Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 132


__ADS_3

"Kamu mau kemana lagi.?" Andreas menatap Aditya dari ujung kaki sampai kepala. Asisten pribadinya itu datang lagi ke rumah Nisa pukul 6 dengan pakaian rapi.


"Saya ingin mengajak Tiara makan malam di luar, Tuan." Jawab Aditya. Dia lantas mendudukkan diri di sofa, bergabung dengan Andreas dan Kenzie yang juga sedang duduk di sana.


"Lalu bagaimana dengan tugasmu.? Apa sudah memesan tiket pesawat dan hotel.?" Tanya Andreas. Tadi siang dia langsung menghubungi Aditya untuk mengurus semuanya.


Dia tidak akan melarang Aditya pergi dengan Tiara asal Aditya sudah menyelesaikan tugasnya.


"Sudah semuanya, saya juga sudah mengirimkannya ke email Anda 1 jam yang lalu." Tuturnya.


Andreas tampak memberikan anggukan paham.


"Ya sudah, kamu boleh pergi."


"Tapi ingat, jangan macam-macam dengan Tiara. Aku bisa terkena imbasnya kalau kamu sampai macam-macam.!" Andreas menasehati dengan tegas. Pasalnya Tiara bekerja pada Nisa, jika sampai Aditya berbuat macam-macam pada gadis itu, Andreas takut namanya akan ikut terseret akibat ulah asisten pribadinya. Jangan sampai karna kesalahan Aditya, Nisa meluapkan kekesalannya pada Andreas.


"Saya mengerti Tuan. Anda tidak perlu khawatir karna saya tidak akan macam-macam." Jawaban Aditya begitu meyakinkan. Apalagi Aditya memang merasa tak punya hubungan dan perasaan apapun pada Tiara, dia mengajak Tiara pergi karna murni ingin menunjukkan pada mantan kekasihnya bahwa dia sudah memiliki calon istri. Jadi tak pernah terlintas sedikitpun di benak Aditya untuk berbuat macam-macam pada Tiara.


Sementara itu, Tiara beranjak dari depan cermin. Dia baru selesai memoles wajahnya dengan riasan tipis namun terlihat elegan.


Apalagi dengan dress serta tas dan heels mahal yang semakin membuat penampilannya terlihat sempurna. Rambut panjangnya dia buat curly, menambah kesan dewasa.


Orang-orang di luar sana pasti tak akan mengira bahwa gadis cantik itu adalah seorang asisten rumah tangga sekaligus baby sitter.


Dengan kesempurnaan fisik yang dia miliki, Tiara lebih pantas terlahir dari keluarga yang berada.


Namun takdir berkata lain, karna Tiara berasal dari keluarga sederhana yang bahkan tak mampu untuk memberikan pendidikan tinggi untuknya.


Tiara kemudian keluar dari kamar. Dia bergegas ke dapur untuk pamit pada Nisa.


Meski tadi sore sudah meminta ijin dan majikannya itu mengijinkan, tapi dia tidak bisa pergi begitu saja tanpa pamit.


"Ya ampun,,, Tiara.?" Nisa sampai kaget melihat penampilan dan dandan asisten pribadinya. Memang bukan pertama kalinya dia melihat Tiara berdandan. Karna saat dia mengajak Tiara pergi ke pesta pernikahan ataupun acara penting, Tiara kerap dandan dengan riasan make up tipis seperti itu. Namun yang membuat Nisa kaget adalah gaya stylenya bukan selera Tiara.


Nisa yakin bukan Tiara yang memilih dress itu.


"Saya jelek ya Bu pakai dress ini.?" Tanya Tiara seraya menatap dirinya sendiri. Pasalnya Nisa terlihat kaget setelah melihat penampilannya.

__ADS_1


"Jelek darimana.? Kamu cantik banget, cocok pakai dress itu." Puji Nisa. Dia bahkan mengakui kalau asisten rumah tangganya itu memang cantik. Apalagi dengan style Tiara yang seperti ini.


Auranya semakin bersinar dan cantik.


"Saya jadi curiga, jangan-jangan kamu dan Aditya punya hubungan.?" Tebak Nisa seraya menahan senyum. Dia setuju-setuju saja seandainya mereka berdua memiliki hubungan. Apalagi Nisa mengenai Aditya. Dia pribadi yang baik dan dewasa, sangat cocok untuk menjadi pendamping Tiara.


"Tidak mungkin pergi makan malam untuk memanasi mantan Aditya saja." Ujar Nisa lagi.


Padahal Nisa sudah percaya saat tadi sore Tiara menjelaskan tujuannya makan malam bersama Aditya. Tapi setelah melihat penampilan Nisa dan Aditya sampai membelikan barang-barang untuk Nisa, rasanya tidak mungkin kalau hanya sekedar meminta bantuan saja.


Tak mau majikannya salah sangka, Tiara kembali menjelaskan semuanya dengan detail. Termasuk membeberkan tujuan Aditya kenapa sampai membelikannya barang-barang mahal. Karna Aditya ingin penampilannya terlihat berkelas.


...*****...


"Ekhem,,," Deheman Nisa membuat Tiara dan Aditya berhenti saling pandang.


"Kalian jadi makan malam atau mau tatapan saja disini.?" Tegurnya seraya menahan tawa.


Nisa sukses membuka keduanya salah tingkah.


Berbeda dengan Nisa yang terlihat lebih penasaran dan jahil melihat kedekatan Aditya dan Tiara, Andreas justru terlihat cuek saja.


keduanya langsung pamit setelah kepergok saling pandang oleh Nisa.


"Hati-hati di jalan, jangan pulang terlalu malam ya." Pesan Nisa pada mereka. Dia tak bermaksud membatasi kehidupan Tiara, tapi selama Tiara masih bekerja dengannya, semua yang terjadi pada Tiara akan menjadi tanggungjawabnya. Jadi Nisa tetap harus mengawasi kehidupan pribadi Tiara.


"Baik Bu. Saya pergi dulu,," Tiara buru-buru menyusul langkah Aditya yang sudah berjalan mendahuluinya.


Nisa bergegas duduk, bergabung dengan Andreas dan putranya.


Dua laki-laki itu tampak sibuk memainkan mainan baru.


Nisa sampai menghela nafas melihat mainan Kenzie yang semakin menggunung sejak ada Andreas. Meski sudah pernah di tegur untuk tidak berlebihan membelikan mainan, Andreas tetap mengulanginya lagi.


"Kenapa beli mainan baru lagi Ndre.? Mainan yang kamu belikan saat di rumah sakit juga masih banyak yang belum di buka." Tegur Nisa pelan.


Pandangan Andreas seketika beralih pada Nisa. Raut wajahnya berubah cemas, dia baru ingat teguran dan janjinya pada Nisa untuk tidak berlebihan membelikan mainan.

__ADS_1


"Maaf Anissa, aku benar-benar lupa." Nada bicara Andreas jelas menunjukkan bahwa dia sedang panik dan takut.


"Aku minta maaf, lain kali aku akan mengingatnya." Ucapnya dengan menunjukkan ekspresi bersalah serta menyesal.


Melihat kecemasan dan ketakutan di wajah Andreas, Nisa justru merasa tidak enak karna sudah menegurnya. Reaksi Andreas benar-benar di luar dugaan. Dia tidak tau kalau Andreas akan ketakutan seperti itu.


Padahal itu hanya teguran biasa, tidak menunjukkan kemarahan pada Andreas.


"Iya Ndre, tidak apa." Jawab Nisa yang ingin membuat Andreas lebih rileks.


"Sebaiknya kita makan malam dulu. Kamu dan. Zie harus minum obat kan." Nisa beranjak dari duduknya dan menghampiri Kenzie.


"Mainnya sudah dulu ya Zie, sekarang kita makan dulu." Nisa langsung menggendong Kenzie untuk membawanya ke ruang makan.


"Iya Momiii,,," Jawa Kenzie tanpa ada penolakan.


"Papi,, ayo makan,,!" Seru Kenzie. Dia terlihat tak bisa jauh dari sang Papi karna selalu meminta Andreas untuk ikut serta dengannya dalam melakukan segala hal. Termasuk bermain, mandi, tidur dan makan.


Mendengar ajakan Kenzie, Andreas lalu bergegas menyusul keduanya.


"Zie mau dong suapin Papi." Pinta Kenzie. Dia tidak mau menerima suapan dari tangan Nisa.


"Dengarkan Momi Zie, Papi,,,


"Tidak masalah Nisa, aku bisa makan sambil menyuapi Kenzie." Andreas memotong ucapan Nisa.


"Jangan terlalu sering menolak permintaannya, dia masih terlalu kecil. Lagipula hanya minta disuapi, bukan meminta sesuatu yang aneh."


Andreas langsung mengambil alih piring milik Kenzie dari tangan Nisa.


Nisa diam, ucapan Andreas memang ada benarnya. Tapi Nisa enggan membuat putranya jadi kebiasaan minta di suapi oleh Andreas.


Kalau nanti Andreas kembali ke Amerika dan Kenzie tidak mau makan jika tidak di suapi Andreas, apa yang harus dia lakukan nanti.


"Tapi Ndre, kalau nanti kamu,,"


Nisa menghentikan ucapannya, dia ragu untuk mengungkapkan kekhawatirannya. Karna jika mendengar hal itu, dia takut Andreas akan memaksanya untuk kembali dengan alasan demi Kenzie.

__ADS_1


"Aku kenapa.?" Tanya Andreas dengan tatapan serius.


"Tidak, lupakan saja." Jawab Nisa seraya mengukir senyum tipis. Dia kemudian buru-buru menyuapkan makanan ke dalam mulut agar tidak ada pembahasan lagi.


__ADS_2