
Sejak pagi hingga siang, Andreas tak pernah beranjak dari kamar rawat inap Nisa. Laki-laki itu terus berada di sisi Nisa, selalu membantu dan memberikan apa yang di butuhkan oleh Nisa. Andreas juga beberapa kali mengantarkan Nisa ke kamar mandi.
Nisa melirik Andreas. Laki-laki itu tengah duduk di sofa dan sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang di lihat oleh laki-laki itu pada layar ponselnya. Sesekali Andreas juga menghubungi seseorang dan membahas soal pekerjaan.
Menjabat sebagai CEO, sudah pasti selalu membuat Andreas disibukkan dengan pekerjaan.
Nisa menatap kasihan pada laki-laki yang sejak pagi menjaga dan merawatnya. Andreas sampai tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia bahkan masih memakai baju tidur yang dia pakai semalam.
"Sudah siang Ndre, kamu tidak mandi.?" Suara lembut Nisa mengalihkan perhatian Andreas.
Dia mengangkat wajah untuk menatap Nisa yang duduk bersender pada ranjang dan tengah menatapnya juga.
"Nanti saja." Jawab Andreas.
"Aku tidak sempat membawa baju ganti."
"Kamu bisa pulang dulu dan mandi di apartemen." Ujar Nisa. Dia bisa merasakan Andreas sudah tidak nyaman memakai baju yang sejak tadi malam melekat di tubuhnya.
"Siapa yang akan menjagamu kalau aku pulang."
Ada sedikit kekhawatiran dalam sorot mata Andreas. Sepertinya dia tidak bisa meninggalkan Nisa seorang diri di rumah sakit. Itu sebabnya dia tetap memilih berada di rumah sakit meski sejak pagi belum mandi.
"Kamu pikir aku anak kecil yang takut ditinggal sendirian.?" Nisa sedikit mengulum senyum.
"Kamu bilang jarak rumah sakit ke apartemen tidak jauh. Jadi kamu bisa cepat kembali ke sini lagi kan.?" Ujarnya.
Andreas tak menjawab, dia tampak ragu untuk pulang ke apartemen dan meninggalkan Nisa sendirian.
"Ada banyak suster disini, aku bisa memanggil mereka kalau butuh sesuatu."
"Lagipula aku juga masih bisa jalan."
"Sudah sana mandi dan ganti baju dulu.!" Nada bicara Nisa sedikit memaksa. Dia juga mengibaskan tangannya untuk menyuruh Andreas pergi dari kamarnya.
"Kamu tidak merasa kalau baunya menyebar kemana-mana.?" Ujar Nisa dengan candaan.
Melihat Nisa yang mulai berani mengajaknya bercanda, Andreas bergegas beranjak dari sofa. Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Nisa, memasang wajah tegas dengan tatapan tajam yang menusuk.
Raut wajah Andreas sontak membuat Nisa ketakutan. Dia melihat bagaimana Andreas yang berubah sikap setelah dia melontarkan candaan itu padanya.
__ADS_1
"Aa,,aaku,, aku tidak bermaksud menyebutmu bau,," Suara Nisa terbata. Dia semakin takut saja melihat Andreas yang sudah ada di depan mata. Laki-laki itu menghentikan langkah tepat di sisi ranjang Nisa.
"Kamu bilang apa tadi.?" Tanya Andreas tegas.
Nisa menggelengkan kepala. Wajahnya semakin pucat saja lantaran takut pada Andreas.
"Aku hanya bercanda,," Ujarnya.
"Maaf Andreas,, aku tidak,,,
"Eeuumm,,,,!!"
Kedua bola mata Nisa membulat sempurna saat Andreas tiba-tiba membungkam mulutnya dengan ciuman lembut.
Cukup lama Andreas memagut bibir sensual Nisa. Melu m@t dan menye s@pnya dengan gerakan perlahan namun dalam.
Nisa yang awalnya kaget dan sempat memberontak, kini mulai tenang. Dia terbuai dan hanyut dalam permainan bibir Andreas yang memabukkan.
Sebelah tangan Nisa bahkan reflek melingkar di pundak Andreas.
Wanita cantik itu juga mulai berani membalas ciumannya. Membuat Andreas semakin bersemangat mengabsen setiap inci bibir manis milik Nisa.
"Itu hukuman karna kamu berani meledekku,," Ujar Andreas berbisik.
"Aku akan semakin senang kalau kamu terus meledekku." Ucapnya lalu terkekeh kecil.
Nisa sontak mencubit perut Andreas.
"Dasar menyebalkan.! Kamu membuatku takut saja.!" Nisa menggerutu kesal. Dia sudah ketakutan karna mengira Andreas benar-benar marah padanya. Tapi ternyata hanya ingin menakutinya dan membalasnya saja.
Andreas semakin terkekeh geli. Sebenernya dia sudah menahan tawa sejak tadi saat melihat Nisa ketakutan. Karna ekspresi wanita itu sangat menggemaskan.
...*****...
Andreas keluar dari kamar inap Nisa dan meninggalkan rumah sakit. Laki-laki itu memutuskan pulang ke apartemen untuk mandi dan mengganti baju. Dia juga mengambilkan baju ganti milik Nisa.
Itupun karna Nisa terus mendesak Andreas. Kalau tidak, mungkin saat ini Andreas masih betah berada di dalam ruangan itu bersama Nisa.
Lebih dari 1 jam Andreas meninggalkan rumah sakit. Dia berjalan dengan buru-buru menuju kamar inap Nisa. Tapi kemudian langkah Andreas terhenti, tapan matanya mengarah lurus ke depan. Menatap dalam sosok wanita yang baru saja keluar dari kamar VIP.
__ADS_1
Pandangan matanya sedikit turun ke bawah, berhenti tepat di bagian perut yang menonjol milik wanita itu.
Sudut bibir Andreas terangkat, mengukir senyum sinis yang menyayat hati.
"Andreas, kamu kemari.?" Suara anggun milik wanita itu membuyarkan lamunan Andreas.
Dia kembali memasang wajah tegasnya sebelum wanita itu semakin dekat ke arahnya.
"Bagaimana keadaan Devan.?" Tanya Andreas datar.
Seulas senyum mengembang di wajah cantiknya. Senyum yang menunjukkan perasaan bahagia dan lega.
"Devan baik-baik saja. Operasinya berjalan lancar."
"Mungkin besok sudah di perbolehkan pulang." Jawabnya dengan mata yang berbinar.
"Syukurlah." Andreas hanya menanggapi singkat. Dia kemudian beranjak dari hadapan Irene, namum tangan wanita itu menahannya.
"Kamu tidak mau melihat Devan.?" Tanya Irene.
Dia heran karna Andreas buru-buru ingin pergi dari sana.
"Aku kesini bukan untuk melihat suamimu." Jawab Andreas datar. Dia menarik tangannya dari genggaman Irene dan berlalu dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.
Hal itu membuat Irene menatap bingung. Dia terus memperhatikan kemana Andreas melangkahkan kakinya.
Dan saat Andreas mengarah pada salah satu kamar VIP, Irene semakin kebingungan.
Dia buru-buru menyusul Andreas yang saat ini sudah masuk ke dalam kamar VIP itu. Kamar yang tidak terlalu jauh dari kamar Devan.
"Siapa yang sakit.?" Gumam Irene. Dia berhenti tepat di depan pintu dan terlihat ragu untuk mengetuknya.
...*****...
Jangan lupa mampir ke Novel Meluluhkan Hati CEO Kejam.
Ada di akun Ratna Wullandarrie
__ADS_1