Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 117


__ADS_3

"Tidak perlu meminta supir menjemput, aku yang akan mengantar kalian pulang." Andreas menyambar ponsel dari tangan Nisa. Setelah bicara pada Pak Dito agar tak menjemput ke rumah sakit, Andreas mematikan sambungan telfonnya lalu mengembalikan lagi ponsel itu pada Nisa.


Wanita cantik itu tampak melongo dengan kedua mata yang membulat. Sedikit kaget karna tiba-tiba Andreas muncul dan menyambar ponsel miliknya.


Lalu dengan lancang melarang Pak Dito menjemput ke rumah sakit.


"Kenapa tidak bilang kalau putra kita sudah di perbolehkan pulang.?" Andreas tampak sedikit kecewa, tapi tak terlalu mempermasalahkannya karna dia sudah cukup bahagia di ijinkan menani putranya selama 4 hari di rawat di rumah sakit.


Apalagi sekarang Kenzie sudah mau memanggilnya Papi. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa untuknya.


"Setiap hari dokter selalu menjelaskan kondisi Kenzi, aku pikir kamu sudah tau." Nisa menjawab acuh.


"Tapi sejak pagi aku belum datang ke sini. Jadi tidak tau perkembangan putraku." Sahut Andreas.


Dia baru datang pukul 4 sore setelah sibuk seharian menemui klien yang jauh-jauh datang dari Jakarta lantaran dirinya tak bisa kembali ke Jakarta di saat Kenzie sedang di rawat.


Untung saja kliennya itu mau meluangkan waktu terbang ke Batam untuk membahas kerja sama mereka.


"Kamu tidak keberatankan kalau aku ikut ke rumah.?"


Mengingat Nisa yang terlihat sangat menjaga jarak dengannya, Andreas jadi ragu kalau Nisa akan mengijinkan dia menginjakkan kaki di rumahnya.


“Tidak, asal kamu tau batasan."


Lagi-lagi semua itu hanya demi kebahagiaan putranya. Tak peduli meski harus membuatnya menahan perih di dada karna sejujurnya berinteraksi dengan Andreas membuatnya ingat kejadian saat di bandara.


Kebahagiaan Kenzie memang yang terpenting, itu sebabnya dia mencoba berdamai dengan keadaan. Menerima rasa sakit itu dengan kelapangan hati. Dia ingin melihat putranya mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya tanpa harus hidup bersama.


"Papiii,," Kenzie meninggalkan mainannya di sofa dan langsung turun menghampiri Andreas.


Tubuh mungkil itu merentangkan kedua tangan hendak memeluk Andreas, namun Andreas langsung menangkapnya dsn menggendong Kenzie.


"Anak Papi sudah sehat," Ucap Andreas penuh haru. Rasanya dia baru bisa bernafas lega setelah mengetahui putranya sudah sembuh dsn di perbolehkan pulang.


"Kita mau jalan-jalan.?" Tanya Kenzie. Bocah kecil itu sedang menagih janji pada Papinya. Karna sejak kemarin Andreas selalu bilang akan mengajak Kenzie jalan-jalan kalau putranya itu sudah sembuh.


"Iya, nanti kita jalan-jalan sama Momi juga. Tapi sekarang kita akan pulang dulu ke rumah Zie." Jawab Andreas. Sekilas dia melirik Nisa dengan mengulas senyum, namun Nisa tampak tak menghiraukannya karna bergegas pergi untuk membereskan mainan Kenzie yang kemarin di belikan oleh Andreas.


"Kamu gendong Zie saja, biar aku yang bawa." Andreas menurunkan putranya, Dia mengambil alih dua atas besar di tangan Nisa. Tak mau melihat Nisa kerepotan membawa tas yang lumayan berat itu.

__ADS_1


"Lagipula kenapa harus bawa mainan sebanyak ini." Kata Nisa yang membiarkan Andreas membawa dua tas itu.


Tas yang di dominasi mainan milik Kenzie, sedangkan baju dia dan Kenzie hanya beberapa potong saja karena sebagian sudah di bawakan pulang oleh Tiara.


"Aku terlalu excited karna baru pertama kali membeli mainan untuk anakku sendiri."


"Lain kali aku tidak akan seperti itu." Andreas tersenyum teduh. Mungkin untuk mendinginkan perasaan Nisa yang terlihat sedikit panas akibat ulahnya karna membawa setumpuk mainan buat Kenzie.


...*****...


Memasukkan tas kedalam jok belakang, setelah itu Andreas membukakan pintu depan untuk Nisa dan putranya.


"Kalian duduk di depan saja." Ujarnya mempersilahkan Nisa untuk masuk. Gurat kebahagiaan tak pernah luntur di wajah Andreas, lelaki itu tampak lebih bersemangat sejak Nisa memberinya ijin untuk dekat dengan Kenzie.


"Papi mau ikut ke lumah Zie.?" Putra mungilnya itu bertanya sesaat Andreas ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di depan kemudi.


"Tentu saja, Papi mau temani Zie bermain." Andreas mengacak gemas pucuk kepala putranya. Senyumnya merekah, begitu juga dengan Kenzie.


"Zie suka main sama Papi,," Sahut Kenzie dengan binar bahagia di matanya.


Nisa yang tengah memangku Kenzie hanya bisa tersenyum tipis, dia ikut bahagia melihat putranya yang tampak ceria.


Nisa melirik Andreas, dia tampak tidak setuju dengan hal itu.


Bukan tak mengijinkan Andreas menemui putranya, tapi jika Andreas datang setiap hari, maka luka di hatinya akan sulit mengering.


"Kenapa.? Kamu keberatan aku akan menemui Kenzie setiap hari.?" Andreas seolah bisa membaca arti tatapan mata Nisa padanya.


Apalagi raut wajah Nisa berubah sendu.


"Tidak, terserah kamu saja." Nisa langsung membuang pandangan ke luar jendela.


"Terimakasih, setidaknya biarkan aku menemui Kenzie sebelum kembali ke Amerika minggu depan." Tutur Anderas yang mulai melajukan mobil meninggalkan rumah sakit.


Tak ada tanggapan dari Nisa, namun jika Andreas bisa melihat wajah Nisa, wanita cantik itu sempat mengulas senyum miring.


Mengetahui bahwa selama ini Andreas menetap di Amerika, nyatanya lelaki itu memang pergi jauh meninggalkannga 3 tahun lalu.


Setelah menempuh perjalanan 20 menit, mereka akhirnya sampai di rumah.

__ADS_1


Turun dari mobil, Andreas sigap mengeluarkan 2 tas di jok belakang.


Saat melihat Tiara, dia meminta tolong pada gadis itu untuk membawakannya karna Andreas ingin menggendong Kenzie.


"Sini, gendong sama Papa."


Tak perlu membujuk, Kenzie langsung merentangkan kedua tangannya. Bocah tampan itu selalu bersemangat saat Andreas akan menggendongnya.


Nisa kemudian menyuruh keduanya masuk dengan berjalan mendahului mereka.


Namun suara panggilan Aldo membuat Nisa menghentikan langkah.


"Bu,, ada Pak Biran di luar." Katanya setelah Nisa menoleh.


"Biarkan dia masuk." Jawab Nisa.


Tadi pagi Brian sudah mengirimkan pesan padanya dan berjanji akan langsung menjenguk Kenzie setibanya di Batam. Karna laki-laki itu baru saja pergi ke liat kota untuk urusan bisnis.


"Siapa.? Apa dia laki-laki yang bersamamu saat di restoran.?" Tanya Andreas lirih.


Ada rasa cemburu dan tidak rela melihat Nisa bertemu dengan laki-laki itu. Dia juga penasaran sudah sejauh apa hubungan Nisa dan Brian sampai laki-laki itu di ijinkan masuk dengan mudah ke rumah ini.


"Kalian duluan saja ke dalam. Kamar Zie ada di lantai atas." Bukannya menjawab pertanyaan Andreas, Nisa malah menyuruh Andreas untuk masuk lebih dulu bersama Kenzie.


Tak kunjung pergi, Andreas malah sengja tetap berdiri di samping Nisa hingga sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah dan berhenti di sebelah mobil Andreas.


Andreas menajamkan pandangan, penasaran dengan sosok laki-laki yang mulai keluar dari mobil itu.


Dugaannya tidak salah, dia masih ingat dengan wajah laki-laki itu yang dia lihat di restoran 1 minggu lalu.


"Om Blian,,," Seru Kenzie ketika Brian berjalan ke arahnya dengan memegang kotak mainan besar di tangannya.


"Hallo tampan,, kamu sudah sehat.?" Brian tersenyum lebar. Meski bingung melihat laki-laki yang sedang menggendong Kenzie, tapi Brian tak langsung menanyakannya. Terlebih wajah laki-laki itu sangat mirip dengan Kenzie.


"Om bawa mainan untuk Zie. Nanti kita main di dalam ya." Tuturnya seraya menunjukkan mainan itu di depan Zie.


"Kamu terlihat lelah, apa kurang tidur selama menjaga Zie di rumah sakit.?" Perhatian Brian beralih pada Nisa yang tampak muram. Wanita itu tak seceria biasanya. Baru 1 minggu tak melihat Nisa, sepertinya banyak perubahan dari sorot matanya.


"Sepertinya begitu." Jawab Nisa seraya mengembangkan senyum yang di paksakan.

__ADS_1


"Ayo masuk,," Dia mengajak Biran untuk masuk, dan mengajak Andreas serta Kenzie juga.


__ADS_2