Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 87


__ADS_3

Andreas menerima secangkir teh hangat yang di sodorkan oleh Nisa. Senyumnya tampak merekah, Andreas memang selalu menunjukkan ekspresi seperti setiap kali Nisa menyiapkan semua yang dia butuhkan.


Memiliki istri seperti Nisa yang selalu melayani suaminya dengan baik, seharusnya memang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi suaminya.


Apalagi sikap dan perilaku Nisa tak seperti kebanyakan wanita di jaman modern saat ini.


Jika wanita lain yang menjadi istri seorang CEO, mungkin hampir setiap hari menyambangi mall untuk berburu barang-barang branded dengan menghambur-hamburkan uang suaminya. Tapi semua itu tak berlaku untuk Nisa. Dia tak memanfaatkan keadaan yang sebenernya sangat menguntungkan baginya.


Walaupun apa awalnya Nisa bertekad ingin balas dendam, tapi hanya fokus untuk menghancurkan hati Andreas tampa pernah berfikir untuk menguras hartanya. Dari situ saja sudah menunjukkan kalau Nisa memang wanita baik-baik. Dia di ciptakan dengan miliki hati yang berwarna putih.


"Terimakasih,," Ucapan Andreas terdengar sangat tulus. Nisa membalasnya dengan anggukkan setelah itu duduk di samping Andreas.


Wanita bermata indah itu terus menatap Andreas, terlihat sedang menunggu Andreas meneguk teh hangat buatannya.


Nisa tampak menelan ludah saat Andreas menempelkan bibirnya pada pinggiran cangkir.


Seteguk teh terdengar masuk ke tenggorokannya.


Kening Nisa mengernyit, bibirnya tampak meringis.


"Satu,, dua,, ti,,"


Belum sempat Nisa menyelesaikan hitungan ketiga, semburan teh hangat keluar dari mulut Andreas.


Byuurrrrr,,,


"Uhhhkk,, uhhukkk,," Andreas langsung meletakkan cangkir di tangannya kemeja.


"Andreas,,, kenapa.??" Nisa memasang wajah panik.


"Apa airnya terlalu panas.?" Tanyanya sembari meraih tisu dan memberikannya pada Andreas.


Andreas tak langsung menjawab pertanyaan Nisa, dia lebih dulu mengelap air di sekitar mulutnya menggunakan tisu.

__ADS_1


Setelah itu, mengambil botol air mineral di atas meja dan meneguknya hingga habis tanpa sisa.


Laki-laki itu seolah merasakan sesuatu yang tidak enak di area mulut dan tenggorokannya.


Nisa masih setia menunggu Andreas membuka suara, dia ingin mendengar jawaban dari mulut Andreas dan reaksinya setelah ini.


"Andreas,, bagaimana.?" Nisa kembali bertanya selesai Andreas meneguk air mineral.


"Sepertinya kamu salah memasukkan garam ke dalam teh." Tutur Andreas. Raut wajah dan nada bicaranya tampak biasa saja. Tidak ada reaksi yang berlebihan apa lagi menyalahkan dan memarahi Nisa.


"Ya ampun,, kamu serius.??" Nisa menunjukkan ekspresi rasa bersalah sekaligus kaget.


"Tapi aku yakin mengambil gula, bukan garam."


"Apa sangat asin.?" Tanya Nisa sembari meringis dengan raut wajah khawatir.


"Menurut kamu.?" Andreas balik bertanya.


"Biar aku coba,," Nisa hendak mengambil teh itu untuk dia minum, namun Andreas melarangnya.


Sampai saat ini mulutnya bahkan masih terasa asin. Andreas bahkan tak habis pikir, entah seberapa banyak garam yang masuk ke dalam secangkir teh berukuran kecil itu.


"Maaf Ndreee,,, aku benar-benar tidak sengaja." Ucap Nisa memohon dengan tatapan memelas.


"Sebentar, biar aku buatkan lagi yang baru. Kali ini aku pastikan tidak akan salah lagi memasukkan garam,," Sebagai ungkapan rasa bersalahnya, Nisa berniat untuk membuatkan teh yang baru. Wanita cantik itu bahkan sudah beranjak dari duduknya.


"Sudah tidak usah,," Andreas menahan tangan Nisa.


"Tidak apa sayang,, aku akan buatkan lagi."


"Tenggorokan kamu pasti tidak nyaman, sebaiknya minum yang manis untuk menetralisir rasa asinnya." Nisa menarik tangannya dari genggaman Andreas, dia buru-buru pergi ke dapur untuk mengambil teh hangat yang sudah dia buat bersamaan dengan teh asin itu.


Sembari berjalan ke arah dapur, Nisa tampak mengembangkan senyum penuh arti. Senyum itu sekaligus menggambarkan suasana hatinya yang dipenuhi bunga bermekaran.

__ADS_1


Dia berhasil mengetes seberapa sabarnya Andreas ketika dia melakukan kesalahan.


Dan dengan wajah yang tenang, Andreas sama sekali tidak menyalahkannya. Apa lagi marah-marah. Laki-laki itu terlihat menerima begitu saja dengan kesalahan Nisa.


Kali ini Nisa semakin yakin untuk melabuhkan sepenuh hatinya pada Andreas. Dia benar-benar siap mengarungi bahtera rumah tangga dengan menjadikan Andreas sebagai nahkodanya.


Kata hatinya tak akan pernah salah, dia bisa merasakan ketulusan dan cinta yang besar dalam diri Andreas untuknya.


...*****...


Pagi itu Nisa dan Andreas tengah menikmati sarapan bersama di meja makan.


Nisa menyajikan makanan kesukaan Andreas dengan penuh cinta.


Laki-laki itu tampak sangat lahap menyantap masakan buatan istrinya. Mungkin karna hampir 2 minggu mulut dan perutnya tidak dimanjakan dengan enaknya makanan buatan Nisa.


"Aku mau siapkan bekal makan siang untuk kamu." Nisa tampak ragu-ragu mengatakannya. Dia takut Andreas tidak akan mau membawa bekal makan siang ke kantor. Secara Andreas pemimpin di perusahaan itu, dia bisa memesan makanan dari restoran mewah hanya untuk makan siangnya.


Andreas menghentikan aktifitas makannya, laki-laki itu tampan mengulas senyum pada Nisa.


"Tumben mau siapkan bekal untukku,," Ucapnya. Tak ada penolakan, tapi Andreas juga tidak bilang mau membawa bekal itu.


"Kamu mau bawa bekalnya.?" Tanya Nisa.


"Siapa yang akan menolak di bawakan makanan enak." Jawab Andreas.


Jawaban yang membuat senyum Nisa merekah karna Andreas menyematkan pujian di dalamnya.


"Kalau begitu aku siapkan sekarang." Nisa beranjak dari duduknya. Dia terlihat sangat antusias untuk menyiapkan bekal pertama kalinya.


...^^^****^^^...


tolong mampir ke novel "Menikah dengan kakak tiri"

__ADS_1


ada di akun Ratna wullandarrie. makasih banyak 😊



__ADS_2