
"Baringkan saja di ranjang." Nisa bersuara pelan.
Menatap Andreas yang masih mendekap Kenzie dalam gendongan meski bocah tampan itu kembali tertidur setelah mereka mengobrol.
"Tidak apa, aku masih ingin mengendongnya." Andreas menjawab dengan seulas senyum. Meski tangannya juga sedang di infus dan mulai merasakan sakit, namun dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baru datang setelah 2 tahun lebih.
Mendekap Kenzie membuat hatinya merasa tenang, kecemasan yang selalu dia rasakan kini sedikit berkurang setelah bertemu dan bisa mengobrol dengan putranya.
Andreas kembali menatap lekat wajah sang putra. Semua yang ada dalam diri putranya benar-benar sangat mirip dengannya.
Seandainya bisa memutar waktu, dia tak akan pernah meninggalkan Nisa dalam keadaan sedang mengandung darah dagingnya.
Agar tak melewatkan momen-momen bahagia menjadi suami dan papa yang siaga untuk dua orang paling berharga dalam hidupnya.
Akibat mengedepankan dendam, dia telah melewati masa-masa yang berharga dalam hidupnya. Tak berada di samping Nisa di saat hamil dan melahirkan Kenzie.
Dan karna dendam itu pula di harus mengorbankan kebahagiaan diri sendiri dan kebahagiaan Nisa serta Kenzie.
Andreas sadar bahwa kesalahannya terlampau besar untuk di maafkan begitu saja.
Bahkan merasa tak pantas untuk mendapatkan maaf dari Nisa.
"Sampai kapan kamu akan terus menggendong Kenzie.?" Setelah 30 menit berlalu, Nisa kembali menegur Andreas. Lama-lama dia kasihan pada putranya yang tidur dalam gendongan Andreas selama hampir 1 jam.
Bukan bermaksud melarang Andreas menggendong Kenzie lebih lama, tapi mengingat kondisi Kenzie yang butuh istirahat dengan nyaman, akan lebih baik jika putranya di baringkan di ranjang empuk rumah sakit itu.
Mendengar nada bicara Nisa yang mulai ketus, Andreas buru-buru membaringkan putranya dengan perlahan.
"Aku akan tidur dengan Kenzie." Ujar Andreas.
Sembari melirik Nisa yang masih duduk di sofa, Andreas ikut naik ke ranjang Kenzie tanpa persetujuan dari Nisa.
"Aku hanya mengijinkanmu menggendong Kenzie, bukan tidur bersamanya di sini." Nisa langsung protes. Dia menatap Andreas tak suka karna laki-laki itu sudah berbuat seenaknya.
Mana bisa dia harus tidur satu ruangan dengan Andreas di saat sedang mengurus perceraian mereka.
"Sebaiknya kembali ke ruangan mu Andreas.!" Tegas Nisa. Dia berbicara pelan agar tidak membangunkan Kenzie.
"Hanya malam ini Anissa, ijinkan aku menemani Kenzie." Andreas menatap memohon. Dia bahkan sudah berbaring di samping putranya. Keduanya terlihat seperti anak kembar beda usia.
Dalam keadaan berbaring dan sama-sama memakai baju rumah sakit serta terpasang jarum infus di tangannya.
"Kamu bisa datang lagi besok pagi. Kita tidak mungkin tidur dalam satu ruangan."
__ADS_1
"Turun dan kembali ke kamarmu, atau aku tidak akan mengijinkanmu bertemu Kenzie lagi.!"
Tidak ada cara lain untuk membuat Andreas keluar, selain dengan mengancamnya.
Dia akan memberikan Andreas kesempatan untuk menebus kesalahannya pada Kenzie dengan memberinya ruang untuk bertemu, namun tak akan memberikan dia kesempatan untuk hadir kembali dalam hatinya.
"Baiklah, aku akan kembali besok." Andreas tampak pasrah. Lebih baik menuruti perkataan Nisa daripada dia tak punya kesempatan lagi untuk bertemu dengan putranya.
Lagipula Nisa juga pasti akan semakin kesal padanya kalau tidak menuruti ucapannya.
"Panggil aku kalau ada apa-apa. Aku ada di kamar sebelah." Andreas berbicara teduh, menatap sendu wajah Nisa dalam jarak dekat.
Dia sengaja menghampiri Nisa dan berdiri di depannya.
"Kamu juga harus istirahat, jangan sampai mengabaikan kesehatan kamu selama menjaga Kenzie disni." Pesannya seraya mengusap pucuk kepala Nisa. Namun tak berselang lama karna Nisa langsung menyingkirkan tangan Andreas dari kepalanya.
"Tolong jaga batasan.".Tegurnya tak suka.
Dulu mungkin dia sangat suka ketika Andreas mengucap pucuk kepalanya, tapi kini keadaan tak lagi sama. Dulu hanya bagian dari masalalu.
Andreas tampak semakin sendu dengan penolakan Nisa. Dia merasa bahwa akan sangat sulit untuk masuk kembali dalam kehidupan Nisa.
"Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan ku.?" Tanya Andreas yang kemudian langsung berlutut di depan Nisa dengan memegang botol infus di satu tangannya.
Melihat Andreas yang tiba-tiba berlutut di depannya, Nisa kemudian melangkah mundur.
"Aku sudah memaafkanmu," Sahut Nisa. Memaafkan Andreas merupakan salah satu cara agar dia bisa tenang menjalani kehidupan selanjutnya tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan.
Mencoba untuk berdamai dengan keadaan meski harus menambah luka di hati karna akan sering bertemu Andreas setelah memutuskan memberikan ruang pada Andreas dan Kenzie.
Andreas tampak senang mendengar pengakuan Nisa yang mau memaafkan kesalahannya.
Baru setelah itu dia berani mendongak untuk menatap wajah Nisa.
"Terimakasih,, terimakasih karna kamu mau memaafkanku,," Andreas sampai meneteskan air mata karna terlalu bahagia. Setidaknya akan mengurangi kecemasan dalam dirinya setelah mendengar Nisa mau memaafkan kesalahannya.
"Aku memaafkanmu demi Kenzie." Nisa manatap datar.
"Tapi bukan berarti aku mau kembali padamu." Nisa menegaskan kalimatnya.
Senyum bahagia yang terpancar dari wajah Andreas seketika redup setelah harapannya untuk kembali memperbaiki hubungan di patahkan oleh ucapan Nisa.
Terlihat jelas Andreas sangat terpukul, dia ingat dirinya pernah mematahkan harapan Nisa.
__ADS_1
Kajadian itu seolah berbalik kepadanya.
Dulu Nisa menangis, memohon padanya untuk tidak pergi dan memulai hubungan dari awal dengan melupakan dendamnya pada Papa Chandra dan Devan, namun saat itu dia mengabaikan Nisa dan tepat bersikeras untuk pergi dengan meninggalkan Nisa begitu saja.
Tak hanya itu, setelah 3 tahun meninggalkannya tanpa kamar, dia kembali mematahkan harapan Nisa ketika pertama kali di pertemukan.
Saat ini terlihat jelas bahwa Nisa masih sangat mencintainya meski 3 tahun dia meninggalkannya tanpa kabar.
Menyetujui perceraian itu pasti sangat menghancurkan harapannya.
Itu sebabnya Andreas tak bisa lagi melihat cinta di mata Nisa untuknya.
Terakhir kali dia melihat tatapan penuh cinta di mata Nisa ketika bertemu di bandara.
"Kamu pasti tau bahwa sebuah kaca yang telah di pecah tak akan bisa kembali seperti semula meski kamu telah mengumpulkan semua serpihan kaca itu dan menggabungkannya."
"Bentuknya tak akan lagi semulus dulu, bekas pecahan itu akan tetap terlihat sampai kapanpun." Nisa mengukir senyum getir.
Seperti itulah keadaan hatinya saat ini. Terlebih tak hanya satu kali dia merasakan sakit yang sama hingga membuatnya merasa hancur.
Kembali tertampar dengan pernyataan Nisa, Andreas semakin menyesali perbuatan.
Dendam tak hanya menghancurkan hidupnya, tapi juga menghancurkan hidup orang-orang yang dia cintai.
Teisak, Andreas menagis tanpa suara dengan tubuh yang bergetar.
Dendam membawa kehancuran dan luka.
"Maafkan aku,,," Suara Andreas tercekat. Hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan dengan tulus.
"Sudah malam, aku ingin istirahat." Nisa menyuruh Andreas keluar secara tidak langsung. Dia sampai berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu untuk Andreas.
...*****...
Nis, Nis,, kasian banget hidupmuš¤£
Awal-awal pda ngebela, sekarang mlh pda mojokin suruh maapin Andreas dan balik sma Andreas lgi.
Readers gimana sih kok gak konsistenš¤
Udah pada mampir ke novel Lahirnya Sang Pewaris belum.?
ļæ¼
__ADS_1