau dia menuruni tangga." Nisa bukan tidak mau, tapi dia ingin menghindari hal buruk pada putranya. Karna dia yakin jika sudah mencium Andreas, pria itu pasti tidak akan melepaskannya begitu saja. Kemungkinan ada tragedi gempa lokal, atau yang paling ringan sengatan arus listrik yang menjalar di seluruh tubuh akibat tangan ekspresif milik Andreas yang suka menjelajahi tubuhnya.


"Kamu tidak mau memberiku ciuman.?" Wajah Andreas terlihat sendu. Seketika dia mengendurkan pelukannya dan bergeser dari hadapan Nisa.


"Bukan begitu Ndre, tapi aku mengkhawatirkan Kenzi." Tutur Nisa yang berharap Andreas bisa mengerti.


"Hanya sebentar." Bujuk Andreas memohon. Nisa yang tidak tega melihat tatapan mata Andreas, akhirnya menuruti permintaannya.


Wanita itu dengan berani mengalungkan kedua tangannya dan mendaratkan bibirnya di bibir Andreas.


Bukan Andreas namanya kalau diam saja saat di sodorkan bibir oleh Nisa. Dia langsung menyambar bibir Nisa dan menye sapnya lembut.


Dugaan Nisa memang tidak pernah meleset tentang Andreas. Dia sudah yakin ciuman itu akan memanjang dan entah akan berakhir sampai di mana. Andreas bahkan menahan belakang kepalanya karna tidak membiarkan pagutan bibir itu terlepas.


Satu tangan Andreas mulai meraba bagaian belakang tubuh Nisa. Sontak Nisa membulatkan matanya, memberi kode pada Andreas untuk berhenti.

__ADS_1


Melihat tatapan protes yang di arahkan Nisa padanya, Andreas lalu mengakhiri pagutan bibir mereka dengan berat hati.


Keduanya tampak mengatur nafas setelah cukup lama bertukar saliva.


"Sudah sana kembali ke kamar. Kasian Zie sendirian." Nisa mendorong pelan dada Andreas, menyuruh suaminya itu untuk menemani putra mereka.


"Kamu kasian pada Kenzie, tapi kenapa tidak kasian padaku.?" Mimik wajah Andreas tampak sedih.


Nisa menghela nafas mendengar ucapan Andreas yang setengah merengek. Dia lalu menangkup kedua pipi Andreas.


"Nanti malam."


"Jatahmu nanti malam." Ucap Nisa mempertegas. Perkataan Nisa seolah memberi energi penuh bagi Andreas. Pria itu langsung mengukir senyum penuh semangat. Bukan tanpa alasan Andreas antusias untuk bercinta dengan Nisa, karna dia ingin membuat istrinya itu hamil.


"Kamu tidak bohong kan.?" Tanya Andreas. Tiba-tiba dia takut Nisa hanya asal bicara saja tanpa berniat menepati ucapannya.


"Untuk apa aku bohong." Nisa menjawab cepat.


"Baiklah, aku akan menagihnya nanti malam." Kata Andreas seraya mengecup singkat bibir Nisa dan pergi dari sana dengan binar bahagia di wajahnya.


Nisa sampai mengulum senyum menatap kepergian Andreas yang berjalan tegap dengan langkah lebarnya.


...*****...


"Kenapa sudah berangkat ke kantor. Apa kamu tidak lelah.?" Nisa menghampiri Andreas yang sedang memakai kemeja lengan panjang. Dengan sigap jemarinya membantu memasangkan satu persatu kancing kemeja itu.


Nisa tidak tau kalau pagi ini Andreas sudah mulai datang ke kantor. Dia pikir Andreas akan mulai bekerja besok pagi.


Perjalanan dari Batam ke Amerika cukup melelahkan, harusnya Andreas masih istirahat hari ini.


"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Lebih cepat selesai makan lebih baik. Agar kita bisa kembali ke Batam." Jawab Andreas teduh. Pria itu meletakkan kedua tangannya di pinggang Nisa seraya menatap lekat wanita cantik di hadapannya itu dengan penuh cinta.


Nisa tertegun, Andreas benar-benar bersedia mengabulkan keinginannya untuk menetap di Batam. Bahkan tidak ragu untuk meninggalkan semua kemewahan yang Andreas miliki di negera ini.


Hal itu membuat Nisa berfikir ulang. Jika di bandingkan dengan perusahaan milik Andreas, perusahaan miliknya tidak ada apa-apanya. Bahkan hunian mewah Andreas saja harganya jauh lebih mahal puluhan kali lipat di banding dengan nilai perusahaan milik Nisa.


Nisa mulai berfikir untuk tidak egois dengan membiarkan Andreas melepaskan semua ini.

__ADS_1


Dan banyak kerugian yang pastinya akan di tanggung oleh Andreas jika dia tidak memimpin perusahaannya setiap hari karna terkendala jarak.


"Maaf,,," Lirih Nisa penuh rasa bersalah. Harusnya dia tidak membuat Andreas dalam kesulitan.


Lebih baik mengorbankan perusahaan miliknya yang masih berada di bawah, daripada mengorbankan perusahaan besar milik Andreas.


"Hey,, ada apa.?" Andreas mengangkat dagu Nisa lantaran wanita itu menunduk sendu.


"Kamu tidak punya salah, kenapa harus minta maaf." Cecar Andreas bingung.


"Maaf sudah memaksamu untuk menetap di Batam." Tuturnya.


"Kamu tidak perlu menuruti permintaanku." Ujar Nisa lagi.


Andreas sontak menautkan kedua alisnya, seketika rasa cemas mulai menyelimuti. Dia berfikir kalau Nisa tidak mengijinkannya untuk tinggal bersama di Batam.


"Maksudnya, kita akan tinggal terpisah.?" Tanya Andreas yang tidak mengerti dengan perkataan Nisa.


Nisa menggelengkan kepala.


"Tentu saja kita tinggal bersama." Jawabnya


"Kamu, aku dan Kenzie akan tinggal disini." Ucapnya mempertegas. Binar bahagia langsung menyelimuti wajah Andreas.


"Kamu bilang apa tadi.?" Tanyanya meminta Nisa untuk mengulangi ucapannya.


"Aku dan Kenzie yang akan ikut denganmu." Nisa memperjelas.


"Apa kamu dengar.?" Tegur Nisa seraya mengusap pipi Andreas lantaran pria itu malah bengong saja.


"Kamu serius.?" Andreas masih tidak percaya. Pasalnya sejak awal Nisa bersikeras tak ingin imut dengan karna ingin tetap berada di Batam.


"Apa kamu ingin aku berubah pikiran.?" Goda Nisa namun dengan mimik wajah serius.


"Jangan.!" Seru Andreas cepat. Dia sudah terlanjur bahagia mendengar Nisa bersedia ikut dengannya, mana mau dia melihat Nisa berubah pikiran.


"Kalian harus disini, tinggal bersamaku." Lirih Andreas dengan suara tercekat. Dia lantas memeluk erat tubuh Nisa. Pria berbadan tegap tinggi itu meneteskan air mata karna terlalu bahagia mendengar keputusan Nisa.

__ADS_1


"Terimakasih sayang,," Ucapnya. Suara sendu Andreas sontak membuat Nisa segera melepaskan pelukannya.


__ADS_2