
"Nisa, aku baru mau memberikan baju ini padamu" Ujar Irene, dia baru saja membuka pintu kamarnya yang tadi di ketuk oleh Nisa. Rupanya dia juga baru selesai bersiap untuk yoga dan akan memberikan baju olahraga pada Nisa karna semalam sudah janji akan meminjamkannya.
"Pakai ini, sepertinya muat di kamu karna badan kita sama." Ucapnya. Nisa menerima baju itu dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya lagi dia gunakan untuk menutupi leher.
"Makasih kak," Kata Nisa sembari mengulas senyum tipis.
"Eumm,, aku mau minta foundation sedikit,," Nisa mengatakannya dengan sedikit gugup. Dia takut Irene akan menanyakan untuk apa foundation itu. Sedangkan mereka akan yoga dan tidak mungkin meloloskan make up tebal dengan foundation.
"Foundation.?" Dahi Irene sampai berkerut. Benar saja wanita itu langsung keheranan saat Nisa mencari foundation.
"Sudah aku bilang, tidak usah di tutupi." Andreas tiba-tiba datang, berdiri di samping Nisa dan menyingkirkan perlahan tangan Nisa yang tengah menutupi bekas kemerahan itu.
"Andreas,!" Pekik Nisa dengan menahan malu. Dia ingin menutupi lehernya tapi kesulitan karna Andreas memegang satu tangannya, sedangkan satu tangannya lagi dia gunakan untuk memegang baju.
"Ya ampun, gara-gara itu ternyata,," Ucap Irene sembari menahan senyum.
"Nisa malu, takut kamu dan Mama akan meledeknya kalau melihat ada bekas kecupan di lehernya,," Tutur Andreas. Dia berbicara dengan santai, membeberkan tentang bekas kemerahan itu pada Irene secara terang-terangan. Dan hal itu membuat wajah Nisa memerah karna malu pada Irene yang terus mengulum senyum menatapnya. Sampai Nisa terpaksa menundukkan wajah.
"Tanda kepemilikan itu hal yang wajar untuk pasangan suami istri, apa lagi yang baru menikah. Bukan begitu Devan.?" Andreas menekankan kalimat terakhir, sembari menatap Devan yang sejak tadi berdiri di belakang Irene dan tengah memperhatikan leher Nisa.
Andreas mengulas senyum yang justru membuat Devan mengepalkan kedua tangannya.
Mendengar Andreas menyebut nama Devan, Nisa mengangkat wajahnya untuk menatap Devan, begitu juga dengan Irene yang segera menoleh kebelakang.
"Sayang,, kamu sudah bangun,,” Kedua sudut bibir Irene mengembang sempurna. Dia selalu menatap Devan dengan raut wajah berbinar. Seolah menunjukkan cinta yang begitu besar untuk sosok suaminya itu.
"Kau sudah menyiapkan air untuk mandi dan baju ganti. Aku mau yoga dulu sama Nisa dan Mama,," Tuturnya.
Devan tak memberikan respon apapun selain anggukan kecil, lalu beranjak masuk ke dalam kamar lagi.
Nisa yang melihat Devan sangat acuh pada Irene, hanya bisa diam dengan segala pikiran yang berkecamuk tentang seperti apa hubungan mereka yang sebenar.
"Jadi bagaimana, tetap mau pakai foundation.?" Kata Irene. Dia kembali mengulum senyum pada Nisa. Wanita itu seolah tak ambil hati dengan sikap acuh Devan padanya dan langsung melupakannya begitu saja. Padahal sempat menatap sendu saat Devan kembali masuk ke kamar tampan mengatakan apapun.
"Tidak usah, lagipula semuanya sudah lihat. Jadi untuk apa di tutupi." Andreas yang menjawab pertanyaan Irene.
__ADS_1
"Kalaupun nanti Mama melihatnya, dia tidak akan menanyakan apapun padamu." Kali ini Andreas menatap Nisa dan meyakinkan istrinya itu.
"Sekalipun Mama tidak bertanya apapun, tetap saja aku malu." Protes Nisa.
"Aku mau pakai foundation saja kak,," Kata Nisa pada Irene.
Irene mengangguk dan masuk ke dalam kamar untuk mengambilkan foundation miliknya.
"Sini biar aku yang oleskan," Andreas mengambil foundation dari tangan Nisa dan membantu Nisa menutupi bekas kemerahan yang dibuat Andreas dengan penuh semangat.
"Harusnya aku membuat dua atau 3 sekaligus,," Goda Andreas dengan menahan senyum. Dia meledek Nisa karna sejak tadi Nisa memasang wajah cemberut padanya.
"Coba saja kalau berani.!" Ketusnya kesal.
Bibirnya semakin mencebik saja mendengar Andreas akan membuat tanda kepemilikan lagi dengan jumlah yang lebih banyak.
"Memangnya apa yang harus aku takutkan. Aku bebas membuatnya dimana saja, sebanyak yang aku mau," Jawab Andreas.
"Andreas kau ini benar-benar,,!!" Nisa hendak mencubit pinggang Andreas, tapi laki-laki itu menghindar.
"Awas saja, nanti malam aku,,
"Ekhemm,,,"
Suara deheman Devan membuat Nisa menghentikan ucapannya.
Devan tengah berdiri tak jauh dari Nisa dan Andreas. Laki-laki itu hendak turun ke lantai bawah tapi jalannya terhalang oleh Nisa dan Andreas.
"Nanti malam kamu mau apa.?" Tanya Andreas. Dia meraih pinggang Nisa dan membuat wanita itu sangat menempel padanya.
"Rahasia.!" Ketus Nisa. Dia mengambil Foundation dari tangan Andreas dan berlalu dari sana.
"Aku mau yoga dulu,," Ucapnya sembari berjalan menjauh.
Andreas mengulas senyum smirk setelah Nisa menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Apa rencanamu.!! Jangan libatkan Anisa, dia tidak tau apapun tentang permasalahan keluarga kita.!" Tegas Devan dengan tatapan tajam.
Sorot mata yang penuh kecurigaan dan amarah. Devan yakin kalau sebenarnya Andreas sudah tau tentang masa lalu Nisa.
Karna jika dia tidak tau apapun tentang Nisa, Pernikahan itu tak akan pernah terjadi.
Suara tawa Andreas terdengar sinis. Dia menyilangkan kedua tangan di dadanya dan berjalan menghampiri Devan.
"Libatkan Anisa.? Tau apa kamu tentang istriku.?" Sinis Andreas.
"Tidak usah pura-pura lagi.! Aku tau kamu ingin melibatkan Anisa untuk menghancurkanku."
"Lepaskan dia.! Jangan pernah berfikir untuk melukainya meski hanya seujung kukumu.!" Tegas Devan. Ada nada ancaman dan memohon. Walaupun Devan tidak bisa memperjuangkan Nisa, tapi dia tidak akan pernah membiarkan seseorang menyakitinya. Terutama Andreas. Devan tau betul kalau Andreas tak akan pernah berhenti sebelum tujuannya tercapai meski harus mengorbankan orang yang tidak bersalah.
"Apa aku tidak salah dengar.? Kau ingin aku melepaskan istriku.?" Andreas kembali terkekeh.
"Devan,, Devan,, kau pikir kau itu siapa.?!" Andreas menatap muak.
"Lagipula jika aku menyakiti Anisa, kau mau apa.?" Tentangnya.
"Mau membelanya atau membantunya lepas dariku dan menjadikan dia istri keduamu.?!" Nada bicara Andreas semakin meninggi.
"Kau.!!" Devan mencengkram kerah Andreas. Matanya semakin tajam menatap saudaranya itu.
"Jadi kamu memang sudah tau siapa Anisa.?!" Tanyanya.
Mendengar Andreas mengucapkan semua itu, membuat darahnya mendidih sekita.
"Aku pikir kamu joga bodoh dalam urusan percintaan." Cibir Andreas. Dia menepis kasar tangan Devan dan berbalik mencengkram kerah bajunya.
"Kau sendiri yang tidak mau memperjuangkannya dan melepas istrimu. Kita lihat seberapa hebat kamu menghentikan semua ini.!" Bisiknya penuh penekan. Andreas melepaskan kasar cengkramannya dan pergi begitu saja dari hadapan Devan.
Kedua tangan Devan mengepal kuat. Dia bukan hanya marah pada Andreas, tapi juga marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mempertahankan Nisa di sisinya 2 tahun silam.
Bugghhh.!!!
__ADS_1
Devan mengarahkan tinjuan pada dinding di sampingnya, membuat jari-jari tangannya mengelupas dan terluka.