Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 167


__ADS_3

"Jangan melamun. Tiara tidak akan kemana-mana." Tegur Andreas kecut. Dia menyikut lengan Aditya yang sedang duduk di sampingnya.


Saat ini mereka sedang berada di restoran bandara untuk makan malam setelah transit, dan akan melanjutkan perjalanan ke Amerika 3 jam lagi.


"Saya tidak memikirkannya." Jawab Aditya. Dia memilih menyeruput coffee latte miliknya.


"Cihh,,," Sinis Andreas tak percaya. Aditya pikir dia bisa di bohongi soal cinta.


Tentu saja Andreas bisa membedakan lamunan orang yang memikirkan seseorang, dengan lamunan hal lain.


Aditya melirik kesal, namun dia tak menggubris decitan sinis Andreas padanya.


"Mau itu Papi,," Kenzie menunjuk coffee latte milik Andreas yang masih utuh.


"Mau ini.?" Ucap Andreas seraya mengambil kopi dalam cangkir itu dan mendekatkannya pada Kenzie.


"Andreas,, kamu mau memberikan kopi pada Zie.?!" Tegur Nisa. Dia yang sedang membalas pesan dari sekretarisnya sampai melotot melihat Andreas menyodorkan cangkir berisi kopi pada Kenzie.


"Kenzie minta. Hanya sedikit saja." Jawab Andreas.


Nisa menggelengkan kepala.


"Tidak Ndre. Aku belum membolehkan Kenzie minum kopi dan minuman lainnya." Ucap Nisa tegas. Walaupun mungkin di luaran sana ada beberapa ibu yang memberikan kopi ataupun minuman lain pada balitanya, tapi Nisa tidak akan memberikan Kenzie minuman seperti itu. Paling tidak sampai usia Kenzie di atas 4 tahun.


"Tapi sayang, kasian Kenzie nanti menangis." Ujar Andreas seraya menatap Kenzie. Putranya itu masih memandangi kopi di tangannya dengan tatapan berbinar.


"Ndre,, tidak bagus memberikan kopi pada anak kecil." Tutur Nisa pelan.


"Lebih baik Kenzie menangis dari pada harus minum kopi."


"Kandungan kafeinnya tidak bagus untuk anak-anak." Ucap Nisa memberi tau.


"Benarkah.?" Tanya Andreas yang langsung meletakkan kembali cangkir itu di atas meja.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Nisa, Andreas jadi enggan memberikan kopi pada Kenzie.


"Browsing saja kalau tidak percaya." Jawab Nisa.


Andreas segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Nisa. Padahal dia juga sudah tau kalau kopi mengandung kafein tinggi dan tidak bagus untuk kesehatan jika terlalu sering mengkonsumsinya. Tapi tiba-tiba Andreas mendadak lupa.


"Aku pikir kamu cukup pintar Ndre, tapi begitu saja tidak paham." Cibir Nisa sembari menggulingkan kepala. Dia tampak mengulum senyum melihat Andreas fokus pada ponselnya untuk mencari informasi.

__ADS_1


"Tuan Andreas memang tidak sepintar yang orang lain pikiran," Timpal Aditya. Rupanya sejak tadi dia sudah gerah ingin mengomentari kebodohan Andreas soal kopi. Dia bahkan tak habis pikir saat melihat Andreas akan meminumkan kopi pada Kenzie.


"Ditya.! Jangan sampai kamu jadi gelandang karna meledekku.!" Ketus Andreas. Nyali Aditya seketika menciut. Dia tidak berani berkata-kata lagi pada bosnya itu.


"Itu Papi, minum." Seru Kenzie yang masih saja menunjuk kopi.


"Zie minum ini saja." Andreas menyodorkan air mineral. Tentu saja Kenzie tidak mau dan semakin merengek.


"Sini biar aku ajak berkeliling. Kamu habiskan saja makanannya." Ucap Nisa seraya menggendong Kenzie dan membawanya menjauh dari meja makan itu.


Nisa mengalihkan perhatian Kenzie dengan hal lain agar berhenti merengek meminta kopi.


Andreas sempat menatap mereka, dia mengukir senyum melihat bagaimana pola asuh Nisa yang menerapkan ketegasan pada Kenzie. Sekali bilang tidak, maka Nisa tidak akan memberikannya walaupun Kenzie menangis.


Andreas kemudian menghabiskan makanannya agar bisa gantian menggendong Kenzie.


Tapi begitu selesai makan, dia tidak mendapati Nisa berada di area restoran itu.


Andreas memilih untuk mengirimkan pesan pada Nisa dan menunggu mereka datang.


"Setelah menikah nanti, kamu harus menetap di Amerika."


Bukan tanpa alasan Andreas meminta Aditya untuk menetap di sana. Selain Aditya harus memimpin perusahaannya sendiri, Andreas juga ingin meminta bantuan Aditya agar mengurus perusahaan pusat, karna dia harus menetap di Batam untuk menemani Nisa dan Kenzie.


Aditya langsung menoleh. Sebenarnya dia sudah tau kalau harus menetap di Amerika karna perusahaan yang diberikan Andreas ada di sana. Dia bahkan sudah yakin untuk menetap di Amerika. Tapi kali ini situasinya sudah berbeda. 1 bulan lagi dia akan menikah, yang artinya dia harus memikirkan pasangannya. Entah bagaimana dia akan mengatakan pada Tiara jika setelah menikah mereka harus menetap di Amerika. Tak hanya itu saja, pasti akan sulit meminta ijin pada orang tua Tiara untuk membawa putri mereka ke negara orang lain yang jaraknya sangat jauh.


"Kenapa.? Kamu takut Tiara tidak mau ikut ke Amerika.?" Tebak Andreas setelah melihat kebingungan di wajah Aditya. Asisten pribadinya itu bahkan diam saja sejak tadi. Seolah berat untuk mengiyakan ucapan.


Aditya memilih jujur dengan menganggukan kepala. Aditya yakin hal ini akan menjadi pertimbangan yang berat untuk Tiara. Selain memikirkan keluarganya, Tiara pasti memiliki ketakutan tersendiri untuk ikut dengannya menetap di luar negeri. Pasalnya mereka belum terlalu mengenal satu sama lain.


"Biar aku yang meyakinkan Tiara ataupun keluarganya nanti." Ucap Andreas. Dia merasa punya tanggungjawab penuh atas kehidupan Aditya. Pria itu ingin memastikan Aditya menjalani kehidupan dengan baik setelah menikah tanpa ada kendala apapun.


"Terimakasih Tuan." Ucap Aditya tulus.


"Tidak perlu berterimakasih, aku justru banyak berhutang budi padamu."


"Kamu sudah setia bekerja denganku dan mengerti kondisiku dengan baik sampai aku bisa bertahan sejauh ini." Tutur Andreas.


Aditya sangat berjasa untuk hidup Andreas. Tak hanya waktu dan juga pikiran yang dia curahkan untuk bekerja dengannya, tapi Aditya juga memainkan perasaannya. Andreas bisa merasakan ketulusan dalam diri Aditya selama ini.


Asistennya itu juga selalu mengingatkannya meminum obat serta menjalani terapi.

__ADS_1


...******...


Setelah menempuh perjalanan lebih dari 1 hari, mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen Andreas. Terkecuali Aditya, dia pulang terpisah karna langsung menuju apartemennya yang berbeda gedung dengan Andreas.


"Zie mau tidul Papi,," Rengek Kenzie. Sejak tadi bocah itu memang tampak gelisah. Dia tidak bisa duduk tenang di pangkuan Andreas. Sesekali menguap dan mengusap matanya.


Kenzie terlihat kelelahan karna baru pertama kali melakukan perjalanan jauh. Bocah itu ingin istirahat dengan nyaman di kasur empuk.


Meski sempat tidur di pesawat, tapi tidur di pesawat tentu tidak senyaman saat tidur di kasur.


"Sebentar lagi kita sampai di rumah Papi. Sekarang Zie tidur seperti ini dulu ya." Kata Andreas sembari mendekap tubuh Kenzie dan meletakkan kepala Kenzie di dada bidangnya.


"Apa masih lama.?" Tanya Nisa. Dia jadi ikut gelisah karna kasihan melihat Kenzie yang sudah tidak nyaman di perjalanan.


Kenzie bahkan sempat menangis di pesawat. Untung saja Andreas mengambil first class, jadi tangisan Kenzie tidak menganggu penumpang lainnya.


"10 menit lagi." Jawab Andreas.


Tak berselang lama mobil pribadi milik Andreas memasuki gedung mewah yang menjulang tinggi dan luas.


Nisa bahkan terkejut saat mengetahui nama apartemen tersebut. Apartemen yang di gadang-gadang sebagai apartemen termahal di Amerika.


Dengan harga ratusan milyar bahkan ada yang menembus angka 1 triliun hanya untuk 1 unik Apartemen. Tapi tentu saja dengan bangunan yang sangat luas.


Wanita cantik itu melirik Andreas, dia semakin penasaran dengan harta kekayaan yang di miliki oleh suaminya itu. Bahkan sejauh ini, Nisa belum tau perusahaan seperti apa yang di miliki Andreas.


Sepertinya dia akan di buat terkejut lagi jika melihat perusahaan Andreas di sini.


"Bawakan semua kopernya ke atas." Perintah Andreas pada supir pribadinya sebelum dia keluar dari mobil.


"Baik Tuan." Jawabnya yang bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuk majikannya.


"Jadi kamu tinggal di sini.?" Tanya Nisa. Dia mengekori Andreas di belakang.


Pria itu berjalan santai sembari menggendong Kenzie yang terlelap.


"Baru 1 tahun terakhir aku menempati apartemen ini." Jawab Andreas. Dia baru bisa membeli Apartemen itu sejak 1 tahun terakhir. Dan apartemen lamanya dia berikan pada Aditya.


"Sebenarnya perusahaan seperti apa yang kamu miliki.?" Tanya Nisa penasaran.


Andreas menempati apartemen termahal di Amerika, yang luasnya mungkin belasan kali lipat dari rumah milik Nisa. Tentu saja dia ingin tau sebesar apa perusahaan milik Andreas sampai bisa menghasilkan uang sebanyak itu.

__ADS_1


__ADS_2