
Suara dering ponsel milik Devan memecah keheningan di ruangan kerja Andreas.
Nisa yang tengah menunggu jawaban dari Andreas, sempat beralih melirik Devan yang tengah mengangkat telfon.
"Apa.?!!" Seru Devan panik begitu mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
Nisa dan Andreas reflek menatap, keduanya terlihat sedikit penasaran dengan apa yang di
katakan oleh seseorang di seberang sana sampai membuat Devan terlihat sangat panik.
"Tolong tenangkan Mama, aku akan segera ke sana." Devan kemudian mematikan sambungan telfonnya, memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celana.
Ekspresi panik dan sedu yang sempat terlihat, kini berubah mengerikan saat menatap Andreas dengan tajam.
Bughhh.!!!
Sebuah tinjuan kuat mendarat di perut Andreas. Laki-laki yang hampir pergi dari ruangnya sendiri, kini terjatuh di lantai.
"Anak sialan,,!! Kamu memang membawa sial di keluarga kami.!!" Teriak Devan seraya berjongkok dan mencekik leher Andreas.
"Hentikan Devan.! Aku mohon hentikan,,!" Tangis Nisa pecah. Dia tidak tega melihat Andreas tidak bisa bernafas akibat di cekik oleh Devan.
"Kamu bisa membunuhnya,,!" Nisa berusaha menarik kedua tangan Devan.
"Aku memang ingin membunuhnya.!! Dia anak pembawa sial.! Seharusnya Papa tidak perlu merawatnya karna dia tumbuh menjadi seorang iblis.!!" Geramnya seraya melepaskan cekikan di leher Andreas. Kalau bukan karna Nisa, mungkin saat ini dia sudah menghabisi nyawa Andreas. Tidak peduli meski harus mendekam di penjara.
Andreas terkekeh. Dia masih sempat menertawakan Devan meski kondisinya terlihat mengenaskan setelah di cekik dan mendapatkan pukulan berulang kali dari Devan.
"Papamu memang bodoh. Seharusnya dia melenyapkanku sebelum aku lahir, karna aku juga tidak sudi menjadi anaknya.!" Ujar Andreas sinis.
Kebenciannya pada Tuan Chandra terlalu besar, membuat Andreas benci pada dirinya sendiri karna di dalam tubuhnya mengalir darah dari seorang Chandratama.
Devan meraih vas bunga di atas meja, dia hendak memecahkan vas bunga itu di kepala Andreas, namun lagi-lagi Nisa menahannya.
"Cukup Devan.! Sebaiknya kamu pergi." Nisa merebut vas bunga itu dari tangan Devan.
"Apa kamu tau apa yang sudah di lakukan oleh Andreas.?!"
"Papa kritis setelah mengetahui siapa yang telah menghancurkan perusahaannya.!" Geram Devan penuh amarah. Dia kemudian pergi begitu saja, pergi dengan buru-buru karna saat ini jauh lebih penting menemui sang Papa dari bada harus berkelahi dengan manusia tak berperasaan seperti Andreas.
__ADS_1
Hening, beberapa saat keduanya hanya saling menatap setelah Devan keluar dari ruangan itu.
Nisa menatap lekat kedua mata Andreas, mencari cinta yang selalu dia lihat setiap harinya.
Masih ada, sorot mata itu belum hilang. Ada cinta di mata Andreas saat menatapnya. Tapi kenapa Andreas bisa menantang perasaannya sendiri.?
Andreas terlihat menarik nafas dalam. Dia kemudian beranjak dari hadapan Nisa tanpa kata.
Ingin meninggalkan Nisa begitu saja di ruangannya.
"Apa pernikahan kita tidak berarti sedikitpun untukmu.?" Suara tegas Nisa menghentikan langkah tegap Andreas.
"4 bulan Andreas, 4 bulan kita bersama. Sedikitpun kamu tidak pernah menyakitiku. Bagaimana bisa sekarang kamu mengatakan menikahiku hanya untuk balas dendam pada Devan." Nisa meninggikan suaranya, dia ingin membuat Andreas sadar bahwa selama ini Andreas telah mencintainya.
"Sepertinya aku tidak perlu mempertegasnya lagi." Jawab Andreas datar. Dia berdiri membelakangi Nisa, tatapan dan ekspresi wajahnya tampak penuh beban.
"Jadi pernikahan kita tidak berarti untukmu.?!"
"Kalau begitu katakan bahwa kamu tidak menicntaiku.!" Seru Nisa. Dia ingin melihat bagaimana Andreas bisa mengatakan tidak mencintainya.
“Kamu menanyakan cinta pada orang yang salah Anissa." Jawab Andreas seraya mengukir senyum getir.
Dia ingat bagaimana Mama kandungnya sangat mencintai Papa Chandra. Cinta yang pada akhirnya berujung dengan kehancuran dirinya sendiri hingga kini membuatnya gila.
Tak peduli meski telah mendapatkan siksaan dari Papa Chandra, Mamanya tetap memohon atas nama cinta.
"Aku terlalu bodoh, seharusnya aku tidak perlu menanyakan cinta pada orang sepertimu." Nisa tersenyum getir. Tidak bisa di pungkiri dia sangat kecewa dan terluka atas sikap Andreas.
Kalau memang Andreas tidak mau mengakui perasaannya, Nisa akan merasakan kehamilannya pada Andreas. Biar saja Andreas tak pernah tau tentang darah dagingnya sendiri.
"Pergilah.! Pergi sajauh mungkin yang kamu bisa. Hilang dari kehidupanku dan jangan pernah kembali lagi.!" Seru Nisa. Air matanya kembali tumpah, suaranya begitu tercekat menahan sesak di dadanya.
Tidak perlu dia tanya lagi bagaimana perasaan Nisa saat ini. Hatinya hancur karna harus membiarkan orang yang dia cintai pergi dari hidupnya. Untuk kedua kalinya dia akan merasakan sakit yang sama.
"Aku memang akan pergi." Jawab Andreas kemudian kembali melangkahkan kakinya. Dia tau saat ini tangis Nisa pecah, tapi tak ada niatan untuk sedikitpun menatapnya.
"Tapi kamu tidak bisa pergi begitu saja sebelum menceraikanku.!!" Teriak Nisa. Suaranya menggema di ruangan itu, membuat langkah Andreas kembali berhenti tepat di depan pintu.
"Akhiri pernikahan kita sebelum kamu pergi. Jangan membuatku masih terikat hubungan denganmu karna itu akan membuatku sulit untuk menikah lagi.!" Nisa menekankan kalimatnya. Dia sengaja mengatan semua itu untuk mengetahui seprti apa reaksi Andreas setelah dia mengatakan akan menikah lagi nantinya.
__ADS_1
Andreas tak menjawab, dia justru membuka pintu dan pergi begitu saja dengan langkah cepat.
"Andreas.!! Berhenti.!!" Teriak Nisa yang setengah berlari mengejar Andreas.
"Kamu tidak boleh pergi sebelum menceraikanku.!!" Nisa menghentikan langkah saat melihat Andreas sudah memasuki lift.
Matanya saling beradu pandang dengan Andreas, keduanya hanya diam sampai akhirnya Andreas menghilang di balik pintu lift yang tertutup.
Mungkin itu akan menjadi pandangan terakhir bagi keduanya setelah berpisah.
"Kamu akan menyesalinya suatu hari nanti Andreas.!" Gumam Nisa penuh kekecewaan.
...*****...
"Kamu yakin akan pergi.?" Mella sudah menangis sejak 1 jam yang lalu.
Dia menayangkan sikap Nisa yang akan meninggalkannya seorang diri di kota besar ini.
"Bukankah Andreas sudah pergi dari kota ini.? Lalu kenapa kamu harus pergi juga.?" Mella masih berusaha membujuk Nisa agar tidak pergi.
Lagipula Nisa sedang hamil, siapa yang akan menjaganya jika dia pergi sendiri.
"Luka ini tidak akan sembuh jika aku masih berada disini." Jawab Nisa lirih.
Kota ini terlalu banyak memberikan luka padanya, mungkin Nisa ingin mencari suasana baru untuk melupakan apa sudah terjadi dalam hidupnya selama tinggal di Jakarta.
"Aku percayakan bisnis kita padamu."
"Jangan khawatir, kamu masih bisa menemuiku kan." Nisa memeluk Mella.
"Terimakasih sudah selalu ada untukku." Ucapnya seraya meneteskan air mata. Entah harus dengan cara apa Nisa berterimakasih atas kebaikan Mella padanya selama ini. Hanya Mella yang selalu ada di sampingnya hingga detik ini.
...****...
Bandara Internasional Yang Nadim.
Nisa menginjakkan kakinya di kota Batam. Dia memutuskan untuk pergi ke kota yang di juluki sebagai kota Industri lantaran ingin mengembangkan bisnisnya disana.
Kebetulan dia punya patner bisnis yang tinggal di kota ini.
__ADS_1
"Mama akan betahan demi kamu,," Ucap Nisa seraya mengusap perutnya.