Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 41


__ADS_3

Malam itu, suasana kamar dengan lampu temaram menjadi saksi bisu penyatuan dua insan yang sudah menyandang gelar sebagai suami istri.


Untuk kedua kalinya, namun pertama kali ya setelah mereka menikah, mereka melakukan tugasnya masing-masing sebagai bentuk tanggungjawab dan kewajiban.


Andreas masih menggerakkan pinggangnya perlahan. Menahan diri untuk tidak buru-buru ataupun membuat gerakan yang dapat menyakiti Nisa.


Pelan namun pasti, Andreas memberikan kesan yang baik untuk penyatuan kedua mereka.


Dia menepati janji untuk hati-hati dan melakukannya dengan perlahan, membuat Nisa tak merasakan takut atupun sakit yang berlebihan seperti malam itu.


Keringat sudah bercucuran. Membasahi tubuh kekar Andreas. Begitu juga dengan Nisa yang sudah di penuh keringat di bagian pelipisnya.


Suhu dingin di dalam kamar seolah tak mampu menetralkan permainan yang semakin panas.


Sesekali Andreas mendekap tubuh Nisa dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Tentu sambil memberikan kepuasan pada Nisa.


Permainan mendebarkan itu di akhiri oleh suara erangan yang tertahan dari bibir keduanya.


Andreas menyingkir dari atas tubuh Nisa. Mengambil tisu dari atas nakas dan membersihkan cairan miliknya yang ada di atas tubuh Nisa.


Andreas tak membuang benihnya di dalam rahim Nisa.


"Andreas,,," Nisa menahan tangan laki-laki itu. Tak membiarkan Andreas beranjak dari ranjang.


"Kamu nggak mau aku hamil.?" Nisa menatap intens kedua manik mata Andreas.


Dia tentu tau apa yang dilakukan oleh Andreas untuk menghindar kehamilan. Karna Andreas tak mengeluarkannya di dalam.


"Menjadi orang tua bukan hal mudah. Banyak hal yang harus aku perbaiki agar bisa menjadi orang tua yang baik."


"Adil dalam membagi perhatian dan kasih sayang pada anak-anak kelak." Andreas menjawab dengan raut wajah serius. Jawaban yang dia berikan seolah mengarah pada Tuan Chandra yang menurutnya gagal menjadi orang tua, bahkan jauh dari kata orang tua yang baik.


"Kita akan membahas lagi saat aku sudah siap." Ujarnya lembut. Andreas menutupi tubuh Nisa dengan selimut, lalu mendaratkan kecupan di keningnya.


"Aku ke kamar mandi sebentar." Pamitnya kemudian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Nisa menatap datar kepergian Andreas. Dia tidak mempermasalahkan Andreas yang ingin menunda memiliki anak. Lagipula Nisa sendiri tak pernah berfikir untuk memiliki anak dari Andreas.


Dia menanyakan hal itu hanya untuk memastikan seperti apa perasaan Andreas yang sebenarnya.


Andreas sudah kembali dari kamar mandi. Dia juga sudah berbaring di samping Nisa sambil mendekapnya.


"Aku hanya butuh waktu untuk belajar menjadi ayah yang baik. Agar kelak anak-anak tidak merasakan apa yang aku rasakan." Lirih Andreas.


Ada nada penekanan di akhir kalimat dengan suara yang tercekat. Sepertinya perlakuan tidak adil dari sang Papa telah menimbulkan dampak buruk yang besar untuk hati dan psikisnya.


Mungkin terlalu menyakitkan bagi Andreas mendapatkan perlakuan buruk dari Tuan Chandra.


Nisa menatap lekat Andreas. Dia bisa memahami ketakutan dalam diri Andreas untuk menjadi seorang Ayah. Pasti Andreas tidak mau mengalami kegagalan dalam menjadi Ayah yang seharusnya bisa mencurahkan kasih sayang serta melindungi anak-anaknya.


"Aku mengerti, kita akan sama-sama belajar agar nantinya bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak." Ucap Nisa.


Dia mengulas senyum tipis pada Andreas, yang hanya di tanggapi tatapan dalam oleh laki-laki itu.


Tatapan yang entah apa artinya.


...****...


Irene dan Mama mertuanya pasti sudah menunggu. Semalam mereka sudah membuat jadwal untuk melakukan yoga bersama pukul 7.


"Andreas, aku harus turun,," Lirih Nisa lagi. Kali ini dia mencoba menggoncang lengan Andreas agar suaminya itu membuka mata.


"Eemm,,, Aku masih ngantuk Anisa. Tidur lagi saja." Andreas menjawab tanpa membuka matanya. Dia malah semakin mengeratkan pelukan di pinggang Nisa.


"Kamu boleh tidur lagi, tapi aku harus bangun sekarang. Kak Irene dan Mama pasti sudah menungguku." Ucapnya sedikit panik. Dia tidak mau membuat Kakak ipar dan Mama mertuanya menunggu terlalu lama.


“Irene dan Mama.? Memangnya kalian mau kemana.?" Kali ini Andreas langsung menatap Nisa dengan kedua mata yang terbuka lebar. Pelukan di tubuh Nisa juga mengendur hingga Nisa bisa bergeser dan bangun dari ranjang.


"Mereka mengajakku yoga bersama." Jawab Nisa. Dia berjalan dengan hati-hati untuk pergi ke kamar mandi. Melihat Nisa yang kesulitan berjalan, Andreas dengan sigap menghampiri dan mengangkat tubuhnya.


"Andreas kamu,,!!" Pekik Nisa kaget. Dia langsung berpegangan erat pada pundak Andreas.

__ADS_1


"Malam itu pasti kamu sangat kesakitan. Aku minta maaf." Lirih Andreas tanpa berani menatap wajah Nisa


"Nggak perlu di bahas lagi." Nisa tidak mau membicarakan hal itu lagi karna hanya menimbulkan ketakutan dan trauma.


"Turunkan disini saja." Nisa meminta agar Andreas menurunkannya di depan pintu kamar mandi, tapi Andreas justru membawanya masuk ke kamar mandi.


"Aku juga mau mandi." Kata Andreas.


Mendengar hal itu, Nisa langsung membulatkan kedua matanya. Dia tidak siap jika mandi berdua dengan Andreas. Meskipun rasa takutnya sudah berkurang saat melakukan kontak fisik.


"Gantian saja Andreas, aku nggak,,,


"Sepertinya mandi berdua lebih menyenangkan." Andreas langsung melepaskan kain yang melekat di tubuhnya. Setelah itu membatu melepaskan kain tipis di tubuh Nisa.


Sekalipun Nisa terus menolak, dia tetap tak bisa keluar dari kamar mandi itu lantaran Andreas terus menahannya.


Nyatanya mereka tak hanya mandi saja, tapi mengulangi percintaan seperti tadi malam.


...****...


"Andreas.!!" Pekik Nisa. Dia syok melihat warna kemerahan di lehernya. Tentu warna kemerahan itu tanda kepemilikan yang baru saja di buat oleh Andreas saat berada di kamar mandi.


"Ada apa.?" Dengan tenangnya Andreas menghampiri dan bertanya. Padahal dia melihat kalau Nisa sedang memperhatikan lehernya dari pantulan cermin.


"Ya ampun Andreas,, aku harus bagaimana.? Mereka akan melihat leherku seperti ini. Mau di taruh dimana mukaku.?!" Kesal Nisa dengan tatapan frustasi.


"Kenapa harus bingung.? Itu hal wajar bagi pasangan pengantin baru. Mereka akan mengerti. dan tidak akan terang-terangan menanyakannya padamu. Jadi santai saja,," Jawab Andreas.


Nisa malah semakin kesal dengan jawaban Andreas yang tidak memberikan solusi.


"Foundation,, aku harus minta foundation pada Kak Irene,," Nisa langsung beranjak dari meja rias dan buru-buru keluar kamar.


Tentu sembari menutupi tanda kepemilikan itu dengan tangannya.


Sementara itu, Andreas hanya mengulas senyum tipis melihat Nisa yang panik dan buru-buru keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2