Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 70


__ADS_3

Mobil mewah milik Andreas keluar dari area apartemen dengan di kendarai oleh supir.


Sementara itu, Andreas dan Nisa duduk bersebelahan di jok belakang.


Andreas mengambil air mineral yang ada di depannya, kemudian menyodorkan botol itu pada Nisa.


Dia tau kalau Nisa sama sekali belum minum sejak bangun tidur. Sebenarnya bukan hanya sekedar tau, tadi Andreas sengaja tidak memberikan waktu dan ruang pada Nisa untuk keluar dari kamar sebelum siap untuk berangkat.


Dengan begitu Nisa tak akan memeiliki kesempatan untuk meminum pil penunda kehamilan secara diam-diam.


"Minum dulu,," Ujar Andreas. Suara lembut dan tatapan teduhnya seketika menyejukkan hati. Nisa menerima botol air mineral itu dengan seulas senyum tipis.


"Makasih,,"


Nisa meneguknya. Rasa haus membuat wanita cantik itu minum dengan cepat. Dengan beberapa kali tegukan sudah menghabiskan setengah botol air mineral ukuran sedang itu.


"Pelan-pelan, botolnya bisa tertelan kalau cara minum mu seperti itu,," Ujar Andreas sembari menahan tawa.


"Memangnya mulutku selebar apa." Sahutnya dengan bibir yang mencebik kesal. Dia menutup kembali botol air mineral itu dan hendak meletakkannya, namun Andreas lebih dulu merebut botol itu dari tangannya.


"Kamu maunya selebar apa.?" Tanya Andreas yang justru semakin membuat Nisa mencebikkan bibirnya.


Andreas kemudian membuka botol air mineral itu dan terlihat akan meneguknya. Nisa dengan sigap ingin mencegahnya.


"Andreas,, itu,,,


Belum sempat melarang Andreas, sisa air mineral di botol itu sudah di teguk oleh Andreas dengan cepat.


"Ya ampun,, kenapa diminum.?" Nisa bengong menatap botol di tangan Andreas yang sudah kosong. Andreas meneguk bekas minuman milik Nisa tanpa sisa. Tidak terlihat sedikitpun keraguan di wajah Andreas saat menghabiskan sisa minuman bekas mulutnya.


"Memangnya kenapa.?" Andreas bertanya santai, dia lalu membuang botol itu di tempat sampah.


"Itu minuman bekas milikku Andreas. Kamu kan bisa mengambil minuman yang masih baru." Nisa melirik pada beberapa botol air mineral yang masih ada di dalam mobil Andreas.


Padahal Andreas bisa saja mengambil air mineral yang baru, tapi malah menghabiskan minuman bekas miliknya.


"Yang baru tidak manis." Jawab Andreas. Nada bicara dan ekspresi wajahnya yang serius, membuat Nisa berfikir kalau ucapan Andreas memang benar.


"Kenapa begitu.?" Nisa sampai mengerutkan keningnya. Dia menatap Andreas dengan wajah serius.

__ADS_1


Andreas sontak terkekeh geli. Dia sampai mencubit hidung Nisa.


"Kamu tidak tau gombalan.?" Tanya Andreas sambil menahan tawa.


"Ya ampun.!! Menyebalkan sekali.!" Nisa memukul lengan Andreas, sekarang dia mengerti kalau Andreas sedang mengeluarkan jurus menggombalnya.


"Tidak lucu.!" Cibir Nisa.


"Mana ada gombalan lucu.? Yang ada justru romantis. Kamu saja yang tidak peka." Ujar Anderas. Dia mengusap wajah Nisa dengan telapak tangannya sambil mengukir senyum gemas padanya.


"Kamu mau makan apa.? Kita belum sarapan." Tawar Andreas.


"Bagaimana kalau bubur ayam di pinggir jalan." Jawab Nisa cepat. Andreas langsung menatap heran, jelas sekali kalau dia tidak setuju dengan permintaan Nisa.


"Apa tidak ada pilihan lain.?"


"Banyak restoran cepat saji yang sudah buka. Kita bisa pesan sandwich atau burger."


Berbeda dengan Nisa yang lebih memilih makanan lokal, Andreas justru menyarankan untuk makan makanan western. Karna dia tidak pernah makan di pinggir jalan seperti itu.


"Itu tidak sehat Andreas."


"Makasiihhh,," Seru Nisa sembari menangkup wajah Andreas dengan kedua tangannya.


Andreas hanya mengulum senyum tipis.


...***...


"Jadi semua tuduhan itu benar.?" Suara Irene bergetar. Dia tak bisa lagi membendung air matanya yang mulai mengalir deras.


Dunia terasa gelap, dia kehilangan sosok Ayah yang seharusnya menjadi contoh yang baik untuk dirinya, tapi yang ada justru menyisakan kisah kelam yang mengerikan.


Mendapati fakta bahwa sang Papa telah merencanakan pembuhunan pada sahabatnya sendiri hingga mengakibatkan 2 orang kehilangan nyawanya, tentu bukan kenyataan yang mudah untuk di terima oleh Irene.


"Tidak sayang, semua itu hanya rencana Haris untuk menghancurkan Papa,," Frans terus menyangkal di depan putrinya.


Walaupun memang pada kenyataannya dia telah melakukan tindak kejahatan itu, tapi Fans tidak mungkin mengakuinya di depan putrinya yang sedang mengandung.


"Kenapa harus melempar kesalahan pada Tuan Frans.?!" Irene mengeraskan nada bicaranya.

__ADS_1


"Kalau memang semua itu tidak benar, lalu untuk apa polisi harus menjemput paksa ke rumah ini.?!"


Tangis Irene semakin pecah.


Dia tidak tau lagi harus bicara dan melakukan apa.


Sang Mama baru saja di larikan ke rumah sakit karna serangan jantung. Sekarang Papa nya sudah di jemput paksa oleh polisi karna sudah 2 kali mangkir dari pemeriksaan.


"Kenapa Papa harus melakukan perbuatan keji seperti itu.?!!" Seru Irene histeris. Dia tak habis pikir Papa nya adalah seorang pembunuh.


Yang lebih mengkhawatirkan lagi, korbannya adalah kedua orang tua Nisa. Seandainya Devan tau kalau penderitaan yang di alami Nisa sejak kecil disebabkan oleh Papa mertua, mungkin Devan akan sangat kecewa.


Hal itu membuat Irene cemas, dia takut Devan kekecewaan Devan pada Papa Frans akan berimbas padanya.


"Sudah Papa katakan, Haris hanya menjebak Papa."


"Papa akan buktikan kalau tuduhan itu tidak benar." Fans masih saja mengelak. Dia tentu tidak mau terlihat buruk di mata putrinya.


"Sebaiknya hubungi Devan, bilang padanya untuk membantu Papa di kantor polisi." Ujar Tuan Frans saat polisi sudah menyuruhnya untuk segera ikut ke kantor polisi.


Irene terlihat pasrah saat sang Papa di bawa oleh petugas kepolisian.


Dia tak mengiyakan perintah Papa nya yang menyuruh untuk menghubungi Devan.


Bagaimana mungkin Irene bisa meminta bantuin pada Devan atas kasus pembunuhan pada kedua orang tua Nisa.


Irene justru khawatir Devan akan ada di pihak Nisa.


"Nona,, kita harus kerumah sakit sekarang.!" Seorang pelayan dirumah Tuan Frans berlari ke arah Irene dengan wajah panik.


"Ada apa.?" Irene bangun dari duduknya. Pikirannya semakin kacau, entah kenapa dia merasa ada hal buruk yang terjadi di rumah sakit.


"Maaf Nona,, sebaiknya kita pergi sekarang." Pelayan itu tak berani mengatakan apa yang sedang terjadi di rumah sakit. Dia merangkul Irene dan mengajaknya pergi dari sana.


"Kakatan.! Apa yang terjadi pada Mama.?!" Seru Irene. Dia terlihat kacau dengan segala pikiran buruk yang berkecambuk dalam benaknya.


"Nyoo,,nyonya Ambar,,,


Pelayan itu tidak bisa meneruskan ucapannya, dia takut akan membuat Irene semakin histeris sbeleum sampai di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2