Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 126


__ADS_3

Andreas menggandeng putranya ke ruang makan. Dia sudah selesai memandikan dan memakaikan baju untuk Kenzie.


Jagoan kecilnya itu sangat penurut dan tidak ada kendala untuk mengurusnya karna Kenzie bukan tipe anak yang rewel.


"Anak Momi sudah rapi, tampan sekali,," Pujian Nisa menyambut kedatangan dua laki-laki itu.


"Tampan sepeti Papi ya Momi,,?" Tanya Zie dengan ekspresi wajah polosnya. Nisa sontak langsung melirik Andreas yang berdiri di samping putranya. Dia sangat yakin Kenzie bisa bicara seperti itu pasti karna Andreas. Dan terbukti Andreas mengukir senyum tipis saat di tatap penuh selidik oleh Nisa.


"Iya sayang, kamu seperti Papi." Jawab Nisa pada akhirnya. Lagipula memang kenyataannya seperti itu. Bisa dibilang mereka berdua ibarat pinang di belah dua tapi tidak sama besarnya. Zie bagian yang kecil dan Andreas yang besar.


Mungkin wajah Zie akan semakin mirip dengan Andreas saat dia beranjak dewasa.


"Sini duduk, Zie harus sarapan dan minum obat." Nisa menghampiri putranya, menggendong dan mendudukkannya di kursi khusus milik Kenzie.


Nisa kemudian mengambilkan makanan ke piring Kenzie, tapi sebelum menyuapi putranya itu, dia menyuruh Kenzie untuk meminum susu lebih dulu.


"Jangan berdiri saja Ndre,, kamu juga harus makan dan minum obat." Tegur Nisa tanpa menatap Andreas, tapi dia tau kalau Andreas masih diam di tempat sejak tadi karna tak kunjung bergabung di meja makan.


Senyum bahagia terbit di bibir Andreas. Rasanya dia ingin menangis terharu saat ini.


Walaupun terdengar acuh, tapi Andreas merasa Nisa sedang memberikan perhatian untuknya.


Sungguh dia merindukan saat-saat seperti ini sejak 3 tahun yang lalu. Rindu dengan perhatian-perhatian kecil dari Nisa.


3 tahun hidup sendiri dalam kehampaan dan rasa bersalah, semua harta yang dia miliki tak berarti apapun. karna tak mampu memberinya kebahagiaan walau seujung kuku.


Hidup tanpa tujuan, namun harus tetap bekerja keras untuk bertahan hidup.


Belum lagi gosip yang beredar selama hampir 3 tahun, banyak karyawan dan rekan bisnisnya mengira dirinya penyuka sesama jenis karna tak tertarik dengan wanita manapun.


Hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu bahwa dia sangat mencintai seorang wanita yang fotonya selalu terpajang di meja kerjanya.


"Apa kamu tidak sibuk hari ini.?" Tanya Nisa saat Andreas baru selesai menghabiskan makanannya.


"Tidak,, pekerjaanku sudah selesai kemarin." Jawab Andreas.


"Kenapa.? Apa kamu butuh bantuan.?" Dengan penuh perhatian, Andreas menawarkan diri untuk membantu Nisa seandainya Nisa memang sedang butuh bantuan.


"Sepertinya hari ini aku pulang terlambat,"

__ADS_1


"Tolong jaga Kenzie dulu sampai aku pulang. Kalau butuh sesuatu, kamu bisa minta bantuan Tiara." Tuturnya.


Mengingat Andreas yang entah kapan akan meninggalkan rumahnya, Nisa jadi berfikir untuk menitipkan Kenzie pada Andreas meski di rumah juga ada Tiara. Dia tidak enak menitipkan pada Tiara, sedangkan ada Papi Kenzie disini.


"Kenzie juga putraku, tanpa kamu meminta tolong sekalipun, aku pasti akan menjaga putraku." Jawab Andreas lirih. Dari raut wajahnya tampak menahan kekecewaan.


"Ndree,, bukan begitu maksudku." Nisa menghela nafas berat. Entah bagaimana caranya dia bicara dengan Andreas agar laki-laki itu tidak terbawa perasaan. Nisa mengakui Andreas yang sekarang dan dulu sangat jauh berbeda. Dulu Andreas sangat tegar dan terlihat kuat. Dia bahkan bisa menerima perlakuan yang berbeda dari Papa Chandra. Tapi kini laki-laki itu terlihat sangat rapuh, mudah meneteskan air mata dan mudah tersinggung.


“Kita bicara lain kali saja. Ada Kenzie, aku juga harus berangkat sekarang." Nisa beranjak dari duduknya dan pamit pada Kenzie seperti biasa.


"Momi kerja dulu ya. Ingat Zie tidak boleh apa.?" Ucap Nisa seraya menangkup pipi Kenzie.


"Tidak boleh nakal, tidak boleh nangis, halus nulut," Jawab Zie dengan cepat dan lantang.


Nisa tersenyum haru, kata-kata yang selalu dia ucapkan sejak Zie masih bayi ternyata sangat efektif. Terbukti sejak dulu Zie tak pernah rewel ataupun membuat ulah setiap kali di tinggal kerja.


"Pinternya anak Momi." Sebuah kecupan penuh cinta mendarat di kening Kenzie.


Nisa bersyukur memiliki putra seperti Kenzie yang sejak dulu bisa mengerti kondisinya.


Dalam menjalani kehidupannya yang menyakitkan dan berat, Kenzie tak pernah menambah masalah sedikitpun dalam hidupnya. Putranya itu benar-benar menjadi lentera, penerang dalam kegelapan hidupnya.


"Byee sayang,,," Seru Nisa pada Zie.


"Hati-hati,,," Ucap Andreas yang langsung di jawab anggukan oleh Nisa.


...*****...


Tiara baru selesai membereskan meja makan dan mencuci piring.


Pekerjaan pagi ini lebih santai karna Kenzie di jaga penuh oleh Andreas sejak bangun tidur sampai selesai sarapan. Saat ini Andreas bahkan sedang mengajak Kenzie bermain di taman dekat rumah.


Suara belum membuat Tiara beranjak dari dapur. Dia buru-buru membukakan pintu. Senyumnya tanpa sadar merekah, menatap laki-laki tampan yang pagi-pagi sudah berdiri di hadapannya.


"Pak Andreas sedang di taman bersama Kenzie." Ujar Tiara. Padahal Aditya juga belum mengatakan apapun.


"Hmm,, tidak masalah. Aku hanya ingin mengantarkan baju ganti miliknya." Aditya mengangkat tas yang ada di tangannya untuk menunjukkannya pada Tiara.


“Taruh saja di dalam." Tiara memberikan jalan pada Aditya untuk masuk ke dalam rumah, tak lupa membuka pintu selebar-lebarnya karna tidak mau ada kesalahpahaman. Apalagi di dalam rumah hanya ada dia saja. Aldo ada di depan karna harus berjaga.

__ADS_1


Mengangguk kecil, Aditya kemudian masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu tampa di suruh.


"Sebentar, aku buatkan minum dulu." Mengukir senyum tipis, Tiara berjalan cepat ke arah dapur untuk membuatkan minuman.


Dia terlihat buru-buru, tapi sebenarnya sedang menghindar agar tak terlalu lama berada di dekat Aditya karna jantungnya tak bisa di ajak kerja sama.


"Tiara,, bagaimana bisa kamu mencintai orang asing sampai seperti ini." Lirihnya menegur diri sendiri karna tak bisa menguasai perasaannya.


Padahal dia baru bertemu dengan Aditya kurang dari seminggu, tapi entah kenapa hatinya berkata ingin memilikinya.


Dia merasa sudah gila dalam mencintai seseorang. Karna sebelumnya dia tak pernah seperti ini.


Bahkan harapannya bersama dengan cinta pertamanya saja tidak terlalu menggebu.


"Jangan terlalu banyak gulanya,," Suara berat Aditya membuat Tiara tersentak kaget. Dia hampir menjatuhkan cangkir ke lantai, beruntung Aditya bisa menangkapnya.


"Ma,maaf aa,,aaku tidak sengaja." Ucap Tiara gugup.


"Kakak mengagetkanku,," Katanya sembari bergeser untuk menjaga jarak dengan Aditya karna terlalu dekat.


"Makanya jangan melamun." Tegur Aditya datar. Dia meletakkan cangkir di itu di depan Tiara.


Tak mau terlihat lebih gugup, Tiara langsung menuang gula ke dalam cangkir dan meletakkan teh juga di sana.


"Apa kamu sudah punya pacar.?"


"Uhhuukk,,, uhhukkk,,"


Pertanyaan Aditya membuat Tiara tersedak ludahnya sendiri. Ada angin apa manusia datar itu tiba-tiba menanyakan hal yang bersifat pribadi seperti itu.


Mungkinkah diam-diam Aditya juga menyukainya.?


Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak Tiara, namun segera di tepis karna tak mau berkhayal terlalu tinggi.


...****...


"Meluluhkan Hati CEO Kejam" Jangan lupa mampir ya☺ baca cuplikan babnya di bawah 👇


__ADS_1


__ADS_2