Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 123


__ADS_3

"Tolong kabari aku kalau ada masalah dengan Tuan Andreas dan Nona Nisa." Pinta Aditya sebelum dia pamit pulang pada Tiara.


"Ii,,iya Kak. Akan aku kabari nanti." Tak bisa menyembunyikan rasa groginya karna bertatap muka dengan Aditya, Tiara sampai menjawab gugup. Dia bahkan tak berani menatap mata Aditya yang menurutnya mampu membuatnya hanyut dalam pusara cinta.


"Terimakasih. Aku pulang dulu," Aditya mengangguk sopan dan beranjak dari sana.


Sikapnya yang terlalu datar dan cuek, justru semakin membuat Tiara ingin memilikinya.


Mungkin harapannya terlalu tinggi, dan akan di pandang tidak pantas jika seorang wanita terlalu mengejar sosok laki-laki yang membuatnya jatuh cinta. Tapi Tiara tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Dia juga tidak bisa berpura-pura acuh seolah tak membutuhkan Aditya.


Tiara masih diam di tempat. Alih-alih segera menutup pintu dan menguncinya, dia justru terus menatap Aditya yang semakin menjauh dari pandangan mata. Berjalan ke arah mobil yang terparkir di halaman rumah.


Hatinya menghangat, perasaan cinta itu terasa menggebu. Entah seperti apa nasib percintaannya kali ini. Akankah kisah masa lalu terulang lagi dengan membiarkan orang yang dia cintai menikah bersama wanita lain, tanpa menunjukkan perasaannya lebih dulu dan hanya mencintai dalam diam.


Tak ada keberanian, Tiara merasa bahwa status sosialnya terlalu rendah untuk bermimpi setinggi langit. Aditya terlihat sulit untuk di gapai. Mungkin saja tipe idealnya wanita karir yang sama-sama bekerja di perusahaan, tak seperti dirinya yang hanya seorang asisten rumah tangga.


"Oh ya Tiara,, aku melupakan sesuatu,!" Teriak Aditya dari kejauhan. Dia membuat lamunan Tiara buyar dan kini fokus menatap pergerakan laki-laki yang tengah mengambil sesuatu di dalam mobil.


"Apa dia akan memberiku bungan atau coklat seperti di novel-novel romantis yang sering aku baca.?"


Batin Tiara dengan khayalan tingkat dewa karna terlalu tinggi.


Dia menggambarkan sosok Aditya yang cuek tapi diam-diam menaruh perasaan padanya, kemudian akan memberinya hadiah-hadiah kecil sebagai ungkapan perasaannya. Layaknya sosok di tokoh novel favoritnya.


Sayangnya khayalan hanya sekedar khayalan, tak bisa menjadi kenyataan. Ada sedikit rasa kecewa yang menyelimuti ketika melihat Aditya yang tidak mengambil coklat apa lagi buket bunga.


Entah apa yang di bawa oleh Aditya di tangannya. Walaupun sudah menajamkan pandangan, Tiara masih belum tau benda apa yang di pegang oleh Aditya dan saat ini laki-laki itu sedang berjalan ke arahnya.


"Ada apa Kak.?" Tanya Tiara saat jarak Aditya mulai dekat. Sekarang dia bisa melihat kalau Aditya sedang memegang botol kecil di tangannya. Botol yang Tiara yakini sebagai obat atupun vitamin di lihat dari kemasannya.


"Aku lupa memberikan ini pada Tuan Andreas. Tolong kamu berikan padanya dan minta dia untuk meminumnya." Tutur Aditya disertai dengan perintah. Dia memberikan botol obat itu pada Tiara, membuat gadis itu membaca dengan seksama tulisan di luar botol tersebut.


"Baik Kak, nanti aku berikan pada Pak Andreas." Jawab Tiara yang sudah mengalihkan pandangan ke Aditya. Karna dia juga tidak tau obat apa yang Aditya berikan padanya meski sudah membaca beberapa tulisan di sana.

__ADS_1


"Terimakasih Tiara." Hanya ucapan datar, Aditya lalu bergegas pergi, meninggalkan kekecewaan di hati Tiara karna sikapnya yang terlalu cuek sampai tidak peka bahwa ada hati yang mengagumi serta mencintai dalam diam.


...****...


Tokk,,, tokk, tokk,,


Suara ketukan pintu membuat Nisa terpaksa beranjak dari kursi kerjanya. Dia terlihat buru-buru untuk membukakan pintu, karna berfikir mungkin saja Andreas yang sedang berada di balik pintu.


Takut laki-laki itu butuh bantuannya, mengingat Zie yang kerap meminta di buatkan susu saat akan tidur.


"Ara.? Ada apa.?" Nisa langsung menyodorkan pertanyaan begitu membuka pintu dan mendapati asisten rumah tangganya yang berdiri di sana.


"Saya mau kasih ini Bu,," Tiara memberikan botol obat itu pada Nisa.


"Tadi asisten Pak Andreas memberikan ini pada saya, katanya minta tolong di berikan ke Pak Andreas dan harus di minum." Terangnya.


"Saya mau ke kamar Kenzie takut menganggu Bu, jadi saya titip ke Ibu saja,," Tiara menyeringai.


Sebenarnya bukan hanya takut menganggu, tapi takut menimbulkan salah paham seandainya dia mendatangi kamar Zie untuk memberikannya langsung pada Andreas.


"Kamu boleh istirahat, beresin ruang keluarganya besok saja." Ujarnya penuh pengertian. Lagipula Nisa juga tidak menuntut Tiara untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum tidur.


Yang terpenting Tiara lebih fokus menjaga Kenzie saat dia sedang berada di kantor.


"Iya Bu,, saya ke kamar dulu." Pamit Tiara yang kemudian bergegas pergi ke kamarnya.


Sementara itu Nisa masuk kembali ke ruang kerjanya. Dia penasaran dengan obat yang ada di tangannya saat ini. Obat dengan bacaan yang seluruhnya menggunakan bahasa Inggris itu.


Duduk di depan meja kerjanya, Nisa membuka laptop yang tadi sudah dia matikan.


Menekan aplikasi google untuk mendapatkan informasi tentang obat tersebut.


"Antidepresan.?" Kening Nisa mengkerut. Sedikit terkejut dan bingung mengetahui obat yang sedang dia pegang saat ini.

__ADS_1


"Sejak kapan dia mengkonsumsi obat seperti ini.?"


"Apa psikisnya baik-baik saja.?"


Nisa mendadak cemas. Dia langsung memikirkan Kenzie, takut terjadi sesuatu pada putranya yang saat ini sedang berdua bersama Andreas.


Jika benar Andreas mengalami masalah dengan kesehatan mentalnya, maka akan membahayakan bagi Kenzie jika di biarkan berduaan dengan Andreas. Nisa takut Andreas akan melakukan hal-hal yang tak terduga dan membahayakan keselamatan Kenzie.


Setelah kematian laptop, Nisa buru-buru pergi ke kamar Kenzie. Setidaknya dia harus berada si samping Kenzie untuk menjaganya. Tak peduli meski harus tidur satu kamar dengan Andreas, asal Kenzie dalam pengawasannya.


Karna dari apa yang Nisa baca tadi, pasien yang mengkonsumsi obat tersebut masuk dalam kategori memiliki kecenderungan yang terkadang bisa melukai dirinya sendiri.


"Zie,,,!!" Panggil Nisa bersamaan dengan membuka pintu kamar selebar-lebarnya. Dia bahkan tak mengetuk pintu lebih dulu dan langsung menyelonong masuk.


"Ssstttt,,,," Andreas menempelkan jari telunjuk di bibir, dia memberikan isyarat pada Nisa untuk tidak berisik. Laki-laki itu kemudian menoleh pada Kenzie yang baru saja terlelap, seakan ingin memberitahu Nisa untuk tidak menganggu putranya.


Nisa mengembuskan nafas lega, disaat keringatnya sudah bercucuran karna terlalu cemas.


Menutup pintu perlahan, Nisa berjalan menghampiri Andreas dan menyodorkan obat antidepresan itu padanya.


"Aditya berpesan agar kamu meminumnya." Ucap Nisa. Dia menoleh pada Kenzie, memperhatikan dengan seksama tubuh putranya dari ujung kepala sampai kaki. Ingin memastikan bahwa tidak ada luka di tubuh putranya.


"Makasih,," Andreas menerima obat itu dari tangan Nisa. Dia mengeluarkan obat dan menelannya, lalu mengambil air mineral di atas nakas.


Nisa memperhatikan gerak-gerik Andreas dari saat akan meminum obat hingga selesai meminumnya.


"Sejak kapan kamu ketergantungan obat itu.?" Tanya Nisa dengan tatapan menyelidik.


"Apa berbahaya,,?" Lirih Nisa. Dari nada bicara dan tatapan matanya, dia tampak tidak enak untuk menanyakan hal itu pada Andreas. Namun terpaksa harus dia tanyakan demi kebaikan Kenzie kedepannya. Agar nantinya Kenzie tak lepas dari pengawasannya saat sedang bersama Andreas.


...****...


"Meluluhkan Hati CEO Kejam".

__ADS_1



__ADS_2