Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 47


__ADS_3

"Apa Andreas sudah bisa di hubungi.?!" Tanya Tuan Chandra. Dia terlihat kacau sejak tadi siang. Setelah mengetahui 80 persen orang yang menaruh saham di perusahaannya, secara serempak menarik saham mereka.


Membuat perusahaannya mengalami kerugian yang cukup besar hingga sebagian perusahaan yang bekerja sama dengannya memutuskan kontrak sepihak.


Devan menggelengkan kepala. Dia sudah mencoba menghubungi nomor ponsel Andreas tapi panggilannya tetap tidak tersambung. Bahkan sekretaris dan asisten pribadi Andreas juga mengatakan kalau mereka tidak tau di mana Andreas.


"Cepat cari Andreas. Papa tidak bisa menerima bantuan begitu saja dari perusahaan yang baru 3 bulan ini bergabung dengan kita."


"Andreas pasti bisa mencari tau tentang perusahaan itu." Ujar Tuan Chandra.


Semua ini berdampak pada perusahaan yang dia miliki, termasuk perusahaan yang di pegang oleh Devan dan Andreas. Jadi perusahaan mereka juga tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi perusahaan induk itu.


Dan Tuan Chandra tak punya pilihan lagi selain menerima bantuan dari perusahaan asing. Satu-satunya perusahaan yang mau membantunya.


Tapi Tuan Chandra juga tidak mau gegabah, dia harus mencari tau lebih dulu tentang perusahaan itu dengan detail.


"Ya, aku akan pergi ke apartemen Andreas sekarang." Devan beranjak dari sofa. Belum sempat membuka pintu untuk keluar dari ruang kerja sang Papa, langkahnya terhenti karna seseorang mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan itu.


Seseorang yang sejak tadi di cari-cari keberadaannya oleh Tuan Chandra.


"Mama bilang, Papa sedang mencari ku." Ucap Andreas.


"Ada apa.?" Dengan langkah dan ekspresi wajah santai, Andreas berjalan ke arah sofa. Dia bahkan melewati Devan begitu saja tanpa melirik sedikitpun ke arahnya.


"Duduklah." Tuan Chandra mempersilahkan Andreas untuk duduk di depannya.


Andreas dengan santai duduk berhadapan dengan sang Papa.


Tak berselang lama, Devan juga menyusul duduk di samping Andreas.


"Kamu pasti sudah tau perusahaan Papa sedang berada di ambang kebangkrutan." Ucapnya.


"Mereka menarik saham bersamaan, bahkan sebagian menjualnya."


"Seseorang mengatakan ada desas desus bahwa perusahaan kita akan di tutup. Membuat mereka menarik sahamnya."

__ADS_1


Tuan Chandra terlihat sangat cemas. Tentu saja dia tidak bisa tenang menghadapi situasi sulit seperti itu.


Rapat dengan jajaran direksi juga sudah di lakukan 30 menit setelah 40% saham di perusahaan di tarik dan di jual ke perusahaan asing.


Andreas hanya mengukir senyum tipis mendengar kecemasan yang di tunjukkan oleh sang Papa.


Bagi Andreas, kecemasan dan kekhawatiran itu belum ada apa-apanya dengan apa yang selama ini dia alami sejak dulu. Membuat pemilik saham menariknya dari perusahaan sang Papa merupakan suatu permulaan sebelum Andreas menguasai sebagian saham perusahaan itu, kemudian membuatnya hancur tak tersisa.


"Aku sudah mendengarnya."


"Kenapa Papa harus cemas, bukankah ada perusahaan asing yang menawarkan bantuan.?" Tanya Andreas.


"Aku mendengarnya dari sekretaris Edgar."


"Aku pikir, lebih baik Papa menerima bantuan dar perusahaan itu. Jangan sampai sesuatu yang lebih buruk terjadi pada perusahaan Papa."


Andreas meracuni pikiran sang Papa agar masuk ke dalam perangkap. Sudah lama dia menunggu saat-saat ini.


"Tapi Papa belum yakin dengan perusahaan itu."


Tuan Chandra menyerahkan permasalahan yang sedang dia hadapi pada Andreas. Dia sangat yakin putranya itu bisa di andalkan untuk menangani hal seperti ini. Dan kerja Andreas tak pernah mengecewakan.


"Aku akan mencari tau secepatnya. Papa tidak perlu khawatir." Kata Andreas.


Dengan berkedok membantu mengatasi masalah yang sedang di hadapi oleh sang Papa, sebenarnya Andreas sedang menggiring sang Papa untuk masuk lebih jauh dalam kehancurannya.


...***...


"Makasih sudah mau membujuk Andreas datang ke rumah lagi." Nyonya Zoya sudah mengatakan ucapan terimakasih lewat pesan, sekarang dia kembali mengatakan hal itu langsung di depan menantunya.


Biasanya Andreas paling tidak suka datang ke rumah jika keadaannya dia baru berkunjung ke rumah beberapa hari lalu.


"Berkat kamu, Andreas tidak segan lagi berkunjung ke rumah." Nyonya Zoya terlihat sangat senang dengan perubahan yang terjadi pada Andreas. Putra sambungnya itu juga lebih sopan saat berbicara dengannya.


"Mama terlalu berlebihan, aku tidak melakukan apapun." Sangkal Nisa. Lagipula Andreas langsung setuju untuk datang setelah dia menyampaikan pesan dari Mama Zoya.

__ADS_1


"Mungkin dulu sebelum Andreas menikah, dia sangat sibuk. Jadi tidak punya banyak waktu untuk datang." Ucap Nisa.


Meski dia tau kenapa Andreas jarang datang ke rumah ini, namun dia berusaha membuat citra Andreas baik di mata Mama sambungnya dengan tidak mengatakan yang sebenarnya.


Sebenarnya Nisa juga memaklumi kenapa Andreas begitu enggan menginjakkan kaki di rumah ini. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama jika mendapatkan perlakuan buruk seperti Andreas.


"Melakukan sesuatu ataupun tidak, Mama yakin kamu memiliki andil yang besar dalam perubahan Andreas. Perubahan ke arah yang positif tentunya." Ucap Nyonya Zoya. Dia kemudian meraih tangan Nisa dan menggenggamnya.


"Mama mohon cintai Andreas dengan sepenuh hati, sembuhkan lukanya dengan cinta yang kamu miliki untuknya." Nyonya Zoya menatap penuh harap dan memohon.


"Andreas telah melalui banyak kesulitan dan kepedihan dalam hidupnya. Terutama kepedihan yang dia rasakan akibat perlakuan yang berbeda dari Papanya." Tatapan sendu Nyonya Zoya menunjukkan betapa dia menyayangkan hal itu.


"Mama tidak bisa berbuat apapun untuk mengubah pandangan Papa pada Andreas."


"Kebencian Papa pada Mama kandung Andreas, membuatnya melempar kebencian yang sama pada Andreas. Karna setiap kali melihat wajah Andreas, Papanya akan selalu ingat dengan perbuatan buruk Mama kandung Andreas."


Nisa hanya bisa diam, dia mulai terbawa suasana dan bisa merasakan bagaimana sulit dan menyakitkannya berada di posisi Andreas.


Dia harus menerima konsekuensi atas kesalahan yang di lakukan oleh Mama kandungnya.


Harus menerima kenyataan bahwa Papa kandungnya sendiri sangat membencinya hanya karna kesalahan sang Mama.


Tak adil rasanya jika Andreas menerima


semua perlakuan itu, sedangkan bukan keinginan Andreas untuk terlahir menjadi anak mereka.


"Aku mengerti, Mama tidak perlu khawatir soal perasaanku pada Andreas. Aku pasti akan mencintai dan mengurusnya sepenuh hati." Ucap Nisa dengan raut wajah yang meyakinkan. Dia ingin membuat Mama mertuanya merasa tenang setelah mendengar jawabannya, meski itu bukan jawaban dari lubuk hatinya.


"Ndree, kenapa berdiri di situ saja.?" Irene menegur Andreas yang berdiri di belakang Nisa dan Nyonya Zoya.


Wanita hamil itu baru saja mengambil kue yang dia buat untuk di berikan pada adik ipar dan Mama mertuanya.


"Ini kue yang baru saja aku buat, ayo cobain." Irene menyodorkan kue itu pada Mana mertuanya dan juga Nisa.


Sementara itu, Andreas dan Nisa sempat saling pandang beberapa detik sebelum suara keras Irene kembali menegur Andreas dan Nisa karna kedapatan sedang saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2