
Tanpa ada keraguan dan rasa malu sedikitpun, Nisa bergerak liar dalam pangkuan Andreas. Dia menciptakan momen yang mungkin akan selalu terbayang di ingatan Andreas hingga laki-laki itu tak akan bisa berpaling darinya.
Tidak peduli meski mungkin Andreas akan merasa heran dengan tingkahnya yang sudah menyerupai wanita penghibur.
Nisa bahkan tidak tanggung-tanggung dalam mengekspresikan keni kmatan itu. Dia mengeluarkan desa han hingga suaranya menggema di ruang kerja Andreas. Suara itu membuat permainan semakin panas.
Keduanya terlihat sama-sama hanyut dalam kenik matan yang tak bisa terelakkan.
Sementara itu, seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan Andreas, kini terlihat mengepalkan kedua tangannya.
Ada perasaan marah dan sakit hati melihat secara langsung bagaimana Nisa begitu liar dan menikmati permainan panasnya bersama Andreas.
Devan di bakar cemburu, meski sadar bahwa perasaan itu terlarang.
Devan masih beruntung karna posisi Nisa membelakangi pintu. Bahkan Nisa juga masih memakai dress meski tersingkap di bagian bawah dan depannya saja.
Jadi Devan hanya melihat punggung Nisa tanpa melihat bagaimana ekspresi wajah Nisa yang terlihat sangat profesional.
Entah akan sesakit apa hati Devan jika melihat raut wajah Nisa yang tengah menikmati permainan panas itu bersama Andreas.
Tidak tahan melihat adegan panas dan desa-han Nisa, Devan bergegas menutup pintu dengan cara membantingnya.
Suara keras itu membuat Nisa berhenti dan langsung menoleh ke arah pintu.
"Siapa itu Ndre.?" Tanya Nisa panik. Dia sampai ingin turun dari pangkuan Andreas namun di tahan oleh laki-laki itu.
"Sebentar lagi sayang,," Ucap Andreas. Dia tak memperdulikan kepanikan di wajah Nisa, justru membaringkan Nisa di sofa dan melanjutkan kegiatan itu lagi untuk menyelesaikan permainan.
"Tapi Ndre, ada seseorang yang datang,," Kata Nisa. Dia tak lagi fokus dengan kegiatan panas itu, sedangkan Andreas justru semakin mempercepat gerakannya untuk mencapai *******.
Andreas mengerang, dia membenamkannya dalam-dalam. Menyebar benihnya dalam rahim Nisa. Entah lupa atau memang Andreas sengaja melakukannya. Yang jelas, Nisa langsung menanyakan hal itu pada Andreas.
"Kamu tidak pakai pengaman Ndre, kenapa di dalam.?" Tanya Nisa sambil memperhatikan Andreas yang langsung menyingkir dari atas tubuhnya dan merapikan pakaiannya dengan buru-buru.
"Kamu disini saja dan rapikan bajumu, aku akan melihat siapa yang sudah mengganggu kesenangan kita." Kata Andreas. Dia bergegas pergi sembari mengukir senyum smirk.
Begitu Andreas keluar dari ruangan, asistennya segera menghampiri Andreas dan meminta maaf padanya.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan, saya sudah melarang Tuan Devan agar tidak masuk. Tapi Tuan Devan,,,
"Di mana dia.?!" Tegas Andreas.
Dengan tangan yang gemetar, asistennya itu menunjuk ke arah lift.
"Tuan Devan baru saja pergi,," Jawabnya tercekat.
Dia terlihat sangat ketakutan dan tidak berani menatap mata Andreas.
Sudah pasti dia akan mendapatkan masalah besar karna tidak bisa menjalankan perintah dari bosnya itu.
Tanpa mengatakan apapun, Andreas bergegas pergi untuk menyusul Devan.
Langkahnya tergesa-gesa saat keluar dari lift. Dia memanggil Devan yang jaraknya sudah lumayan jauh dari depan lift.
"Devan.!!" Andreas setengah berteriak dengan suara beratnya. Panggilan itu berhasil menghentikan langkah Devan yang seketika memutar badan menghadap ke arahnya.
"Kenapa buru-buru.? Kamu belum menyerahkan berkasnya." Ujar Andreas santai. Dia berjalan mendekati Devan, berhenti tepat di depan kakaknya itu.
Melihat sikap santai yang di tunjukkan oleh Andreas, amarah Devan kembali meluap. Dia menatap tajam dengan mengepalkan tangannya.
"Kamu sengaja mengundangku kemari agar melihat adegan gila itu.?!!" Sentak Devan.
Entah kenapa perasaannya mengatakan jika Andreas memang sengaja mengatur semua ini untuk membuatnya sakit hati.
Apalagi Andreas tidak mengunci ruangannya dan menyuruh asistennya untuk melarang orang lain masuk.
"Adegan gila.?" Dahi Andreas mengkerut. Dia menutup kembali map di tangannya yang baru saja dia buka.
"Adegan gila seperti apa yang kamu maksud.?" Tanyanya.
Devan berdecak sinis. Andreas terlalu pandai mendalami peran dalam ber akting di depannya.
"Kau benar-benar mengerikan Andreas.!!" Sinis Devan. Dia tak menyangka Andreas benar-benar akan menjalankan misinya hingga tuntas. Misi yang direncanakan untuk menghancurkan perasaan saudaranya sendiri dengan menumbalkan seorang wanita yang tak bersalah.
"Hentikan permainan gilamu itu.! Lepaskan Nisa detik ini juga sebelum dia berharap padamu.!" Seru Devan. Dia tak bisa membayangkan akan sehancur apa perasaan Nisa di saat dia sudah banyak berharap pada Andreas, tiba-tiba Andreas menghancurkan hidupnya.
__ADS_1
"Melepaskannya.?" Kata Andreas, kemudian terkekeh sinis.
"Sepertinya kamu belum menderita." Ucapnya sembari mengamati raut wajah Devan. Memastikan jika sakit hati yang di rasakan oleh Devan belum seberapa, dibanding sakit hati yang harus dia terima sejak dulu.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Anisa.!"
"Aku pastikan rencanamu tidak akan berhasil.!" Seru Devan penuh amarah.
Andreas terkekeh, dia sama sekali tidak merasa takut mendengar Devan akan menggalakan rencananya.
"Sebelum kamu menghentikan rencana ku, kamu akan lebih dulu melihatnya menderita."
"Menurutmu, bagaimana jika aku membawa wanita lain ke apartemen dan bercinta di depan matanya.? Apa dia akan menangis.?" Tanya Andreas dengan senyum mengejek. Dia lalu pergi dari hadapan Devan yang terlihat semakin menahan amarah.
...****...
"Apa kau tuli.!!" Bentak Andreas.
"Sudah aku katakan jangan membiarkan siapapun masuk ke dalam ruangan ku.!"
Amarah Andreas meluap di depan asistennya.
Sekretaris pribadinya sampai keluar dari ruangan karna mendengar suara keributan.
Begitu juga dengan Nisa yang keluar dari ruangan Andreas.
Wanita cantik itu terlihat kebingungan melihat sekretaris Andreas berlutut di depan Andreas.
"Kamu membiarkan seseorang masuk dan mengganggu privasiku.!" Bentak Andreas lagi.
"Mulai hari ini kamu di pecat.!"
"Andreas,,, ada apa ini.?" Tanya Nisa yang segera berdiri di samping Andreas.
"Dia membiarkan Devan masuk ke ruangan ku." Jawab Andreas.
Nisa terdiam, dia terlihat syok mengetahui bahwa seseorang yang tadi menutup pintu adalah Devan.
__ADS_1