Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 161


__ADS_3

"Kalian mau menikah.?!" Seru Pak Heru.


Setelah di kagetkan dengan kedatangan Tiara bersama pacarnya, kini Pak Heru semakin kaget begitu mendengar laki-laki berusia 27 tahun itu mengutarakan niatnya untuk menikahi Tiara.


"Tiara baru 20 tahun, masih terlalu muda untuk menjalani pernikahan." Tutur Pak Heru yang jelas menunjukkan ketidak setujuannya atas niat baik Aditya. Pasalnya putrinya masih terlalu muda. Belum lagi dengan Kakak Tiara yang bahkan belum ada tanda-tanda akan menikah. Jadi tidak mungkin Tiara harus melangkahi sang kakak untuk menikah lebih dulu.


"Tidak masalah kalau mereka berdua sudah serius Pah." Ucap Mama Amira. Wanita paruh baya itu tempak menerima keinginan anak sambungnya untuk menikah di usia muda.


"Pemikiran Tiata juga dewasa, Mama yakin pikirannya sudah cukup matang untuk menjalani pernikahan." Ujarnya seraya menatap pada Tiara.


"Benar kan nak.?" Tanyanya.


Mau tidak mau, Tiara harus menganggukkan kepala agar mendapatkan restu dari sang Ayah.


"Iya Mah,," Jawabnya lirih.


"Tapi Ayah tidak setuju. Paling tidak saat usia kamu sudah 22 tahun." Ucapnya penuh ketegasan.


Tiara dan Aditya lantas saling pandang. Tidak mungkin di tunda 2 tahun lagi, sedangkan mereka harus menikah secepatnya karna Nisa berfikir mereka sudah melakukan hubungan suami istri.


Kalau tidak jadi menikah, bisa-bisa Nisa akan mengatakan pada orang tua Tiara tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Tapi Ayah, aku sudah siap menikah." Tutur Tiara. Dia harus membujuk orang tuanya agar memberinya restu. Daripada Nisa yang harus turun tangan dan mengatakan aibnya pada sang Ayah. Selain malu, Tiara juga tidak mau mengecewakan dan membuat orang tuanya malu.


"Saya juga sudah sangat siap untuk membimbing dan menjaga Tiara." Sambung Aditya untuk meyakinkan calon mertuanya.


Sebenarnya bisa saja dia mengatakan pada Pak Heru tentang kejadian malam itu, tapi dia tidak mau membuat Tiara di cap buruk oleh orang tuanya sendiri.


"Selama ini Tiara sudah bekerja keras, saya ingin Tiara berhenti dari pekerjaannya." Ucap Aditya seraya melirik gadis yang tengah menatapnya itu.


"Kalau Tiara mau, dia juga bisa kuliah setelah menikah nanti."


Melihat keseriusan dan usaha mereka untuk meyakinkannya, Pak Haru tampak diam sembari mempertimbangkan permintaan mereka.


"Sudah Pah, restui saja mereka."


"Tidak baik kan menunda pernikahan kalau memang sudah ada jodohnya." Mama Amira mengusap pundak sang suami.


"Tapi bagaimana dengan Elena Mah.?" Pak Heru menatap cemas. Putri sambungnya itu pasti tidak akan terima kalau Tiara yang lebih dulu menikah.

__ADS_1


"Tidak usah memikirkan tentang Elena, Mama yang akan bicara padanya nanti." Ucapnya teduh.


"Lagipula dia sedang asik dengan pekerjaan barunya, pasti tidak akan mempersalahkan soal pernikahan Tiara."


Amira sadar kalau putri kandungnya tidak pernah suka dengan Tiara. Tapi mengingat Elena yang sedang bahagia akhir-akhir ini lantaran menjadi sekretaris di salah satu perusahaan, pasti Elena tak akan memusingkan soal dirinya yang harus di langkahi oleh Tiara.


"Baiklah,, Papa akan merestui kalian untuk menikah." Suara Pak Heru sedikit tercekat. Dia tidak menyangka jodoh putrinya akan datang secepat ini. Ternyata putri kecilnya sudah beranjak dewasa dan sudah memikirkan soal pernikahan dengan matang.


...****...


Senyum di bibir Kenzie merekah. Dia terus berbicara sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah dengan menggunakan mobil sport.


Meski duduk dalam pangkuan Nisa, Kenzie tidak bisa diam dan berusaha ingin menyentuh apapun yang ada di depannya.


Itu berlangganan selama 1 jam sejak mereka berkeliling kota Batam. Sampai akhirnya bocah tampan itu kelelahan dan tertidur dalam dekapan Nisa.


"Sepertinya dia sangat senang." Ujar Andreas seraya mengulurkan tangan untuk menyentuh kepala Kenzie dan mengusapnya lembut.


"Tentu saja. Memangnya siapa yang tidak senang menaiki mobil seperti ini." Sahut Nisa. Lagipula mobil yang mereka naiki itu memang keinginan Kenzie. Sudah pasti Kenzie sangat senang.


"Aku. Aku tidak senang menaiki mobil seperti ini karna lebih senang menaiki,,,


"Jangan membicarakan hal mesum terus.!" Nisa sedikit protes. Karna gara-gara kemesuman Andreas, dia jadi sering terbayang hal-hal yang berbau 21+.


Sekali Andreas berbicara anah, Nisa merasa otaknya langsung menangkap pada kegiatan percintaannya.


Andreas hanya terkekeh kecil mendengar Nisa protes.


Sampainya di rumah, dia memarkirkan mobilnya di garasi. Andreas keluar lebih dulu untuk menggendong Kenzie yang masih tertidur pulas.


"Sayang, tolong ambilkan ponselku. Tertinggal di dalam,," Pintar Andreas setelah memindahkan Kenzie ke dalam gendongannya.


Nisa yang masih duduk di dalam mobil, langsung mengambil ponsel milik Andreas.


Saat Nisa menyentuhnya, tiba-tiba layar ponsel itu menyala. Mata Nisa menyipit, menegaskan layar ponsel di tangannya yang memperlihatkan wallpaper dengan foto pernikahan dia dan Andreas lebih dari 3 tahun silam.


"Dia masih menyimpannya."


Nisa bergumam dalam hati. Sudut bibirnya sedikit terangkat, dia mengukir senyum sangat tipis saat mengetahui bahwa Andreas masih menyimpan foto pernikahan mereka di ponsel miliknya.

__ADS_1


Hal itu mengingatkan Nisa dengan semua foto-foto dirinya dan Andreas yang masih tersimpan di ponselnya namun sudah dia hapus setelah dipertemukan kembali dengan Andreas di Bandara. Nisa merasa kecewa dan sakit hati karna Andreas bersikap acuh seolah tidak mengenalnya dan bersedia menyetujui perceraian.


Nisa menghela nafas. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Andreas. Begitu besar cinta di hati Andreas untuknya sampai masih menyimpan foto pernikahan itu. Tapi malah memilih untuk melepaskannya waktu itu.


Hanya karna dendam, Andreas melukai hatinya sendiri. Dia yang menciptakan kehancuran dalam hidupnya.


Nisa menoleh, menatap Andreas yang tengah berjalan sembari menggendong Kenzie dan memberikan usapan lembut di kepala putranya yang masih terlelap itu.


Entah berapa besar luka yang Andreas rasakan selama ini. Sampai pria itu menjadi sangat rapuh.


Menutup pintu mobil, Nisa bergegas menyusul mereka masuk ke dalam rumah. Dia menyerahkan ponsel milik Andreas dan berpura-pura tidak mengetahui tentang foto wallpaper di ponsel itu.


"Kamu masih disini.?" Ujar Nisa saat melihat keberadaan Aditya di ruang tamu. Dia sedikit tak suka melihat Aditya masih berada di dalam rumahnya.


"Bukannya kamu bilang siang ini akan pindah ke hotel.?"


"Kenapa,,,


Ucapan Nisa terhenti saat Andreas menyentuh pelan pundaknya dan memberikan tatapan teduh.


"Sayang, sudah jangan seperti itu padanya." Tegur Andreas lembut. Tentu saja dia akan melindungi Aditya dari omelan Nisa. Bukan karna Aditya asisten pribadinya, melainkan karna semua permasalahan yang terjadi pada Aditya dan Tiara akibat kecerobohannya yang meninggalkan minuman itu sembarangan.


"Sekalipun Aditya masih di sini, dia tidak akan berani berbuat macam-macam lagi." Ucapnya yakin. Andreas percaya kalau Aditya akan berfikir ribuan kali untuk berbuat macam-macam di rumah ini. Karna tragedi malam itu terjadi bukan karna kehendaknya.


Bahkan jika dia berada di posisi Aditya sebagai laki-laki lajang, sudah pasti tak akan menyia-nyiakan kesempatan kalau ada wanita yang menmpel padanya karna pengaruh obat.


"Kamu membelanya karna dia asistenmu."


"Pokoknya aku tidak mau Aditya di sini lagi." Ketusnya.


"Maaf Nona, saya hanya mengantar Tiara pulang karna kami baru saja ke rumahnya." Tutur Aditya.


"Saya akan kembali ke hotel sekarang." Aditya beranjak dari duduknya. Dia mengambil koper yang sejak tadi ada di sisi sofa.


Nisa memilih berlalu. Andreas memberikan kode pada Aditya agar segera pergi, kemudian pria itu bergegas menyusul istrinya ke kamar.


"Maaf Kak, semua ini salahku." Ucap Tiara sendu. Padahal dia yang sudah memancing Aditya dengan menciumnya lebih dulu. Tapi Aditya pasang badan untuknya hingga akhirnya membuat Nisa kesal pada Aditya saja.


"Tidak apa. Aku pergi dulu." Aditya mengusap lembut pucuk kepala Tiara sebelum keluar dari rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2