Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 140


__ADS_3

Makan malam Aditya dan Tiara belangsung canggung. Tak banyak obrolan yang terjadi di antara mereka. Bahkan Tiara lebih banyak diam dan hanya berbicara ketika di tanya oleh Aditya.


Sampai keduanya menghancurkan makan malam dan memutuskan untuk beranjak dari restoran, tak ada obrolan penting yang terjadi antara mereka.


Tiara masuk ke dalam mobil setelah Aditya membukakan pintu untuknya. Dia hanya memberikan ucapan terimakasih dengan nada bicara datar.


"Mau ke tempat lain.?" Tawar Aditya saat menyusul masuk ke dalam mobil. Dengan cepat Tiara menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan sepatah kata.


Sepanjang perjalanan, Tiara membuang pandangan ke luar jendela. Dia melamun, tatapan matanya menerawang. Ada perasaan yang mengusik hatinya.


Semakin banyak waktu yang dia habiskan di samping Aditya, justru membuatnya ingin menjauh dari lelaki tampan itu.


Ada hal yang membuat Tiara tersadar bahwa perasaannya pada Aditya hanya sebatas kekaguman dan obsesi semata karna wajah Aditya sangat mirip dengan bagian dari masa lalunya.


Selain itu, berulang kali Tiara menyadarkan siapa dirinya dan siapa apa Aditya.


Bagaikan bumi dan langit, rasanya terlalu tinggi berkhayal jika dia menginginkan Aditya.


"Kamu marah padaku.?" Aditya melontarkan pertanyaan yang sebenarnya ingin dia katakan sejak kemarin. Tepatnya setelah pertemuan mereka dengan Evelin di salah satu restoran.


Sejujurnya saat pulang dari restoran, Aditya mulai merasakan perubahan sikap Tiara. Hanya saja saat itu dia belum terlalu peka bahkan acuh karna menurut dia semuanya baik-baik saja.


Dan merasa tak ada alasan yang membuat Tiara bisa marah padanya.


"Aku hanya marah pada orang yang telah melakukan kesalahan." Jawaban Tiara tak membantu mengurangi rasa penasaran Aditya.


Jawaban itu justru membuat Aditya berfikir keras.


"Apa menurutmu aku telah melakukan kesalahan.?" Tak mau merasakan kebingungan, dia memilih untuk menanyakan langsung pada Tiara.


Lagipula dia juga tidak tau hal apa yang menurut Tiara adalah sebuah kesalahan.


Tiara melirik dalam. Tatapan matanya terasa begitu menusuk. Sepertinya Aditya salah mengajukan pertanyaan. Terbukti Tiara semakin memasang wajah ketus.


"Lupakan saja, itu tidak penting." Sahut Tiara acuh.


"Bisa di percepat sedikit.? Aku sudah mengantuk." Tiara mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau terlibat obrolan terlalu jauh dengan Aditya.


Selain itu dia juga merasa kalau Aditya sengaja memelankan laju mobilnya hingga tak kunjung sampai di rumah.

__ADS_1


Setelah menyuruh Aditya mempercepat laju mobilnya, Tiara menyenderkan tubuhnya di jok mobil dan memejamkan mata. Pura-pura akan tidur adalah alasan paling tepat untuk menghindari obrolan. Dia tak ingin ada obrolan yang lebih jauh lagi.


Aditya melirik Tiara dari kaca spion. Dia yakin kalau Tiara hanya memejamkan mata dan masih bisa mendengar suaranya.


"Soal kejadian malam itu, aku hanya reflek." Jelasnya. Aditya harus membagi fokusnya dengan menatap jalanan dan melirik Tiara untuk melihat reaksi wanita itu.


Setelah berfikir keras, Aditya menduga perubahan sikap Tiata terjadi lantaran dirinya merangkul Nisa beberapa kali, menggandeng, menyuapi, bahkan memanggilnya dengan sebutan sayang.


Hal itu yang membuat Aditya berfikir jika perbuatannya sudah mengundang kemarahan Tiara karna sudah lancang.


"Karna aku ingin membuat dia percaya bahwa kita memiliki hubungan serius."


"Lagipula sejak awal aku juga sudah meminta ijin padamu untuk melakukan sandiwara layaknya sepasang kekasih." Aditya bicara panjang lebar untuk menjelaskan, sementara itu Tiara masih pada posisinya. Dia tak membuka mata karna malas menanggapi penjelasan Aditya yang keliru.


Dan tidak mungkin juga Tiara menyebutkan hal apa yang sudah membuatnya kesal.


...****...


Nisa dan Andreas sudah berada di kamar tidur sejak 15 menit yang lalu. Mereka berbaring di atas ranjang yang sama dengan Kenzie sebagai pembatas di tengah-tengah.


Keduanya sudah memejamkan mata sejak tadi, mencoba menghilangkan kecanggungan dengan buru-buru untuk tidur. Tapi sampai detik ini mereka masih terjaga, meski matanya terpejam.


Usaha mereka agar cepat tidur nyatanya gagal.


"Apa ACnya mati.? Kenapa rasanya semakin panas,," Nisa akhirnya menyerah. Dia membuka mata, bahkan langsung mengubah posisi dengan duduk di sisi ranjang dan menatap pada pengatur suhu ruangan yang berada di dinding kamar.


Keluhan Nisa membuat Andreas membuka mata dan ikut mengubah posisi dengan duduk bersandar di kepala ranjang.


Pria itu juga ikut memastikan dengan menatap pengatur husunya. Karna dia juga merasakan hal serupa.


"Sepertinya masih berfungsi. Mungkin udara di luar cukup ekstrim." Sahut Andreas seraya turun dari ranjang. Dia bermaksud ingin menurunkan suhu ruangan agar lebih dingin.


5 menit berlalu setelah Andreas menurunkan suhu ruangan, bukannya merasa sejuk, Nisa justru semakin merasakan hawa panas yang menjalar ke seluruh rubuh. Wajahnya terlihat mulai memerah. Dia merasakan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya tanpa mampu untuk di tahan.


Nisa mencoba untuk menepisnya. Dia tampak bingung karna tiba-tiba perasaan itu datang dalam dirinya begitu saja.


Dia menginginkannya, sangat menginginkan sebuah sentuhan yang bisa menghilangkan dahaganya saat ini.


Nisa menoleh pada Andreas, entah kenapa tiba-tiba membayangkan hal panas bersama pria itu.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, rupanya Andreas juga sedang menatap ke arahnya. Tatapan yang sama-sama menginginkan sebuah sentuhan malam ini.


"Kenapa panas sekali," Tidak tahan merasakan hawa panas, Nisa buru-buru turun dari ranjang.


Jalan satu-satunya untuk meredam rasa panas itu adalah dengan cara berendam di kolam renang.


Karna tidak mungkin dia terus berada di dalam kamar, itu hanya akan membuatnya memikirkan hal-hal kotor bersama sama Andreas.


"Mau kemana.?" Tanya Andreas. Dia ikut turun dan mngikuti langkah Nisa.


"Aku harus berendam." Jawab Nisa dengan langkah kaki yang semakin cepat.


"Tunggu Nisa." Andreas mencekal pergelangan tangan Nisa.


"Ada yang ingin aku tanyakan." Ujarnya begitu Nisa berbalik badan menatapnya.


Pandangan mata keduanya beradu yang disertai kabut gairah. Namun Andreas masih bisa untuk menahannya.


"Soal apa.?" Tanya Nisa. Walaupun dia menatap lekat wajah Andreas, tapi pikiran sudah berkelana kemana-mana.


"Minuman itu." Andreas menunjuk 2 gelas yang ada di atas meja. 1 gelas masih tampak utuh, sedangkan 1 gelas lagi hanya menyisakan sedikit minuman.


"Aku rasa minuman telah itu di campur sesuatu." Ujarnya karna merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya, apalagi Nisa yang tampak sangat gelisah.


Dan itu membuat Andreas yakin kalau minuman itu so campur oleh obat.


"Maksudnya bagaimana.? Aku tidak mengerti."


"Bukannya kamu yang memesan minuman itu.? Kenapa malah bertanya padaku." Jawab Nisa yang mencoba untuk tetap fokus meski gejolak itu semakin tak tertahan.


"Sh iitt,,,! Pelayan itu pasti salah kamar." Umpat Andreas karna ternyata ada kesalah pahaman yang terjadi.


Dia sudah salah sangka, begitu juga dengan Nisa yang ternyata mengira kalau minuman itu di pesan olehnya. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah tbaik dia maupun Nisa tidak memesan minuman apapun.


Andreas memijat pelipisnya. Sekarang dia bingung harus berbuat apa. Tentu bukan hanya Nisa yang menginginkan sentuhan, dia pun menginginkannya meski masih bisa mengontrol diri. Tapi Nisa.? Wanita itu kini sedang menatapnya lekat dengan penuh gairah. Dia bahkan menggigit bibir bawahnya dan kedua tangan yang meremas ujung bajunya sendiri.


Antara takut dan tidak tega melihat keadaan Nisa, Andreas memberanikan diri untuk menyambar bibir sensual itu. Dia sudah siap menerima resiko kalau seandainya Nisa marah padanya karna sudah lancang menciumnya.


Tak ada penolakan, Nisa diam saat Andreas menye sap bibir itu bergantian. Me lu matnya lembut dan perlahan semakin menuntut.

__ADS_1


Nisa yang awalnya diam saja, Kina mulai mengimbangi ciuman Andreas.


Meski hati berkata tidak, tapi tubuhnya tak bisa menolak, bahkan meminta lebih.


__ADS_2