Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 155


__ADS_3

"Aditya.!! Mau kemana kamu.!" Tegur Nisa yang baru saja keluar dari persembunyiannya.


Dia mencegah langkah Aditya saat laki-laki nitu hendak pergi dari kamar Tiara.


Setelah apa yang baru saja Nisa dengar dari dalam kamar Tiara, tak mungkin dia akan melepaskan Aditya begitu saja.


Keterkejutan tak bisa di sembunyikan dari raut wajahnya Aditya ketika melihat Nisa berjalan menghampirinya. Dengan susah payah dia menelan ludahnya.


Melihat sorot mata tajam Nisa, Aditya yakin kalau suara benda terjatuh yang sempat terdengar dari luar kamar berasal dari botol air mineral di tangan Nisa.


Mengingat saat Tiara men de sah kencang saat mendapatkan pelepasan, Aditya yakin kalau suara de Sa han itu terdengar sampai ke luar kamar dan di dengar oleh Nisa.


"Nona, ini tidak seperti yang Anda pikirkan." Aditya berusaha untuk membuat Nisa tak berfikir macam-macam.


"Masuk, kita harus bicara." Tegas Nisa yang meminta Aditya agar masuk ke dalam kamsar Tiara lagi.


Begitu Nisa masuk, dia di kejutkan dengan Tiara yang baru saja turun dari ranjang dengan berbalut selimut. Gadis itu tampak ketakutan namun tangannya berusaha meraih baju miliknya di lantai.


Nisa sontak membulatkan matanya melihat baju Tiara tergeletak di lantai, dan gadis itu berbalut selimut.


Apa yang baru saja dia lihat semakin memperk dugaannya kalau Tiara dan Aditya baru saja melakukan perbuatan terlarang.


"Pakai dulu baju kamu, saya tunggu kalian berdua di ruangan keluarga.!" Tegas Nisa yang kemudian beranjak dari kamar Tiara dengan perasaan kecewa.


"Maafkan aku Kak. Semua ini,,,"


"Nanti saja membahasnya. Lebih baiknkamu pakai baju dulu dan kita temui Nona Nisa." Potong Aditya lembut.


Tiara mengangguk dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk memakai bajunya.


...*...


Suasana di ruang keluarga itu cukup tegang. Tiara dsn Aditya duduk bersebelahan dan berhadapan dengan Nisa.


"Kenapa kamu berbuat seperti itu Aditya.?" Tanya Nisa dengan tatapan mengintimidasi. Dia begitu kecewa pada Aditya.


Sementara itu, Tiara hanya bisa menundukkan wajah tanpa berani menatap majikannya.


Dia sangat malu dan merasa bersalah karna telah berbuat tak senonoh di dalam rumah milik majikannya itu.

__ADS_1


"Maafkan saya Nona," Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Aditya.


Dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Karna jika itu terjadi, maka asal usul obat perangsang yang tak sengaja di minum oleh Tiara akan terbongkar.


Dan jika Nisa mengetahui siapa orang yang sudah menginginkan obat itu, Aditya takut keluarga kecil yang kini sedang berbahagia itu akan kembali bermasalah.


Dia tak mungkin membiarkan bosnya itu dalam masalah. Rasanya sudah cukup melihatnya begitu mengenaskan dan menyedihkan selama 3 tahun ini.


"Jadi kalian benar-benar melakukannya.?!" Nada bicara Nisa sedikit meninggi. Wanita itu menatap bergantian pada dua sejoli yang hanya bisa menundukkan kepala.


"Tiara gadis polos Aditya. Selama ini dia tidak pernah memiliki hubungan dangan siapapun."


"Bagaimana bisa kamu tega merusak Tiara.?" Nisa tak habis pikir dengan Aditya. Laki-laki yang dia anggap baik itu ternyata sama saja dengan laki-laki di luar sana. Bahkan tak jauh berbeda dengan sifat Andreas dulu.


"Kalau memang kalian saling mencintai, kenapa tidak menikah saja. Kenapa harus berbuat seperti ini sebelum menikah.?"


"Kamu sudah dewasa Aditya, tidak seharusnya kamu memperlakukan Tiara seperti itu." Nisa terus meluapkan kekecewaannya pada Aditya.


Dia hanya merasa kasihan pada Tiata. Karna jika seandainya mereka berdua tidak berjodoh, masa depan Tiara sudah pasti akan dipertaruhkan.


"Bu, sebenarnya,,,"


Namun dengan cepat Aditya langsung memotong ucapannya.


"Saya akan bertanggungjawab dengan menikahi Tiara secepatnya." Ucap Aditya penuh ketegasan.


Tiara tampak terkejut mendengar ucapan Aditya.


Sebenarnya Aditya tak perlu mempertanggung jawabkan apapun karna Tiara masih virgin. Karna dia dan Aditya tak melakukan penyatuan.


"Ada apa ini.?" Andreas kebingungan melihat mereka bertiga di ruang keluarga dengan raut wajah mereka yang tampak serius.


Awalnya dia ingin menyusul Nisa yang tak kunjung kembali ke kamar setelah pamit ke dapur. Tapi suara berisik di ruang keluarga menuntun Andreas untuk kesana.


"Kamu tanyakan saja pada Aditya." Jawab Nisa. Dia tampak malas untuk menceritakan apa yang sudah di perbuat oleh Aditya pada Tiara.


Andreas semakin kebingungan melihat respon Nisa yang tampak kesal.


"Ara, sebaiknya kamu kembali ke kamar dan istirahat. Kita akan bicarakan lagi besok." Titah Nisa seraya beranjak dari duduknya. Tiara mengangguk patuh dan bergegas pergi ke kamarnya setelah mengatakan permohonan maaf lagi pada Nisa.

__ADS_1


"Mau kemana.?" Andreas menahan tangan Nisa yang juga hendak pergi dari ruangan itu.


"Aku sudah mengantuk,." Jawab Nisa.


Dia berlalu setelah Andreas melepaskan tangannya.


...*...


Duduk di halaman samping kolam renang, Aditya menarik nafas dalam sebelum akhirnya menceritakan apa yang baru saja terjadi. Dia juga mengatakan tentang minuman kaleng yang sudah di campur obat perangsang itu tak sengaja di minum oleh Tiara.


"Sh" iitt, bagaimana bisa minuman itu diminum Tiara." Ucap Andreas bingung. Dia memang sempat meninggalkan minuman itu di atas meja makan karna pergi ke toilet. Tapi slkarna saat kembali ke ruang makan, minuman itu masih ada di tempat semula. Itu sebabnya Andreas bingung bagaimana bisa minuman yang telah di campur obat itu sudah berpindah ke tangan Tiara.


Meski begitu, Andreas percaya kalau minuman itu memang tertukar. Karna Nisa tak bereaksi apapun meski sudah menghabiskan minuman kaleng itu.


"Tunggu.! Apa kamu menceritakan tentang obat itu pada Nisa.?" Seketika wajah Andreas memucat.


Dia akan mendapatkan masalah besar kalau sampai Nisa mengetahui tentang asal usul obat perangsang itu.


"Tidak. Mana mungkin saya merusak kebahagiaan Anda." Jawab Aditya.


Jawaban asisten pribadinya itu membuat Andreas tersentuh. Aditya tak hanya setia menemaninya selama ini dalam keadaan senang ataupun terpuruk. Tapi Aditya juga memiliki ketulusan yang begitu besar terhadapnya hingga tak tega merusak kebahagiaan yang baru saja dia dapatkan.


"Kamu memang terbaik Ditya.!" Puji Andreas seraya menepuk pundak laki-laki itu.


"Jadi kamu benar-benar akan menikahi Tiara.?" Andreas memastikan.


Aditya menjawab dengan anggukan kepala.


"Apa kamu mencintainya.?" Pertanyaan Andreas kali ini membuat Aditya tak langsung menjawab. Dia tampak berfikir beberapa saat.


"Saya tidak tau Tuan." Jawabnya bingung. Entah perasaan apa yang ada dalam hatinya saat ini.


"Sepertinya Tiara gadis yang baik, di sangat cocok untukmu." Ucap Andreas.


"Tidak masalah kalau saat ini kamu belum memiliki perasaan padanya. Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu."


"Tapi kamu harus selalu ingat untuk tidak menyakiti perasaannya, jangan sampai apa yang terjadi dalam hidupku terjadi juga padamu."


Tutur Andreas menasehati.

__ADS_1


"Kamu sudah melihat sendiri bagaimana penyesalan membuat hidupku sangat menderita."


__ADS_2